Danyang Kali Manyar

Bencana Besar

Demit Manyar mengamati demit wanita berkaki tujuh yang tengah mendorong-dorong gadis kecil ke arah tungku dengan senyum penuh kemenangan.

Gadis kecil itu terlihat tak berdaya dibawah cengkeraman salah satu demit kerajaan Manyar itu.

Ia berdiri di depan mulut tungku raksasa dengan mata terbelalak. “To- tolong mereka!” Ia tak sanggup melihat kepala-kepala manusia yang menjerit kepanasan di dalam tungku.

Demit wanita berkaki tujuh membelalak marah. “Mereka memang bahan bakar! Apa yang harus ditolong?! Jangan omong kosong! Tugasmu menambahkan kayu bakar dalam tungku itu!” Ia menunjuk potongan-potongan tubuh manusia yang tertumpuk di samping tungku.

Gadis kecil itu menggeleng dengan cepat. “Tidak! Tidak! Aku nggak mau! Aku mau pulaang!!”

Jeritannya beradu dengan suara jeritan kesakitan dan ketakutan tumbal-tumbal yang ada di ruangan itu.

Seketika kemarahan demit wanita berkaki tujuh itu memuncak. “Pulang?!” Ia mengangkat cambuknya. “Ini!”

“Ctar!!” Cambuk itu melecut ke tubuh gadis kecil itu.

“Ya Allah!” Jerit gadis itu kesakitan.

“Aagh!” Demit hijau berkaki tujuh itu menjerit ketika cambuk di tangannya terpental. Ia juga merasakan sekujur tubuhnya kesakitan. “Kurang ajar! Jangan sebut nama itu di sini!”

Teriakan demit itu menyela keriuhan yang ada di ruangan itu.

Gadis kecil itu bingung. “Itu nama Tuhanku, kenapa nggak boleh disebut?”

Demit hijau mendengus kesal. “Kalau begitu mulutmu itu harus ditutup!”

Di ujung ancamannya, demit wanita itu mengambil kembali cambuknya. Dan ketika cambuk itu terangkat, duri-duri tajam mencuat di ujung cambuk itu. “Rasakan!!”

“Ctar!!” Cambuk yang kini berduri itu kembali melecut. Dan ujung cambuk itu menyabet lengan gadis kecil itu.

“Aaa! Ya Allah! Ya Allah! Ya Allah!” Mulut gadis itu mengeluarkan rentetan nama Tuhannya.

“AAA!” Mendadak demit jin hijau berkaki tujuh itu melolong kesakitan.

Kali ini bukan hanya cambuknya yang terpental, tapi tubuhnya ikut terpental ke udara. Dan ketika, tubuh astral itu jatuh ke tanah, satu kakinya putus. Potongan kaki itu bergerak-gerak kemudian meleleh dan musnah.

Hening.

Teriakan-teriakan ketakutan dan kesakitan menghilang.

Keributan yang baru pertama kali terjadi di salah satu sudut kerajaan Manyar itu membuat para demit pengawas menghentikan kegiatannya.

Dan begitu mengetahui apa yang terjadi dengan demit wanita bermata satu itu, mereka menjauh dari lokasi itu. Beberapa demit yang kebetulan dekat dengan tempat kejadian itu merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya.

Demit hijau menatap nanar dengan wajah menyiratkan kesakitan pada gadis kecil itu. Tapi, gadis itu tak memperhatikanya.

Gadis itu mengusap-usap lengannya yang melepuh. Ia meniup telapak tangannya dan mengucapkan, “Laa haula walaaqimuwata ila billah.”

“Diamm!!!” Demit berkaki tujuh itu menjerit seraya menutup telinganya.

“Agh!”

“AAA!”

Semua demit menjerit berbarengan. Mereka pun menutup telinganya untuk menghindari efek dari apa yang keluar dari mulut gadis itu. Bahkan, demit bertangan buntung jatuh terpelanting, berdebum menghantam tanah.

Kegiatan penyiksaan berhenti total.

Demit Manyar menatap gadis kecil yang sedang mengusap lukanya dengan telapak tangan mengangkat tangannya. “Sathil, mundur!” Ia membaca gelagat yang kurang baik dari kejadian yang terjadi dengan demit-demitnya. Tapi, ia masih terus mengamati tumbal kecil itu.

Sathil mengangguk patuh dan mengikuti setiap gerak rajanya.

“Jangan sebut nama itu lagi! Aku nggak akan memukulmu! Ikuti aku!” Demit yang semula berkaki tujuh itu pelan-pelan berdiri dengan kaki enam bergetar tanpa daya menahan tubuhnya yang seperti terterpa angin.

