Ia membuka mata.
Keheningan menyapa terlebih dahulu. Tangannya meraba alas tempatnya terbaring.
Berkali-kali ia meraba dada, pergelangan tangan, juga area leher. Tidak ada denyut sebagai tanda satu kehidupan.
Jemarinya yang gemetar akhirnya menyentuh hidung. Tidak juga ada sensasi hangat dari hembusan napasnya sendiri.
Seketika Lia Nadira bangkit.
Di detik berikutnya, kegelapan yang sedari tadi menyelubunginya berganti perlahan. Lia menatap dinding di sekelilingnya.
Semburat cahaya merambat naik dari tempatnya berpijak hingga tidak ada celah bagi kegelapan untuk tinggal.
Suara tangis bayi terdengar.
Nyaring.
Jelas.
Lia berbalik.
Sebuah rekaman diputar tepat di belakangnya. Tanpa ada layar, tanpa ada satu sumber yang digunakan untuk menampilkan rekaman tersebut.
Perlahan bayi itu berhenti menangis balas menatap Lia. Tubuh mungilnya bertumbuh. Pipinya yang bulat menirus. Bayi itu merangkak, berdiri, lalu berlari dalam hitungan detik.
Lia terpaku.
Seragam taman kanak-kanak muncul menempel di tubuh kecil itu. Rambutnya dikuncir dua. Tangan mungilnya menggenggam balon merah. Adegan berganti lagi—lebih cepat, lebih padat.
Berganti seragam sekolah dasar. Lutut yang lecet. Tawa bersama teman-teman. Wajah yang samar-samar Lia kenali.
Gadis kecil itu berputar. Seragam putih biru menjadi pakaiannya. Seorang pemuda muncul dengan senyum paling hangat. Satu rasa yang tidak pernah sempat diungkapkan.
Kali ini dia berseragam putih abu-abu. Mata yang mulai menyimpan rahasia. Bahu yang mencoba terlihat kuat. Tangis pertama karena patah hati.
Lia maju selangkah tanpa sadar.
Gadis di hadapannya kini berhenti tumbuh. Wajah ceria dengan mata yang sama seperti yang kini menatapnya. Pandangan keduanya bertaut.
Itu dirinya.
Lia Nadira.
Rekaman belum selesai. Adegan kembali bergerak.
Taman yang menjadi satu tempat ternyaman di kampus menjadi latar. Tawa lepas di sana bersama sahabat yang tidak pernah pergi. Disimpan rapi dalam satu kenangan indah.
Malam-malam panjang mengerjakan tugas. Satu kalimat yang terus menjadi penghiburan, yaitu mimpi akan terwujud bila bekerja lebih giat.
Toga akhirnya dilemparkan bersama tepuk tangan yang bergemuruh. Air mata bahagia kembali turun. Perjuangannya menapaki jalan yang baru.
Di antara tiap tawa dan lelah terselip satu sosok yang kembali muncul.
Tatapan pertama yang canggung kemudian menjadi rindu. Satu percakapan sederhana yang menjadi kebiasaan. Serta genggaman tangan yang kemudian tidak pernah terlepas lagi.
Satu tali diikat oleh dua cincin. Lambang di jari yang disematkan bersama sebuah janji. Senyum dan impian yang berjalan semakin hidup.
Adegan berganti kembali. Kini Lia melihat gedung tinggi menjulang. Logo perusahaan bonafide terpampang megah di lobi. Wanita yang penuh ambisi itu masuk dengan kebanggaan memamerkan kartu identitas tergantung di leher. Hari pertama bekerja.
Kerja giat lagi, lembur lagi, presentasi lagi, gagal lalu bangkit lagi.
Bahagia kembali menyapa, target tercapai. Kini wanita yang berada di rekaman memiliki ruangan sendiri dengan papan nama di atas meja.
Lia Nadira Manajer Personalia.
Lingkungannya berubah. Kamarnya semakin luas. Jendela-jendela tinggi membingkai langit kota. Sofa empuk memenuhi ruang tamu dengan aroma khas furnitur mahal. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat di langit-langit rumah dua lantai itu.
Rumah di kawasan elite. Keamanan dua puluh empat jam. Termasuk fasilitas olahraga lengkap.
Halaman rumahnya pun tidak lagi hanya diisi dengan pot-pot nyaris tidak bisa dikenali tanaman hias kah atau rumput liar.
Mobil bermesin halus dengan logo berkilau di kap depan, parkir berdampingan dengan satu kendaraan lain yang lebih besar—milik suaminya.
Semuanya sempurna. Persis seperti bayangan ketika ia bertekad untuk belajar dengan giat semasa kuliah dulu.
Entah darimana datangnya suara klakson yang memekakkan telinga.
Cahaya putih menyorot tubuhnya tanpa aba-aba. Lia memejamkan mata. Sesuatu yang tidak kasat mata menghantam tubuhnya.
Ada sesuatu yang hangat mengalir dari pelipisnya. Ia mengangkat tangan, mengusap perlahan. Matanya dipaksa untuk terjaga.
Telapak tangannya terbuka.
Merah.
Darah.
“Aku sudah mati. A-aku mati?” tanyanya tanpa tahu siapa yang bisa menjawab.
Suara pintu terbuka. Satu derit yang membuat Lia menoleh.
“Tenang saja,” sebuah suara terdengar.
Dari dalam sana.
Lia ragu, tetapi akhirnya ia melangkah maju.
“K-kau … siapa?”
Hanya tawa pelan yang menjawab dari dalam pintu yang terbuka.
