Melepas Sauh di Selasar Maaf

Bab 9. Memaksa Pulang

Bu Sari membawa sebuah nampan berisi nasi kuning dan lauk-pauk. Bu Sari sedang mengadakan syukuran atas kelahiran cucu pertamanya.

“Arunika?”

Tidak ada jawaban. Namun, Bu Sari merasa curiga karena pintu depan tidak terkunci rapat, sedikit terbuka seolah penghuninya lupa menekan selotnya. Dengan perasaan waswas, Bu Sari mendorong pintu itu pelan.

“Astaghfirullah! Arunika!” pekik Bu Sari saat melihat sosok itu tergeletak tak berdaya. Nampan di tangannya nyaris jatuh. Bu Sari segera berlari mendekat, menepuk-nepuk pipi Arunika yang sedingin es dan sepucat kertas. “Nduk, bangun! Tolong! Tolong!”

Suara teriakan Bu Sari memecah keheningan kompleks yang siang itu sedang sepi. Di tengah ketidaksadarannya, Arunika tidak tahu bahwa ponselnya yang tergeletak di meja terus menyala, menampilkan notifikasi terbaru dari akun Elena yang baru saja mengunggah foto buket bunga besar dengan caption, “Terima kasih sudah selalu ada saat aku rapuh, Mas.”

Arunika berada di ambang batasnya, tepat ketika orang-orang di sekitarnya baru menyadari bahwa selama ini dia sedang mati perlahan.

Suasana syukuran yang seharusnya penuh sukacita di rumah Bu Sari seketika berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Teriakan Bu Sari mengundang beberapa tetangga lain yang sedang melintas. Dalam sekejap, rumah Arunika yang biasanya sunyi seperti makam, kini riuh oleh suara para tetangga yang memenuhi rumahnya.

“Cepat panggil ambulans!” seru Pak RT yang datang dengan napas tersengal.

Bu Sari, dengan tangan yang masih gemetar, merogoh saku daster untuk mengambil ponselnya. Namun, selain memanggil ambulan, dia teringat sesuatu. Sebuah inisiatif yang muncul dari rasa sayang, dia meraih ponsel Arunika yang tergeletak di meja —ponsel yang layarnya masih menyala terang, menampilkan unggahan Elena yang penuh kebahagiaan. Tanpa peduli pada konten media sosial itu, Bu Sari mencari kontak dengan nama mama dan papa. “Maaf, Run. Kalau aku lancang membuka ponselmu,” ucap Bu Sari.

Sambil menunggu petugas medis datang, Bu Sari menekan tombol panggil pada kontak nomor mamanya Arunika yang berada di luar pulau. Di sana, di sebuah kota jauh di seberang lautan, telepon itu berdering di tengah makan siang yang tenang.

“Halo, Arunika?” suara mama Arunika terdengar lembut di seberang sana.

“Halo … Bu … maaf ini saya, Bu Sari, tetangga depan rumah, di Jawa,” suara Bu Sari pecah oleh tangis. “Bu, tolong segera ke sini. Arunika … Arunika pingsan, Bu. Badannya kurus sekali, dingin. Ini ambulans baru mau datang.”

“Apa?” Suara mamanya Arunika terdengar shock. 

“Waduh seperti dekat saja suruh kesini sekarang,” ucap Pak RT. 

“Iya, juga, ya. Habisnya saya panik, Pak,” jawab Bu Sari sembari menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. 

“Halo, Bu Sari?” Mamanya Arunika kembali bersuara karena Bu Sari malah ngobrol dengan Pak RT. 

“Eh, iya, Bu. Maaf.”

“Bagaimana keadaan anak saya, Bu Sari?” tanya Mamanya Arunika tidak sabar. 

“Ibu, jangan panik dulu. Saya dan warga akan membawa Arunika ke rumah sakit,” sambung Bu Sari mencoba menenangkan suara Ibu Arunika yang mulai histeris di telepon.

