Istri Pengganti Milik Tuan Muda

Bab 10

Saat ini, Helena tengah larut dalam kebahagiaan bersama kekasih barunya yang seolah tak pernah ada habisnya. Kehidupannya penuh kebebasan, seolah segala hal terbuka lebar untuknya. Namun, kisah Zena justru berbeda 180 derajat. Zena menuruni tangga dengan tergesa, wajah pucat dan cemas yang tergambar jelas. Sontak saja, perasaan Edrik menjadi resah.

 

“Jangan-jangan gadis miskin itu sudah mengacaukan rencana yang sudah aku susun rapat. Kalau dia berani, aku tak akan membiarkannya,” gumam Edrik penuh amarah

 

Tanpa ragu, Edrik langsung menghampiri Zena dan mencengkram tangannya dengan erat.

 

“Apa yang baru saja kau lakukan, Zena? Jangan lupa, jika kau melakukan kesalahan, maka nyokap loe yang akan menanggung akibatnya!” bisiknya penuh penekanan.

 

Mendengar ancaman itu, Zena hanya bisa menggumamkan permintaan maaf.

 

“Tidak tuan, maaf,” jawabnya lemah.

 

Tidak lama kemudian, Sam muncul dari kamar dengan seringai menyeramkan di wajahnya. Dia turun menuruni tangga sambil memeluk pinggang Zena erat, membuat gadis itu terkejut bukan main.

 

Sam kemudian tersenyum sinis ke arah Edrik yang masih penasaran dengan apa yang terjadi. Edrik hanya bisa menatap mereka berdua dengan keheranan yang menghantui pikirannya.

 

“Apakah yang baru saja terjadi antara Zena dan Sam? Apakah rencanaku akan kandas karena gadis miskin ini? Atau ada sesuatu yang lebih kompleks di balik semua ini?” lamunannya berkecamuk di benaknya, mencoba mencari jawaban yang logis dalam kekacauan perasaannya.

 

“Permisi,” kata Sam dengan angkuh, seolah-olah tak ada yang terjadi.

 

Sam dan Zena langsung berjalan menuruni tangga. Keduanya pun sibuk dengan pikiran masing-masing namun mereka tetap memaksakan senyum.

 

“Kalian ini kenapa?” tanya Oma Liona sembari tersenyum, tidak menyadari ada yang tidak beres.

 

“Oma, apa bisa aku melangsungkan pernikahannya sekarang?” tanya Sam, membuat suasana menjadi semakin tegang.

 

Mendengar apa yang di katakan Sam tentu membuat semua yang ada di ruangan itu melongo, terlebih Jerry.

 

“Lihatlah, cucuku sudah tak sabar ingin menikah dengan Helena,” kata Oma Liona dengan girang, tak menyadari apa yang sedang terjadi di balik semua ini.

 

Sementara Cakra dan Kartijan saling pandang, keduanya pun memaksakan senyum, walau sebenarnya mereka heran dengan apa yang terjadi.

 

“Bagaimana Pak Cakra? Apa bisa melakukan pernikahannya sekarang?” tanya Oma Liona.

 

“Tentu saja, kami juga tak keberatan,” kata Cakra, walaupun sebenarnya hatinya belum tentu sepakat.

 

Semalam itu, semua di persiapkan untuk merayakan pernikahan Sam dan Helena. Sementara Edrik yang masih penasaran pun langsung menghampiri Zena, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana nasib rencananya selanjutnya. Ia merasa terjepit di antara perasaan ingin mengetahui kebenaran dan kesetiaan padanya.

 

“Apa yang sudah loe lakukan?” Tanya Edrik.

 

“Saya tidak tau, tuan,” jawaban Zena.

 

“Jangan macam-macam ya loe,” ancam Edrik.

 

Ketika Jerry mendekati Sam, ia segera berbisik, “Lo gila, apa sih? Katanya nggak mau nikah, malah minta di-ajukan. Mana langsung malam ini juga!” Jerry terlihat benar-benar keberatan dengan keputusan Sam.

 

“Tenang aja, Gue akan bikin hidupnya jadi seperti di neraka. Tunggu aja nanti,” gumam Sam dengan kebencian yang dalam.

 

“Ada apa sih?” tanya Jerry, penasaran dengan alasan Sam.

 

Sam pun dengan panjang lebar menceritakan apa yang terjadi di kamar tadi malam bersama wanita yang seharusnya adalah Helena. “Gila, gila banget! Pantas loe marah gitu,” kata Jerry, menyuarakan rasa syoknya.

