Istri Pengganti Milik Tuan Muda

Bab 6

“Bagaimana, Nak?” tanya Oma Liona.

Helena terdiam, matanya menatap bergantian ke arah kedua orang tuanya. Berbagai pertanyaan dan kegelisahan bercampur aduk dalam pikirannya.

“Kalau aku menikah, kebebasanku akan hilang. Tapi… jika aku menikah dengannya, setidaknya masa depanku terjamin. Bisakah aku benar-benar menerima pernikahan ini?” gumam Helena dalam hati.

Pada akhirnya, Helena tersenyum tipis, mengalahkan keraguan dalam hatinya.

“Baik Nyonya, saya bersedia,” jawabnya lembut sambil menundukkan kepala.

“Bagus. Kalau begitu saya akan membahasnya dengan keluarga besar, kabar selanjutnya akan saya sampaikan saat mendekati acara lamaran,” ujar Oma Liona.

“Baik, Nyonya,” sahut Kartika.

“Jangan Nyonya, tetapi Oma. Oma Liona,” kata Oma sambil tersenyum lebar.

“Baik Oma,” timpal Cakra.

“Baiklah, kalau begitu, saya pamit. Terima kasih untuk jawabannya,” kata Oma Liona seraya beranjak dari duduknya.

Helena, Kartika, dan Cakra pun beranjak dari duduknya dan mengikuti Oma Liona keluar dari kediaman Cakra. Setelah mereka pergi, keluarga Cakra pun bersorak kegirangan, namun di sudut hati Helena, masih ada kegelisahan yang tersimpan rapat. Apakah ini langkah yang benar? Bisakah dia benar-benar merelakan kebebasannya untuk masa depan yang lebih baik?

“Aaaaaa, Mama nggak pernah membayangkan kalau anakku ini akan menikah dengan seorang bangsawan,” ucap Kartika sambil mencubit pipi Helena dengan gemas.

“Mama, sebenarnya aku sendiri belum merasa siap menikah, namun rasanya sayang jika aku melewatkan kesempatan ini,” jawab Helena dengan rasa bimbang.

“Kau memang anak yang pintar,” puji Cakra, ayah Helena.

Mereka bertiga tampak bahagia, namun ternyata ada satu sosok yang tak bisa tersenyum, Zena. Gadis itu sedang berjuang keras untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah guna membiayai pengobatan Halimah.

Di luar dugaan, takdir membawa mereka semua ke satu tempat, rumah sakit. Zena terlihat duduk di halaman rumah sakit, melamun dalam-dalam. Di saat yang bersamaan, Edrik keluar dari rumah sakit itu, baru saja memeriksakan kesehatannya secara rutin.

“Helena? Apakah itu Helena? Bukankah dia tadi bilang mau ketemu teman kencannya? Kenapa sekarang ada di sini?” gumam Edrik heran sambil terus mengamati sosok gadis yang duduk lesu itu.

Rupanya, Edrik salah mengira, yang ia lihat adalah Zena, bukan Helena. Tanpa berpikir panjang, Edrik pun mendekati Zena yang ia kira adalah Helena. Tak lama kemudian, seorang perawat datang memanggil nama Zena.

Ketika Zena beranjak, Edrik menyadari kesalahannya dan merasa bersalah karena mungkin baru saja membuat Zena semakin bersedih. Takdir ini mengajarkan mereka arti kehidupan dan menciptakan ikatan tak terduga di antara mereka.

“Mbak Zena, Anda dipanggil Dokter Pras,” kata perawat itu.

Zena langsung menoleh dan mengangguk ke arah perawat itu.

“Baik, Bu. Terima kasih,” jawab Zena. Dengan langkah gontai, Zena beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa jantungnya berdebar kencang, takut akan kabar yang akan diterimanya dari Dokter Pras.

“Apakah kondisi Ibu memburuk? Haruskah aku mempersiapkan hati untuk menerima kenyataan pahit?” batin Zena, hingga tanpa sadar air mata mulai mengalir di pipinya.

Sementara itu, Edrik yang melihat kepergian Zena menjadi penasaran.

“Zena? Jadi wanita itu bernama Zena. Tapi, mengapa wajahnya sangat mirip dengan Helena? Hanya saja, dia tampak lebih dekil dan kurus,” gumam Edrik dalam hati.

Rasa penasarannya semakin memuncak, ia pun memutuskan untuk membuntuti Zena.

“Aku harus mengikutinya. Siapa tahu ini akan bermanfaat suatu saat nanti,” pikir Edrik sembari mengatur jarak untuk tidak ketahuan oleh Zena.

Setelah beberapa saat berjalan menyusuri lorong, Zena akhirnya menemui Dokter Pras. Dengan perasaan berat, ia membuka pintu

ruang kerja dokter muda itu dan bertanya dengan suara bergetar, “Dok, bagaimana keadaan ibu saya?”

“Bu Halimah sudah lebih baik. Operasinya berjalan lancar. Hanya saja, sekarang kamu harus segera melunasi tagihan rumah sakit, untuk mendapatkan perawatan selanjutnya,” kata dokter Pras.

