Pagi itu, di sebuah restoran sederhana milik keluarga Palmer disulap menjadi aula pernikahan yang romantis, seluruh keluarga Palmer dan Rexford telah berkumpul. Lampu kristal memancarkan cahaya lembut, menghiasi ruangan yang dipenuhi bunga mawar putih dan pink serta lilin-lilin kecil.
Di tengah aula, Kent berdiri dengan wajah tegang, mengenakan jas hitam yang sempurna, sementara di sisinya berdiri Nyonya Rexford, Hiro, dan beberapa anggota keluarga lain dari keluarga Palmer.
Di ruang belakang restoran, Briana sedang bersiap-siap mengenakan kerudung pengantinnya. Gaun putih yang dikenakannya memancarkan aura keanggunan.
Nyonya Palmer dengan telaten membantu menyematkan kerudung di rambut Briana, sementara Brenda, adiknya, memastikan semuanya sempurna.
“Kamu terlihat cantik sekali, Briana,” ujar Brenda dengan senyum manisnya sambil memotret calon pengantin itu berulang kali dari beberapa anggel.
“Kamu pasti akan menjadi pengantin yang paling bahagia hari ini, Sayang,” tambah Nyonya Palmer, matanya berbinar, karena sang putri akhirnya mengakhiri masa lajangnya.
Namun, suasana damai itu terusik ketika pintu depan restoran terbuka dengan tiba-tiba. Semua mata tertuju ke arah pintu. Roxanne, kakak Briana, masuk dengan langkah percaya diri, menggandeng dua anak kecil yang lucu.
Kent langsung terdiam. Wajahnya berubah tegang, dan rahangnya mengeras seketika.
“Apa yang dia lakukan di sini?” Kent berkata dengan nada dingin, matanya menatap tajam ke arah Roxanne.
Nyonya Rexford segera mencoba menenangkan putranya. “Kent, ini hari besar. Jangan buat keributan,” bisiknya pelan, mencoba menenangkan suasana.
Nyonya Rexford terlihat canggung, namun tetap menjaga senyumnya. Kent mengepalkan tangan, berusaha menahan emosi.
“Roxanne, apa yang membawamu ke sini?”
Roxanne tersenyum tipis. “Aku datang untuk memberi selamat kepada Briana, adikku. Bukankah ini hari bahagianya?” ujarnya sambil tersenyum kecil, tidak terpengaruh oleh sikap Kent.
Suasana yang tadinya hangat mendadak berubah tegang. Kent menatap ibunya, mencari penjelasan, sementara Nyonya Rexford tampak tak tahu harus berkata apa. Perempuan tua itu berdiri di samping Kent, wajahnya terlihat tegang, tapi dia berusaha tetap tenang. “Kent, tenanglah,” bisiknya lembut.
Tuan Palmer malah sebaliknya, pria tua itu tampak bangga dengan kehadiran Roxanne, putrinya dari mantan istrinya. “Roxanne, selamat datang, Sayang!” ujar pria tua itu sambil memeluk Roxanne dan kedua anak kecil itu. “Kent, perkenalkan, ini Roxanne, kakak tiri Briana. Dan ini cucu-cucuku!”
Kent dan Hiro saling menatap satu sama lain saat mendengar penjelasan pria tua itu yang tampak bangga dengan kehadiran sang putri dan kedua cucunya, Nyonya Rexford juga ikut menatap ke kedua putranya yang terllihat sedikit tegang.
“Saat ini dia memimpin perusahaan mantan suaminya yang sudah meninggal. Hebat, bukan?” Nada suara laki-laki tua itu terlihat semakin bangga dan senang, tampak binar sinar terang di kedua bola matanya.
Kent yang sedari tadi terdiam, mendengar penuturan Tuan Palmer yang begitu bangga tentang sang putri sulung, akhirnya tidak tahan menahan gejolak amarah yang menekan dada. Amarah Kent memuncak, tubuhnya terasa memanas bagaikan semburan lava yang siap meletus dari sebuah gunung berapi.
Namun, Nyonya Rexford yang tahu bagaimana sifat putra sulungnya ini, berusaha menenangkan pria tampan itu.
