The General's Daughter (The Story of Goldy Star Kingdom)

Bab 1 – Joki Kecil

Many times, we can’t read

What story will be written in our lives

But … if something then happens …

It can be good, either bad!

 

Just believe …

All that happen

‘Coz God has a great plan for us!

 

Not always goes as what we want

But it will be wonderful!

 

020298

 

*

 

Perlombaan akan segera mulai. Sean naik ke punggung kudanya. Segera dia menuju barisan kuda-kuda lain yang juga bersiap. Ada lebih kurang tiga puluh kuda yang bertanding hari itu. Lebih banyak dari tahun lalu. Ini tahun ketiga, Sean mengikuti perlombaan semacam ini. Dan dua tahun kemarin, dia berhasil menjadi juara. Kali ini pun, Sean merasa yakin mampu untuk menang yang ketiga kalinya.

Pemimpin pacuan memberi aba-aba agar semua peserta bersiap. Satu … dua … tiga … yup!! Sean memacu White Knight secepatnya. Bila Sean dapat jadi yang pertama dari awal, biasanya sulit disusul oleh joki lainnya. Sean tidak kuatir White Knight akan letih, dia tahu kekuatan kuda itu. Berdua mereka pernah menempuh jarak yang lebih jauh dan kecepatan maksimal dapat dicapai.

“Ayo!! Lebih kencang!! Kamu bisa!! Jangan kendur!!” Teriakan dari orang-orang di pinggir jalan lintas terdengar memberi semangat. Entah siapa yang dijagokan, Sean anggap itu untuknya. Dan dia lebih semangat memacu kudanya.

Seperti tahun lalu, kuda-kuda lain tidak ada yang bisa menyusul Sean. Tapi tiba-tiba ada kuda putih seperti White Knight, mulai mengejar. Bedanya kuda putih itu ada bercak hitam di lehernya. Kuda itu terus menguntit White Knight, sangat ketat. Sean berusaha memacu lebih kencang kudanya, tapi kuda itu terus saja merapat pada White Knight.

Sean yakin, penunggang kuda itu baru pertama kali ikut perlombaan ini. Dua tahun ikut, Sean tidak melihat kuda ini. Rata-rata Sean mengenal peserta pacuan kuda yang ikut berlomba. Sean tak boleh kalah. Sean butuh hadiah uang dari perlombaan. Dia perlu biaya untuk membawa ibu ke dokter. Belum lagi keperluan lain untuk adik kembarnya.

Cita-cita Sean adalah ikut menjadi pegawai di istana raja. Dia harus banyak belajar agar siap saat mengikuti tes nanti di kota raja. Untuk itu Sean juga perlu membeli beberapa buku.

Si putih bercak hitam itu hampir menyusul Sean! Makin kuat Sean memacu White Knight. Lebih cepat, lebih cepat! Kedua kuda putih itu berkejaran sepanjang jalan menuju garis akhir. Pemandangan desa Lovely Sun yang indah tak lagi mereka pedulikan. Matahari yang cerah, bersinar menghangatkan dinginnya hari itu juga tak dirasa. Pacu, lari, maju!!

Garis akhir tinggal 500 meter lagi. Penonton bersorak sorai memberi semangat. Di antara mereka ada yang meneriakkan namanya. Sean!! Rasanya banyak yang berharap dia menang. Bahkan bertaruh!! Dia harus menang!!

“Come on, White Knight. We can do it … Come on!” Sean berseru sambil memacu White Knight. Lima belas meter, sepuluh, lima meter … dan … si putih bercak hitam itu melesat mendahului Sean ke garis akhir!

Teriakan senang, kecewa, dan bercampur dari arah penonton. Sean turun dari White Knight, menuntun kuda itu dan berjalan meninggalkan arena. Dia menuju istal. Dia gagal. Rasanya Sean tidak ingin bertemu siapapun.

“Mom, I am sorry …,” ujarnya sedih, mengingat sang ibu. “Aku tak dapat membantumu lebih banyak. Aku tak sehebat ayah. Ayah dulu selalu jadi pemenang. Aku tidak mampu menjaga nama baiknya.”

Sean duduk di atas pagar, di tepi pacuan tempat melatih kuda. White Knight, dia tambatkan tidak jauh darinya.

Dari arah penonton, di seberang masih terdengar teriakan-teriakan. Sorak sorai gemuruh. Pasti sedang penyerahan hadiah kepada pemenang. Hadiah yang seharusnya dia bawa pulang. Senyum bahagia ibu dan kedua adiknya yang sejak pagi muncul di kepalanya kini lenyap.

Sean tetap sendirian hingga arena itu mulai sepi. Satu-satu mereka yang datang berlalu dari tempat itu. Sean masih termenung. Apa yang akan dikatakannya pada ibu? Bagaimana dia bisa membawa ibu ke dokter?

“Ya Tuhan … kenapa harus begini??” batin Sean pilu.

Sean melompat turun dari pagar. Dia mendekati White Knight, melepas ikatan tali, dan bersiap pulang. Apapun hasilnya, dia harus pulang.

