“Danar!”
“Nar…!”
“Danar…!”
“Le…!”
“Di mana kamu nak?”
Suara segerombolan orang bersahut-sahutan memanggil nama yang diharapkan segera muncul.
“Benar ya, Mbakyu Ratmi, sampeyan sudah cari kemana-mana?” ucap seorang perempuan dengan rok gambar bunga-bunga, rambutnya yang diikat ke belakang ikut bergoyang ketika ia celingukan melihat tempat-tempat yang gelap.
“Sudah. Sudah saya ubek-ubek seluruh desa bahkan sampai ke rumah teman-temannya di desa sebelah, tetapi nggak ada,” isak seorang wanita setengah baya, matanya sebab tanda sudah lama menangis.
“Oalah… gimana to ini?” seru seorang nenek yang ikut dalam rombongan.
“IDanar itu sudah kelas berapa to?” ucap perempuan dengan rok gambar bunga.
“Kelas satu SD,” isak perempuan yang dipanggil dengan nama Mbakyu Ratmi.
“La yo, masak sudah besar begitu lupa jalan pulang to,” ucap perempuan dengan rambut diikat itu, “terakhir terlihat main di mana, to, Mbakyu?”
“Di-”
“Tunggu! Tunggu! Tunggu!” sela seorang perempuan dengan baju berwarna gelap.
“Apa to, Mbakyu Sari?” balas perempuan dengan dengan rok bunga-bunga sedikit kesal.
“Saya kok khawatir to, Sih.” ucap Mbakyu Sari sambil memegang dada meredakan rasa was-was yang menyerang. “Anu…” Ia ragu.
“Jangan anu-anu to, Mbakyu! Ini keadaan lagi gawat begini, mbok ya yang jelas kalau bicara,” jawab perempuan dengan rok bunga-bunga.
“Eh, Asih, tapi apa benar nggak papa, kalau aku omongin?” ucap Mbakyu Sari sambil melirik ke arah wanita yang sedang terisak dan tertunduk.
“Wis, nggak papa, sekalian biar jelas,” balas Asih tak sabar.
“Begini, kita ‘kan sudah cari Danar dari langit masih terang sampai gelap, tapi belum ketemu. Coba, sudut desa mana yang belum kita telusuri? Dan lagi, Si Danar itu kan kalau main nggak pernah jauh, paling main dengan anak Pak Redjo dan Pak Narto. Wong kemana-mana selalu bertiga,” ucap Mbakyu Sari.
“Terus?” ucap Asih gusar.
“Anu… anu…, jangan-jangan dibawa lampor-lampornya Mbah Danyang Kali Manyar,” bisik Mbakyu Sari.
“Hah!” Asih terhenyak.
“Aaa….” raung Mbakyu Ratmi kencang. Ibu yang sedang kehilangan anak itu, histeris membayangkan kemungkinan itu.
Tangisan Ibu Danar itu menghentikan rombongan laki-laki yang bergerombol di barisan depan.
Semua menoleh dan menghampiri perempuan yang tengah menjerit-jerit itu. Seorang laki-laki kurus kemudian mendekat.
“Sabar to, Bune! Semoga sebentar lagi anak kita itu pasti ketemu,” ucap bapak Danar lirih.
“Ah! Mbakyu Sari itu, mbok jangan bikin deg-degan!” larang Asih, “eh! Tapi benar juga ya, sejak tadi kita sudah ubek-ubek desa ini.”
Seorang laki-laki mencolek Asih untuk mengetahui apa yang terjadi.
Dengan berbisik Asih memberitahu apa yang mungkin terjadi.
Seketika wajah-wajah para laki-laki itu menegang.
Beberapa saat kemudian tampak gerombolan itu berbisik-bisik. Mereka tidak ingin membuat tetangga yang sedang kehilangan anak tambah cemas.
“Begini saja, Mbakyu Ratmi dan sebagian ibu-ibu biar kembali ke rumah, tunggu kabar dari kami, biar kami saja yang mencari,” cetus seorang laki-laki yang mengenakan kopyah dan sarung.
“Ssst! Jadi benar mau cari di di sekitar sungai Manyar?” bisik Mbakyu Sari selirih mungkin, ia tak ingin membuat ibu Danar yang tampak mulai tenang kembali meraung.
