Istri Kontrak Lima Milyar

Bab 10. Gosip Tante Bella

“Apa tante gue masih sering kemari?” tanya Sarah kaget.

 

“Dia? Ya seringlah, sesuai jadwal,” ucap madam Gun.

 

Sarah kaget, tante Bella adalah istri dari om-nya, om Haryadi. Tapi beberapa tahun terakhir, tantenya pergi meninggalkan om-nya. Jika tantenya tetap rutin ke salon, berarti tante Bella masih berada di kota ini, “Madam Gun, tahu tanteku ke sini dengan siapa?”

 

“Emmh … seperti biasa, sendirian. Tambah glowing loh dia, katanya perawatannya mahal,” seloroh madam Gun.

 

“Eh yah lo! Malah belum jawab pertanyaan gue,” katanya sambil membersihkan muka Sarah dengan cairan di muka. “Lo gimana bisa kenal dengan Heru Hadiningrat?” tanyanya.

 

“Dia kan teman kampus gue, dia lagi ada acara, gue disuruh bantuin dia. Gak tahu kalau ternyata salonnya madam Gun,” canda Sarah.

 

“Ooh, cuma teman, dia orangnya baik loh, lo jadian aja sama dia, mana tajir juga itu anak,” goda madam Gun.

 

“Gue gak minat,” tolak Sarah.

 

“Hahaha, awas yah, benci nanti cinta loh hahaha,” goda madam Gun.

 

Sarah diam saja, matanya mulai terpejam, suasana di ruangan itu memang membuatnya nyaman. Dengan ocehan dari madam Gun, dia bisa mengetahui keberadaan tantenya yang kabur. Selain itu gosip-gosip para artis yang pakai jasanya, hingga matanya benar-benar terpejam dan tertidur, tidak lagi memikirkan ibunya di rumah sakit, orang tua Heru, om dan tantenya.

 

“Sar! Sarah! Bangun!” Bahu Sara ditepuk-tepuk agar segera bangun, “Sudah selesai Sarah!” seru madam Gun.

 

Sarah terbangun dari tidurnya, kemudian melihat pada cermin di depannya. “Wah! Gue gak nyangka kalau gue secantik ini!” ucap Sarah yang terpesona pada dirinya sendiri.

 

“Heh! Jangan merendah deh yah! Lo itu cantik tau! Lo aja yang gak sadar! Gue cuma poles dikit aja muka lo dah begini, apalagi all out. Pokoknya kalo lo nikah sama si Heru itu, pakai gue jadi make up artisnya yah,” pesan madam Gun.

 

“Iya,” jawab asal Sarah yang masih bercermin langsung mengeluarkan ponselnya untuk foto berswafoto

 

“Tuh, benarkan? Lo pacarnya si Heru?” lontar madam Gun.

 

Sambil tersenyum, dan berswafoto dari segala arah, “Gimana bagusnya madam Gun saja,” seloroh Sarah.

 

“Haiisshh! Ini anak yah, dah sini rambutnya ditata dulu,” ujarnya dengan kesal.

 

Sarah tertawa, dia tidak akan mengeluarkan isi hatinya kepada seorang madam Gun yang bocor mulutnya. Tapi sekarang, dia punya informasi yang penting, tantenya ada di kota ini, tetapi dia tidak pernah melihatnya.

 

Rambutnya sudah ditata, dengan hair style yang sederhana dan elegan, semua atas perintah Heru Hadiningrat. Sarah melihat dirinya menjadi berbeda. Dengan make up natural, madam Gun hanya memperjelas kecantikannya dan menutupi kekurangannya. Alisnya yang rapi, bulu matanya yang lentik tampak lebih terlihat lebih lentik dan penuh hanya karena mascara. Hidungnya di shading sehingga tampak lebih mancung . Pipinya yang tirus disapukan dengan blush on yang samar-samar berwarna pink membuatnya seperti boneka Barbie.

 

“Sar, Heru sudah datang, ini bajunya. Lo pake dulu, kalau kesulitan, nanti dibantu sama Dewi yah, gue mau nemuin Heru dulu,” ucap madam Gun yang membawakan kotak besar dan menaruh pada kursi kosong di sebelahnya, kemudian pergi meninggalkan Sarah.

 

“Tumben madam Gun kasih baju dalam kotak, biasanya juga suruh milih sendiri,” gumam Sarah.

 

Dibukanya kotak besar itu, dan terlihat sebuah gaun berwarna hitam dan sebuah sepatu. Gaun dengan tali pada bagian lengannya dengan punggung yang terbuka. Walaupun gaun itu berwarna hitam, pada bagian perutnya terdapat manik-manik seperti ikat pinggang.

 

“Ini gaun pasti mahal banget,” decak kagum Sarah. 

