Melepas Sauh di Selasar Maaf

Bab 14. Memulai Karier Baru

Arunika berhenti sejenak. Gadis itu melihat tumpukan kertas di pinggir jalan. Di tumpukan paling atas, ada sebuah album foto usang yang sampulnya sudah robek. Itu album foto masa SMA Samudra. Di sana juga ada fotonya pastinya. Foto di mana Arunika yang masih mengenakan seragam SMP tertawa lebar dengan pita di rambutnya, dan Samudra merangkul pundaknya dengan bangga.

Samudra membuangnya. Bagi pria itu, dua puluh tahun sejarah mereka hanyalah sampah yang menghalangi proses penjualan rumah.

Arunika menatap album itu cukup lama. Agen itu tampak cemas, takut telah menyinggung tetangga yang ditanya ini. “Maaf, kalau pertanyaan saya ada yang salah, Mbak.”

”Oh, tidak. Buang saja ke tempat sampah besar di ujung blok, Pak,” jawab Arunika dengan nada suara yang stabil. “Atau bakar saja semuanya. Itu sudah tidak ada harganya lagi memang.”

Arunika melangkah masuk ke rumahnya tanpa menoleh lagi ke album itu. Di dalam rumah, dirinya mendapati Mamanya sedang menyiapkan menu untuk makan malam. Bau tumis kangkung dan ikan goreng memenuhi ruangan.

”Tadi ada apa di luar, Run?”

”Hanya orang ingin membuang sampah, tetapi tidak tahu tempatnya, Ma,” jawab Arunika singkat. Ia mencium pipi mamanya. “Arunika mau mandi dulu, lalu kita makan malam bersama, ya. Aku lapar sekali.”

Mamanya menghentikan gerakan tangannya yang sedang menata piring, menatap punggung Arunika yang melangkah menuju kamar mandi. Ada nada suara yang berbeda dari putrinya malam ini, sebuah ketenangan yang tidak lagi dipicu oleh obat penenang, melainkan oleh penerimaan yang pahit, tetapi sudah lebih baik. “Sapaan tetangga tadi tidak mengganggumu, kan, Nduk?” tanya Mamanya sedikit berteriak agar terdengar hingga ke koridor kamar.

Arunika berhenti sejenak, tangannya memegang gagang pintu. Ia teringat bayangan dirinya sendiri di dalam album usang yang kini mungkin sudah berada di dasar bak sampah. Foto itu adalah artefak dari masa ketika dia percaya bahwa kasih sayang dan kesetiaan adalah sebuah garis lurus yang kekal. Namun, melihat Samudra menyuruh orang membuangnya begitu saja ke pinggir jalan seperti rongsokan, justru memutus rantai terakhir yang membelenggu batinnya. Meskipun di foto itu mereka belum pacaran, tetapi benih – benih cinta dan kasih sayang itu sudah mulai tumbuh. 

”Tidak, Ma. Justru Arunika baru sadar, selama ini Arunika menjaga barang – barang yang bagi orang lain ternyata hanya sampah,” sahut Arunika tenang. Dia membalikkan badan, menyandarkan bahu di bingkai pintu. “Samudra sudah membuang semua tentang kita ke tempat sampah, Ma. Jadi, untuk apa Arunika menyimpannya di dalam hati?”

Mamanya tersenyum tipis, matanya berkaca – kaca menahan haru. “Syukurlah kalau kamu sudah bisa melihatnya begitu. Rumah itu sebentar lagi punya penghuni baru kalau sudah laku. Kamu juga berhak punya halaman baru di buku kehidupanmu, Run.”

”Iya, Ma. Arunika tidak mau lagi menjadi museum untuk kenangan yang sudah mati,” jawabnya mantap. “Karena itu tidak ada untungnya, hanya menyakiti diri sendiri.”

