Waling Ambara

BAB 8 : Dewi Sungai Maratungga

Selama hidup, kau akan menemui orang-orang yang akan mengambil kepemimpinan di setiap kawasan tertentu. Entah itu atas gelar yang diembankan padanya, atau hanya sekadar terkenal sebagai yang paling tangguh.

Dan kali ini pada kawasan sungai besar Maratungga ada perompak yang di pimpin oleh seorang wanita. Sungai itu sendiri mengarah langsung ke laut, dan melewati pelabuhan besar yang menjadi pusat pengiriman barang-barang dari wilayah luar.

“Permisi, aku dengar kawasan sungai ini di jaga oleh … ah sebentar, aku sedikit lupa,” Tan Jayastu mengetuk kening sembari berpikir atas apa yang akan ia tanyakan pada penduduk tersebut.

“Perompak?” balas orang tersebut memastikan.

“Benar sekali! Sepertinya kau pandai membaca pikiranku, haha. Maaf sebelumnya paman, boleh aku tahu siapa nama pemimpin mereka?”

“Para perompak itu di pimpin oleh seorang wanita cantik anak muda, namanya Saka Lintang. Dia memiliki gelar Dewi Sungai ini, dan kalau boleh memberikan saran jangan sekali-kali memancing amarahnya, mengerti?”

“Ahh, ooh, iya-iya. Baik paman!” jawab Tan Jayastu sedikit terkejut sebab mulutnya sudah menguap lebar mendengar penjelasan dari orang itu. Tidak sopan memang.

Orang itu menepuk pundak Tan Jayastu dua kali sambil tersenyum. “Jaga dirimu, sepertinya kau ini orang baik.”

Tan Jayastu yang mendengar itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebab hatinya juga terkadang tidak yakin, “Memangnya aku sudah berbuat baik? Ah sudahlah lupakan.”

Pemuda itu kembali melanjutkan perjalanan. Seperti biasa, jika berkunjung ke tempat baru maka Tan Jayastu harus mampir terlebih dahulu pada rumah makan yang ada. Itu seperti sebuah hal wajib.

 

*** 

 

“Lemparan pertama, koin bergambar kepala. Lemparan kedua koin bergambar angka, huh aku bosan.”

“Lintang, ekhem maksudku tuan putri!” seorang pria bertubuh besar dan tinggi tiba-tiba datang menghampiri Saka Lintang yang tengah bersantai pada ayunan kayu di teras.

Percayalah, tak satu pun dari bawahan Saka Lintang yang setia. Seluruh pekerjaan mereka lakukan atas dasar terpaksa dan keinginan tinggi untuk menghabisi gadis itu. Iya, Saka Lintang masih seorang gadis muda nan cantik dengan pakaian birunya.

Tapi itu berbanding terbalik dengan ilmu silat yang ia miliki. Dan dari sanalah puluhan manusia kekar yang bekerja di bawahnya benar-benar harus tunduk atau bersiap untuk mati.

“Dasar makhluk tidak berguna. Apa maumu!?” lirikan mata tajam dari Saka Lintang adalah pertanda jika dia sedang tidak senang saat ini.

“Tapi tunggu dulu!” telapak tangannya mengarah pada pria besar itu sebelum kemudian terlihat seperti menagih sesuatu. “Mana hasil jarahan hari ini? Jangan bilang kau gagal lagi? Dan itu adalah ulah pria berambut panjang itu, hem!”

“Hasilnya tidak seberapa, meski berhasil menang dari mereka tetap saja bagian kita sudah di ambil separuhnya,” di akhiri dengan desahan napas halus pria besar itu menjelaskan.

Saka Lintang terlihat akan mengancam dengan memajukan dagunya terlebih dahulu. “Entah kenapa aku harus terjebak dengan bawahan sekelas cupang sepertimu!” Saka Lintang mendesah panjang kemudian memijat keningnya geram.