“Bagaimana mungkin aku tenang, Bu? Perempuan itu… dia perusak keluarga kita!” serunya keras sambil menunjuk ke arah Roxanne.
Semua orang kaget, terutama Tuan Palmer yang menoleh ke Roxanne, meminta jawaban dari sang putri. Namun, belum sempat perempuan itu menjawab, Emily, istri Shane menyela, “Maaf, lebih baik kami keluar dulu. Ayo, anak-anak kita keluar, kita cari ice cream, yuk!”
Kedua anak Roxanne mengangguk senang dan menurut saat Emily menggandeng mereka keluar dari pintu utama restaurant, Shane mengekor di belakang sambil menggendong Caleb, bayinya yang baru berusia tujuh bulan.
Emily dan Shane tidak ingin anak-anak kecil itu mendengar pertengkaran yang mungkin akan semakin memanas nanti, karena melihat gestur tubuh dan tatapan mata Kent yang sarat akan amarah terhadap Roxanne, bisa dipastikan hal itu akan terjadi.
Begitu anak-anak keluar bareng Emily dan Shane, Kent sudah tidak bisa lagi menahan diri.
“Tuan Palmer! Asal Anda tahu! Perusahaan itu adalah milik keluargaku! Perempuan itu yang Anda sebut sebagai anak telah merebutnya sama seperti dia merebut ayahku dari kami! Dari ibuku! Dia istri muda ayahku yang menghancurkan keluarga kami, Tuan Palmer! Bagaimana Anda bisa membanggakannya?”
Semua orang di ruangan terdiam. Roxanne tampak kaget, tetapi mencoba tetap tenang. Dia membuka mulut untuk berbicara. “Kent, aku… aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak pernah berniat menyakiti siapa pun.”
“Cukup! Jangan bicara seolah-olah kamu tidak bersalah,” Kent memotongnya dengan tajam. “Jangan playing victim!”
Di ruang belakang, Briana yang mendengar suara keras dari ruang pelaminan mulai gelisah. Dia memandang ibunya dan Brenda. “Ada apa di luar sana, Mom? Aku harus ke sana.”
“Briana, tunggu. Biarkan kami lihat dulu,” ujar Nyonya Palmer, tetapi Briana sudah melangkah keluar, diikuti oleh ibunya dan Brenda. Gadis itu sudah tidak tahan dan ingin melihat apa yang sedang terjadi.
Ketika Briana tiba di ruang pelaminan, pemandangan yang dilihatnya menghancurkan hati. Kent tampak sedang memaki Roxanne dengan penuh amarah, sementara yang lain berusaha menenangkan situasi.
Briana mendekat dengan wajah cemas. “Kent, apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara bergetar sambil menatap sang calon suami nanar.
Kent menatap Briana dengan ekspresi campuran antara rasa sakit dan kemarahan. “Maaf, Briana. Rasanya aku nggak bisa menikahimu! Tidak setelah aku tahu kamu adalah adik perempuan itu!” ujarnya sambil menunjuk ke arah Roxanne yang hanya bisa terdiam termangu.
Briana shock, tubuhnya sedikit limbung. Namun, Nyonya Palmer segera memegangnya agar tidak roboh. Air matanya mulai menggenang, gadis itu kembali menghampiri sang kekasih.
“Kent, tolong dengarkan aku. Aku nggak tahu tentang semua ini. Roxanne mungkin kakakku, tapi aku bukan dia. Aku mencintaimu, Sayang.”
Namun, Kent menggeleng dengan keras. “Tidak, Briana. Aku nggak bisa. Setiap kali aku melihatmu, aku akan teringat pada perempuan itu dan bagaimana dia menghancurkan keluargaku. Aku benci sama dia!”
Hiro dan Nyonya Rexford mencoba berbicara pada Kent, tetapi laki-laki itu sudah mengambil keputusan.
“Sekali lagi maaf Briana, Tuan Palmer, Nyonya Palmer,” ujarnya sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada. “Maaf, aku tidak bisa menikahi putri Anda. Maaf, Briana.” Pemuda itu pun berbalik dan melangkah pergi, keluar dari restaurant tersebut dengan ekspresi kecewa.