Lalu, demit itu memaksa gadis kecil itu ke ruangan lain.

Begitu tiba di ruangan itu, gadis kecil itu makin kebingungan.

Ruangan itu seperti aula yang besar dengan langit-langit kubah yang sangat besar. Hanya saja, lampu gantung besar di tengah ruangan dijejali dengan kepala-kepala manusia yang masih hidup.

Sebuah meja berukuran besar di tengah ruangan di sangga oleh beberapa manusia yang terlihat kesakitan dan kepayahan.

Gadis itu mendekat ke meja itu. “Kenapa paman ada di sini?” Ia mengamati wajah laki-laki yang terus menunduk itu.

Laki-laki yang menjadi penyangga meja itu hanya menghela napas dengan tak berdaya.

Gadis kecil itu menangkap kesedihan hebat yang tersirat di wajah laki-laki itu. “Paman, mungkin dengan berdzikir akan meringankan kesedihanmu. Ucapkanlah, Subhanallahu wa bihamdi.

“AAA!!” Mendadak demit wanita berkaki enam itu meleleh, berasap, lalu musnah. Sedangkan, ruangan besar itu juga bergetar hebat.

Getaran itu mengundang demit Genipati mendekat.

Demit merah itu terkejut ketika melihat tumbal-tumbal yang menyangga meja tak lagi membungkuk dan lampu gantung dengan hiasan kepala manusia itu melorot ke bawah.

Kemarahannya memuncak saat pandangan mata apinya melihat seorang tumbal kecil sedang duduk bersila di dekat meja dengan menggerak-nggerakan jari jemarinya seraya dengan mulut bergerak-gerak.

“Diaamm!!!” Teriakan melengking keluar dari mulut demit Genipati ketika ia menyadari apa yang terjadi.

Detik itu juga, sebuah besi tertempel di mulut gadis itu.

Demit merah itu mengangkat tangannya. Dan seketika tubuh gadis itu terangkat ke atas dengan cepat. Tapi, gadis itu berusaha untuk tetap berada di lantai dengan menapakan kedua telapak tangannya di lantai.

Dan ketika hanya ujung telunjuknya yang menempel di lantai, dengan cepat ia menuliskan kaligrafi nama Tuhannya.

“Krakk!!” Mendadak lantai ruangan itu retak.

Di detik yang sama, sihir demit merah itu sirna. Dan itu membuat besi yang melekat di mulut gadis kecil itu terlepas.

A’udzubilahiminasyaitonirojim! Allahu akhbar!” Teriakan gadis itu memenuhi seluruh ruangan.

“Dhuar!!” Mendadak ruangan itu meledak.

Meja besar pecah, membebaskan tumbal penyangganya. Lampu gantung berdebum membentur lantai, kepala-kepala manusia didalamnya menggelinding.

Pun demit merah itu terpental. Tubuh Astralnya menabrak dinding ruangan dan membuat ruangan itu hancur. Tubuh itu mendarat di tungku raksasa dan membuat tungku itu hancur berkeping-keping.

Sedangkan, kaligrafi itu menjalarkan satu cahaya menyilaukan yang memercikan api  besar.

Api besar itu menjalar dengan cepat dan melalap seluruh kerajaan Manyar.

Amukan api itu membuat demit-demit lemah musnah seketika. Sedangkan, demit-demit kuat pontang panting larik menyelamatkan diri.

Di sini lain, tumbal-tumbal lepas dan terlempar ke segala arah.

Semua demit panik. Tak terkecuali demit Manyar yang tak menyangka dengan apa yang meruntuhkan kerajaannya.

Ia yang bergerak ke perbatasan dimensi melihat gerbang besi berukir ular itu mencelat, terlepas dari tanah.

Demit itu tak bisa mencerna bagaimana tumbal kecil itu masih mengingat apa yang biasa ia lalukan di dunia manusia. Bahkan, suara teriakan penyebutan nama Tuhan itu terus ia gaungkan ketika tubuh tumbal kecil itu berputar-putar di atas kobaran api yang menghanguskan kerajaan Manyar.

Mendadak ia kehilangan kesabarannya. “Lempar kembali tumbal kecil itu ke dunia manusia!!!!!” Ia mengerahkan seluruh sisa kekuatannya.