Malam itu, meja makan terasa lebih hangat. Suara denting sendok dan garpu beradu dengan obrolan ringan tentang rencana mereka menanam cabai di pot belakang rumah. Tidak ada lagi bayang – bayang Samudra yang ikut duduk di kursi kosong. Bagi Arunika, Samudra kini juga telah menjadi sampah yang sudah dia lempar ke tempat pembuangannya. Arunika telah selesai dengan masa lalunya, tepat saat aroma tumis kangkung buatan Mamanya terasa jauh lebih nikmat daripada janji manis selama dua puluh tahun yang lalu.

***

Bulan kelima setelah resign, Arunika mulai mendapatkan proyek pertamanya sebagai konsultan lepas untuk sebuah startup pendidikan di ibu kota. Komunikasi dilakukan secara daring. Awalnya dia ragu, apakah otaknya yang sempat bebal karena depresi masih bisa bekerja?

Namun, ternyata kerja adalah terapi terbaik. Saat dirinya fokus memecahkan masalah klien, sel – sel otaknya seolah bangun dari tidur panjang. Arunika merasa hidup kembali. Dia bukan lagi seorang Arunika yang depresi karena dikhianati Samudra, melainkan wanita karier profesional yang handal.

Gajinya mungkin belum sebesar dulu, tetapi setiap rupiah yang masuk ke rekeningnya terasa jauh lebih bermakna. Dia menggunakan uang itu untuk membelikan Mamanya daster baru, vitamin untuk Papanya, dan membayar biaya psikiaternya sendiri.

”Ma, bulan depan Papa pulang, kan?” tanya Arunika saat mereka sedang menyiram bunga di halaman.

”Iya, Nduk. Papa sudah tidak sabar. Katanya dia mau membuat kolam ikan kecil di belakang rumah supaya suasananya lebih tenang.”

”Baguslah. Rumah ini butuh energi baru.”

Arunika melihat ke arah Rumah Samudra yang jaraknya dua rumah dari rumahnya. Di luar pagar rumah itu kini sudah ditempeli stiker “TERJUAL”. Sebuah keluarga baru akan segera menempatinya. Tidak akan ada lagi bayang – bayang Samudra di sana. Tidak akan ada lagi rasa takut akan pertemuan yang tidak disengaja. Jelas, jejak pria itu tidak akan pernah ada lagi di kompleks perumahan ini. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah dari semua pot bunga yang baru saja disiram. Arunika menarik napas dalam – dalam, merasakan oksigen merasuk hingga ke relung paru – parunya tanpa sesak yang biasanya menghimpit. Tatapannya tertuju pada stiker merah mencolok di pagar rumah Samudra. Penjualan itu bukan hanya transaksi properti, bagi Arunika, itu adalah eksorsisme atas hantu masa lalu yang selama ini menghuni benaknya.

”Kamu tahu, Nduk?” Suara Mamanya memecah keheningan sembari meletakkan selang air. “Ibu Sari bilang, keluarga yang beli rumah itu punya dua anak kecil. Pasti nanti suasananya jadi ramai. Tidak sesepi dan sekeramat dulu.”

Arunika tersenyum kecil. “Bagus, Ma. Rumah memang seharusnya penuh dengan suara tawa agar auranya selalu positif.”

”Benar. Dan Mama bangga melihatmu sudah bisa berbicara seperti ini tanpa ada gurat kesedihan di matamu,” Mama mengusap punggung tangan Arunika, tatapannya penuh binar keibuan yang menghangatkan.

Narasi hidup Arunika kini telah berganti judul. Jika beberapa bulan lalu dia merasa seperti tanaman yang layu di sudut gelap, kini dia adalah tunas yang dengan berani menembus tanah keras. Fokusnya pada proyek startup pendidikan itu memberinya tujuan baru. 

Arunika sudah tidak lagi menghitung hari berdasarkan kapan Samudra terakhir kali menghubunginya, tidak lagi mengintip kapan terakhir Samudra online. 