“Baik, Bu. Terima kasih. Kita akan secepatnya mencari jadwal penerbangan tercepat,” jawab Mamanya Arunika sebelum telepon ditutup. 

Tanpa sepengetahuan Arunika yang kini sedang diangkat ke atas tandu oleh petugas medis, sebuah kepanikan luar biasa meledak ribuan kilometer jauhnya. Orang tuanya, yang selama ini hanya mengira putri mereka sedang sibuk bekerja, kini dihantam kenyataan pahit bahwa putri tunggal mereka hampir meregang nyawa karena patah hati yang terlampau hebat. Namun, yang mereka tahu Arunika hanya sakit. Tidak tahu kalau patah hati. “Kenapa Kamu tidak pernah cerita, Nak. Kalau Kamu punya penyakit?” gumam mamanya Arunika. 

Sirine ambulans meraung membelah kesunyian kompleks, seolah menjadi teriakan yang mewakili rasa sakit Arunika yang selama ini terbungkam. Bu Sari ikut naik di dalam ambulans, menggenggam tangan Arunika yang terasa ringkih, tulang – tulangnya menonjol seolah dagingnya telah habis dimakan oleh kesedihan.

Di rumah sakit, saat petugas medis sibuk memasang infus dan alat bantu napas, ponsel Arunika kembali bergetar di dalam tas yang dibawa Bu Sari. Sebuah pesan masuk dari nomor Samudra, nomor yang selama ini menghilang tidak pernah lagi menghubunginya meskipun Arunika sampai mengemis untuk minta dibuka.

[Run, aku dengar dari grup WA warga kamu dibawa ke RS. Jangan berlebihan, paling kamu cuma telat makan. Aku nggak bisa menjenguk, Elena lagi butuh ditemani ke kampus.] Habis itu Samudra kembali memblokir Arunika. 

Pesan itu muncul di layar terkunci, terbaca oleh Bu Sari yang tanpa sengaja melihatnya. Wanita tua itu mengelus dada, matanya berkaca-kaca menatap Arunika yang masih memejamkan mata dengan bantuan selang oksigen.

“Ya Allah, Nduk … ternyata penderitaanmu sedalam ini,” bisik Bu Sari pedih. Beliau tahu kalau Arunika menjalin hubungan dengan Samudra. Karena dulu anak itu juga tetangganya. 

Di seberang sana, suasana berubah kalut. Papa Arunika yang baru saja pulang dinas langsung terduduk lemas mendengar kabar itu. Mereka tidak bisa tiba dalam hitungan jam, jarak luar pulau bukan perkara mudah. Papanya Arunika segera menghubungi kantornya untuk mengurus cuti darurat, sementara tangannya yang bergetar mencoba mengakses situs maskapai, mencari jadwal penerbangan paling pagi.

“Kita harus berangkat besok pagi, Ma. Tidak ada jadwal penerbangan ke rumah untuk malam ini,” ucap Papanya dengan suara parau. Sepanjang malam itu, orang tua Arunika tidak tidur. Mereka mengemas pakaian dengan air mata yang terus mengalir, membayangkan putri mereka yang dulu dilepas dalam keadaan sehat fresh, kini harus terbaring di ruang IGD sendirian. 

“Apa, Samudra tidak menemani, ya, Pa?”

“Tidak tahu, Ma.”

Mereka sedang mengusahakan segala cara, menembus jarak ribuan kilometer demi putri mereka.

***

Arunika masih belum sadar. Wanita malang itu berada di ambang antara hidup dan mati, di sebuah ruang hampa di mana tidak ada lagi Samudra, tidak ada Elena, dan tidak ada pengkhianatan di antara mereka. 

Malam di bangsal rumah sakit itu terasa sangat panjang dan dingin. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Arunika saat kesadarannya perlahan kembali. Kelopak matanya terasa sangat berat, seolah ada beban berton-ton yang menahannya untuk terbuka. Ketika ia akhirnya berhasil membuka mata, hal pertama yang dia lihat adalah botol infus yang menggantung, meneteskan kehidupan ke dalam tubuhnya yang nyaris menyerah.

