Dua dunia satu atap

BAB. 12 Kesalahpahaman Besar

Pagi itu, rumah panggung tua milik keluarga Bu Raras tampak lebih sibuk daripada biasanya. Matahari baru saja menyelinap di antara celah-celah papan dinding, menerangi ruang tengah lantai atas yang dipenuhi buku kuliah, gelas kopi, dan pakaian yang belum sempat dilipat.

Dari kejauhan terdengar suara penjual sayur memanggil pembeli. Seekor kucing belang melintas di bawah rumah, menghindari genangan air bekas hujan semalam. Sementara itu, di lantai bawah, Bu Minah sedang sibuk menggoreng pisang sambil mengawasi keempat anaknya yang bersiap menghadapi hari baru.

Setidaknya, itulah rencananya.

Sebab di rumah itu, rencana sering kali hanya bertahan selama lima menit.

“Doni! Ari! Janganmi lari-lari di dekat kompor! Mauko makan pisang goreng atau mauko jadi pisang goreng juga?” teriak Bu Minah dari dapur.

Doni berhenti berlari.

“Masa orang bisa jadi pisang goreng, Ma?”

“Kalau kepalamu kena wajan, bisa jadi perkedel!”

Tegar yang sedang duduk di bangku langsung tertawa terbahak-bahak.

“Ha-ha-ha! Doni jadi perkedel!”

“Diamko! Nanti kau juga jadi bakwan!” balas Doni.

Nisa, yang sedang mengikat rambutnya, menggelengkan kepala.

“Baru pagi sudah ribut. Capekmi saya dengar.”

Bu Minah menoleh cepat.

“Eh, kau juga jangan banyak komentar. Dari tadi rambutmu diikat, dilepas, diikat lagi. Memangnya rambutmu mau pergi kuliah?”

Nisa mendengus, lalu duduk sambil mengambil pisang goreng.

Di lantai atas, Bu Raras yang sedang menuangkan air panas ke dalam teko hanya bisa tersenyum mendengar percakapan dari bawah.

“Kalau setiap pagi begini, rumah ini tidak perlu radio,” gumamnya.

Rafi yang sedang mengaduk kopi tertawa.

“Tidak perlu radio, Bu. Tidak perlu televisi juga. Kita sudah punya siaran langsung setiap hari.”

“Sayangnya tidak ada tombol untuk mengecilkan volumenya,” sahut Gilang.

Sasa menutup bukunya sambil tertawa kecil.

“Kalau ada lomba keluarga paling berisik, sepertinya mereka sudah juara nasional.”

Bu Raras menggeleng pelan.

“Jangan begitu. Mereka keluarga kita juga.”

Rafi mengangkat alis.

“Iya, Bu. Keluarga yang kalau bertengkar bisa membuat lantai dua ikut bergetar.”

“Rafi!”

“Iya, iya. Saya diam.”

Namun senyum Bu Raras perlahan menghilang ketika matanya tertuju pada sebuah amplop cokelat di atas meja. Amplop itu berisi uang pembayaran kontrakan dari dua mahasiswa yang menyewa kamar di lantai atas.

Ia harus mencatat jumlahnya dengan teliti. Beberapa hari terakhir, ada sejumlah tagihan yang harus dibayar, mulai dari perbaikan papan tangga hingga biaya listrik.

Rumah panggung itu memang warisan ayahnya. Namun memiliki rumah bukan berarti hidupnya bebas dari pengeluaran.

Terlebih lagi, ia sudah berjanji kepada ayahnya untuk membantu Minah dan anak-anaknya.

Janji yang tidak selalu mudah ditepati.

 

Uang yang Hilang

Menjelang pukul sembilan, Bu Raras turun ke lantai bawah untuk mencari buku catatan pembayaran kontrakan.

Ia mendapati Bu Minah sedang duduk di dekat jendela sambil menghitung uang.

Di sampingnya terdapat beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu dan dua puluh ribu. Bu Minah menghitungnya dengan bibir bergerak-gerak, sesekali mengernyit seperti seorang bendahara negara yang sedang menghadapi defisit anggaran.

“Satu ratus… dua ratus… tiga ratus… aduh, kenapa kurang lagi?”

Ia menghitung ulang.

Lalu menghitung sekali lagi.

Kemudian memandang uang itu dengan curiga.