Ya, sebulan setelah Arunika ke rumah Samudra di Yogyakarta, dia masih tidak Terima diblokir semua akses. Sampai – sampai dia membuat akun baru dan berteman dengan Samudra. Akun dengan nama samaran tanpa foto dirinya, hanya gambar bunga. Akun tersebut hanya untuk melihat Samudra online. Anak itu sehat atau tidak. Karena kalau posting di sosial media, Samudra memang tidak pernah. Arunika juga sudah tidak lagi peduli dengan sosmed Elena. Sekarang dia hanya fokus memantau deadline modul yang harus dia selesaikan.

***

Malamnya, saat dia sedang mentransfer sejumlah uang ke rekening Mamanya untuk keperluan dapur bulan depan, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Ucapan terima kasih dari klien atas analisisnya yang tajam. Arunika menyandarkan punggung ke kursi kerjanya, menatap pantulan dirinya di layar laptop yang gelap.

”Dua puluh tahun bersama Samudra mungkin sudah hangus, tetapi kemampuanku tidak akan pernah bisa dicuri oleh siapa pun,” gumamnya lirih.

Keyakinan itu tumbuh perlahan. Arunika bukan lagi puing – puing dari sebuah pengkhianatan yang berserakan. Dia sekarang sudah menjelma menjadi fondasi baru untuk  membangun istananya sendiri. Rasa malu yang dulu menghantuinya saat bertemu tetangga kini terkikis habis, digantikan oleh martabat yang dia pungut sendiri dari lantai kehancuran. Arunika menyadari bahwa kemenangannya bukanlah saat Samudra menyesal, melainkan saat dia menyadari bahwa hidupnya tetap berharga, bahkan jauh lebih berharga, tanpa pria itu di sisinya.

Dia ingat saat para tetangga banyak yang mencemooh, “Syukurin. Salahnya sendiri pacaran lama – lama.”

“Pacaran kok 20 tahun, buat ngangsur KPR sudah lunas,” tutur tetangga lainnya lagi. 

“Iya, padahal wanita seusianya sudah pada nikah dan punya anak dualah, minimal. Eh, dia malah badannya habis seperti kerangka berjalan,” timpal lainnya. 

“Iya, sudah gitu, hampir gila, lagi.”

“Sekolah tinggi – tinggi, dengan predikat cumlaude, tetapi bodoh!”

“Iya, tahu nggak, dengar – dengar dia juga malah sudah resign lho dari pekerjaannya.”

“Oh, ya?”

“Ck ck ck, sangat disayangkan sekali.”

Dulu, desas – desus itu terasa seperti siraman air keras yang membakar kulitnya. Setiap bisikan yang mampir ke telinganya melalui perantara tembok rumah atau celah pagar saat dia lewat adalah racun yang membuat Arunika semakin ingin mengurung diri di kegelapan. Namun, malam ini, saat ingatan tentang cemoohan itu melintas, Arunika justru tersenyum hambar. Dia tidak lagi merasa perlu membela diri atau berteriak bahwa mereka tidak tahu apa – apa.

”Biarlah mereka bicara, Ma,” ucap Arunika saat Mamanya masuk ke kamar membawa segelas susu hangat, seolah bisa membaca sisa – sisa kegelisahan di wajah putrinya.

Mamanya duduk di tepi ranjang, mengusap kepala Arunika. “Orang hanya bisa melihat halaman depan sebuah rumah, Nduk, tanpa pernah tahu betapa kerasnya penghuninya berjuang menambal atap yang bocor di dalam. Mereka yang bilang kamu bodoh karena cinta, sebenarnya hanya beruntung tidak pernah diuji oleh kesetiaan yang dikhianati.”