Tanpa sepengetahuannya pun pria besar itu, panggil saja dia Kodak. Diam-diam mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan amarah. Andaikan manusia di hadapannya memang semudah itu untuk di habisi, sudah lama dia akan melakukan pemberontakan.

Tapi beginilah Saka Lintang, setiap kalimatnya selalu saja pahit. Tidak ada sedikit pun kelembutan di setiap ucapannya, kecuali pada satu orang yang ia yakini akan menjadi pujaan hatinya kelak.

“Sebenarnya apa yang laki-laki itu inginkan, kenapa dia selalu merebut bagianku tapi bersikap seolah-olah menjadi penjarah adalah tindakan dosa besar!”

BRAAKK!

“Kalian juga, kenapa tidak ada satu pun manusia yang berguna di sekelilingku! Semuanya memiliki otak kecil dan kemampuan rendahan!”

JEGGLLAAARRR!!

Satu cambuk petir tiba-tiba saja di keluarkan oleh Saka Lintang. “Dia harus menerima hukuman!” geram Saka Lintang dengan amarah yang memuncak.

“Tunggu dulu, tuan putri—“

“Apa! Kau mau bilang lagi jika laki-laki itu jatuh cinta padaku? Hah sampah! Dia sudah terikat dengan wanita pilihan keluarganya yang berdarah biru itu. Dan di sini, yang paling menunjukkan keinginan perangnya denganku adalah Panglima Bagak Apituo!”

Pria besar itu kembali diam. Dia seperti mengajukan negosiasi pada batu, Saka Lintang tidak semudah itu untuk di bujuk. Sifatnya terkadang arogan, juga keras kepala.

Melawannya itu artinya siap dengan segala perdebatan dan kalau gadis itu lelah akhirnya pasti pemenggalan kepala.

 

*** 

 

“Panglima Bagak Apituo? Siapa orang itu?” tanya Tan Jayastu pada seorang kakek-kakek yang tidak sengaja satu meja dengannya.

Mulutnya kembali ia penuhi dengan makanan sambil bersiap mendengarkan penjelasan dari sang kakek.

“Beliau adalah salah satu panghulu kerajaan, atau katakanlah yang menyambungkan segala keadaan di daerah ini menuju pusat sampai ke telinga raja. Kemudian jika di anggap terlalu berat, raja akan menyampaikan informasi tersebut pada pemimpin agung dunia persilatan.”

“Jadi ada kerajaan lain di sini?” pastikan Tan Jayastu.

“Tentu saja, wilayah timur barat selatan dan utara memiliki kerajaan di masing-masing wilayahnya. Kau sudah melakukan perjalanan sejauh ini mengapa tidak tahu?” 

Tan Jayastu terkekeh atas kebodohannya dalam menanyakan hal tersebut. Dalam hati ia menggerutu sendiri.

“Negeri kita ini cukup luas, dan kalau pemimpin agung dunia persilatan tidak membuat kepemimpinan lain yang bekerja di bawahnya lantas bagaimana nasib mereka yang tinggal di perbatasan? Walaupun sebenarnya itu tidak mengubah apa pun.”

Tan Jayastu kembali mengangguk. “Tapi kek, pembicaraan ini sudah terlalu jauh. Saya bertanya tentang Panglima Bagak Apituo, jadi siapa beliau?”

Sang kakek mendesah panjang sebelum menjawab pertanyaan pemuda di hadapannya itu. “Kau ini tampan, dan terlihat baik. Tapi apa kau ada masalah dengan orang-orang di kerajaan?”

‘Lah dia balik bertanya?’ dalam hati Tan Jayastu kesal. “Aha, tidak. Tentu saja tidak ….” Tan Jayastu sampai menggerakkan kedua tangannya sebagai bentuk pengelakan.

“Panglima Bagak Apituo memiliki perseteruan dengan Dewi Sungai Maratungga, si Saka Lintang itu. Dan keponakan laki-lakinya di kabarkan menaruh hati juga pada Lintang.” Lagi Tan Jayastu mengangguk tanpa mau menyahuti.

