“Aku harus lari, aku tidak ingin mati!” seorang anak laki-laki berlari ke arah hutan, terus-menerus berlari. Tak dihiraukannya kedua kaki-kaki yang bahkan tertusuk duri, tergores di setiap sisi.
Langkahnya semakin dipercepat, semakin jauh ke dalam hutan, semakin gelap dan semakin ia tak tahu arah mana yang ia tuju. Hutan itu cukup lebat, hingga sinar dari sang rembulan saja tidak bisa mencapai dasarnya. Terus berlari, mengikuti setiap jalan kosong di antara pepohonan.
Dan sekarang di sinilah dia. “Laut? Jadi, apakah aku akan benar-benar mati?” napasnya terengah, ia lelah.
Kilatan petir bersahutan dengan debur ombak yang menghantam karang, bergantian dengan cepat karena dahsyatnya angin pesisir pantai di pinggiran kota Segara Diru. Dan ajal seorang anak laki-laki berusia sembilan tahunan, yang kini berada di ujung tanduk.
Kala orang-orang bengis di hadapannya begitu ingin melihatnya tiada. Ia terpojok, di bibir pantai dan langit yang di naungi sinar bulan purnama.
“Kau mau ke mana Ambara! Terima saja takdirmu jika harus mati hari ini juga!”
Terdengar tawa yang begitu pongah setelah kalimat itu terucap dari salah seorang di antara mereka. Waling Ambara juga ingin mati, tapi tidak ingin menampik isi kepalanya yang sedari tadi hanya memutarkan kejadian kala keluarga di bantai tanpa ampun, oleh para suruhan di hadapannya saat ini.
“Mundur dan jatuh ke laut di cuaca ini, jelas akan membuat tubuhmu terdampar di pulau kematian Ambara! Kau tidak punya pilihan, jadi kemarilah, berlutut! Biar kutebas kepalamu dengan cepat. Aku janji ini tidak akan terlalu menyakitkan.”
Itu benar, arus dan angin saat ini hanya akan membuat Waling Ambara terdampar pada pulau yang amat ditakuti. Pulau iblis kematian.
Ambara menengok ke belakang, kemudian menarik napas berat. Tak ada pilihan lain, tapi dendam benar-benar memaksanya untuk tetap bertahan hidup.
Waling Ambara yang sedari tadi terdiam, kini menampakkan tatapan penuh tanya. Bahkan sorot mata anak laki-laki itu sudah berubah drastis. “Apa menurut kalian semua, melakukan pembantaian adalah jalan terbaik untuk sebuah tuduhan palsu?”
“Palsu? Apanya yang palsu, keluargamu yang terhina itulah yang memilih untuk tiada daripada mengakui kesalahan sendiri,” sahut salah satu dari mereka lagi.
Kejadian ini memang sangat mengenaskan. Seluruh keluarganya di bantai tanpa ampun sebab tuduhan menghilangkan pusaka sakti bernama Keris Perak Jalat Sadri. Meski sudah menentang keras atas tuduhan tersebut, pemimpin agung dunia persilatan tetap saja menjatuhkan hukuman.
“Terima saja takdir alam untuk kehidupanmu anak muda,” sela seorang biksu.
“Tahu apa kau yang hanya budak dewa? Aku pikir dengan pengabdian pada dewa bisa membuatmu dengan mudah membedakan yang benar dan salah. Hah, tapi apalah daya kau hanya manusia,” cegat Ambara menjawab sang biksu.
Pemimpin agung dunia persilatan memang gentar untuk turun sendiri ke hadapan keluarga Waling Ambara. Mereka di hadiahi darah keturunan surgawi dan itu sudah menjadi bukti mutlak kemampuan silat mereka sudah berada di tingkatan paling tinggi.
Jangan lupakan pula bahwa ayah dari Waling Ambara sendiri adalah satu dari anggota tujuh kesatria pedang, dengan gelar Titisan Surgawi. Bahkan ia pun memiliki gelar si Kilat Api.
Satu fakta lain mengapa kematian keluarga Ambara terkesan begitu mudah di lakukan. Mantra pemanggil jiwa, dan dengan demikian pula musnahnya keluarga Waling Ambara bisa dapat terjadi dengan sangat senyap. Tapi keberuntungan sepertinya berpihak hanya pada Ambara sendiri saat itu.
Dan disinilah raga Ambara terpojokkan oleh orang-orang memuakkan di hadapannya.
Mata Waling yang mulai memerah sudah menjadi tanda bahwa dendam ini akan dia bawa sampai mati. “Karma itu ada, dia akan kembali lagi. Jangan gunakan hatimu dengan buruk. Atau jangan salahkan semesta jika kelak kalian akan binasa dengan cara yang sama seperti keluargaku, bahkan lebih buruk lagi!” bentak Waling Ambara bagai guntur.