Arunika menggenggam jemari Mamanya. “Dulu Arunika merasa sangat rendah, Ma. Malu karena dianggap perawan tua yang ditinggalkan, malu karena kehilangan pekerjaan yang mereka anggap tinggi. Tapi, sekarang? Arunika sadar, gelar cumlaude dan karier hebat itu memang tidak menjamin kebahagiaan. Akan tetapi, ilmu yang dimilikilah yang justru menyelamatkan Arunika keluar dari lubang depresi. Tanpa itu, mungkin Arunika sudah benar – benar kehilangan kewarasan.”

“Arunika, juga beruntung tidak jadi menikah sama Samudra. Alloh sudah menunjukkan dia bukan pria yang baik. Harusnya Arunika bersyukur sejak lama, bukan malah meratapinya.”

Ia teringat akun samaran dengan gambar bunga yang dia buat hanya untuk melihat status online Samudra. Dengan jemari yang mantap, Arunika membuka ponselnya. Dia tidak lagi merasa jantungnya berdebar kencang. Arunika merasa semuanya telah … selesai. Di hadapan Mamanya, dia menekan tombol hapus akun secara permanen. Dia juga menghapus nomor telepon Samudra. “Buat apa, aku simpan. Toh, dia sudah tidak mungkin menghubungiku lagi. Semua telah selesai.”

”Arunika tidak butuh lagi tahu dia sehat atau tidak. Dia sudah punya orang lain untuk mengurus kesehatannya,” ujar Arunika dengan nada suara yang jernih.

”Itu kemenangan yang sesungguhnya, Run,” sahut Mamanya lembut.

Sekarang, jika dia berpapasan dengan tetangga yang dulu mencemoohnya, Arunika sudah tidak pernah lagi menunduk. Ia akan berdiri tegak dengan martabat yang telah dia bersihkan dari debu kehinaan. Biarlah mereka melihat bahwa kerangka berjalan itu kini telah kembali memiliki nyawa. Wanita bodoh yang selalu mereka bicarakan itu, sekarang sedang membangun istana baru di atas puing – puing masa lalu yang sudah dia bakar habis. 

“Ya Allah, Ya Rabb, Engkau boleh mengambil Samudra dari hamba. Akan tetapi, tolong gantilah dengan yang baik – baik. Karier yang baik, kesehatan, dan semua yang baik untuk hamba,” lirih Arunika setelah hatinya mulai ikhlas melepaskan Samudra, bersamaan dengan dia menghapus semua tentang Samudra di ponselnya. 

Bersambung  ….

#day14

#20harimencarimaaf

#novelgoodcompetition

Lates Chapters

Pelayaran Menuju Langit Terbuka

Akhirnya Arunika sampai di penghujung perjalanan. Selasar itu kini sepi, tidak lagi terasa mencekam, justru begitu menenangkan.  Samudra sudah menjauh pergi. Suasana telah kembali senyap,…

Bab 2. Karamnya Dua Dasawarsa di Selasar Maaf

Samudra membuka pagar dengan tangan gemetar. "Pa ... saya ... saya hanya ingin bicara sebentar dengan Arunika. Saya ingin minta maaf secara langsung." Papa Arunika…

Bab 19. Gema Masa Lalu

Dewa sedikit tersentak, lalu tawa kecil yang rendah meluncur dari bibirnya. Dia membetulkan letak kacamatanya dengan canggung, menyadari bahwa pengamatannya mungkin terdengar sedikit terlalu detail…

Bab 18. Acara Syukuran

Siapa dia?” tanya Arunika lirih, suaranya hampir hilang ditelan sunyi.  Arunika membatalkan mengangkat telepon dari nomor tidak dikenalnya itu.  “Sebaiknya tidak usah aku angkat. Tidak…

Bab 17. Penyelesaian Tanpa Bertemu

Papa menarik napas panjang, menatap lekat manik mata putrinya yang masih digenangi sisa air mata. "Keadilan itu mungkin akan berjalan lambat, Nduk. Akan tetapi, pada…