“Jangan-jangan uangnya berkembang biak sendiri, tapi yang berkembang malah kurangnya.”

Bu Raras yang baru tiba di pintu menahan senyum.

“Kenapa, Minah?”

Bu Minah mendongak.

“Eh, Raras. Ini uang pembayaran anak-anak kost bawah. Sepertinya ada yang belum bayar penuh.”

“Coba periksa catatanmu.”

“Sudah. Tapi pusing saya melihat tulisan sendiri.”

Raras duduk di sebelahnya.

“Mana buku catatannya?”

Bu Minah menyerahkan sebuah buku tulis bersampul merah muda. Pada halaman pertama tertulis besar-besar:

BUKU UANG KOST — JANGAN DIUTANGI!

Di bawahnya terdapat gambar bunga yang digambar Ari dengan krayon.

Raras membuka halaman demi halaman.

“Minah, ini pembayaran Rino sudah masuk. Ardi juga sudah membayar. Wawan masih kurang seratus ribu.”

Bu Minah langsung berdiri.

“Nah! Saya sudah curiga sama Wawan!”

“Jangan langsung menuduh. Bisa jadi dia belum sempat membayar.”

“Belum sempat? Semalam dia sempat menyanyi sampai tengah malam!”

Raras hampir tertawa.

“Bernyanyi tidak sama dengan memegang uang, Minah.”

“Ya, tetapi kalau punya tenaga untuk menyanyi, mestinya punya tenaga juga untuk membayar!”

Bu Raras menggeleng sambil tersenyum.

“Bicara baik-baik dulu dengannya.”

“Baiklah. Tapi kalau dia bilang belum punya uang, saya suruh dia menyanyi di depan pasar. Siapa tahu dapat saweran.”

Raras tertawa kecil.

“Jangan begitu juga.”

Mereka tidak menyadari bahwa Tegar sedang berdiri di dekat pintu dapur. Remaja itu mendengar percakapan mereka, terutama bagian tentang uang yang kurang.

Ia menunduk, lalu diam-diam berjalan menuju kamar.

Sebenarnya, sejak pagi Tegar menyimpan sebuah rahasia.

Kemarin sore, ia menemukan uang seratus ribu rupiah di dekat tangga. Ia mengambilnya karena mengira uang itu milik ibunya. Namun ia lupa menyerahkannya karena sibuk bermain bersama teman-temannya.

Uang itu sekarang terselip di dalam buku komiknya.

Tegar berniat mengembalikannya setelah sarapan.

Sayangnya, sebelum ia sempat melakukannya, kesalahpahaman besar sudah terlanjur dimulai.

 

Tuduhan yang Salah Alamat

Tidak lama kemudian, Bu Minah memanggil para penghuni kost bawah.

“Rino! Ardi! Wawan! Sini dulu!”

Ketiga pemuda itu muncul dari kamar masing-masing dengan wajah yang berbeda.

Rino membawa ponsel.

Ardi membawa gelas kopi.

Wawan membawa sebungkus kerupuk.

Bu Minah menatap mereka satu per satu.

“Siapa yang belum bayar uang kost penuh?”

Wawan langsung mengangkat tangan.

“Saya, Bu. Tapi saya bayar besok.”

“Kenapa tidak bilang dari kemarin?”

“Karena kemarin Ibu sedang marah.”

Bu Minah menyipitkan mata.

“Memangnya kalau saya marah, mulutmu ikut terkunci?”

Wawan berpikir sebentar.

“Tidak, Bu. Tapi rasanya lebih aman kalau mulut saya tidak dibuka.”

Rino spontan tertawa, tetapi langsung berhenti ketika Bu Minah meliriknya.

“Lucu sekali, ya? Kalian pikir saya ini ibu kost atau pelawak keliling?”

“Bukan, Bu,” jawab Rino cepat. “Ibu kost.”

“Bagus. Kalau begitu, bayar uang kost tepat waktu!”

Ardi mengangguk.

“Siap, Bu.”

“Dan satu lagi. Jangan ada yang mengambil uang orang. Kalau menemukan uang, serahkan kepada pemiliknya. Mengerti?”

Ketiganya saling pandang.

Rino mengerutkan kening.

“Memangnya ada uang hilang, Bu?”

“Belum tahu. Uang saya kurang seratus ribu. Saya cuma mau memastikan.”