 

Wajah Jerry tampak begitu murka, emosi yang sama dengan apa yang dirasakan Sam. Tidak terasa waktu berlalu, malam itu pun acara pernikahan berlangsung dengan lancar. Hingga di penghujung acara, para tamu undangan telah kembali ke rumah masing-masing. Malam itu juga, Zena langsung diboyong ke rumah Sam.

 

“Kamu baik-baik di sana, nak,” pesan Cakra dengan penuh perasaan.

 

“Iya Papa,” jawab Zena dengan sedih.

 

Edrik bersiap untuk menemani Zena ke rumah Sam, namun tiba-tiba Sam menghalanginya. Dalam hati Sam, dendam ini baru akan dimulai, ia akan membalas apa yang telah diperbuat kepada dirinya dengan cara yang paling kejam. Hidup Zena yang seharusnya indah akan berubah menjadi neraka karena ambisi dan hasrat balas dendam Sam. Semuanya akan terungkap seiring berjalannya waktu.

 

“Sory bro. Dia sekarang istri gue, dan tak lagi menjadi model. Jadi sudah tak membutuhkan asisten seperti loe.”  Sam berkata dengan datar.

 

Endrik hanya terdiam, dia pun menatap kearah Zena dengan tatapan tajam seolah dia mengatakan ‘jangan macam-macam loe.’

 

“Tenang, gue cuma mau bawain baju Helena,”kata Edrik.

 

“Good,” jawab Sam.

 

Mereka pun kemudian meninggalkan kediaman Cakra. Zena duduk di samping Sam, sedangkan di depan ada Jerry yang setengah mengemudikan mobil.

 

“Loe ingat ya. Sekarang loe sudah menjadi istri gue. Loe sudah nggak bisa lagi mundur dari permainan ini!” Sam mencengkeram kedua pipi Zena.

 

Namun, Zena malah menatap manik matanya dengan tatapan teduh.

 

“Tak masalah, bermain-main dengan maut, asal ada satu nyawa yang aku selamatkan,” kata Zena sembari tersenyum.

 

Sam tampak marah mendengar apa yang Zena katakan. Dia pun langsung mencium dan melumat bibir Zena dengan sangat kasar. Namun, Zena sama sekali tak memberontak.

 

Sam langsung melepaskan ciumannya dengan heran,” kenapa loe tak berontak?” tanya Sam.

 

“Karena anda sudah suamiku,” jawab Zena.

 

Sam dan Jerry tertawa.

 

“Lalu bagaimana dengan mereka yang bebas memakaimu?” tanya Sam dengan tampang murka karena telah di permainkan.

 

“Memakai? Maksutnya?” tanya Zena bingung.

 

“Bukankah, loe sering di pakai dengan model senior, atau oleh artis-artis ternama untuk menemani tidur?” tanya Sam.

 

“Maaf ya, walau saya model, tetapi saya masih perawan.” Zena menjawab dengan singkat.

 

Namun jawaban Zena ternyata malah memicu gelak tawa keduanya.

 

“Baru kali ini, aku mendengar, seorang pelacur teriak perawan,” kata Sam sembari tertawa.

 

Zena seketika teringat dengan sosok Helena yang sesungguhnya. “Ah iya. Aku di sini berperan sebagai Helena. Kenapa aku bisa lupa? Apa mungkin Helena itu seorang pelacur?” tanya Zena dalam hati.

 

“Kenapa terdiam?” tanya Sam.

 

”Ah tidak. Lupakan saja,” kata Zena sambari memalingkan pandang.

 

Tak berapa lama mereka sampai di istana megah keluarga Wirya. Tanpa canggung karena ingin segera memberi pelajaran pada Zena, Sam langsung menggendong Zena menuju kamarnya.

 

Hal itu tentu membuat Oma Liona dan Wirya saling pandang dan tertawa.

 

“Rupanya anak itu sudah nggak sabar,” kata Wirya yang di balas oleh gelak tawa Oma Liona. Sedangkan Jerry hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala.

 

“Siapa suruh bermain-main dengan singa lapar.” Jerry hanya bisa menggerutu.

 

Sementara sesampainya di kamar, Sam langsung meletakkan tubuh Zena dengan kasar di atas ranjang.

 

“Aaw,” pekik Zena sembari memegangi pinggangnya yang terasa sakit karena membentur ranjang.

 

“Aku akan mulai membuatmu menjerit kesakitan. Tak akan ku biarkan kamu bisa hidup dengan tenang aku akan membuat setiap detik memohon ampun!” Sam tampak melepas semua bajunya dengan kasar.

 

Zena hanya terdiam. Dia tak bisa berbuat banyak.