“Iya, saya tahu, tapi sampai sekarang aku belum juga berhasil mengumpulkan uang yang dibutuhkan, Dok,” ujar Zena dengan wajah sedih.

“Saya mengerti, tetapi itu sebuah kewajiban,” balas dokter Pras dengan senyum simpati.

“Baik, Dok, jika begitu, saya permisi dulu,” pamit Zena.

Dokter Pras mengangguk, dan Zena pun beranjak dari kursinya untuk kembali ke ruang perawatan ibunya. Di benak Zena, rasa bersalah sudah mulai menggelayut.

“Apakah aku seorang anak yang tidak berbakti? Kenapa aku belum bisa membantu ibu untuk menyembuhkan penyakitnya?” gumam Zena dalam hati.

Sementara itu, Edrik yang telah mengekor di belakang Zena, mulai tertarik dengan kisah hidup gadis tersebut.

“Jadi, wanita itu sedang menghadapi masalah keuangan?” gumam Edrik seraya tersenyum sinis.

Tetap mengikuti langkah Zena hingga ke ruang perawatan Halimah, setelah mengetahui lebih banyak tentang Zena, Edrik memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit.

Tak lama kemudian, Zena sampai di ruang perawatan Halimah dan langsung memasuki ruangan tersebut. Di sana, dia menggenggam erat tangan ibunya yang lemah dan terbaring di tempat tidur.

“Ibu, cepatlah sembuh. Zena merindukan senyum dan kehangatan pelukan Ibu,” bisik Zena dengan nada lirih dan mata berkaca-kaca. Dia merasa sangat kehilangan sosok ibu yang selama ini menjadi sandaran

Tak lama kemudian, Koh Atong muncul dari balik pintu.

“Zena. Bagaimana keadaan Halimah?” tanyanya dengan perasaan cemas.

“Koh, ibu sudah lebih baik,” jawab Zena lega. Zena terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara.

“Oe bawakan makan siang untuk elu. Semoga suka,” kata Koh Atong sambil meletakkan bungkusan di atas meja.

Keduanya pun kembali mengobrol, mencoba melupakan kekhawatiran yang ada di benak mereka. Sementara itu, Helena kini sedang mengemudikan mobilnya menuju sebuah apartemen yang sering dia tinggali bersama kekasih kencannya. Namun kali ini, Helena tengah melakukan panggilan pada Edrik. Tak berapa lama, panggilan pun tersambung.

“Drik, loe di mana?” tanya Helena dengan nada sedikit panik. “Rumah sakit.

” Biasa. Kenapa gitu?” tanya Edrik, heran dengan suara Helena yang terdengar gugup.

“Ke apartemen sekarang. Penting,” kata Helena dengan tegas.

“Oke,” jawab Edrik, merasa ada sesuatu yang penting yang ingin dibahas Helena. Helena sampai di apartemen terlebih dulu sebelum Edrik datang.

Helena menghempaskan tubuhnya di sofa sambil menghela nafas sejenak. Pikiran dan emosi bercampur aduk dalam dirinya, mempersiapkan diri untuk menjelaskan semuanya kepada Edrik.

“Mimpi apa aku semalam. Sampai di kamar konglomerat, bangsawan lagi,” gumam Helena.

Di tengah kebingungan dan kekhawatiran yang menyelimutinya, dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berlalu.

Tak berapa lama, pintu apartemen pun terbuka dari luar, Edrik pun muncul dan dia langsung duduk di depan Helena.

“Ada apa?” tanya Edrik.

“Aku akan menikah dengan pewaris tunggal keluarga Wicitra grup,” kata Helena datar.

“Wah gila. Itu sih beruntung banget,” kata Edrik.

“Entah. Aku masih harus menyelesaikan job bersama teman-teman kencanku smyang sudah mengisi list,” kata Helena putus asa.

“Gampang. Semua pasti akan berjalan sesuai rencana,” kata Edrik sembari tersenyum licik.

Lates Chapters

Bab 10

Saat ini, Helena tengah larut dalam kebahagiaan bersama kekasih barunya yang seolah tak pernah ada habisnya. Kehidupannya penuh kebebasan, seolah segala hal terbuka lebar untuknya.…

Bab 9

Beberapa hari kemudian, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Acara pertunangan Helena dan Sam sebentar lagi akan dimulai. Semua sudah dipersiapkan dengan matang.   Oma Liona…

Pertunangan Sam Dan Helena.

Zena duduk di samping ranjang Halimah, menatap wajah ibunya dengan perasaan sayang. "Ibu, baik-baik ya, selama Zena pergi," gumam Zena sambil menggenggam tangan Halimah erat-erat.…

Bab 8. Keputusan Alzena

Zena duduk di samping ranjang Halimah, menatap wajah ibunya dengan perasaan sayang. "Ibu, baik-baik ya, selama Zena pergi," gumam Zena sambil menggenggam tangan Halimah erat-erat.…

Bab 7. Akal Bulus Edrik.

"Lalu apa rencananya?" tanya Helena. "Sekarang, kamu bersiap. Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat. Kalau bisa pakai hoddie," kata Edrik. "Hoddie? Untuk apa?" tanya Helena…
error: Content is protected !!