 

Walau Sarah sebenarnya orang kaya, tapi dia lebih suka berpakaian kasual. Jika ada acara tertentu, daripada harus membeli pakaian, dia lebih suka menyewanya, karena hanya digunakan sekali saja.

 

Dipakainya gaun hitam itu dan melihat penampilannya, yang Sarah sendiri pun tidak menyangka kalau dirinya secantik ini. Dipakainya sepatu high heels-nya, “Sempurna!”

 

“Kak Sarah, kak Heru sudah manggil, apa sudah selesai?” tanya karyawan madam Gun, Dewi.

 

“Aku sudah siap!” ujar Sarah. 

 

Dewi yang melihatnya pun terkagum-kagum melihat Sarah, “Kakak cantik banget,” ucapnya.

 

Sarah hanya bisa nyengir memperlihatkan giginya yang putih, “Jangankan kak Dewi, aku aja kaget lihat mukaku dipegang oleh madam Gun,” sanggah Sarah.

 

Sarah dan Dewi menuju ke lobby dimana Heru sudah menunggunya dengan tidak sabar. Dia sudah berjanji dengan ayahnya untuk makan malam bersama dengan gadis yang hendak dia perkenalkan. 

 

Ini sudah lewat jam 6 sore, tapi masih saja Sarah belum keluar, padahal madam Gun sudah mengatakan sudah selesai, “Ingin gue seret Sarah untuk keluar. Apa sih yang buat lama?” gumamnya sambil bolak balik melirik ke jam tangannya yang seolah-olah cepat berlalu.

 

“Kak Heru, ini pacarnya,” ucap Dewi yang mengantarkan Sarah ke hadapannya. 

 

Heru ingin memarahinya, “Dasar cewek gi–,” potongnya yang kemudian terdiam, terpana dengan kecantikan Sarah. “Bahkan Kalina pun tidak secantik … gue lupa namanya,” gumam Heru.

 

Sarah tersenyum menghampiri Heru, “Gimana penampilan gue menurut lo?’ tanya Sarah.

 

“Biasa aja, yuk cepat! Gue gak mau terlambat! Gue dah lapar,” jawab Heru langsung berjalan meninggalkan Sarah.

 

Sarah langsung cemberut melihat Heru yang tidak suka dengan penampilan barunya. “Ya sudahlah, emang siapa lo, buat suka sama gue?” pikir Sarah melapangkan dadanya.

 

Di mobil, Sarah tidak bosan-bosannya berswafoto. “Lo ngapain sih selfie mulu?” tanya Heru.

 

“Gue ngerasa cantik aja hari ini, jadi sayang kalau gak disimpan di hape,” ujar Sarah sambil mengganti berbagai pose.

 

“Dasar cewek gila,” pungkas Heru.

 

“Biarin, toh cewek gila ini bakal jadi istri lo juga,” jawab Sarah.

 

“Gue salah ngomong,” elak Heru.

 

Mobil sport Heru pun mulai memasuki kawasan elit, bangunan minimalis kekinian, dengan rata-rata besar dan berlantai dua. Kemudian memarkir mobil sportnya pada halaman besar.

 

Heru keluar dari mobilnya, begitu pula dengan Sarah. Sarah melihat rumahnya dua kali lebih besar dengan mobil mewah berjejer ada 4 buah, termasuk mobil sportnya Heru.

 

“Ayo cepet masuk!” perintah Heru.

 

“Ah, iya!” Sarah pun segera mengikuti Heru masuk ke dalam rumah dan menekan belnya. Seseorang membuka pintunya. “Aden, udah pulang? Biasanya langsung masuk,” kekeh pembantunya. “Tuan Aden ada ruang makan, sudah siap,” ucapnya lagi.

 

Tanpa mengucapkan apapun, Heru langsung menarik tangan Sarah, “Kita harus sedikit lebih mesra,” katanya. 

 

Sarah pun mengerti, kemudian menghela nafas panjang, kemudian berjalan mengikuti Heru. “Nama lo di rumah, Aden?” tanya Sarah.

 

“Panggilan doang dari Raden, nama ningrat dari para pembantu gue,” celetuk Heru.

 

“Ooh,” hanya jawaban itu yang keluar dari Sarah. Hatinya semakin tidak tenang. Dia ingin melihat pak Sugandi Hadiningrat itu seperti apa yang manjadi pemberi hutang om-nya itu.

 

“Dad, Tante! Perkenalkan, ini adalah calon yang akan Heru nikahkan,” salam Heru memecah keheningan di meja makan.

 

Sugandi Hadiningrat, tidak beranjak dari kursinya, dia melihat jam tangannya. “Terlambat 5 menit,” celetuknya.