Wawan langsung menepuk saku celananya.

“Uang saya tidak ada, Bu. Bahkan kalau Ibu menemukan seratus ribu di kamar saya, saya juga akan kaget.”

“Kenapa?”

“Karena uang saya biasanya tidak pernah betah tinggal lama-lama.”

Ardi menyikutnya.

“Diamko. Jangan memperparah keadaan.”

Bu Minah menghela napas panjang.

“Sudah. Kembali ke kamar masing-masing. Saya tidak mau menuduh siapa-siapa sebelum ada bukti.”

Kalimat terakhir itu sebenarnya terdengar bijaksana.

Sayangnya, lima menit kemudian, semuanya berubah.

Dari kamar Tegar terdengar suara Ari berteriak.

“KAK TEGAR PUNYA UANG SERATUS RIBU!”

Semua orang membeku.

Bu Minah menoleh tajam ke arah kamar anaknya.

“Apa?!”

Tegar muncul di pintu dengan wajah pucat.

“Ari! Diamko!”

Namun terlambat.

Ari berlari keluar sambil membawa selembar uang yang baru saja ia temukan di dalam buku komik kakaknya.

“Lihat, Ma! Uang seratus ribu! Kak Tegar kaya!”

Bu Minah merebut uang itu, kemudian menatap Tegar.

“Dari mana kau dapat uang ini?”

Tegar menelan ludah.

“Saya… saya temukan.”

“Di mana?”

“Dekat tangga.”

“Sejak kapan?”

“Kemarin.”

Bu Minah membelalak.

“Jadi sejak kemarin kau simpan uang orang?!”

Tegar menunduk.

“Saya kira uang Mama.”

“Kalau kau kira uang Mama, kenapa tidak kau kasih ke Mama?!”

Tegar tidak menjawab.

Bu Minah memegang pinggangnya. Wajahnya mulai memerah.

“Ya ampun, Tegar! Otakmu itu dipakai untuk apa? Untuk menghitung skor permainan?”

Dari belakang, Rino berbisik kepada Ardi.

“Wah, kalau sudah begini, kita aman.”

Ardi mengangguk.

“Setidaknya bukan kita yang kena.”

Wawan mengunyah kerupuk dengan tenang.

“Drama keluarga memang lebih seru daripada drama televisi.”

Namun suara mereka terdengar oleh Bu Minah.

“Kalian bertiga! Jangan jadi komentator! Kembali sana!”

Mereka langsung bubar.

 

Rahasia yang Membuat Semua Orang Marah

Bu Raras yang mendengar keributan segera turun.

“Ada apa lagi, Minah?”

Bu Minah mengangkat uang seratus ribu itu.

“Lihat ini, Raras! Anak saya menyimpan uang orang sejak kemarin!”

Raras memandang Tegar.

“Benarkah, Tegar?”

Remaja itu menunduk.

“Iya, Bu. Tapi saya tidak bermaksud mencuri.”

“Kalau begitu, kenapa tidak langsung menyerahkannya?”

Tegar menggaruk kepala.

“Saya lupa.”

Bu Minah langsung mendengus.

“Lupa! Semua juga lupa kalau disuruh bertanggung jawab!”

Raras menghela napas.

“Minah, jangan langsung membentaknya. Kita harus tahu dulu uang ini milik siapa.”

“Uang saya kurang seratus ribu. Sekarang ditemukan di kamar anak saya. Apa lagi yang harus dicari?”

“Bisa jadi memang uangmu. Tapi bisa juga milik orang lain.”

Bu Minah terdiam.

Tegar menatap lantai.

Raras mengambil uang itu, lalu memeriksa sekeliling.

“Apakah ada yang merasa kehilangan uang kemarin?”

Tidak ada yang menjawab.

Ia kemudian menoleh ke arah para penghuni kost yang mulai mengintip dari pintu kamar.

“Gilang? Rafi? Sasa? Ada yang kehilangan uang?”

Gilang menggeleng.

Sasa berpikir sejenak.

“Sepertinya tidak, Bu.”

Rafi tiba-tiba mengangkat tangan.

“Saya kehilangan uang dua puluh ribu minggu lalu.”

Semua orang menoleh.

Rafi melanjutkan dengan wajah serius.