Arunika menatap langit-langit plafon yang putih pucat. Tubuhnya terasa asing, sangat ringan sekaligus begitu sakit. Selang infus di tangannya terasa dingin.

Di sudut ruangan, Bu Sari tampak tertidur di kursi tunggu dengan kepala tersandar ke dinding, masih setia menemani meskipun hari sudah berganti. Arunika mencoba menggerakkan jarinya. Akan tetapi, rasa lemas yang luar biasa langsung menyergap.  Ingatannya perlahan kembali pada detik-detik sebelum dirinya ambruk, bayangan Elena yang tertawa di layar ponselnya seolah masih menari-nari di kegelapan ruangan. 

Di sisi lain, ribuan kilometer jauhnya, orang tua Arunika sedang melewati malam yang tak kalah menyiksa. Mereka tidak bisa tidur. Papa Arunika duduk di ruang tamu yang lampunya dibiarkan redup, menatap koper yang sudah rapi di dekat pintu. Ia terus mengecek jam tangannya setiap lima menit sekali, menunggu fajar tiba agar mereka bisa segera menuju bandara.

Sementara mamanya Arunika hanya bisa berdzikir dengan air mata yang sesekali luruh, membayangkan apakah anaknya sedang merasa ketakutan sendirian di Jawa sana. 

“Nak, kalau Kamu rindu kami, harusnya kamu bilang. Kamu tinggal datang atau Kami yang akan datang. Kenapa Kamu memaksa Kami pulang dengan cara seperti ini?” lirih mamanya Arunika di sela do’anya malam itu. 

Jarak terasa begitu kejam malam itu. Mereka harus menunggu hingga matahari terbit untuk bisa terbang menemui putri mereka.

***

Pukul lima pagi, barulah mereka berangkat ke bandara dengan langkah terburu-buru. Setelah melewati proses check-in yang terasa sangat lama dan penerbangan yang penuh dengan kekhawatiran, mereka akhirnya mendarat di Jawa saat matahari sudah mulai tinggi.

Dari bandara, mereka langsung menuju rumah sakit menggunakan taksi. Papanya Arunika tidak melepaskan genggaman tangan istrinya sepanjang jalan, keduanya bungkam dalam doa.

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa itu tidak terdengar seperti langkah seorang perawat. Begitu sampai di depan bangsal, napas mereka memburu. Pintu digeser pelan, dan di sanalah mereka melihatnya Arunika, putri yang dulu mereka tinggalkan dengan masa depan cerah, kini terbaring lemah dengan wajah sepucat kain kafan.

“Arunika ….”

Bersambung  ….

#day9

#20harimencarimaaf

#novelgoodcompetition

Lates Chapters

Pelayaran Menuju Langit Terbuka

Akhirnya Arunika sampai di penghujung perjalanan. Selasar itu kini sepi, tidak lagi terasa mencekam, justru begitu menenangkan.  Samudra sudah menjauh pergi. Suasana telah kembali senyap,…

Bab 2. Karamnya Dua Dasawarsa di Selasar Maaf

Samudra membuka pagar dengan tangan gemetar. "Pa ... saya ... saya hanya ingin bicara sebentar dengan Arunika. Saya ingin minta maaf secara langsung." Papa Arunika…

Bab 19. Gema Masa Lalu

Dewa sedikit tersentak, lalu tawa kecil yang rendah meluncur dari bibirnya. Dia membetulkan letak kacamatanya dengan canggung, menyadari bahwa pengamatannya mungkin terdengar sedikit terlalu detail…

Bab 18. Acara Syukuran

Siapa dia?” tanya Arunika lirih, suaranya hampir hilang ditelan sunyi.  Arunika membatalkan mengangkat telepon dari nomor tidak dikenalnya itu.  “Sebaiknya tidak usah aku angkat. Tidak…

Bab 17. Penyelesaian Tanpa Bertemu

Papa menarik napas panjang, menatap lekat manik mata putrinya yang masih digenangi sisa air mata. "Keadilan itu mungkin akan berjalan lambat, Nduk. Akan tetapi, pada…