Pikirannya mendadak melayang pada alasan kedatangannya kali ini. Yakni Darna Adiyaksa.

Dengan banyak pertanyaan pada pikirannya, Tan Jayastu terdiam. ‘Apa hubungan yang dimiliki Darna dan Panglima Bagak Apituo, ini? Tapi kakek ini bilang keponakan? Benar, ini membuatku pusing.’  Tan Jayastu kembali mempertimbangkan dalam hati.

“Jika Darna ini terlibat hubungan dengan Panglima, dan Panglima memiliki masalah dengan si Dewi Sungai itu,  maka langkah apa yang harus aku lakukan pertama kali?”

“Apa anak muda?” sahut sang kakek kala mendengar Tan Jayastu bergumam panjang lebar.

“Ah, tidak kek. Maaf saya harus segera pergi, terima kasih atas bantuannya.”

Sedikit merasa tidak enak, lagi-lagi pemuda itu menggaruk tengkuknya, kemudian meletakkan uang di atas meja sebelum memutuskan pergi dari sana.

“Dari perang waktu itu, Darna nyatanya masih hidup. Untuk menemukannya aku harus pergi sejauh ini dan justru bertemu dengan penjelasan baru yang lebih rumit. Apa pun itu, mari bantu Panglima dan gadis itu bertemu pada sebuah duel sengit antara hidup dan mati. Baru aku akan mengurus si Darna.”

 

Bersambung ….

Lates Chapters

BAB 10 : Pertarungan Hidup Dan Mati

“Berhenti di sana, Saka Lintang!” mendengar seseorang menyebut namanya, Saka Lintang pun membalikkan badan. Kali ini dia mematung, melihat paras pemuda di hadapannya saat ini.…

BAB 9 : Setan Gembel

“Akan ada drama apalagi hari ini?” tanya Tan Jayastu seraya membawa sepotong roti di tangannya, ia mulai memantau lalu-lalang orang-orang dari atas atap rumah yang…

BAB 7 : Pendekar Dewa Kematian

Sebuah Padang rumput yang menjadi bagian perbatasan antara dua kota hari ini terlihat ramai. Di sisi kanan, para murid Patih Giling Wesi dengan jumlah besarnya…

BAB 6 : Perserikatan Pembela Kebenaran

“Bagaimana, sudah siap untuk menemui ajalmu?” suara tersebut terasa melewati rungu sang Patih melalui bantuan angin, dan beliau pun mendadak sadar dari pingsannya. “Apa itu…

BAB 5 : Nyawa Dibayar Dengan Nyawa

“Se-sebenarnya kau ini apa! Kau siapa!?” Lagi-lagi sang pemuda menyeringai. “Ajal kalian? Mungkin? Ahahaha!” dengan teknik meringankan tubuhnya sang pemuda tiba-tiba saja sudah berganti tempat…

BAB 4 : Tenang Seperti Telaga

Suku Madasura, adalah suku yang mengabdikan hidup mereka pada Dewi bulan, dan gemar memberikan sesaji pada aliran sungai besar Suratama. Sura sendiri berarti Hiu, tapi…

BAB 3 : Keberadaan Panah Sakti Gandiwa

Pagi itu keadaan seperti biasanya terjadi di ibu kota. Berbeda dengan kota Segara Diru yang terletak dekat dengan wilayah laut, maka ibu kota berada jauh…

BAB 2 : Ancaman Musuh Berkekuatan Tinggi

Beberapa saat setelah Ambara jatuh tidak sadarkan diri, hujan yang begitu deras turun membasahi tanah dan menciptakan genangan air. Bersamaan dengan itu terdengar derap langkah…

BAB 1 : Pulau Iblis Kematian

“Aku harus lari, aku tidak ingin mati!” seorang anak laki-laki berlari ke arah hutan, terus-menerus berlari. Tak dihiraukannya kedua kaki-kaki yang bahkan tertusuk duri, tergores…
error: Content is protected !!