JULEHA Mendadak Artis

Bab 1. My Dream Vs My Story

Juleha memandang langit-langit kamar kosnya yang penuh dengan poster-poster idola K-Pop. Poster itu ditempel dengan isolasi yang sudah mulai menguning dan mengelupas di ujungnya.

Di sudut kamar, terdapat sebuah cermin kecil dengan retak-retak berbentuk sarang laba-laba. Meski begitu, cermin itu tetap ia gunakan untuk berdandan, meskipun tentu saja mukanya terpecah belah karenanya.

“Juleha, Juleha … kapan ya hidupmu bisa kayak di drama Korea?” gumamnya sambil mengoleskan bedak tabur murah yang tinggal ampas.

Saat bercermin, Juleha seringkali membayangkan dirinya sebagai bintang terkenal yang menyanyi sambil dilempari bunga oleh para penggemar. Iya, itu adalah mimpinya sejak lama.

Tapi apa mau dikata jika kenyataan berkata lain. Hari ini, ia harus bangun lebih pagi untuk menghindari dimarahi Pak Herman, bosnya yang terkenal killer dengan kumis lelenya.

Juleha bergegas menuju halte bus. Seperti biasa, halte itu penuh sesak dengan pekerja kantoran lain. Juleha berdiri di pojokan sambil mendengarkan lagu dari earphone-nya yang sebelah kiri sudah mati total karena pernah ketindih kasur. Lagu itu adalah soundtrack dari drama Korea favoritnya, Oppa Sangar Tapi Romantis, yang kisahnya selalu membuatnya merasa hidup, di mana tokohnya hidup glamor seperti apa yang diinginkannya.

Bus berhenti dan Juleha naik dengan penuh perjuangan. Ia harus berdesakan dengan penumpang lain, berpegang pada pegangan yang lengket entah karena apa. Dalam perjalanan, ia melamun, membayangkan dirinya berada di dalam mobil mewah dengan supir pribadi. Lamunannya terhenti ketika seorang ibu-ibu di sebelahnya bersin keras tanpa menutup mulutnya.

”Muncrat!” Refleks Juleha berkata.

Entah kesialan macam apa yang harus ia alami pagi itu, sudah terkena semburan naga betina, masih pula dia harus mabuk karena ada salah satu penumpang yang membawa buah durian.

Juleha hanya bisa menghela napas panjang. “Ya Allah … sabar, Juleha. Ini ujian sebelum jadi artis.”

Sesampainya di kantor, Juleha langsung menuju meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan dokumen. Ruangan itu kecil dan sumpek, dihuni oleh belasan pegawai yang saling berteriak karena printer macet atau jaringan internet lambat.

”Pagi, Leha! Sudah siap menghadapi mimpi buruk hari ini?” sapa Didi, rekan kerjanya yang terkenal suka menyindir.

Juleha hanya bisa tersenyum tipis. “Setiap hari di sini sudah seperti mimpi buruk,” balasnya setengah bercanda.

Didi tertawa kecil dan kembali ke mejanya. Di dalam hatinya, Juleha berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa frustasinya. Ia ingin sekali keluar dari rutinitas riuh seperti ini, tetapi apa daya, impian menjadi selebriti tampak terlalu jauh untuk digapai. Namun pada hari itu, sesuatu yang tidak biasa terjadi.

Saat istirahat makan siang, Juleha dan sahabatnya, Susi, duduk di kantin kantor. Susi sedang asyik menceritakan pengalamannya belanja online, sementara Juleha hanya mendengarkan sambil menggulir ponselnya. Ketika itulah ia melihat sebuah unggahan di media sosial tentang kontes video pendek bertema “My Dream vs My Story”

Kontes itu mengharuskan peserta membuat video tentang kehidupan sehari-hari mereka yang biasa-biasa saja, lalu membandingkannya dengan versi “mimpi” mereka yang luar biasa.

“Sus! Lihat ini!” seru Juleha dengan mata berbinar-binar. “Kontes ini sepertinya cocok buat aku, Sus.”

Susi melirik ponselnya. “Kontes video? Emang kamu bisa bikin video, Leha?”

“Bisa, dong! Aku cuma perlu nunjukin hidupku yang kayak sinetron azab ini terus dibandingin sama versi mimpi jadi artis. Pasti keren!” jawab Juleha penuh percaya diri.

Susi hanya menggelengkan kepala. “Terserah kamu, lah, Leha. Tapi kalau kalah, jangan nangis sambil makan mie instan, ya.”