Bab 16. Bucin Membawa Petaka

Dunia seolah berhenti berputar di kamar yang baru saja terasa seperti surga itu. Arunika menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong, namun jantungnya berdegup sekeras tabuhan…

Bab 15. Kepulangan Papa

Enam bulan berlalu secepat kedipan mata jika diisi dengan kegiatan yang produktif. Papanya Arunika akhirnya juga sudah waktunya pulang. Rumah yang tadinya terasa seperti penjara,…

Bab 14. Memulai Karier Baru

Arunika berhenti sejenak. Gadis itu melihat tumpukan kertas di pinggir jalan. Di tumpukan paling atas, ada sebuah album foto usang yang sampulnya sudah robek. Itu…

Bab 13. Menata Hidup

Arunika menahan napas, tangannya mencengkeram kusen jendela hingga buku - buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang, sebuah reaksi sisa dari trauma yang belum sepenuhnya tuntas.…

Bab 12. Memungut Serpihan Harga Diri

Arunika menggeleng perlahan, sebuah gerakan kecil yang terasa begitu berat seolah ada beban ribuan ton yang menahan lehernya. Matanya yang cekung menatap nanar ke arah…

Bab 11. Terbongkar

Arunika membeku, jemarinya meremas pinggiran selimut lagi. Pertanyaan itu lebih tajam dari jarum infus yang menusuk kulitnya. Gadis itu belum bercerita kalau dia sudah resign.…

Bab 10. Kejanggalan

Suara itu adalah suara yang sudah sangat lama tidak Arunika dengar secara langsung. Arunika menoleh perlahan. Di ambang pintu, berdiri dua sosok yang tampak sangat…

Bab 8. Runtuhnya Dua Dasawarsa

Kalimat itu menjadi pintu masuk yang sempurna. Samudra tahu betul bahwa menyebut nama Gista adalah cara tercepat untuk melunakkan hati Arunika. Mereka pun mulai bertukar…

Bab 7. Kehilangan

Tanpa menunggu jawaban Arunika, Samudra melangkah keluar dari restoran, meninggalkan aroma parfumnya yang kini terasa menyesakkan bagi Arunika.  Samudra berjalan cepat menuju area parkir, tanpa…

Bab 6. Luka di Kota Kenangan

”Aku hanya bertanya, Sam. Kenapa kamu jadi defensif begitu?” ”Karena kamu terus-terusan mengungkit hal yang sama! Seolah-olah aku ini penjahat,” suara Samudra mulai meninggi, menarik…

Bab 5. Kecurigaan Arunika

“Iya, kadang, kalau aku bisa.” “Apa jangan-jangan datangnya, Kamu jemput juga?” tanya Arunika curiga.” “Hmmm, mulai deh.” “Jawab, Sam.” Samudra menghela nafas berat. “Tidak, Run.…

Bab 4. Senyum di Balik Pagar

”Arunika …?”  Suara Samudra terdengar parau, nyaris tidak terdengar, padahal perumahan itu sangat sepi. Meskipun weekend, kebanyakan penghuni kompleks perumahan di dalam rumah, dengan benteng…

Bab 3. Labirin Dua Dasawarsa

“Dermaga itu telah karam, dan aku belajar berenang di laut yang kau ciptakan dari air mataku sendiri.” Arunika Kinasih pertama kali mengenal pria yang Samudra…

Bab 2. Retaknya Dermaga

“What?” ”Kenapa aku ke sini, katamu?” Arunika tertawa getir, air mata mulai menggenang. “Kamu memblokir semua akses komunikasi denganku, Sam. Telepon, WhatsApp, Instagram, telegram, bahkan…

Bab 1. Awal Mula Goresan Luka

”Selama dua dasawarsa, aku adalah sebuah kapal yang pongah, merasa aman bersandar di dermaga yang sama. Aku membiarkan sauhku tertanam begitu dalam di dasar lautmu.…
error: Content is protected !!