Demit Manyar mengamati demit wanita berkaki tujuh yang tengah mendorong-dorong gadis kecil ke arah tungku dengan senyum penuh kemenangan.
Gadis kecil itu terlihat tak berdaya dibawah cengkeraman salah satu demit kerajaan Manyar itu.
Ia berdiri di depan mulut tungku raksasa dengan mata terbelalak. “To- tolong mereka!” Ia tak sanggup melihat kepala-kepala manusia yang menjerit kepanasan di dalam tungku.
Demit wanita berkaki tujuh membelalak marah. “Mereka memang bahan bakar! Apa yang harus ditolong?! Jangan omong kosong! Tugasmu menambahkan kayu bakar dalam tungku itu!” Ia menunjuk potongan-potongan tubuh manusia yang tertumpuk di samping tungku.
Gadis kecil itu menggeleng dengan cepat. “Tidak! Tidak! Aku nggak mau! Aku mau pulaang!!”
Jeritannya beradu dengan suara jeritan kesakitan dan ketakutan tumbal-tumbal yang ada di ruangan itu.
Seketika kemarahan demit wanita berkaki tujuh itu memuncak. “Pulang?!” Ia mengangkat cambuknya. “Ini!”
“Ctar!!” Cambuk itu melecut ke tubuh gadis kecil itu.
“Ya Allah!” Jerit gadis itu kesakitan.
“Aagh!” Demit hijau berkaki tujuh itu menjerit ketika cambuk di tangannya terpental. Ia juga merasakan sekujur tubuhnya kesakitan. “Kurang ajar! Jangan sebut nama itu di sini!”
Teriakan demit itu menyela keriuhan yang ada di ruangan itu.
Gadis kecil itu bingung. “Itu nama Tuhanku, kenapa nggak boleh disebut?”
Demit hijau mendengus kesal. “Kalau begitu mulutmu itu harus ditutup!”
Di ujung ancamannya, demit wanita itu mengambil kembali cambuknya. Dan ketika cambuk itu terangkat, duri-duri tajam mencuat di ujung cambuk itu. “Rasakan!!”
“Ctar!!” Cambuk yang kini berduri itu kembali melecut. Dan ujung cambuk itu menyabet lengan gadis kecil itu.
“Aaa! Ya Allah! Ya Allah! Ya Allah!” Mulut gadis itu mengeluarkan rentetan nama Tuhannya.
“AAA!” Mendadak demit jin hijau berkaki tujuh itu melolong kesakitan.
Kali ini bukan hanya cambuknya yang terpental, tapi tubuhnya ikut terpental ke udara. Dan ketika, tubuh astral itu jatuh ke tanah, satu kakinya putus. Potongan kaki itu bergerak-gerak kemudian meleleh dan musnah.
Hening.
Teriakan-teriakan ketakutan dan kesakitan menghilang.
Keributan yang baru pertama kali terjadi di salah satu sudut kerajaan Manyar itu membuat para demit pengawas menghentikan kegiatannya.
Dan begitu mengetahui apa yang terjadi dengan demit wanita bermata satu itu, mereka menjauh dari lokasi itu. Beberapa demit yang kebetulan dekat dengan tempat kejadian itu merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya.
Demit hijau menatap nanar dengan wajah menyiratkan kesakitan pada gadis kecil itu. Tapi, gadis itu tak memperhatikanya.
Gadis itu mengusap-usap lengannya yang melepuh. Ia meniup telapak tangannya dan mengucapkan, “Laa haula walaaqimuwata ila billah.”
“Diamm!!!” Demit berkaki tujuh itu menjerit seraya menutup telinganya.
“Agh!”
“AAA!”
Semua demit menjerit berbarengan. Mereka pun menutup telinganya untuk menghindari efek dari apa yang keluar dari mulut gadis itu. Bahkan, demit bertangan buntung jatuh terpelanting, berdebum menghantam tanah.
Kegiatan penyiksaan berhenti total.
Demit Manyar menatap gadis kecil yang sedang mengusap lukanya dengan telapak tangan mengangkat tangannya. “Sathil, mundur!” Ia membaca gelagat yang kurang baik dari kejadian yang terjadi dengan demit-demitnya. Tapi, ia masih terus mengamati tumbal kecil itu.
Sathil mengangguk patuh dan mengikuti setiap gerak rajanya.