“Ya, ayo ikut!” balas Asih tak kalah lirih.
“Wah! Ya saya nggak berani,” jawab Mbakyu Sari, “demit-demit Manyar itu serem-serem.”
Rombongan kemudian terbagi dua, Mbakyu Ratmi dan sebagian rombongan wanita dikawal tiga orang laki-laki kembali ke rumah. Rombongan yang satu lagi bergerak menuju Sungai Manyar yang ada di pinggir desa.
“Eh, sebentar!” seru Mbakyu Sari.
Perempuan ini memisahkan diri dari rombongan yang pulang, kemudian mengejar rombongan yang berangkat ke Kali Manyar. Rombongan yang baru beberapa langkah itu otomatis berhenti.
“Apa Mbakyu?” ucap Asih.
“Apa nggak sebaiknya kalian ke rumah Pak ‘itu’ biar gak melanggar aturannya Mbah Danyang. Biar dia yang minta izin sama kerajaan ghaibnya Mbah Danyang. Jangan sampai kita kuwalat dan dapat bencana dari Mbah Danyang,” saran Mbakyu Sari lirih. Ekspresinya tampak ketakutan.
Gerombolan itu saling pandang dan beberapa di antaranya tampak mulai khawatir.
“Apa kita nggak usah ke kali saja? Nanti kalau Danar masih nggak ketemu, baru menghubunginya,” jawab seorang laki-laki dari rombongan itu.
“Wah! Benar juga pendapat Yu Sari. Ingat! Bulan kemarin, mayat perempuan ditemukan di bantaran kali Manyar. Jangan sampai kita jadi seperti itu!” tegas laki-laki yang lain.
Setiap orang yang ada di rombongan itu mendadak pucat pasi mengingat kejadian itu.
“Begini saja, dua orang dari rombongan ini bisa pergi ke rumah Pak ‘itu’, biar yang lain langsung ke sungai,” putus bapak Danar.
Cahaya senter menjadi penuntut langkah-langkah rombongan warga desa itu. Beberapa di antara mereka menyalakan obor sebagai tambahan penerangan. Rombongan mulai menyisir daerah pinggiran sungai Manyar dan belum menemukan tanda-tanda keberadaan bocah yang dicari.
“Apa kita harus turun ke dataran kali?” tanya salah satu laki-laki dalam rombongan.
Semua saling pandang. Ragu, takut dan khawatir berkecamuk.
Seseorang terdengar menghela napas panjang. “Biar saya saja yang turun, saya harus menemukan anak saya,” putus bapak dari anak yang hilang itu.
Laki-laki ini berdiri sejenak untuk memantapkan hati, kemudian mulutnya komat-kamit. Lalu, ia melangkah mantap menuruni jalan berundak. Cahaya senter menuntun langkah kaki agar tidak terpeleset.
Orang-orang dalam rombongan saling tatap kemudian memantapkan diri untuk mengikuti langkah bapak si anak hilang.
Suara deras arus air sungai menambah suasana kali yang angker jadi makin menyeramkan. Apalagi, ditambah suara binatang malam yang sahut-menyahut di sekitar sungai.
Rombongan pencari tidak berani saling menjauh, bahkan rombongan perempuan saling bergandengan atau memegang baju teman seiringnya. Mereka tidak berani berteriak memanggil anak yang hilang.
Pencarian dilakukan dengan menyorot semua bagian dataran dan pinggiran sungai.
“Eit! Tunggu! Sepertinya ada sesuatu,” cetus seorang laki-laki dengan suara gemetar.
“Apa?”
“Di mana?”
“Arah mana?”
Suara-suara lirih dalam rombongan mulai terdengar riuh.
“Coba arahkan senter ke pohon yang di sana!” seru laki-laki tadi masih dengan suara gemetar.
Salah satu dari mereka mengikuti perintah itu.
Semua mata mengikuti gerak cahaya senter itu.
Dan ketika sorot senter bergerak ke arah cabang pohon yang menjulur di atas sungai, tampaklah seorang bocah yang duduk di atasnya dengan menatap kosong ke depan.
“Nar… Danar…!” seru bapak si anak hilang sambil berlari ke arah pohon besar itu.