“Non, Nona … beneran mau ke Bronx?” tanya sopir taksi sambil melirik ke Briana yang duduk di bangku belakang lewat kaca spion tengah, saat gadis itu dalam perjalanan ke kawasan Bronx, Amerika Serikat.
“Iyaa bener, Pak! Memangnya kenapa?” tanya Briana heran sambil membalas tatapan sopir itu lewat kaca spion tengah yang terlihat senyum-senyum sendiri di bangku depan.
“Nggak kenapa-kenapa, Non! Saya cuma mau nanya aja, kalau Nona mau ke sana, baik saya antar ke sana!” ujar si sopir sambil melajukan taksi itu dengan kencang.
Saat itu baru pukul tujuh sore, matahari masih bertahta di singgasananya. Briana Agatha Palmer yakin dalam waktu kurang dari satu jam dia bisa menemukan apartemen baru yang akan disewanya nanti sehingga dia bisa pulang ke apartemen lama tidak begitu malam karena matahari baru terbenam sekitar pukul setengah sembilan malam di New York.
Briana mencoba tidak peduli dengan pertanyaan si sopir yang terdengar sedikit mencurigakan. Namun, dia tetap berusaha positif thinking. “Apa mungkin itu kawasan kumuh? Sehingga si sopir merasa heran kalau aku mau ke sana?” bathinnya dalam hati sambil menatap ke jalanan lewat jendela mobil.
“Terimakasih, Pak!” ujar Briana begitu keluar dari taksi yang membawanya ke kawasan Bronx sambil melirik ke jam yang melingkar di tangan. “Sudah setengah delapan malam, agar harus bergegas!” gumamnya lirih sambil tertegun menatap kawasan tersebut, karena kalau diperhatikan sebenarnya kawasan itu sama seperti kawasan lain, banyak rumah yang berjejer, salon, kedai kopi, rumah susun, tapi tidak ada apartemen seperti bayangan Briana.
“Di mana apartemennya?” batin Briana sambil berjalan menyusuri tepi jalan di kawasan tersebut. “Apa masih beberapa blok di depan?” gadis itu terus saja menyusuri tepi jalan sambil menengok ke kanan dan ke kiri, di mana di setiap rumah ada beberapa perempuan yang duduk-duduk di teras depan sambil merokok dan tertawa cekikikan dengan pakaiannya yang terlalu seksi, bahkan bisa dibilang terlalu terbuka.
“Kawasan apa ini? Apa aku tanya sama salah satu perempuan yang ada di sana?” batinnya gamang sambil berjalan menghampiri para perempuan itu.
“Selamat sore, maaf … saya mau nanya.”
Perempuan-perempuan itu tertawa cekikikan dan kompak menjawab. “Mau nanya apa?” balas mereka dengan gaya yang genit.
“Apa kalian tahu alamat ini?” tanya Briana polos sambil menunjukkan kertas yang diberikan Felicia tadi.
Para perempuan itu kembali tertawa cekikikan sambil membaca tulisan di kertas yang diberikan Briana dan memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah, seolah-olah seperti sedang men-screening dirinya sambil mengangguk-angguk lalu tertawa lagi dan mengembuskan asap rokoknya ke atas.
“Mari … aku antar! Daaah …!” ujar salah seorang perempuan itu sambil melambaikan tangan ke teman-teman yang lain dan mengajak Briana ke alamat tersebut. Setibanya di sana, bangunan itu terlihat bukan seperti apartemen yang dihuninya saat ini, bisa dibilang mirip seperti rumah susun. “Ini tempatnya! Ayook … kita masuk!” ajak perempuan itu lagi.
Briana jadi ragu memasuki bangunan itu, hati kecilnya seperti menolak. Namun, dia penasaran apa sebenarnya bangunan ini, apa benar apartemen seperti yang dibilang Felicia? “Maaf … apa ini apartemen? Saya sedang mencari apartemen. Kata teman saya, ada apartemen di sini,” jelas Briana sambil menyapu pandangan ke seluruh area lobby rumah susun itu, ketika dia sudah masuk ke sana.
“Kamu bisa tanya sama Tuan Hugo nanti! Dia yang megang daerah sini!” sahut si perempuan yang kalau dilihat dari dandanannya sedikit menor.
