Hari-hari berikutnya penuh dengan kejadian tak terduga. Ketika Juleha pergi ke pasar untuk membeli sayur, beberapa pedagang mengenalinya.
“Eh, ini Mbak Juleha yang di iklan, kan? Yang pake Aurora Luxe?” tanya seorang ibu-ibu sambil tersenyum lebar.
“I-iya, Bu,” jawabnya canggung.
“Wah, jangan lupa nanti endorse produk kita ya, Mbak. Siapa tau dagangan saya laris!” canda ibu itu sambil menunjuk tumpukan kangkung.
Kejadian serupa terjadi di mana-mana. Teman-temannya yang dulu hanya mengenal Juleha sebagai “si viral konyol” kini lebih sering menyapanya sebagai “Juleha si bintang iklan.” Bahkan, beberapa akun media sosial lokal mengunggah meme lucu yang menggabungkan cuplikan video viralnya dengan adegan dari iklan Aurora Luxe.
Misalnya, ada satu meme yang menunjukkan Juleha di video karaoke dengan tulisan: “Dulu di acara kantor.” Di bawahnya, ada gambar dari iklan Aurora Luxe dengan tulisan: “Sekarang jadi ratu kecantikan.”
Meski awalnya malu, Juleha tak bisa menahan senyum. Di balik lelucon itu, ia menyadari bahwa hidupnya memang berubah.
Namun, tak semua orang bersikap ramah. Ada beberapa komentar di media sosial yang menyebut Juleha “beruntung saja” atau “cuma numpang viral.”
“Ah, dia mah cuma hoki. Kalau nggak ada video tersandung itu, siapa juga yang bakal peduli?” tulis salah satu komentar.
Membaca komentar itu, Juleha sempat merasa sedikit sedih. Tapi, ia mengingat kembali kerja kerasnya saat syuting. “Aku bukan cuma hoki. Aku juga usaha,” gumamnya, mencoba menguatkan hati.
Ketika Ivan menelepon untuk memberinya kabar bahwa kampanye iklannya sukses besar, Juleha hanya bisa tersenyum lebar.
“Juleha, kamu sudah jadi wajah baru Aurora Luxe. Siap-siap ya, tawaran lain pasti akan datang,” kata Ivan dengan nada bangga.
“Tawaran lain?” Juleha membelalakkan mata. “Pak Ivan, saya aja masih gugup kalau disuruh jalan anggun. Kalau disuruh jadi bintang iklan lagi, gimana dong?”
Ivan tertawa. “Tenang, Juleha. Kamu akan belajar. Dan percayalah, dunia ini cocok untuk kamu.”
“Tapi….” Sejenak Pak Ivan mengjeda kata-katanya.
“Tapi apa, Pak?” tanya Juleha.
“Ganti nama kamu. Mulai sekarang, nama panggung kamu adalah ‘Julia Cerez’.”
“Kenapa harus diganti, Pak?” tanya Juleha lagi.
“Supaya, ya… Supaya lebih enak didengar, dan biar kamu makin Hitz,” jawab Pak Ivan.
Di balik rasa gugupnya, Juleha tahu bahwa ini adalah awal baru baginya. Dari seorang perempuan biasa yang viral karena kesalahan sebuah video konyol, ia kini melangkah ke dunia baru sebagai wajah baru kecantikan. Sejak saat itu pula dia menggunakan nama panggung “Julia Cerez” sebagai nama bekennya.
Namun, satu hal tetap sama: ia masih Juleha yang selalu membawa gorengan di tasnya, meskipun kini ada lipstik Aurora Luxe di saku yang sama.
–
Sore itu, Leha sedang duduk di atas kasur kamar kos nya yang memang kecil. Wajahnya serius memandangi secangkir kopi sachet yang tinggal separuh. Di tangannya, ponsel terus berdenting karena notifikasi dari media sosial. Beberapa tawaran pekerjaan baru masuk ke inbox-nya. Dari mulai endorse cemilan, review skincare lokal, sampai… promosi jamu pelangsing.
Juleha mengerutkan dahi. Ia mengangkat alisnya, memandangi perutnya sendiri yang tak terlalu besar, tapi juga tidak kecil. “Ini kode apa hinaan, sih?” gumamnya pelan. Ia berpikir sejenak, lalu tertawa sendiri. “Tapi kalau bayarannya besar, ya sudahlah. Demi tagihan listrik bulan depan!”
Tak lama kemudian, Susi datang dengan membawa koran yang sudah lecek bekas bungkus makanan. “Leha! Kamu masuk koran juga ternyata! Nih, baca sendiri!” katanya sambil menaruh koran di meja dengan dramatis, seolah-olah sedang memamerkan berita nasional.
Juleha menoleh malas. “Koran? Siapa juga yang baca koran sekarang? Orang-orang lebih sibuk nonton drama Korea di ponsel.”
“Tapi ini beda, Leha! Kamu masuk rubrik gaya hidup! Dibilang kreatif, sederhana, dan…” Susi berhenti membaca, lalu terkekeh. “Dan sedikit ceroboh? Hahaha! Wah, jurnalis ini tahu banget kepribadianmu.”