Malam itu, Juleha menghabiskan waktu membuat konsep untuk videonya. Ia memutuskan untuk merekam dirinya saat menjalani kehidupan sehari-hari. Mulai dari bangun kesiangan, berdesakan di bus, dimarahi bos, hingga makan mie instan di kamar kos. Lalu, ia membandingkan semuanya dengan adegan imajinasinya sebagai selebriti. Di mana ia bisa bangun tidur di kamar hotel mewah, naik mobil sport, menghadiri acara karpet merah, dan makan malam di restoran mahal.

Hasilnya? Video itu lebih konyol dari ekspektasi siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Saat merekam adegan berjalan di karpet merah, Juleha malah tersandung karena sepatu yang ia pinjam dari Susi ternyata kebesaran. Namun bukannya panik, ia justru ketawa sambil berkata, “Cut dulu, guys!” (padahal cuma Susi yang jadi kru sekaligus tukang rekam).

”Sus, hapus dulu, ya. Kita take ulang,” pinta Juleha.

Tanpa mengindahkan apa yang dimau oleh sahabatnya itu, Susi justru mengupload video konyol Leha ke medsos miliknya. “Biar viral!” pikirnya.

Tanpa sepengetahuan Juleha, mereka pun mengulangi adegan yang sama. Setelah selesai, Leha mengedit video tersebut menggunakan aplikasi gratis. Hasilnya memang tidak sempurna, tetapi cukup untuk membuatnya tertawa sendiri. Ia pun mengunggah video itu ke media sosial dengan judul: “Ketika Realita dan Mimpi Bertengkar.” Tak lupa, ia menambahkan tagar yang diwajibkan oleh kontes.

Keesokan harinya, Juleha tidak berharap banyak. Ia berpikir video itu hanya akan dilihat oleh beberapa temannya. Namun, saat ia membuka ponselnya di pagi hari, notifikasinya penuh dengan komentar dan tanda suka. Videonya ternyata viral!

”Susiii … apa ini?” Wajah Juleha memerah karena ternyata video konyol yang diupload oleh Susi adalah video yang seharusnya dihapus. Sedangkan Susi, justru tertawa terpingkal melihat ekspresi Leha.

Banyak orang yang merasa terhibur oleh perbandingan lucu antara realita dan mimpi dalam video tersebut. Bahkan, beberapa akun besar ikut membagikan unggahannya.

Juleha tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa seperti selebriti. Di kantor, rekan-rekannya juga mulai memperhatikan. Bahkan Didi, yang biasanya suka mengejek, kali ini memujinya. “Leha, aku baru nonton video kamu. Gokil banget! Nggak nyangka kamu punya bakat kayak gitu.”

Juleha tersenyum lebar. “Thanks, Di. Kadang, bakat itu muncul di saat terjepit. Kayak kamu di bus tiap pagi. Iya, ‘kan?”

Didi terdiam karena merasa tersindir balik.

Meski video itu membuat Juleha merasa sedikit seperti selebriti, ia tahu jika ini baru awal. Namun satu hal yang pasti, hidup Juleha kini lebih dari sekadar rutinitas membosankan. Ya … siapa tahu, mungkin mimpi jadi artis benar-benar sedang mengetuk pintunya, atau setidaknya, pintu bus kota terlebih dahulu.

“Leha, kamu nanti mau balik bareng, nggak?” tanya Didi.

“Nggak!” jawab Leha singkat, padat, dan jelas.

Ketika suasana kantor semakin ramai dengan rekan-rekan Juleha yang tak henti-hentinya membahas video viralnya, tiba-tiba terdengar suara berat yang langsung membuat suasana senyap.

“JULEHA! Ke ruangan saya sekarang juga!”

Juleha yang sedang menikmati pujian dari rekan-rekannya tertegun. Ia menoleh ke arah sumber suara. Di sana berdiri Pak Herman dengan kumis lelenya yang tampak lebih tebal dari biasanya, ditambah wajahnya yang seperti siap meledak.

“Saya, Pak?” tanya Juleha sambil menunjuk dirinya sendiri.

“IYA! Kamu pikir ada Juleha lain di sini?” bentak Pak Herman sambil berjalan masuk ke ruangannya.