“Tapi saya sudah ikhlas. Uangnya mungkin sedang mencari kehidupan yang lebih baik.”

Bu Raras menutup mulut, menahan tawa.

“Rafi, ini bukan waktunya bercanda.”

“Maaf, Bu. Saya hanya mencoba meringankan suasana.”

Bu Minah mendengus.

“Uang dua puluh ribu saja sudah ikhlas. Bagus! Kalau uang seratus ribu, saya juga mau belajar ikhlas. Tapi sebelum ikhlas, saya harus tahu dulu siapa pemiliknya!”

Raras mengangguk.

“Itu benar.”

Ia kemudian memandang Tegar.

“Mulai sekarang, kalau menemukan barang atau uang yang bukan milikmu, serahkan kepada Ibu atau Bu Minah. Jangan disimpan sendiri. Mengerti?”

Tegar mengangguk.

“Mengerti, Bu.”

“Dan kamu harus minta maaf kepada ibumu karena membuatnya khawatir.”

Tegar menoleh kepada Bu Minah.

“Maaf, Ma.”

Bu Minah masih memasang wajah keras.

“Iya. Tapi jangan ulangi lagi!”

“Iya, Ma.”

Raras mengira persoalan itu akan selesai di sana.

Namun, dari arah tangga, terdengar suara seorang perempuan memanggil.

“Permisi! Bu Raras ada?”

Seorang mahasiswi penghuni lantai atas baru saja pulang dari kampus. Namanya Nanda. Ia membawa tas besar dan terlihat kebingungan.

“Ada apa, Nanda?” tanya Raras.

Nanda melangkah masuk sambil mengaduk-aduk tasnya.

“Bu, saya kehilangan uang seratus ribu. Kemarin saya taruh di dalam buku catatan, tapi sekarang tidak ada.”

Suasana mendadak hening.

Semua mata tertuju pada uang yang dipegang Bu Raras.

Lalu beralih kepada Tegar.

Kemudian kembali kepada Nanda.

Bu Minah membeku.

“Uangmu… seratus ribu?”

Nanda mengangguk.

“Iya, Bu. Uangnya saya simpan untuk membeli buku kuliah.”

Bu Minah perlahan menoleh kepada Tegar.

Wajahnya berubah.

“Tegar…”

Remaja itu langsung pucat.

“Ma, saya tidak mengambilnya!”

“Tapi uangnya ditemukan di kamarmu!”

“Saya menemukannya di tangga!”

“Kenapa tidak kau serahkan?”

Tegar mulai panik.

“Saya lupa, Ma! Saya sungguh lupa!”

Nanda terlihat bingung.

“Saya tidak menuduh siapa-siapa, Bu. Saya hanya ingin memastikan.”

Namun kata-katanya justru membuat Bu Minah semakin gelisah.

Ia merasa malu.

Di depan mahasiswa, anaknya terlihat seperti pencuri.

Dan sebagai seorang ibu, ia ingin melindungi anaknya.

“Sebentar, Nanda,” katanya cepat. “Anak saya memang ceroboh, tapi dia bukan pencuri!”

Nanda terkejut.

“Saya tidak bilang begitu, Bu.”

“Tapi semua orang sudah melihat uang itu ditemukan di kamarnya!”

Bu Raras segera mendekat.

“Minah, tenang dulu.”

“Bagaimana saya bisa tenang, Raras? Anak saya sekarang pasti dianggap mengambil uang!”

Raras memegang bahu kakak tirinya.

“Tidak ada yang menuduhnya mencuri. Kita sedang mencari tahu apa yang terjadi.”

Bu Minah terdiam, tetapi napasnya masih memburu.

Tegar menunduk dalam-dalam.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kelalaiannya bisa melukai orang lain.

 

Ketika Seorang Ibu Terlalu Ingin Melindungi

Beberapa menit kemudian, semua orang duduk di ruang tengah.

Nanda duduk di kursi dekat jendela. Tegar berdiri di hadapan mereka. Bu Minah duduk dengan tangan terlipat di dada, sementara Bu Raras berusaha menjaga suasana tetap tenang.

“Coba ceritakan sekali lagi, Tegar,” kata Raras. “Kamu menemukan uang itu di mana?”

“Di dekat tangga, Bu.”

“Kapan?”

“Kemarin sore, setelah saya bermain.”