Lia maju lagi, lagi, lagi, lalu … berhenti.
Di sanalah Lia melihatnya.
Tersenyum penuh padanya dengan lambaian tangan seolah keduanya benar-benar akrab.
Lia tidak bertanya, tidak bicara, matanya hanya terpaku menatap sosok serupa dirinya berdiri di ambang pintu.
“Aku Nara. Aku adalah kamu.”
Lia masih tidak bisa berkomentar. Ia yakin telah mati. Jadi, apa yang sedang terjadi sekarang, mungkin adalah proses selanjutnya dari sebuah siklus setelah mati.
“Ya, benar. Kamu sudah mati. Anggap saja aku adalah makhluk yang akan menjemput setibanya kau di sini.”
Lia mengerjapkan mata, kakinya bergerak mundur dan Nara maju mengikuti langkah Lia.
Nara membalik telapak tangan, mengulurkannya ke arah Lia. “Kemarilah. Aku akan menemanimu.”
Lia menggeleng. “Enggak.” Air matanya luruh. “A-aku baru saja bisa menikmati semuanya. Aku enggak bisa mati! Aku belum boleh mati!”
Nara menurunkan tangan. Senyum yang menghiasi bibirnya lenyap. Perlahan tanpa keraguan ia berjalan menghampiri Lia.
“Aku belum siap! Enggak!” tambah Lia.
Nara tersenyum. Tangannya kembali naik. Kali ini ia menunjuk ke arah belakang Lia hingga Lia berbalik dan menatap sebuah jam bulat besar.
Jarumnya berhenti.
“Urusanmu di dunia telah selesai. Sekarang waktunya kau menikmati semua kerja kerasmu di dunia,” ujar Nara tenang.
Lia menggeleng. “Enggak. Urusanku masih ada! Aku belum menikmati kerja kerasku selama di dunia.” Lia menyusut air matanya. “Ibu … ibuku, aku tahu Mas Rian akan menjaga ibu dengan baik, tapi aku … aku belum berbakti.”
Nara diam sejenak menatap Lia lantas kembali tersenyum. “Bukan kau yang menentukan sudah berbakti atau belum.”
Nara keluar dari ambang pintu lantas berbalik menatap pintu yang terbuka lebar-lebar.
“Kemarilah, ini adalah apa yang akan kau nikmati selanjutnya.”
Ia ragu, tetapi akhirnya Lia melangkah. Satu langkah kecil yang terasa lebih berat daripada seluruh langkahnya selama hidup. Jemarinya gemetar saat mendekati ambang pintu tempat Nara berdiri.
Begitu cukup dekat, cahaya hangat menyentuh wajahnya. Cahaya matahari pagi yang selalu Lia sukai.
Di balik pintu itu, hamparan laut yang tenang menyambutnya. Aroma pantai yang berbeda dari ingatannya. Harum tanah setelah hujan, wangi bunga yang tidak bisa dijelaskan menyambut Lia.
Di sisi lain, padang rumput hijau membentang tanpa batas. Rumputnya berkilau halus, seperti setiap helainya menyimpan cahaya kecil. Ketika angin berembus, rumput itu bergerak pelan, menghasilkan suara lembut yang bersatu dengan debur pelan ombak.
Lia melangkah masuk. Seluruh lelah dan keraguan dalam dadanya perlahan luruh. Tidak ada sesak. Tidak ada takut. Tidak ada penyesalan yang menggerogoti.
“Kita akan tinggal di sana. Selamanya.”
Lia mengerjapkan mata lantas berbalik lalu keluar dari ambang pintu.
“Aku, aku tetap mengkhawatirkan ibuku. Aku belum mempersiapkan semuanya. Tidak ada yang tahu sandi kunci brankas, pin atm, bisnis suamiku enggak berjalan baik, aku enggak mau ibuku merasa menderita lagi. Aku mohon, aku harus melihat ibuku, sekali lagi. Walau aku tahu Mas Rian akan menjaganya dengan baik, tapi aku harus melihat ibuku, sekali lagi.”
Nara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Lia yang dipenuhi kecemasan.
“Lia, tidak ada manusia yang benar-benar selesai dengan urusan duniawinya,” ucap Nara pada akhirnya.
Angin dari dalam pintu masih berembus lembut, membelai pipi Lia membawa aroma laut dan rumput yang damai.
Nara mendekat. Lagi-lagi mengulurkan tangannya. “Tapi percayalah, setiap mereka yang berada di sini, maka tiap masalah di dunia bukan lagi menjadi urusannya.”
Lia diam.
Bagaimana itu tidak menjadi urusannya?
Ibunya tidak bisa mandiri.
Urusan sepele untuk buang air kecil pun tidak bisa dilakukan sendiri.
Bagaimana dengan jadwal kontrol dokter?
Terapi obat dan lainnya?
Bukankah ibu sudah berhasil mengangkat tangan kanannya?
“Ibu selalu terlihat berusaha kuat, ibu enggak pernah mau merepotkan orang lain,” cicit Lia.
“Lia, kemarilah. Bukankah kau ingin beristirahat?”
Lia kembali menatap Nara.
Ya, Nara benar. Lia tidak munafik, ia lelah … sangat, tetapi, ia tidak bisa meninggalkan ibunya seperti ini.
“Aku … ingin melihat ibu,” gumam Lia.
“Kau ingin melihatnya?” tanya Nara.
Lia mengangguk cepat. “Sekali saja.”
***
#20harimencarimaaf
#day1
#novelgoodcompetition