 

“Demi ibu, aku harus menerima semua ini. Aku harus menyerahkan kehormatan ini, pada pria yang sama sekali tak aku cintai. Bahkan pernikahan ini hanyalah sandiwara,” batin Zena.

 

Singkat cerita, Sam malam itu melakukan tugasnya dengan sangat kasar, sehingga membuat Zena kesakitan bahkan dia terus meneteskan air mata.

 

Dalam hati dia terus merutuki kebrutalan pria yang ada di depannya.

 

“Jangan berakting menangis. Bukankah kamu sudah biasa melakukan ini semua dengan banyak pria?” tanya Sam dengan tak menghentikan kegiatannya.

 

“Jangan ngaco kamu ya. Buktinya, tak bisa masuk, lihat, noda merah itu,” kata Zena sembari sesenggukan menahan tangis.

 

Sam menghentikan kegiatannya. Dia pun baru sadar kalau sedari tadi, dia memang tak bisa mulus dalam menjebol gawang pertahanan. Matanya pun memandang ke bagian bawah, benar saja, ada noda merah yang sangat banyak.

 

“Apa? Jadi wanita ini memang masih perawan? Bagaimana bisa? Bukankah semua bukti itu menunjukkan kalau dia sering Gonta-ganti pasangan dan kehidupannya sangat bebas?” Batin Sam.

 

“Aku tak percaya. Besok kita lakukan cek. Apa betul kamu masih perawan,” kata Sam.

 

“Terserah kamu saja.” Zena menjawab dengan asal.

 

Sam beranjak dari atas Zena, dia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Tak berapa lama setelah Sam keluar, kini Zena berjalan ke kamar mandi dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.

 

Sam kini menatap iba pada Zena, namun kecurigaannya masih dominan. Sedangkan Zena di kamar mandi, membersihkan diri sembari menangis, meratapi nasib malangnya.

 

Sementara Sam yang ada di kamar, langsung menelpon Jerry dan menceritakan semuanya.

 

“Gilakan, masak model sekelas dia masih segel?” tanya Sam.

 

“Apa kmyang akan kamu lakukan?” tanya Jerry.

 

“Besok, aku akan melakukan cek ke dokter spesialis. Atur semuanya,” kata Sam.

 

“Baiklah, selamat bersenang-senang,” goda Jerry.

 

“Gundulmu,” umpat Sam.

 

Panggilan pun terputus, Sam mematikan panggilan.

 

Tak berapa lama Zena keluar dari kamar mandi, jalannya masih seperti pinguin dan membuat Sam geli. Namun wajah Zena masih cemberut.

 

“Dimana seprey nya. Aku akan menggantinya dengan yang baru,” kata Zena.

 

“Cari di lemari,” jawab Sam dengan singkat.

 

Zena mencoba membuka lemari satu persatu, dan akhirnya menemukan seprey yang masih bersih. Dia pun langsung menggantinya.

 

“Lihatlah, kelakuanmu, saking ganasnya, sampai seperti ini.” Zena menunjuk noda merah yang membekas di atas kasurnya dengan tampak jengkel.

 

Sam hanya tersenyum sekilas. Namun saat ia memperhatikan Zena, timbul perasaan iba, bahkan ketika melihat Zena berjalan seperti pinguin, dia pun merasa bersalah.

 

“Kalau memang benar gadis itu masih segel, maka bertapa beruntungnya aku,” batin Sam.

 

Lates Chapters

Bab 9

Beberapa hari kemudian, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Acara pertunangan Helena dan Sam sebentar lagi akan dimulai. Semua sudah dipersiapkan dengan matang.   Oma Liona…

Pertunangan Sam Dan Helena.

Zena duduk di samping ranjang Halimah, menatap wajah ibunya dengan perasaan sayang. "Ibu, baik-baik ya, selama Zena pergi," gumam Zena sambil menggenggam tangan Halimah erat-erat.…

Bab 8. Keputusan Alzena

Zena duduk di samping ranjang Halimah, menatap wajah ibunya dengan perasaan sayang. "Ibu, baik-baik ya, selama Zena pergi," gumam Zena sambil menggenggam tangan Halimah erat-erat.…

Bab 7. Akal Bulus Edrik.

"Lalu apa rencananya?" tanya Helena. "Sekarang, kamu bersiap. Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat. Kalau bisa pakai hoddie," kata Edrik. "Hoddie? Untuk apa?" tanya Helena…

Bab 6

"Bagaimana, Nak?" tanya Oma Liona. Helena terdiam, matanya menatap bergantian ke arah kedua orang tuanya. Berbagai pertanyaan dan kegelisahan bercampur aduk dalam pikirannya. "Kalau aku…
error: Content is protected !!