Laptopnya sudah terbuka lama. Kursor berkedip-kedip, tetapi Adit masih belum mengetik apapun.
“Aku perlu menyusun gugatan cerainya,” ucap Adit pada akhirnya.
Lia hanya memberikan satu anggukan kecil. Ada keraguan yang jelas terpancar dari wajahnya.
“Lia, kamu mau … membatalkan gugatannya?”
Lia mengangkat wajahnya cepat. “Enggak. Aku ingin bercerai!”
Tangan Adit kembali menyentuh keyboard laptop. “Kalau begitu, aku perlu tahu alasan gugatanmu.”
Lia menarik napas. “Wanita itu hamil … anak suamiku.”
Adit urung mengetik apa yang didengarnya. Ia menurunkan kacamata lalu kembali menatap Lia. “Kamu punya bukti?”
Lia terdiam.
Tidak ada.
Rekaman, foto, catatan percakapan, saksi.
Tidak ada.
Hanya ada dirinya dan Nara yang tahu.
Lia menggeleng.
“Kalau belum ada, bukan berarti enggak ada.” Adit menutup laptop. Menggesernya ke sisi lalu meraih buku menu. “Kamu mau makan dulu?”
Lia menarik buku menu dari tangan Adit lalu menaruhnya di meja. “Aku cuma ingin cerai saja.”
“Pengadilan butuh dasar yang jelas, Lia. Kita butuh bukti atau saksi.”
“Aku enggak mau tinggal sama dia lagi.”
Adit menatapnya lama. “Hakim akan tanya kenapa. Rumah tangga dianggap masih bisa diperbaiki kalau enggak ada bukti kuat.”
Lia terdiam. Tidak mungkin ia menyebut nama Nara atau apa yang akan terjadi dalam delapan hari ke depan.
Adit menghela napas pelan. “Apa ada kekerasan dalam rumah tangga?”
Lia langsung menggeleng. “Enggak.”
“Fisik?”
“Enggak.”
“Psikis?”
Lia ragu, tetapi tetap menggeleng.
Hening beberapa detik. Hingga Adit kembali meraih buku menu yang diletakkan Lia.
“Kita makan dulu. Aku dengar ayam Hainan mereka enak.”
Lia membuka tasnya. Mengeluarkan kuitansi servis. Meletakkannya di meja.
Adit urung memanggil pelayan. Ia meletakkan buku menu kembali lalu meraih kuitansi.
“Kemarin Rian bawa mobilku ke bengkel langganannya. Katanya cuma dicek ulang.”
Adit membaca cepat. Nama bengkel, nomor telepon, beberapa nama sparepart yang tidak ia mengerti.
“Terus?”
Lia menggeleng. “Enggak tahu. Dia cuma bilang sudah aman.”
Adit menatap Lia.
“Entah aman untuk Rian atau untuk … aku,” lanjut Lia.
Adit memasukkan laptopnya ke tas, berdiri tiba-tiba. “Ayo.”
Lia terkejut. “Ke mana?”
“Kita pastikan lagi.”
***
Siang itu, bengkel langganan Adit tidak terlalu ramai. Adit dan Lia menepikan mobil mereka lalu masuk.
Joko yang kebetulan ada di ruang resepsionis, kaget melihat mereka datang bersama.
“Mas Adit? Mbak Lia?”
Adit langsung ke inti. “Bang, bisa cek lagi mobil Lia dari awal? Saya mau lihat prosesnya.”
Joko terlihat bingung, tetapi akhirnya mengangguk. “Bisa, Mas.”
Lia menyerahkan kunci mobil pada Joko.
“Tolong dicek seperti pertama kali masuk kemarin. Jangan ada yang dilewati,” ucap Adit.
Joko menerima kunci itu dengan ragu, lalu memanggil salah satu montir untuk membantu.