 

 

Lates Chapters

Bab 20. Mantan Selebriti

Juleha kembali fokus pada pekerjaannya di kantor, tetapi gosip tentang dirinya sebagai seorang selebriti gagal sudah terlanjur menyebar. Teman-temannya justru menjadikan hal itu sebagai bahan…

Bab 19. Pensiun Glamor

“Astaga… Haruskah aku pensiun dini dari dunia artis ini?” rintihnya seraya memijit-mijit keningnya, berusaha menenangkan diri.   Juleha duduk diam di kamar kosnya yang terbilang…

Bab 18. Bencana Endorsement

Juleha awalnya merasa sangat antusias saat menerima tawaran endorsement pertamanya. Ini adalah kesempatan emas untuk menambah penghasilan sekaligus memperkuat citra selebritasnya, meskipun ia tahu dirinya…

Bab 17. Cuci Mata

Ibunya masih saja mengamati poster-poster itu dengan wajah penuh tanda tanya, sementara Om Riyadi dan sepupu-sepupunya mulai berbisik-bisik, membicarakan hal-hal yang membuat Juleha semakin risih.…

Bab 16. Kunjungan Keluarga

Hari itu, Juleha baru saja tiba di kos-kosannya yang sederhana. Setelah melewati minggu penuh drama di kampung, ia berharap bisa sedikit bernapas lega. Hatinya masih…

Bab 15. Keluarga Ikut Campur

Kehidupan ganda Juleha semakin rumit ketika berita tentang dirinya yang tampil di acara TV sampai ke telinga keluarganya. Awalnya, Juleha berusaha menyembunyikan semuanya, tapi dengan…

Bab 14. Badai Komentar Negatif

Setelah acara selesai, Juleha langsung berlari menuju ruang ganti, melewati koridor panjang yang dipenuhi kru dan tamu acara lainnya. Tatapan mereka terasa seperti belati yang…

Bab 13. Talk Show

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Undangan untuk tampil di acara TV nasional itu tiba di inbox Juleha, disampaikan langsung oleh Mbak Yuni, manajer palsu yang…

Bab 12. Sahabat Sejati

Sahabat Juleha—Susi, mulai merasa jika akhir-akhir ini Juleha mulai berubah. Mulai dari sikap, penampilan, cara bicara, dan beberapa hal kecil yang memang Susi merasakan perubahan…

Bab 11. Keseharian Ganda

Setiap pagi adalah perjuangan bagi Juleha. Bangun dengan mata setengah terpejam, ia segera meraih roti tawar yang tersisa dari semalam dan mengunyahnya sambil tergesa-gesa bersiap.…

Bab 10. Kontrak dan Utang

Setelah merasa sukses karena telah "lulus" dari pelatihan ajaib bersama Bu Irma, Juleha kembali ke kantor agency keesokan harinya dengan penuh semangat. Dia membawa sertifikat…

Bab 9. Semangat Tanpa Batas

Pagi itu, telepon Juleha berdering dengan nada yang cukup mengganggu, memecah keheningan di kamar kosnya yang sempit. Ia meraih ponsel di meja kecil di samping…

Bab 8. Sial tapi Beruntung

Pagi itu, Juleha berdiri di dapur kecil yang ada di samping kamar kosnya, ia berdiri di sana dengan wajan teflon di tangan kanannya. Teflon kecil…

Bab 7. Julia Cerez

Hari-hari berikutnya penuh dengan kejadian tak terduga. Ketika Juleha pergi ke pasar untuk membeli sayur, beberapa pedagang mengenalinya.   “Eh, ini Mbak Juleha yang di…

Bab 6. Gara-Gara Gorengan

Hampir dua minggu setelah proses syuting, Juleha sudah hampir melupakan pengalaman canggungnya di studio. Namun, semua itu berubah ketika iklan Aurora Luxe mulai tayang di…

Bab 5. Syuting Pertama

Juleha mengikuti Ivan menaiki tangga menuju lantai atas dengan hati yang campur aduk. Tangannya memegang erat pegangan tangga, takut-takut sandal haknya mengkhianati langkahnya yang gemetaran.…

Bab 4. Drama Pagi Hari

Juleha berlari tergesa-gesa menembus gerbang kantor. Sepatu pantofelnya yang pada dasarnya sudah aus berbunyi "pletak-pletok" di sepanjang koridor, mengundang tatapan heran beberapa kolega yang sudah…

Bab 3. Mimpi

Keesokan harinya, sepulang kerja, Juleha merasa gugup saat melangkah ke kafe tempat ia berjanji bertemu dengan Arman. Ia mengenakan baju terbaik yang ia miliki, meski…

Bab 2. Pujian

"Leha!” seru Pak Herman lagi. “Mau jadi patung kamu di situ?”   Rekan-rekan kerja Juleha langsung menatapnya dengan pandangan prihatin sekaligus penasaran. Susi, yang duduk…
error: Content is protected !!