Jam sepuluh pagi. Semua penari pilihan dikumpulkan di ruang pertemuan istana. Mitchell dan Michelle tiba kemarin di kota raja. Mereka sungguh takjub dengan keindahan kota raja. Guru mereka, Ms. Ross, Sean, dan ibu mengantar keduanya. Mereka akan tinggal sebulan di kota raja hingga acara perayaan ulang tahun sang ratu digelar.
Selama di kota raja, para penari ditempatkan di satu gedung khusus di lingkungan istana, termasuk guru pendamping. Sedang Sean dan Virginia tinggal di penginapan tak jauh dari istana.
Penasihat raja yang dipercaya mengatur acara perayaan ulang tahun ratu, memimpin acara itu. Sebelum mereka diuji kemampuannya, mereka dipanggil satu per satu. Nanti mereka akan mendapat pasangan untuk tarian yang akan dibawakan. Dan pasangan akan ditentukan dalam pertemuan ini.
Satu-satu mereka disebut, memastikan apakah semua penari terpilih sudah hadir. Mitchell dan Michelle dipanggil hampir yang terakhir.
“Mitchell Louis James Lambert.”
Mitchell maju, bersujud memberi hormat, lalu kembali ke tempatnya.
“William Dale Thompson.”
Seorang pemuda tampan berambut pirang maju memberi hormat, lalu kembali ke tempatnya.
“Michelle Laurin Jane Lambert.”
Michelle melakukan hal yang sama.
“Victoria Crystal Aura Leonard.”
Tak seorangpun bergerak ke depan.
“Victoria Crystal Aura Leonard?” Panggilan sekali lagi.
Seorang gadis berambut gelap, maju mendekati penasihat raja, dia berbicara sesuatu pada pria gagah itu. Tiba-tiba seseorang masuk dengan tergesa-gesa dan mendekati penasihat raja.
“Ampun, Tuanku. Saya terlambat,” katanya dengan nada sedikit panik.
Dia muncul dengan pakaian pria biasa dan datang memberi hormat pada penasihat raja.
“Vicky?” Penasihat raja terkejut. Dia memandang anak itu dengan tatapan bingung.
“Dalam perjalanan ke sini, saya melihat seekor anjing mati. Jadi saya menguburnya dulu. Karena itu saya terlambat.” Vicky memberi penjelasan.
Claudyn yang berdiri di sebelah penasihat raja, bergeser ke sisi Vicky.
“Kamu keterlaluan. Kenapa kamu datang dengan memakai pakaian pria, Vicky? Dan pakaianmu kotor begini. Kalau ayahmu tahu dia bisa marah,” bisik Claudyn geram.
“Aku tidak bermaksud begitu, Clay, tapi-“
“Sudahlah.” potong penasihat raja. “Kembali ke tempat kamu, Vicky. Kita akan lanjutkan sekarang.”
Vicky dan Claudyn mengambil tempat mereka. Penasihat raja mulai mengatur latihan. Mereka akan berlatih setiap hari. Sabtu dan Minggu mereka istirahat. Ada ibadah bersama keluarga kerajaan di chapel istana.
Wajah Vicky menciut. Dia tidak suka jadwal itu. Dia tidak ada waktu bermain lagi kecuali akhir minggu. Dan dia pasti harus terus memakai gaun selama pertemuan-pertemuan itu dan itu menyebalkan.
*****
Sore itu, seusai latihan, Vicky membawa kuda putihnya berkeliling istana, di halaman belakang yang luas dan indah. Dia berpakaian rapi, mengenakan gaun, karena malam itu ada pertemuan dengan beberapa pejabat istana, dia harus hadir cantik. Setelah puas berkeliling, Vicky berhenti di dekat kolam di taman belakang.
Tiba-tiba seseorang datang mendekat. Vicky memperhatikan, sepertinya dia pernah melihat pemuda itu.
“Hey ... do you live here?” tanya pemuda itu. “Aku Mitchell Lambert dan aku salah satu penari yang terpilih untuk ulang tahun ratu. Bisa kita berkenalan?”
Ternyata Mitchell, salah satu penari yang diundang dari luar kota raja.
Vicky tersenyum. Gaun merah tua dipadu putih gading membuat Vicky sangat cantik. Rambutnya yang halus tergerai, kemerahan tertimpa sinar mentari senja. Dia juga terlihat anggun.
“Aku Victoria Lambert,” jawab Vicky.
“Ooh ….” Mitchell terperangah. “Kamu yang kemarin datang terlambat waktu latihan?” tanya Mitchell. Dia mencermati Vicky dari ujung rambut hingga kaki.
“Ya ….” Vicky tersenyum lagi. “But, excuse me, I have to leave now.”
Vicky melihat Claudyn di depan Gedung tempat pertemuan melihat padanya dan melambai. Vicky melompat naik di punggung kudanya, Lion Star. Segera dia meninggalkan Mitchell yang masih terbengong-bengong menatapnya.