Briana mengejarnya, memegang lengan Kent. “Kent, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku seperti ini!” Tangisnya pun pecah. Gadis itu tidak menduga kalau Kent akan bersikap seperti ini begitu melihat Roxanne, kakak tirinya. Rasa bencinya begitu mendalam, mengalahkan rasa cintanya ke Briana.
Kent menatap Briana sekali lagi. “Maafkan aku, Bee,” katanya lirih dengan kedua bola mata yang memerah, menahan tangis yang hampir meledak sebelum pergi meninggalkan restoran.
Hiro dan Nyonya Rexford segera menyusul Kent, setelah berpamitan dengan keluarga Palmer, meninggalkan Briana yang terduduk lemas di lantai. Tuan Palmer dan Nyonya Palmer berusaha menenangkannya, tetapi Briana sudah terisak dalam pelukan ibunya.
Sementara Roxanne masih berdiri dengan wajah penuh rasa bersalah. Dia melangkah mendekat, mencoba menyentuh bahu Briana. “Briana, aku… aku nggak tahu semua ini akan terjadi. Aku nggak pernah berniat menyakitimu.”
Namun, Briana menepis tangan kakaknya dengan kasar. “Semua ini salahmu! Kalau saja kamu tidak… kalau saja kamu tidak menghancurkan keluarganya, aku tidak akan kehilangan Kent!” bentaknya keras.
Roxanne terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak pernah bermaksud…”
“Cukup!” Briana berteriak, kedua bola matanya telah basah oleh air mata yang tidak terbendung, suaranya pun bergetar. “Aku nggak mau dengar apapun dari kamu lagi! Kamu sudah menghancurkan semuanya!”
Pertengkaran antara Briana dan Roxanne semakin memanas, sementara Tuan Palmer dan Nyonya Palmer berusaha merelai mereka.
Di luar restoran, Kent berdiri di bawah langit yang mendung, suasana siang itu seperti mencerminkan suasana hatinya. Pria itu mengusap wajah yang penuh dengan emosi. Dia mendengar suara langkah mendekat. Hiro dan Nyonya Rexford telah menemukannya.
“Kent, jangan biarkan masa lalu menghancurkan masa depanmu, kebahagiaanmu… Briana,” ujar Hiro dengan suara penuh empati sambil merangkul sang kakak.
Kent menggeleng. “Aku nggak bisa, Hiro. Aku nggak bisa menjalani hidup dengan bayang-bayang perempuan itu di sekitarku.”
Sementara itu, di dalam restoran, Briana menangis dipelukan ibunya, sementara Roxanne berdiri terpaku dengan rasa bersalah yang mendalam.
Sophia yang bersiap untuk masuk ke dalam restaurant, langsung kaget begitu melihat Kent keluar dari restaurant dengan raut muka yang kesal, belum juga rasa kagetnya reda, tiba-tiba pintu utama restaurant terbuka lagi, Nyonya Rexford dan Hiro tampak keluar dari sana, mengejar Kent.
“Ada apa ini?” gumam Sophia penasaran. “Tadi Emily sama Shane yang keluar, sekarang calon pengantin dan keluarganya yang keluar. Ada apa ya?”
Gadis itu yakin ada sesuatu yang besar sedang terjadi di dalam sana. Dengan langkah percaya diri, Sophia bergegas menuju ke pintu restoran, siap membawa keributan yang lebih besar.
“Hai! Selamat siang! Ada apa ini?” tanya Sophia polos sambil menatap keluarga pamannya satu per satu.
Suasana di dalam restaurant terasa semakin memanas dan terkejut, saat Sophia muncul di pintu depan restoran. Semua mata tertuju padanya, termasuk Briana yang masih menangis dalam pelukkan sang ibu.
Bagaimana Briana dan keluarganya menghadapi kehadiran tidak terduga dari Sophia yang mungkin akan lebih mengguncang hari bahagia mereka? Apakah rahasia pernikahan ini tetap aman, atau justru akan menjadi awal dari drama keluarga yang lebih besar?