“Apakah kamu melihat siapa yang menjatuhkannya?”

Tegar menggeleng.

“Tidak.”

“Kenapa kamu menyimpannya di dalam buku?”

Tegar menggaruk kepala.

“Saya mau kasih ke Mama, tapi saya dipanggil teman. Setelah itu lupa.”

Rafi berbisik kepada Gilang.

“Kalau lupa seperti itu, berarti otaknya sedang cuti.”

Gilang menyikutnya.

“Diam.”

Raras mendengar bisikan itu, tetapi memilih mengabaikannya.

Ia menatap Nanda.

“Kamu ingat kapan terakhir kali memegang uang itu?”

“Kemarin sore, Bu. Saya membawa buku catatan saat turun sebentar untuk membeli air minum. Setelah itu saya naik lagi.”

“Apakah kamu sempat melewati tangga?”

“Iya.”

Raras mengangguk pelan.

“Kalau begitu, mungkin uangnya terjatuh saat kamu naik.”

Nanda mengingat-ingat.

“Oh! Sekarang saya ingat! Kemarin saya sempat menjatuhkan buku di dekat tangga. Mungkin uangnya ikut terlepas.”

Tegar langsung mengangkat kepala.

“Nah, kan! Saya tidak mengambilnya!”

Bu Minah ikut berdiri.

“Sudah saya bilang! Anak saya bukan pencuri!”

Raras mengangkat tangan.

“Minah, tunggu dulu.”

“Apalagi, Raras? Sudah jelas sekarang!”

“Benar, Tegar tidak terbukti mengambil uang itu. Tapi dia tetap salah karena menyimpannya tanpa memastikan pemiliknya.”

Bu Minah membuka mulut, hendak membantah.

Namun kali ini, ia tidak menemukan alasan yang tepat.

Tegar menunduk lagi.

“Iya, Bu. Saya salah karena tidak langsung menyerahkannya.”

Nanda menerima uang itu dari tangan Raras.

“Terima kasih, Bu. Terima kasih juga, Tegar.”

Tegar menatapnya dengan wajah malu.

“Maaf, Kak.”

Nanda tersenyum.

“Tidak apa-apa. Lain kali, kalau menemukan uang, langsung serahkan saja.”

Bu Minah mengangguk cepat.

“Nah! Dengar itu, Tegar! Lain kali langsung serahkan!”

Raras menoleh kepada kakak tirinya dengan alis terangkat.

“Tadi kau yang paling keras membelanya.”

Bu Minah terdiam.

Rafi tidak tahan lagi.

“Bu Minah ini seperti wasit pertandingan. Kalau anaknya menang, wasitnya benar. Kalau anaknya salah, wasitnya harus diperiksa.”

Gilang langsung tertawa.

Sasa menutup wajahnya.

Bahkan Nanda ikut tersenyum.

Bu Minah melotot ke arah Rafi.

“Eh, kau! Janganmi banyak bicara! Kalau uang kost terlambat, baru saya periksa betul-betul!”

Rafi langsung duduk tegak.

“Siap, Bu. Saya menarik pernyataan saya.”

“Bagus!”

“Tapi analoginya tetap bagus, Bu,” gumam Gilang.

“Gilang!” tegur Bu Raras.

“Maaf, Bu.”

Ruang tengah pun pecah oleh tawa.

Bahkan Bu Minah, meskipun berusaha mempertahankan wajah galaknya, akhirnya ikut tertawa kecil.

 

Rahasia di Balik Kemarahan Bu Minah

Setelah Nanda kembali ke lantai atas, Bu Minah duduk sendirian di dekat jendela.

Tegar mendekatinya dengan langkah pelan.

“Ma…”

Bu Minah tidak langsung menjawab.

“Ma, saya benar-benar tidak bermaksud mengambil uang itu.”

Ibunya menatapnya.

“Lain kali jangan ceroboh begitu.”

“Iya, Ma.”

“Kalau menemukan uang, serahkan. Kalau menemukan dompet, serahkan. Kalau menemukan emas…”

Tegar mengangkat kepala.

“Emas juga?”

Bu Minah melotot.

“Ya iyalah! Memangnya kau mau buka toko emas?”

Tegar tertawa kecil.

Bu Minah akhirnya menghela napas.

“Duduk sini.”

Tegar duduk di sampingnya.