 

 

 

Lates Chapters

Bab 98. Akhir Sebuah Kisah

"Disini jam 10 malam Bun. Aku tidak bercanda."   "Oke! Ceritakan pada Bunda, apa yang terjadi disana." Helena mendengarkan Sarah dengan lebih serius.   Sarah…

Bab 97. Akhir Perjalanan Bella

"Maafkan aku Sarah. Maafkan aku Heru! Aku telah jahat pada kalian! Ya aku yang sudah membunuh Daddy dengan memasukkan obat hingga over dosis, aku juga…

Bab 96. Gelandangan di Paris

Setelah mendapatkan ijin dari dokter kandungan untuk pergi honeymoon ke Paris, Heru menyewa pesawat pribadi agar perjalanan mereka lebih nyaman.   "C'est votre numéro de…

Bab 95. Pernikahan Ulang

"Hahaha." Sarah tidak bisa menjawab apapun karena humor madam Gun disertai dengan ekspresinya membuat Sarah tertawa. Heru yang melihatnya hanya tersenyum dan menutup wajahnya dengan…

Bab 94. Pembatalan Pernikahan

"Pak Hakim yang terhormat, ibu Bella masih menjadi buronan sampai saat ini," ucap Hotman Ferris disertai dengan anggukan dari pihak hakim. Hotman Ferris menampilkan Sarah…

Bab 93. Sidang Pengadilan

"Ogah! Gue gak mau bekas orang. Lo aja kasih orang, apalagi gue, hahaha!" jawab Setiawan.   "Hahaha, setiap kejahatan, pasti ada hukumannya. Thanks bro, buat…

Bab 92. Tes DNA

Mobil Heru meluncur di jalanan kota Jakarta. Heru duduk di belakang Daman dan rasanya masih terasa genggaman tangan Sarah di jemarinya, "Aden teh dari tadi…

Bab 91. Kalina Yang Kesepian

"Kembali ke Jakarta," jawab Heru.   "No! Aku tidak mau ke rumahmu. Bukankah sudah ada nyonya baru?" tanya Sarah menyelidiki.   "Hm, aku akan memberikanmu…

Bab 90. Di Rumah Sakit

Heru membutuhkan waktu 30 menit untuk tiba dari bandara menuju RSU Surabaya dan dengan sedikit tergesa-gesa, Heru menuju loket informasi untuk bertanya dimana ruang inap…

Bab 89. Kedatangan Polisi

"Polisi? Baik, suruh mereka masuk ke ruangan saya," jawab Heru.     "Ada apa polisi kemari? Apa ada berita mengenai tante Bella?" pikir Heru.  …

Bab 88. Interogasi Polisi

"Iya, pak."     "Lalu apakah kalian ada permasalahan dengan Bella Salsabila Putri ini? Karena sepertinya Bella adalah tersangka dari pembunuhan yang dilakukan dengan cara…

Bab 87. Interogasi

"Dor!"     Suara tembakan itu disertai juga dengan suara kereta api yang tidak sempat berhenti mendadak menyeret mobil Bima kemudian terdengar ledakan. Mobil-mobil yang…

Bab 86. Saat Genting

***   "Josh, apakah kau single?" tanya Bella.       "Aku seorang duda dengan seorang anak yang sudah gadis remaja."       "Istrimu?"…

Bab 85. Konferensi Pers

Heru dan Kalina melangsungkan resepsi pernikahan di hotel bintang 5 dengan undangan khusus. Namun, ada beberapa wartawan yang diundang untuk meliput pesta mewah tersebut.  …

Bab 84. Berita Viral

***   "Sayang, baca ini!" Helena menyerahkan ponselnya kepada Sarah.       "Mereka ingin mencelakai kita Bun, kita dalam pengawasan" ucap Sarah dengan lirih.…

Bab 83. Sarah dan Helena diusir

Dengan lesu, Heru kembali ke ruangannya, "Apa yang harus gue katakan kepada Sarah yang sedang hamil juga?"     Diambil ponselnya, kemudian melakukan video call…

Bab 82. Hasil USG Kalina

"Kalina! Lo dengar gue kan?" tanya Michael. Ingin rasanya dia cepat-cepat pulang. Dia lebih kangen bersama dengan istrinya yang sebentar lagi hendak melahirkan. Bersama Kalina,…

Bab 81. Harga Sebuah Kesepakatan

Kalina mengangguk, sambil kembali menunjuk berkas yang masih ditutup, Kalina menjelaskan, "Disini, lokasi Sarah dan ibunya. Mereka mempunyai toko bakery di Bali, jadi, aku masukkan…

Bab 80. Gara-Gara Lima Milyar

"Hufh! Belum, untunglah!" Sarah berdiri dan melihat setiap orang yang datang untuk berangkat, dari kejauhan, Sarah melihat sosok badan yang dia kenal. Memakai jeans dengan…

Bab 79. Kode Kalina Untuk Bella

"Tamu? Siapa ya? Aku jarang menerima tamu. Apakah teman-teman arisanku? Aduh! Makeup aku kemana ya? Apa yang harus aku pakai? Aku belum sempat ke mall!"…
error: Content is protected !!