Lates Chapters

Penglihatan Dukun Maruto

Tawang kembali pulang bersama empat santri Ustaz Ahmad. Ia memutuskan untuk menitipkan anaknya di pesantren dalam asuhan ustazah untuk sementara waktu karena khawatir dengan keselamatan…

Kedatangan Demit-demit

Danyang Manyar berdiri sekian meter dari gerbang melengkung pesantren Darul Ilmi. Kehancuran total lintas dimensi dan kematian masal wadya balanya di Kerajaan Manyar tak dapat…

Tak Terduga Terlacak

Matahari tenggelam di ufuk barat. Langit jingga menyinari gapura melengkung bertuliskan Darul Ilmi dalam huruf Arab. Tawang dan ketiga anaknya baru saja tiba di pesantren…

Amukan Api

Langit yang menjingga mengantar matahari kembali ke peraduan. Desa Marboyo dan Srodoyo yang diselimuti ketenangan tengah bersiap menyambut malam. Suara binatang malam mulai terdengar dari kejauhan mengiringi…

Tumbal Demit Genipati

Demit Manyar duduk di singgasananya dengan bahagia. Sebuah piring besar berisi tulang belulang baru saja diangkat dari meja besar yang ada di dekatnya setelah ia…

Mendadak Koma

Tawang menghela napas dalam. “Aku nggak merasa mengganggu siapapun. Kalau hanya memanen tanaman di kali Manyar, salahku di mana?” “Ha?!” Mirah pura-pura terkejut dengan gaya…

Tamu Tak Diundang

“Aku nggak percaya ini!” Batinnya bergolak. Tawang berjalan dengan sangat tergesa menuju kediaman Ustaz Ahmad yang berjarak sekitar seperempat jam dari rumahnya. Tapi, hatinya sedikit…

Sesajen Agung

Seorang polisi berdiri di depan orang yang menyerang Tawang. “Jangan bertindak diluar batas! Atau kalian akan dikriminalkan!” Teriakan polisi itu membuat riuh rendah teriakan itu…

Setan Dari Jenis Manusia

Jayid berjalan mondar mandir di rumah barunya hanya terdiri dari tiga ruang. Ia ke ruang tidur ibunya di rumah papan itu dan melihat Mumtaz yang…

Jelmaan

“Bodoh! Manusia goblok! Kere sok kaya!” Seketika mata merah Danyang Manyar berkobar, dari tubuhnya keluar nyala api ketika melihat manusia yang diincarnya justru mengubur emas…

Mimpi yang Mewujud

Tawang terbangun. Ia melihat ke arah jam kecil di atas lemari kayu. Jam menunjukan pukul tiga dini hari. Ia mengusap keringat di dahi. “ Mimpi…

Menembus Mimpi

“Ah! Manusia brengsek!” Danyang Manyar mengumpat ketika tubuhnya merasa terbakar dan berasap. Tanpa melepas pandangannya, ia menjauh dari rumah itu sampai jarak ia nggak bisa lagi mendengar…

Tertahan

Jam baru menunjukan pukul sembilan. Tapi, Tawang sudah membawa keranjang terakhir ke pinggir sungai. Ia memindahkan isi keranjang ke gerobak kayu, lalu menatap dataran di…

Manusia Nekad

Sang Manyar berdiri di puncak Gunung Pratanda. Ia memandang hamparan kekuasannya sampai jauh di bantaran sungai Manyar. Demit hijau bermata kuning mendadak muncul di depannya. “Rajaku,…

Kisah Seram yang Beredar

Jayid terkejut. Lalu, ia menatap ibunya dengan heran. “Bukankah tanaman itu ditumbuhkan Allah di sungai itu?” “Ah ...,” desah wanita itu lelah. “Iya, Nak. Itu…

Ketakutan-ketakutan

Azan isya berlalu berberapa menit yang lalu. Tawang, wanita berbaju lusuh itu mempercepat gerakannya untuk menyiapkan makan malam di gubuk kecilnya. Gubuk yang hanya berukuran…

Tak Bisa Ditembus

Pagi di jam manusia. Sosok hitam bermata merah bergerak dengan sangat cepat dari kerjaannya di dimensi lain. Para abdinya mengikutinya dan kemudian menyebar ke tempat-tempat…

Sang Manyar

"Haha ...!” Satu sosok gaib tertawa puas. Sosok hitam bertanduk dengan mata merah itu berdiri menyaksikan beberapa manusia yang baru saja menemukan anak hilang dari…

Kali Manyar

Sebagian warga desa memenuhi rumah Danar ketika anak yang hilang itu dibawa pulang ke rumah. Seseorang yang dianggap “pintar” berada di dalam kamar Danar bersama dengan…

Anak Hilang

“Danar!” “Nar…!” “Danar…!” “Le…!” “Di mana kamu nak?” Suara segerombolan orang bersahut-sahutan memanggil nama yang diharapkan segera muncul. “Benar ya, Mbakyu Ratmi, sampeyan sudah cari…
error: Content is protected !!