Mobil Lia perlahan digeser dari parkiran menuju area servis. Suara mesin dinyalakan sebentar, lalu dimatikan kembali ketika posisi sudah pas di bawah lift hidrolik.
Lia berdiri tidak jauh dari mobilnya. Tangannya saling menggenggam tanpa sadar. Adit memperhatikan setiap gerakan, sesekali memastikan kamera ponselnya sudah merekam.
Mesin lift berbunyi dengung rendah saat mulai mengangkat badan mobil. Ban perlahan terangkat dari lantai. Baut-baut dan bagian bawah mesin kini terlihat jelas dari posisi mereka berdiri.
Joko mengambil lampu sorot kecil, lalu masuk ke bawah mobil yang sudah terangkat. “Kita cek dudukan mesinnya dulu, ya.”
Adit mendekat, tetap merekam.
Lia menahan napas, meremas ujung tasnya tanpa sadar.
Joko mulai memeriksa bagian bawah mesin.
Beberapa detik. Lampu sorot kecil bergerak-gerak lantas berhenti lebih lama di satu titik.
Joko mundur sedikit. Menggaruk kepala. “Lho ….”
Adit langsung mendekat. “Kenapa, Bang?”
Joko menunjuk ke bagian dudukan mesin. “Bautnya longgar lagi.”
Lia merasa darahnya turun ke kaki.
“Longgar bagaimana?” suara Adit tetap tenang.
“Lebih parah dari kemarin, Mas. Ini kalau dipakai jalan jauh bisa bahaya.”
Adit melirik Lia yang mematung, tangannya menggenggam erat ponsel yang sedang merekam.
Joko menoleh ke Lia. “Mbak habis nabrak lubang besar atau apa?”
Lia menggeleng pelan. “Enggak.”
Joko kembali melihat baut itu. “Ini bukan sekadar getaran biasa,” gumamnya, “seperti … diputar. Sengaja dilonggarkan.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Adit dan Lia saling pandang.
Tidak ada yang berbicara, tetapi untuk pertama kalinya, kecurigaan mereka merujuk pada satu kesimpulan yang sama.
***
Gerbang rumah tertutup pelan di belakang mobil Lia.
Dari kejauhan, mobil Adit ikut melambat. Sengaja menjaga jarak sejak keluar dari bengkel. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Cukup untuk memastikan Lia sampai dengan selamat.
Ketika mobil Lia berbelok memasuki perumahan, Adit sempat ragu. Namun, kecemasan yang sejak tadi mengganjal dadanya membuatnya ikut masuk. Ia berpura-pura mencari alamat, melaju pelan di sisi jalan.
Mobil Lia berhenti di depan rumahnya. Tidak lama Lia keluar dari mobil lalu masuk ke rumah.
Beberapa detik kemudian, dari arah berlawanan, sebuah mobil hitam masuk melewati gerbang yang sama. Tepat saat mobil itu melintas di bawah lampu jalan, jendelanya terbuka sedikit.
Adit melihat wajah itu dengan jelas.
Rian.
Suami Lia.
Rian berhenti di depan rumah lalu turun dari mobil dengan membanting pintu mobil cukup keras.
Adit mematikan mesin mobilnya beberapa rumah dari sana. Ia tidak langsung turun. Hanya menatap ke arah rumah Lia, dadanya terasa tidak nyaman.
Beberapa menit berlalu.
Pintu rumah masih terbuka.
Adit mengembuskan napas panjang. Tangannya mencengkeram setir lalu melirik ke jok belakang.
Di sana hanya ada payung hitam panjang yang biasa ia simpan untuk berjaga-jaga. Adit mengambil payung itu lalu turun dari mobil, menutup pintu tanpa suara, lalu berjalan mendekati rumah Lia.
Langkahnya terhenti di ambang pintu.
Suara mereka terdengar jelas.
“Kata Citra, sebelum makan siang kamu sudah pergi dari kantor. Hari ini enggak ada meeting luar. Kamu dari mana?” tanya Rian keras, tertahan emosi.