“Jangan sebut nama itu lagi! Aku nggak akan memukulmu! Ikuti aku!” Demit yang semula berkaki tujuh itu pelan-pelan berdiri dengan kaki enam bergetar tanpa daya menahan tubuhnya yang seperti terterpa angin.
Lalu, demit itu memaksa gadis kecil itu ke ruangan lain.
Begitu tiba di ruangan itu, gadis kecil itu makin kebingungan.
Ruangan itu seperti aula yang besar dengan langit-langit kubah yang sangat besar. Hanya saja, lampu gantung besar di tengah ruangan dijejali dengan kepala-kepala manusia yang masih hidup.
Sebuah meja berukuran besar di tengah ruangan di sangga oleh beberapa manusia yang terlihat kesakitan dan kepayahan.
Gadis itu mendekat ke meja itu. “Kenapa paman ada di sini?” Ia mengamati wajah laki-laki yang terus menunduk itu.
Laki-laki yang menjadi penyangga meja itu hanya menghela napas dengan tak berdaya.
Gadis kecil itu menangkap kesedihan hebat yang tersirat di wajah laki-laki itu. “Paman, mungkin dengan berdzikir akan meringankan kesedihanmu. Ucapkanlah, Subhanallahu wa bihamdi.”
“AAA!!” Mendadak demit wanita berkaki enam itu meleleh, berasap, lalu musnah. Sedangkan, ruangan besar itu juga bergetar hebat.
Getaran itu mengundang demit Genipati mendekat.
Demit merah itu terkejut ketika melihat tumbal-tumbal yang menyangga meja tak lagi membungkuk dan lampu gantung dengan hiasan kepala manusia itu melorot ke bawah.
Kemarahannya memuncak saat pandangan mata apinya melihat seorang tumbal kecil sedang duduk bersila di dekat meja dengan menggerak-nggerakan jari jemarinya seraya dengan mulut bergerak-gerak.
“Diaamm!!!” Teriakan melengking keluar dari mulut demit Genipati ketika ia menyadari apa yang terjadi.
Detik itu juga, sebuah besi tertempel di mulut gadis itu.
Demit merah itu mengangkat tangannya. Dan seketika tubuh gadis itu terangkat ke atas dengan cepat. Tapi, gadis itu berusaha untuk tetap berada di lantai dengan menapakan kedua telapak tangannya di lantai.
Dan ketika hanya ujung telunjuknya yang menempel di lantai, dengan cepat ia menuliskan kaligrafi nama Tuhannya.
“Krakk!!” Mendadak lantai ruangan itu retak.
Di detik yang sama, sihir demit merah itu sirna. Dan itu membuat besi yang melekat di mulut gadis kecil itu terlepas.
“A’udzubilahiminasyaitonirojim! Allahu akhbar!” Teriakan gadis itu memenuhi seluruh ruangan.
“Dhuar!!” Mendadak ruangan itu meledak.
Meja besar pecah, membebaskan tumbal penyangganya. Lampu gantung berdebum membentur lantai, kepala-kepala manusia didalamnya menggelinding.
Pun demit merah itu terpental. Tubuh Astralnya menabrak dinding ruangan dan membuat ruangan itu hancur. Tubuh itu mendarat di tungku raksasa dan membuat tungku itu hancur berkeping-keping.
Sedangkan, kaligrafi itu menjalarkan satu cahaya menyilaukan yang memercikan api besar.
Api besar itu menjalar dengan cepat dan melalap seluruh kerajaan Manyar.
Amukan api itu membuat demit-demit lemah musnah seketika. Sedangkan, demit-demit kuat pontang panting larik menyelamatkan diri.
Di sini lain, tumbal-tumbal lepas dan terlempar ke segala arah.
Semua demit panik. Tak terkecuali demit Manyar yang tak menyangka dengan apa yang meruntuhkan kerajaannya.
Ia yang bergerak ke perbatasan dimensi melihat gerbang besi berukir ular itu mencelat, terlepas dari tanah.
Demit itu tak bisa mencerna bagaimana tumbal kecil itu masih mengingat apa yang biasa ia lalukan di dunia manusia. Bahkan, suara teriakan penyebutan nama Tuhan itu terus ia gaungkan ketika tubuh tumbal kecil itu berputar-putar di atas kobaran api yang menghanguskan kerajaan Manyar.
Mendadak ia kehilangan kesabarannya. “Lempar kembali tumbal kecil itu ke dunia manusia!!!!!” Ia mengerahkan seluruh sisa kekuatannya.