Bab 16. Bucin Membawa Petaka

Dunia seolah berhenti berputar di kamar yang baru saja terasa seperti surga itu. Arunika menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong, namun jantungnya berdegup sekeras tabuhan…

Bab 15. Kepulangan Papa

Enam bulan berlalu secepat kedipan mata jika diisi dengan kegiatan yang produktif. Papanya Arunika akhirnya juga sudah waktunya pulang. Rumah yang tadinya terasa seperti penjara,…

Bab 13. Menata Hidup

Arunika menahan napas, tangannya mencengkeram kusen jendela hingga buku - buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang, sebuah reaksi sisa dari trauma yang belum sepenuhnya tuntas.…

Bab 12. Memungut Serpihan Harga Diri

Arunika menggeleng perlahan, sebuah gerakan kecil yang terasa begitu berat seolah ada beban ribuan ton yang menahan lehernya. Matanya yang cekung menatap nanar ke arah…

Bab 11. Terbongkar

Arunika membeku, jemarinya meremas pinggiran selimut lagi. Pertanyaan itu lebih tajam dari jarum infus yang menusuk kulitnya. Gadis itu belum bercerita kalau dia sudah resign.…

Bab 10. Kejanggalan

Suara itu adalah suara yang sudah sangat lama tidak Arunika dengar secara langsung. Arunika menoleh perlahan. Di ambang pintu, berdiri dua sosok yang tampak sangat…

Bab 9. Memaksa Pulang

Bu Sari membawa sebuah nampan berisi nasi kuning dan lauk-pauk. Bu Sari sedang mengadakan syukuran atas kelahiran cucu pertamanya. “Arunika?” Tidak ada jawaban. Namun, Bu…

Bab 8. Runtuhnya Dua Dasawarsa

Kalimat itu menjadi pintu masuk yang sempurna. Samudra tahu betul bahwa menyebut nama Gista adalah cara tercepat untuk melunakkan hati Arunika. Mereka pun mulai bertukar…

Bab 7. Kehilangan

Tanpa menunggu jawaban Arunika, Samudra melangkah keluar dari restoran, meninggalkan aroma parfumnya yang kini terasa menyesakkan bagi Arunika.  Samudra berjalan cepat menuju area parkir, tanpa…

Bab 6. Luka di Kota Kenangan

”Aku hanya bertanya, Sam. Kenapa kamu jadi defensif begitu?” ”Karena kamu terus-terusan mengungkit hal yang sama! Seolah-olah aku ini penjahat,” suara Samudra mulai meninggi, menarik…

Bab 5. Kecurigaan Arunika

“Iya, kadang, kalau aku bisa.” “Apa jangan-jangan datangnya, Kamu jemput juga?” tanya Arunika curiga.” “Hmmm, mulai deh.” “Jawab, Sam.” Samudra menghela nafas berat. “Tidak, Run.…

Bab 4. Senyum di Balik Pagar

”Arunika …?”  Suara Samudra terdengar parau, nyaris tidak terdengar, padahal perumahan itu sangat sepi. Meskipun weekend, kebanyakan penghuni kompleks perumahan di dalam rumah, dengan benteng…

Bab 3. Labirin Dua Dasawarsa

“Dermaga itu telah karam, dan aku belajar berenang di laut yang kau ciptakan dari air mataku sendiri.” Arunika Kinasih pertama kali mengenal pria yang Samudra…

Bab 2. Retaknya Dermaga

“What?” ”Kenapa aku ke sini, katamu?” Arunika tertawa getir, air mata mulai menggenang. “Kamu memblokir semua akses komunikasi denganku, Sam. Telepon, WhatsApp, Instagram, telegram, bahkan…

Bab 1. Awal Mula Goresan Luka

”Selama dua dasawarsa, aku adalah sebuah kapal yang pongah, merasa aman bersandar di dermaga yang sama. Aku membiarkan sauhku tertanam begitu dalam di dasar lautmu.…
error: Content is protected !!