Lia berdiri beberapa langkah dari pintu, tasnya masih tersampir di bahu.
“Sejak kapan semua gerakanku harus dilaporkan ke Citra?” balas Lia.
“Jangan dibalik!” Rian membentak. “Aku cuma tanya kamu ke mana! Citra adalah asisten kamu! Dia tahu semua jadwal kamu!”
“Aku kerja, Rian.”
“Kerja apa? Kamu enggak ada jadwal!”
“Itu urusanku, bukan urusan Citra. Aku enggak berkewajiban melaporkan semua urusanku ke bawahanku termasuk Citra!”
Rian melangkah mendekat. Terlalu dekat. “Aku suamimu!” katanya, suaranya meninggi. “Wajar kalau aku tahu kamu ke mana.”
“Wajar?” Lia tertawa pendek, pahit, “aku enggak pernah tanya selama ini kamu ke mana saja. Aku setuju untuk enggak ikut campur urusan bisnis kamu yang enggak jelas itu! Selama ini kita hidup di atas gaji aku!”
Rian terdiam sesaat. Hanya sesaat. Rahangnya mengeras. Suasana berubah cepat. Udara seperti menebal.
Rian mengangkat tangannya—bukan memukul, tetapi menunjuk tepat ke arah wajah Lia.
“Kamu jangan macam-macam, Lia.”
Adit tersenyum.
Lia sudah punya alasan menceraikan Rian.
Tanpa ragu, Adit melangkah masuk. Suara sepatunya terdengar jelas di lantai teras.
Rian dan Lia sama-sama menoleh.
“Adit?” Lia terkejut.
Adit mengangkat payung. “Payung kamu ketinggalan di mobil aku. Akhir-akhir ini suka hujan, aku takut kamu butuh.”
Rian dan Lia sama-sama menatap payung itu. Lia langsung tahu. Itu bukan payungnya dan dari cara Rian memicingkan mata, jelas ia tahu juga.
Rian tertawa pendek. Sumbang. “Sekarang aku paham.” Ia menunjuk payung di tangan Adit. “Itu bukan payung Lia.”
Lia kembali menatap Rian yang maju selangkah mendekati Adit.
“Aku yang pilih semua barang Lia,” lanjutnya, “tas, sepatu, mobil, rumah. Bahkan payung. Dia enggak pernah punya payung seperti itu.”
Lia tidak langsung membantah. Mulutnya terkunci. Rian tidak sepenuhnya salah.
Semua benda yang dimiliki Lia, bahkan makanan yang masuk ke tubuhnya memang … pilihan Rian. Bahkan warna cat pagar rumah ini, Rian yang menentukan.
Lia menunduk, tangannya tampak gemetar. Ia tersadar bahwa hidupnya selama ini bukan benar-benar miliknya.
Rian tertawa lagi, kali ini lebih keras. “Jadi ini alasan kamu aneh beberapa hari terakhir?”
Lia kembali menatap Rian. Perutnya mendadak mual.
“Kamu selingkuh sama pria ini?”
Lia tidak membantah. Rian menyeringai, merasa menang sepersekian detik.
Adit maju satu langkah. Tenang. Terukur. Senyumnya tipis.
“Biasanya,” katanya pelan, “yang paling keras menuduh … justru pelaku utamanya.”
Senyum Rian memudar. Adit menikmatinya.
“Saya enggak punya hubungan asmara dengan Lia,” lanjut Adit, tetap tenang. “Tapi benar, saya mencintai Lia.”
Sunyi. Udara seperti berhenti dan untuk pertama kalinya, Rian terlihat tersentak.
Adit menatap Rian lurus. Tidak menantang. Tidak marah. Hanya jujur. “Sedari dulu. Saya mencintai Lia.”
***
#day12
#20harimencarimaaf
#novelgoodcompetition