Beberapa saat mereka hanya mendengarkan suara kendaraan yang melintas di depan rumah.

Kemudian Bu Minah berkata pelan, “Kau tahu kenapa Mama tadi marah sekali?”

Tegar menggeleng.

“Mama takut orang menganggap kalian anak-anak yang tidak baik.”

Tegar menunduk.

“Mama tahu kalian sering membuat masalah. Mama juga tahu Mama sering membela kalian. Tapi Mama tidak mau orang langsung menilai kalian buruk tanpa mengenal kalian.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Sejak bapakmu tidak ada, Mama berusaha supaya kalian tidak merasa sendirian. Kadang Mama terlalu keras. Kadang Mama terlalu membela. Mama sendiri juga masih belajar.”

Tegar menatap ibunya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat kesedihan yang biasanya disembunyikan di balik suara keras dan kata-kata ceplas-ceplos.

“Maaf, Ma,” katanya lirih.

Bu Minah mengusap kepala anaknya.

“Iya. Tapi jangan bikin Mama cepat tua.”

Tegar tersenyum.

“Memangnya Mama belum tua?”

Bu Minah langsung mencubit lengannya.

“Kurang ajar!”

“Aduh! Mama, sakit!”

“Bagus! Berarti masih hidup!”

Dari lantai atas, suara tawa Rafi terdengar lagi.

Bu Minah menggeleng sambil tersenyum.

“Rumah ini memang isinya orang-orang aneh semua.”

 

Dua Saudara, Satu Pelajaran

Sore menjelang ketika Bu Raras menemukan Bu Minah sedang menyapu halaman kecil di bawah rumah.

Ia berdiri sebentar memperhatikan kakak tirinya.

“Tumben rajin sekali,” katanya.

Bu Minah melirik.

“Memangnya selama ini saya malas?”

Raras tersenyum.

“Tidak. Cuma biasanya kau menyuruh Doni.”

“Doni kalau disuruh menyapu, yang bersih malah sandal tetangga.”

Keduanya tertawa.

Raras mengambil sapu lain dan mulai membantu.

Beberapa saat kemudian, Bu Minah berkata, “Raras, soal tadi…”

“Kenapa?”

“Saya minta maaf.”

Raras berhenti menyapu.

Bu Minah menunduk.

“Saya terlalu cepat membela Tegar. Saya takut dia dipermalukan. Tapi saya lupa, kalau terus membela tanpa mengajarkan tanggung jawab, anak-anak tidak akan belajar.”

Raras menatapnya dengan lembut.

“Tidak apa-apa, Minah. Kau ibu mereka. Wajar kalau kau ingin melindungi mereka.”

“Tapi saya harus belajar membedakan melindungi dengan membenarkan semua kesalahan.”

Raras tersenyum.

“Nah, itu baru kakak saya.”

Bu Minah mendengus.

“Jangan senang dulu. Saya masih bisa marah kalau kau salah.”

“Silakan. Tapi jangan tuduh angin kalau saya menjatuhkan pot.”

Bu Minah tertawa keras.

“Ah, kau ini!”

Mereka melanjutkan pekerjaan sambil sesekali bercanda.

Di kejauhan, Rino, Ardi, dan Wawan duduk di bangku bawah. Ponsel masih berada di tangan mereka, tetapi kali ini mereka tidak sedang bertaruh. Mereka sedang mencari informasi lowongan kerja.

Rino mengangkat wajah.

“Bu Minah, kalau kami sudah bekerja, boleh uang kost dibayar lebih awal?”

Bu Minah menoleh curiga.

“Kenapa? Ada maunya?”

“Tidak, Bu. Kami sedang berusaha berubah.”

Wawan mengangguk serius.

“Iya. Kami ingin hidup lebih teratur.”

Ardi menambahkan, “Dan berhenti berjudi.”

Bu Minah terdiam sejenak, lalu mengangguk.

“Bagus. Tapi jangan cuma bicara. Buktikan.”

“Siap, Bu!”

Raras tersenyum melihat mereka.

Rumah panggung itu memang tidak pernah kekurangan masalah. Namun hari itu, sebuah kesalahpahaman telah mengajarkan sesuatu kepada semua penghuninya.

Bahwa niat baik saja tidak cukup.