“Woww … dia cantik sekali … tapi kemarin?” Mitchell masih rasa tak percaya. Karena kemarin yang Mitchell lihat, Vicky datang mengenakan pakaian pria yang sederhana dan tampak kumal. “Aku penasaran dengan Victoria. Vicky? Kamu benar-benar gadis yang unik.”
Setelah Vicky tak terlihat lagi, Mitchell menuju ke perpustakaan istana. Michelle sedang ada di sana. Michelle senang membaca, jadi dia berniat memakai kesempatan baca buku sebanyak-banyaknya saat ada di istana.
“Michelle, aku bertemu gadis cantik luar biasa, di dekat kolam di halaman belakang istana,” katanya bersemangat.
“Gadis cantik luar biasa?” Michelle heran dengan kata-kata Mitchell.
“Victoria Lambert,” jawab Mitchell sambil tersenyum lebar.
“Yang datang dengan pakaian pria kemarin? Kukira dia benar-benar laki-laki,” kata Michelle.
“Benar, gadis itu. Ternyata dia cantik sekali. Gaunnya indah, rambutnya kemerahan, halus … ah ….” Mitchell masih bisa membayangkan jelas cantiknya Vicky dalam pikirannya.
“Kamu menyukainya?” ujar Michelle dengan alis berkerut.
Mitchell mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Hati-hati, Mitch. Dia putri Jendral Leonard. Kita cuma rakyat jelata,” tandas Michelle.
“Aku tahu. Aku hanya mengaguminya. Dia pasti tidak akan mau dengan pria miskin seperti aku,” balas Mitchell.
Hatinya menciut menyadari keberadaan dirinya. Dia tahu, jika mengejar Vicky akan seperti berusaha terbang ke langit mengambil bintang. Tapi, di sisi lain, apakah salah dia menyukai anak seorang jenderal.
Michelle sudah kembali sibuk dengan bacaannya. Mitchell akhirnya mengambil sebuah buku dan mulai tenggelam dalam tulisan yang dibacanya.
*****
“Dari mana, Sean?” Virginia bertanya pada Sean yang baru masuk kamar di penginapan.
“Ibu, aku pergi mencari keterangan bagaimana bisa bekerja di istana,” jawab Sean. Dia duduk di sebelah Virginia.
“Kamu masih ingin melakukannya?” Virginia bertanya lagi.
“Ibu, aku punya cita-cita dalam hidupku. Dengan bekerja di istana, aku bisa berbuat lebih banyak untuk negeri ini. Apakah sungguh Ibu tidak ingin aku pergi?” Sean balik bertanya.
“Ibu takut kehilangan kamu, Nak. Ibu sudah kehilangan ayahmu,” kata ibunya.
“Ibu, aku akan baik-baik saja. Justru aku mau Ibu dan si kembar lebih baik, aku akan memperjuangkan ini.” Sean menyentuh lengan ibu, berusaha meyakinkannya.
“Ibu mengerti, Nak. Ibu mengerti.” Virginia tersenyum.
“Kesempatan selalu dibuka. Selesai acara ulang tahun ratu, wawancara dengan pengurus kepegawaian akan dimulai. Yang mendaftarkan diri akan mendapat panggilan nanti. Hanya tidak tahu kapan. Karena istana yang menentukan pemanggilan,” jelas Sean.
“Hmm … tidak begitu mudah. Pasti akan lama menunggu. Karena Ibu yakin yang ikut mendaftar ratusan orang dari seluruh negeri,” ucap Virginia.
“Benar, Bu. Tapi aku akan tetap mencoba.” Mantap Sean berkata.
“Ibu akan mendoakan, supaya harapanmu bisa terwujud.” Ibunya tersenyum.
“Terima kasih, Bu.” Sean lega. Setidaknya ibunya tidak keberatan. Dia akan segera mengisi lembar pendaftaran, dan menyerahkannya sebelum pulang, saat pendaftaran sudah dimulai.
“Sean, apakah adik-adikmu betah di istana? Yang Ibu dengar ketat sekali di sana. Jadwal mereka padat dan tidak bisa sembarangan keluar masuk. Bahkan di lingkungan istana juga hanya area tertentu yang mereka bisa masuki.” Virginia memikirkan si kembar.
“Kuharap mereka bisa mengikuti dengan baik. Sebab jika melakukan kesalahan hingga tiga kali, melanggar aturan yang dibuat, mereka akan dipulangkan,” kata Sean.
“Aku harap Mitchell dan Michelle bisa membawa diri dengan baik.” Virginia mengangguk.
“Paling tidak Ms. Ross bersama mereka. Dia akan mengingatkan agar selalu hati-hati bersikap,” tandas Sean.
Virginia mengangguk lagi.
“Ibu, ayo kita pergi makan malam.” Sean berdiri.
“Baiklah. Aku ingin roti jahe. Lama tidak memakannya.” Virginia ikut berdiri.
Keduanya meninggalkan penginapan dan menuju kedai tidak jauh dari tempat itu.