Juleha meraih koran itu dengan gerakan kesal. “Ya ampun, Sus. Kalau cuma buat ngejek, gak usah bawa-bawa koran segala.” Tapi matanya tetap melirik tulisan itu, dan ia tak bisa menahan senyum kecil. Ternyata, usahanya selama ini mulai benar-benar mendapat perhatian.
Ternyata, perhatian itu juga datang dengan konsekuensi. Di kantor, Juleha mulai merasa hidupnya berubah. Beberapa rekan kerja yang biasanya cuek kini jadi sok akrab. Ada yang mendadak sering mengajak makan siang bersama, ada yang minta tolong bantu endorse bisnis online mereka, bahkan ada yang tiba-tiba bertanya, “Leha, kalau aku bikin video viral kayak kamu, gimana caranya?”
Yang paling membuat dia kewalahan adalah bosnya, Pak Herman, yang mendadak memanfaatkan popularitas Juleha untuk kepentingan kantor. Suatu hari, Pak Herman memanggilnya ke ruang meeting. Di sana, sudah ada beberapa staf senior dan beberapa properti promosi aneh seperti banner penuh warna neon, balon berbentuk logo kantor, dan kostum badut.
“Leha, kita butuh ide kreatif kamu untuk meningkatkan citra kantor. Bagaimana kalau kamu jadi bintang iklan kita?” Pak Herman berkata dengan penuh semangat.
“Iklan? Iklan apa, Pak?” tanya Juleha yang merasa penasaran.
Pak Herman mengangkat sebuah kostum badut berwarna jingga yang entah dari mana asalnya. “Ini! Kamu pakai ini dan joget di depan kamera! Orang pasti suka!”
Juleha langsung menahan napas cukup lama, antara ingin tertawa atau menangis. “Pak, saya bukan badut profesional. Ini mah penghinaan namanya.”
“Bukan penghinaan, Leha. Ini adalah sebuah inovasi!” kata Pak Herman sambil tersenyum lebar. “Kalau kamu viral, nama kantor juga naik. Win-win solution, kan?”
Susi, yang mendengar cerita itu malam harinya, langsung tertawa sampai tersedak gorengan. “Astaga, Leha. Kalau kamu beneran jadi badut kantor, aku bakal jadi orang pertama yang bikin meme kamu.”
“Coba bikin dulu, Sus. Lihat aja nanti siapa yang nangis pas aku gantian viral lagi,” balas Leha dengan kesal, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
Namun, di balik semua kekonyolan itu, ada momen-momen yang membuat Juleha berpikir. Popularitas yang datang tiba-tiba ini memang membawa peluang, tapi juga tanggung jawab. Apalagi setelah ia dihubungi oleh seorang produser acara talk show pagi, yang ingin mengundangnya sebagai salah satu bintang tamu. Produser itu bahkan mengatakan bahwa mereka ingin agar Juleha berbagi cerita tentang bagaimana ia bisa mengubah hidup dari “pegawai admin biasa” menjadi “konten kreator viral.”
Ketika hari itu tiba, Juleha benar-benar merasa gugup. Ia berdiri di belakang panggung, mengenakan blazer pinjaman dari Susi yang sedikit kebesaran. Di tangannya, ia menggenggam secangkir kopi instan yang entah kenapa selalu menjadi penyelamatnya saat stres. Ia mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri, tetapi malah tersedak.
“Hei, Julia … kamu oke?” tanya seorang kru yang lewat.
“Iya, Mas, saya cuma… uh, kebanyakan napas,” jawabnya, yang langsung membuat kru itu kebingungan. Kebanyakan napas—apa maksudnya?
Ketika akhirnya giliran Juleha untuk tampil, ia melangkah ke atas panggung dengan senyum setegang kawat jemuran. Namun, saat melihat penonton di studio dan mendengar mereka bertepuk tangan, ia mulai merasa lebih nyaman. Pembawa acara mulai bertanya tentang perjalanannya sampai di titik ini, tentang ide video viralnya, dan tentang impian-impian yang ia tuliskan dalam buku catatannya.
Jawaban Juleha seperti biasa, jujur dan penuh humor. Ia bercerita tentang bagaimana ia hampir dijadikan badut kantor, bagaimana Susi adalah komentator paling pedas di hidupnya, dan bagaimana ia tak pernah menyangka bahwa hidupnya bisa berubah hanya karena video iseng. Penonton tertawa, dan Juleha merasa senang karena bisa membuat mereka terhibur.
Namun, ada satu pertanyaan yang membuat Juleha berhenti sejenak. “Apa yang sebenarnya ingin kamu capai dari semua ini, Mbak Julia Cerez?” tanya pembawa acara dengan nada serius.
Juleha terdiam. Ia menatap penonton sejenak, lalu tersenyum kecil. “Yang saya inginkan sebenarnya sederhana. Saya cuma ingin membuktikan ke diri saya sendiri bahwa saya bisa lebih dari apa yang orang lain pikirkan. Kalau saya bisa bikin mereka tertawa, terinspirasi, atau bahkan sekadar merasa sedikit lebih bahagia, itu sudah cukup buat saya.”
Jawabannya disambut tepuk tangan meriah. Dan di saat itu, Juleha menyadari bahwa meskipun perjalanannya penuh kekonyolan dan rintangan, ia sudah berada di jalur yang benar.
***