Briana jadi semakin-makin bertanya-tanya. “Sebenarnya tempat apa ini?” batinnya resah, karena sepertinya ada yang tidak beres dengan tempat ini.
Apalagi ketika seorang laki-laki keluar dari salah satu ruangan bersama perempuan tadi yang mengantar Briana. “Ini Tuan Hugo, Nona ini katanya mencari apartemen! Bukan begitu, Nona? Kamu bisa nanya sama Tuan Hugo, karena dia yang megang daerah sini, aku tinggal dulu yaa! Daaah …!” ujar si perempuan itu sambil melambaikan tangan ke Briana dan berlalu meninggalkan mereka.
Briana jadi panik, perasaannya mulai was-was dan cemas, apalagi ketika laki-laki yang penampilannya seperti preman dengan tubuh yang kekar dan gambar tattoo di sekujur lengan, berdiri di depannya menatap dengan senyuman yang sulit dimengerti. “Ya Tuhan … tempat apa ini? Sepertinya aku salah alamat!” batinnya cemas sambil menggenggam tas dengan erat.
“Heiii … Hugo, siapa dia? Barang baru, ya?” tanya pria yang lain yang baru keluar dari sebuah ruangan bareng seorang perempuan yang menggelanyut manja di lengan. “Boleh juga nih! Sangat berkelas!” puji laki-laki itu sambil menatap Briana dengan sorot mata penuh nafsu dan siap melahap.
Briana jadi semakin gelisah, dia baru menyadari kalau dirinya salah alamat. “Ya Tuhan, ternyata aku berada di sebuah lokalisasi, bodohnya aku! Kenapa aku nggak menyadarinya sedari tadi! Tapi bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini?” batinnya sambil melirik ke pintu yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Maaf, aku salah alamat! Permisi!”
“Heiii … tunggu!” teriak laki-laki yang bernama Hugo. “Kejar perempuan itu! Jangan sampai lepas!” teriaknya lagi diikuti oleh anak buahnya yang mulai mengejar Briana yang telah lari secepat mungkin untuk menyelamatkan diri dari mereka.
Briana tidak tahu harus kemana berlari, dia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah sambil terus berdoa dalam hati agar bisa terhindar dari sergapan anak buah Tuan Hugo. Gadis itu masih terus berlari dengan cepat menghindari sergapan anak buah Tuan Hugo.
Namun, high heels dan rok span selutut yang membalut pahanya, membuatnya tidak bisa bergerak dengan bebas. Beberapa kali dia terjatuh dan berdiri lagi, hingga tangan dan kakinya terluka. Namun, semua itu diabaikan begitu saja. Briana terus saja berlari tanpa alas kaki karena dia sudah mencopot high heels saat terjatuh tadi.
Untung saja hari sudah mulai petang, sebentar lagi matahari akan kembali ke peraduan jadi jalanan aspal yang diinjaknya tidak begitu panas dan suasana petang menjelang malam itu juga mendukung gadis itu untuk bersembunyi.
“Aku harus cari tempat bersembunyi, tapi dimana?” batinnya sambil menengok ke kanan dan ke kiri lalu mengendap-endap dengan nafas yang terengah-engah dan cemas.
Dilihatnya ada sebuah tong sampah besar yang berbentuk persegi panjang yang terbuat dari besi baja, dia bisa bersembunyi di belakang. Briana bergegas bersembunyi.
“Ini juga rok span, bikin aku nggak bisa gerak!” gumamnya kesal sambil membalik rok tersebut dari belakang ke depan dan menaruh belahan rok belakang di sisi samping lalu menyobeknya hingga ke paha.
“Nah begini lebih baik, biar bisa lari cepet! Lebih baik aku copot saja blazer ini, tapi dibawa apa nggak yaa? Lebih baik aku masukkan ke dalam tas saja.” Briana segera memasukkan blazer itu ke dalam tas.
“Di mana perempuan itu! Cepat cari! Jangan sampai kita kehilangan jejaknya!” teriak Tuan Hugo lantang. “Aku yakin dia masih ada di sekitar sini!” Tubuh Briana jadi merinding begitu mendengar suara Tuan Hugo yang terdengar menggelegar, lantang di telinga.