Pria itu mengajak Elizabeth pergi ke sebuah hotel.
“Ke… kenapa kita malah ke sini?!” ucap Elizabeth kaget.
“Katanya mau cari uang, kan?”
“Ja… jadi kamu mau nyewa aku?! Ku… kupikir…”
“Apa?”
“Aku pikir kamu…”
Pria itu menyela, “Katanya butuh uang banyak. Sekarang malah banyak omong kayak gini. Kamu nggak tahu apa kalau saya ini kaya?! Saya ini pewaris tunggal ‘Wilson Group’. Jadi udah pasti aku kaya raya! Aku bakal bayar kamu ratusan juta!”
“Se… serius?! Kamu nggak bohong, kan?!”
“Hm. Lagian ini juga hotelku. Jadi kita bisa bersenang-senang di sini.”
Elizabeth terdiam, bingung.
“Gak mau? Katanya mau uang. Ya udahlah kalau nggak mau. Aku bakal cari cewek lain! Lagian duitku banyak kok. Aku bisa dapetin cewek mana saja!”
“Eh?! Ja… jangan! I… iya deh. Aku mau. Maaf..”
‘Ya ampun. Apa yang kamu pikirin, El? Sekarang yang perlu kamu lakuin adalah dapetin uang yang banyak. Orang ini udah baik karena milih kamu. Jadi ayo lakuin aja. Gak ada waktu untuk mundur,’ pikir Elizabeth, berusaha menenangkan dirinya.
“Yaudah, ayo! Aku nggak suka bertele-tele!”
“I… iya.”
Pria itu langsung menarik Elizabeth, dan mereka berjalan menuju ke hotel.
Saat tiba, suasana di dalam hotel terasa lebih mewah dan tenang. Elizabeth mengamati sekelilingnya, merasakan campur aduk antara ketegangan dan harapan.
Lea, yang merasa khawatir, berusaha mencari Elizabeth. “Haah.. membuang-buang waktu saja. Sekarang sebaiknya aku kembali ke Eli. Kasihan dia. Dia pasti sedang ketakutan sekarang.”
Lea pun bergegas menuju ke tempat terakhirnya bertemu Elizabeth. Namun, saat ia tiba, semuanya terlihat sepi. “Eh?! Di mana Elizabeth?!”
Sementara itu, di dalam hotel, pria itu melepaskan bajunya dengan percaya diri.
(DEG) Elizabeth terkejut!
“Kenapa kaget? Badanku bagus kan? Aku ini masih muda. Masih 22 tahun.”
“U… umur kita…”
“Hah? Kau juga 22 tahun?!”
“I… iya.”
“Wow. Tapi kau kelihatan polos sekali. Sepertinya kau tidak pernah berhubungan dengan pria manapun ya? Kau pasti tidak pernah melihat ABS seperti ini kan?”
Elizabeth mengangguk, merasa semakin gugup.
“Huh. Sudah kuduga. Sekarang lihatlah ABS indahku ini. Semua wanita selalu berdecak kagum saat melihatnya!”
Elizabeth menundukkan kepalanya, merasa tidak nyaman. Tiba-tiba, pria itu mencengkeram pipi Elizabeth.
“Apa-apaan ini? Ini sebuah penghinaan!”
(DEG) “A… apa? A… aku…”
“Hei, dengar ya. Sebelumnya wanita yang mengejarku dan mereka lah yang menginginkanku. Tapi kau? Apa ini? Kau bahkan tidak memujiku dan tidak menatapku, sialan! Ini penghinaan!”
Pria itu menghempaskan wajah Elizabeth, dan saat itu, Elizabeth merasa hatinya bergetar.
“Sekarang pergilah! Aku menyesal karena memilihmu! Aku ke sini untuk bersenang-senang, bukan malah badmood seperti ini! Aku benci wanita yang menghinaku seperti ini! Pergilah!”
Elizabeth langsung berlari, memeluk pria itu dari belakang. “Tu… tunggu! Aku minta maaf. Tolong jangan usir aku. Aku benar-benar minta maaf.”
Pria itu terkejut, dan Elizabeth merasakan gemuruh di dalam hatinya.
“Lepaskan aku!”
“Aku mohon maafkan aku. Aku akan bersujud!”
Dengan penuh rasa penyesalan, Elizabeth langsung bersujud di bawah kaki pria itu. “Aku benar-benar minta maaf. Tolong maafkan aku. Malam ini aku akan memuaskanmu. Jadi tolong maafkan aku.”
“Haah.. kalau kau mau minta maaf, berdiri di depanku dan tatap wajahku. Bukannya malah seperti ini.”
“I… iya!”
Elizabeth pun langsung menuruti perkataan pria itu dan berdiri di hadapan pria itu, merasakan tatapannya yang tajam.