Detik berikutnya sebuah tornado datang dengan kecepatan tinggi dan memecahkan fokus orang-orang yang berada di sana untuk masing-masing menyelamatkan diri. Di susul ledakan kilat kuning menyambut Waling Ambara, sesaat ketika ia melompat ke belakang dan terjun ke laut.
Berbekal sebuah tenaga dalam yang pernah ia pelajari, maka dengan mudahnya ia berlari di atas air kemudian sampai di tengah. Dan ….
BOOM!
Bersamaan dengan itu, dapat orang-orang tersebut saksikan jika Waling Ambara tersambar dan lenyap begitu saja. Kemudian, seolah tak pernah terjadi apa pun di sana, cahaya matahari yang baru terbit menjadi pertanda pagi hari telah tiba.
Cepat sekali waktu berlalu, cuaca pun seketika berubah normal, seakan alam pun memberikan pendapat bahwa ia setuju atas musnahnya keluarga Waling Ambara. Namun, bukan itu kenyataannya, karena bersamaan dengan menghilangnya Ambara, firasat yang buruk mendadak menusuk perasaan sang biksu.
“Entah kenapa perasaanku tidak enak. Semoga saja, nasib aneh yang di alami anak itu, benar-benar bukan pertanda bahwa karma akan terjadi pada seluruh orang yang ikut dalam musnahnya keluarga si Kilat Api. Amitabha …,” desah biksu yang memang terlibat dalam segalanya.
Para pendekar yang semula berada di tempat itu, satu-persatu mulai menjauh pergi dengan perasaan campur aduk. Entah bersalah, bingung, atau justru takut jika memang benar ini hanya awal untuk kehancuran mereka semua.
Sementara apa yang menimpa Waling Ambara, sebenarnya bukanlah murni kemalangan. Hanya kejadian aneh yang sebenarnya akan menjadi jalan awal pembalasan dendamnya.
“Uhuk! Tubuhku rasanya mati rasa.” Lelehan darah di sudut bibirnya menjadi bukti kalau Ambara terluka di bagian dalam.
“Tapi, ini di mana?” dengan mengabaikan seluruh rasa sakit di tubuhnya Ambara bangkit.
Terdapat dua jalan yang membentang di hadapannya. Yang satu terdiri dari segala macam bentuk tanaman yang indah juga suara cicitan burung merdu, dan satunya lagi di apit oleh hutan lebat nan gelap juga suara menyeramkan muncul dari dalamnya.
“Apa ini ilusi? Atau jalan menuju surga dan neraka? Lucu sekali, sudah mati pun masih harus di tekan oleh pilihan.”
Rasa sakit mengajarkan manusia untuk menjadi lebih dewasa dalam mengambil keputusan. Rasa sakit juga membantu manusia untuk menjadi lebih kuat lagi dan lagi. Dan begitulah di saat seperti ini nasihat dari ayah Ambara berputar dalam ingatannya tanpa mau berhenti.
Waling Ambara mengedarkan seluruh pandangannya. Tapi tetap saja dia tidak tahu tempat apakah itu.
“Atau ini yang di sebut pulau iblis kematian?” Waling Ambara penasaran, karena untuk membuktikan apakah ia sudah tiada atau tidak.
Anak laki-laki itu mencubit lengannya sendiri. “Sakit, orang mati tidak akan merasakan sakit kan harusnya?” dengan polosnya ia bergumam seorang diri.
Entah sebuah dorongan dari mana, tapi Waling Ambara dengan sendirinya berjalan ke arah kiri. Menuju jalan setapak yang padahal terlihat begitu menyeramkan alih-alih pada jalur kanan.
Setiap langkah kakinya maju tanpa sedikit pun rasa ragu, dan gerak tubuhnya yang semakin melambat akibat luka parahnya sejak terdampar pada tempat itu. Pandangannya tertuju pada sebuah kilatan kelabu yang di selimuti asap, membawanya berjalan dan terus berjalan.
Dan kini sampailah Ambara pada sebuah menara yang menjulang tinggi sampai ke awan. Bahkan aura bangunan itu sendiri begitu mencekam, terasa sebuah magis yang begitu besar dari dalam sana yang bahkan bisa membuat tubuh lemah Ambara merinding.
Tepat sebelum kesadarannya menipis dan udara di sekitar terasa habis, tubuh Waling Ambara terjatuh dalam kondisi berlutut kemudian tersungkur dengan sempurna. Barulah semuanya berakhir gelap.
‘DENDAM, NAFSU DAN KEKUASAAN. BANGKIT DARI KEMATIAN DAN DAPATKAN KEKUATAN SANG PEMILIK JAGAT.’
Bersambung ….