Ketika membalikkan badan, Sean terkejut. Seseorang berdiri di hadapannya. Jarak mereka kira-kira lima meter. Seorang anak muda, dari tampangnya belum genap lima belas tahun. Pakaiannya terbilang mewah. Di daerah sini tidak sering melihat seseorang dengan model pakaian yang dia kenakan. Tampan dengan rambut agak panjang, diikat di belakang kepalanya. Topinya dia biarkan terjuntai di punggung.

“Selamat, kamu joki yang hebat.” Suaranya kecil, sepertinya masih belum berubah jika dihitung dia sudah masuk usia remaja. Nada bicaranya ramah dan ceria. Dia maju beberapa langkah dan mengulurkan tangan pada Sean. Sean mengikat kembali tali kekang kudanya di pagar, lalu Sean menyambut tangan mungilnya.

“Tidak. Kamu joki yang lebih hebat. Padahal kamu masih sangat muda. Selamat untukmu.” Sean tersenyum. Bagaimanapun dia harus berjiwa besar. “Kamu bukan dari sini. Dari mana asalmu?”

“Aku dari kota. Keluargaku sedang berlibur ke sini. Kami tinggal di penginapan di pinggir desa. Sejak aku datang, aku dengar ada perlombaan ini. Aku ingin mencoba kemampuanku. Sama sekali aku tidak mengira akan menang. Kudengar, kamu yang menang dua tahun ini,” katanya masih dengan nada bicara yang ringan dan menyenangkan didengar.

“Ya …,” sahut Sean. Sean balik badan, melepas lagi ikatan tali kudanya. Dia bersiap naik ke punggung White Knight.

“Hei … tunggu!” ujar anak itu. “Aku mau memberikan ini padamu.”

Dia melangkah mendekati Sean. Dia sodorkan kantong berisi uang hadiah kemenangannya. Sean menatap anak itu bingung.

“Ini buatmu. Aku tidak memerlukan uang ini. Kalau ayahku tahu aku ikut perlombaan dia pasti akan marah. Dia tidak suka aku ikut pacuan. Aku pergi diam-diam tadi pagi dari penginapan,” katanya sambil tersenyum.

“Itu hadiahmu. Kenapa kamu berikan padaku?” Sean masih menatap aneh padanya.

“Ya, ini hadiahku … dan aku berhak menggunakan hadiah ini sesuka hatiku, karena ini punyaku. Aku mau memberikannya untukmu. Anggaplah kamu menolong agar aku tidak kena marah ayahku,” ujarnya lagi.

“But-“

“Please … I have no longer time.” Dia menaruh kantong uang di tangan Sean. “I must go now.” Dia beranjak pergi.

“Heeii!!” panggil Sean. “What’s your name?”

Anak itu menoleh. “Vicky!” jawabnya. Dia berlari, naik ke punggung kudanya dan segera pergi.

Sean terdiam di tempatnya. Masih terasa aneh dengan kejadian hari itu. Sean kalah dalam perlombaan oleh seorang anak remaja. Tapi hadiah perlombaan itu, ada di tangannya. Anak itu memberikan jumlah uang yang cukup besar buat Sean, hanya karena takut dimarahi ayahnya.

Dengan hati penuh tanya, Sean mendekati White Knight. Dia naik ke punggungnya, menungganginya, dan pulang.

 

 

 

Lates Chapters

Bab 8 – Ulang Tahun Sang Ratu

"Iya. Dia putri bungsu Jendral Leonard. Mitch kurasa jatuh cinta padanya. Tapi tidak mungkin dia bisa mendekati Victoria. Sekalipun Victoria sangat baik, tetapi keluarganya pasti…

Bab 7 – Victoria?

"Sean, boleh aku bertemu ibumu?" Vicky berdiri. Dia berjalan keluar rumah makan itu. Sean mengejarnya.  Vicky sengaja, dia menghindari menjawab pertanyaan Sean.  "Tentu. Kami tinggal…

Bab 6 – Something Different

Vicky kaget luar biasa dengan tingkah Osvaldo! Seketika dia dorong Osvaldo dan secepat kilat tangannya menampar pipi Osvaldo keras. "Keparat! Apa yang kamu lakukan?!" sentak…

Bab 5 – Hari yang Tak Terduga

Vicky masuk ke toko buku di ujung jalan. Toko kecil itu terletak tidak jauh dari rumahnya. Dia ingin membeli buku yang pernah dia lihat di…

Bab 4 – Gadis yang Unik

Jam sepuluh pagi. Semua penari pilihan dikumpulkan di ruang pertemuan istana. Mitchell dan Michelle tiba kemarin di kota raja. Mereka sungguh takjub dengan keindahan kota…

Bab 3 – Aku Menari?

Di sebuah rumah besar, megah, dan indah. Tidak jauh dari istana raja Goldy Star, tampak seorang gadis cantik berlatih menari. Seorang gadis lain yang terlihat…

Bab 2 – Lovely Sun

Sean membawa ibu ke dokter pagi itu. Dokter Lyle mengatakan ibu ada masalah dengan jantung. Ibu harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu lelah. Sean…
error: Content is protected !!