“Aku minta maaf. Aku sangat menyesal. Tolong maafkan aku dan kau bisa lakukan apa saja padaku.”
“Kau sungguh menyesalinya?”
“Sangat. Aku sadar kalau aku seharusnya tidak seperti itu. Tolong maafkan aku. Ini pertama kalinya untukku.”
“Gak usah banyak alasan. Kalau kau sudah memilih jalan ini, maka lakukan dengan benar!”
“I… iya. Aku minta maaf. Aku akan lakukan sebaik mungkin!”
Pria itu pun langsung memeluk Elizabeth, dan Elizabeth merasakan kehangatan yang tak terduga.
“Bagaimana rasanya?”
“Hangat. A.. aku suka dipeluk. Kau benar-benar hangat.”
Pria itu menyeringai, dan dalam sekejap, semuanya terasa semakin dekat.
“Lalu tubuhku?”
“Tubuhmu sangat indah. Aku gak pernah melihat tubuh seindah ini.”
“Kalau begitu sentuh lah agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya tubuh pria.”
“I.. iya.”
Elizabeth pun menurutinya, merasakan getaran yang baru dan aneh.
“Kau suka?”
“Aku sangat menyukainya,” ucap Elizabeth, dengan perasaan campur aduk.
‘Ternyata dia sama aja kayak cowok yang lain. Aku tadinya sempat berpikir positif bahwa dia pria yang baik. Tapi yang namanya datang ke bar, sudah pasti itu pria nakal. Gak mungkin dia baik. Aku salah karena terlalu polos,’ pikir Elizabeth, berusaha menenangkan diri.
“Sekarang duduklah di kasur.”
“Ya.”
‘Aku harus memuaskannya sekarang. Dengan ini, aku jadi bisa dapat uang. Ini semua demi ayah,’ pikir Elizabeth, berusaha menguatkan hatinya.
Elizabeth pun duduk di kasur, menunggu langkah selanjutnya.
“Kau juga kemari lah,” ucap Elizabeth.
“Wah wah sepertinya kau sudah mulai mengerti akan pekerjaanmu itu ya.”
“Ya. Sekarang aku ingin melakukan pekerjaan ini dengan baik.”
“Bagus. Itulah yang aku inginkan.”
Pria itu pun mulai mendekati Elizabeth, dan Elizabeth merasa jantungnya berdegup kencang.
‘Tenang Eli. Tenang,’ pikirnya, berusaha menenangkan diri.
Pria itu menyeringai, melihat ketegangan di wajah Elizabeth.
“Rupanya kau masih takut.”
“Ma… maaf. Tapi aku berusaha sebaik mungkin! Kau jangan khawatir,” ucap Elizabeth, berusaha menunjukkan keberanian.
“Hm. Aku gak percaya. Sekarang diamlah di situ.”
Pria itu pergi, dan Elizabeth merasa seolah waktu melambat.
“Eh tu… tunggu! Tolong jangan marah.”
“Sudah diam. Aku hanya ingin pesan minuman.”
“Ah.. i.. iya.”
Pria itu pun langsung menelepon seseorang.
‘Kenapa dari tadi aku nggak bisa tenang? Ayolah Eli. Aku tahu ini bukan keinginanmu. Tapi kau harus tetap melakukannya. Tenanglah. Semuanya pasti akan berlalu dengan cepat,’ pikir Elizabeth, berusaha menenangkan diri.
“Hei, kemari lah!”
“I… iya!” ucap Elizabeth, berusaha menunjukkan keberanian.
“Kau sangat cantik malam ini. Apa kau tahu itu?”
“I… iya,” jawab Elizabeth, merasakan campur aduk di dalam hatinya.
“Hm.. aku terlalu banyak minum tadi. Kau lihat tidak?”
“I… iya.”
“Hm.. sekarang jawab pertanyaanku.”
“I… iya. Tanyakan saja!”
“Apa kau perawan?”
Pria itu menatap Elizabeth dengan tatapan serius, dan Elizabeth merasakan jantungnya berdegup kencang.
“Kenapa kaget? Kau tidak perawan?”
“A… aku… aku perawan.”
Pria itu langsung terdiam, dan Elizabeth merasa semakin tertekan.
“Ke… kenapa?”
‘Hati-hati, Eli. Jangan sampai terjebak,’ pikirnya, merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Huh. Hahaha.”
Pria itu mulai tertawa, dan Elizabeth merasakan ketakutan yang tak terduga.
“Ke… kenapa?” tanyanya, ketakutan.
Pria itu langsung menatap Elizabeth dengan intens, mendekatinya dan menghirup wanginya.
“Hmm.. kau benar-benar masih segar.”
“Ah…” Elizabeth terkejut, merasakan ketegangan yang semakin mendalam.
Pria itu menyeringai, dan Elizabeth tahu bahwa keputusan sulit ini baru saja dimulai.
Bersambung…