Anak-anak membutuhkan kasih sayang sekaligus batasan. Orang dewasa perlu belajar mendengar sebelum menuduh. Dan keluarga, seberisik apa pun mereka, harus berani mengakui kesalahan.

Bu Raras memandang kakak tirinya yang sedang berdebat dengan Doni karena anak itu menyapu sampah ke arah yang salah.

“Minah, sampahnya dibuang ke tempat sampah, bukan dipindahkan ke depan kamar Rino!”

Bu Minah menoleh.

“Doni! Kau dengar itu?!”

Doni mengangguk cepat.

“Iya, Ma!”

Namun beberapa detik kemudian, ia bertanya polos, “Kalau sampahnya punya rumah sendiri, kenapa harus kita usir?”

Bu Minah terdiam.

Raras menutup wajahnya sambil tertawa.

“Ya Tuhan, Minah. Anakmu satu ini perlu kuliah filsafat!”

Bu Minah berkacak pinggang.

“Tidak usah kuliah filsafat! Belajar menyapu yang benar saja belum lulus!”

Tawa kembali memenuhi rumah panggung tua itu.

Dan untuk sesaat, dua dunia yang selama ini sering bertabrakan kembali berbagi sesuatu yang sama: tawa, rasa malu, dan harapan bahwa esok hari mereka bisa menjadi sedikit lebih baik daripada hari ini

Lates Chapters

Bab 11. Bu Raras yang hampir kehilangan kesabaran

Pagi itu, rumah panggung tua itu kembali dibangunkan oleh suara yang tidak biasa. Bukan suara ayam. Bukan suara pedagang sayur yang lewat di depan gang.…

BAB 10. Geng HP Kalah Judi Online

Malam itu seharusnya menjadi malam yang tenang. Hujan yang sejak sore mengguyur kampung akhirnya berhenti. Udara terasa sejuk. Lampu-lampu rumah tetangga mulai dipadamkan satu per…

Bab 9. Ibu Minah Pasang Badan

  Rumah panggung itu kembali ramai sejak pagi. Bukan karena hujan bocor.Bukan juga karena anak-anak berkelahi. Penyebabnya jauh lebih sederhana… dan jauh lebih memusingkan. Sandal…

Bab 8. Rumah Warisan dan Keributan yang Tak Pernah Selesai.

    Malam itu hujan turun perlahan di atas atap seng rumah panggung tua. Bunyi tik… tik… tik… biasanya terasa menenangkan bagi penghuni lantai atas.…

Bab 7. Hati yang tidak selalu keras

Pagi itu terasa berbeda. Tidak ada suara langkah kaki berlari ke lantai atas. Tidak ada ember dipukul-pukul. Tidak ada teriakan “JACKPOT!” dari kolong rumah. Bahkan…

Bab 6. Dua dunia yang bertabrakan

Bu Minah menoleh cepat. “Bu Raras, saya tidak terima anak saya diusir begitu saja.” Raras melangkah mendekat, rambut ikalnya jatuh lembut di bahu. Ia memandang…

Bab 5. Tangga yang tidak lagi ramah

  Sore itu udara terasa lebih panas dari biasanya. Lantai atas rumah panggung dipenuhi kertas tugas, buku tebal, dan wajah-wajah tegang. Gilang sedang menghitung rumus…

Bab 4. Ketika tugas dan kebisingan bertabrakan.

Sore hari adalah waktu paling rawan di lantai atas. Tugas menumpuk, jadwal kuliah padat, dan suara dari bawah justru semakin menjadi-jadi. Rafi mengusap wajahnya berkali-kali.…

Bab 3. Penghuni bawah yang tidak pernah sepi.

Jika lantai atas rumah panggung itu memiliki ritme pelan seperti jam dinding tua, maka lantai bawah adalah genderang yang dipukul tanpa aturan. Sejak pagi hingga…

Bab 2. Bu Raras dan mahasiswa perantau

Siang hari, ketika cahaya matahari menerobos celah-celah papan dinding, para mahasiswa di lantai atas biasanya tenang belajar atau tidur siang. Tapi ketenangan itu tidak pernah…

Bab 1. Rumah Panggung Tua

Rumah panggung itu berdiri di tengah kampung seperti seorang kakek tua yang tetap bertahan meski digoyang angin dan langkah kaki puluhan penghuninya. Kayunya telah memudar,…
error: Content is protected !!