Istri Kontrak Lima Milyar

Bab 5. Cewek Rekomendasi Tante Bella

“Kalina!!” pekik Anggie, melihat tangan yang terkena goresan kaca gelas. 

 

“Hati-hati, lo.” Anggie panik, mengambil tisu untuk membersihkan tangan Kalina yang terluka. 

 

“Lo urus Kalina, gue mau telepon Heru,” kata Michael yang tidak terlalu suka mendengar curhatan para wanita, jadi sebaiknya menyingkir. 

 

“Gue sudah bosan, Mike,” jawab Heru ketika menerima panggilan telepon dari Michael. 

 

“Kapan sih lo mau berhenti mempermainkan perempuan?” tanya Michael. 

 

“Loe kan dah tahu siapa gue, gue ingin sendiri dulu,” ditutupnya ponsel Michael dan Heru pun melanjutkan perjalanan pulang, memarkir mobilnya di garasi dan dilihat jam tangannya sudah hampir jam 12 malam. 

 

Malam itu, Heru tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya melanglang buana kembali teringat pertemuannya dengan gadis gila yang ternyata satu kelas dengannya. “Andai saja, itu cewek gak nangis, dia akan terlihat cantik. Gue gak nyangka kalau dia kuat, mandiri, gak seperti cewek-cewek yang gue lihat selama ini. Siapa namanya ya? Besok gue mau ke kampus lagi. Siapa tau gue liat dia lagi.”

 

***

 

“Heh lo mutusin Kalina kemarin, apa dia gak ngehubungin lo lagi?” tanya Michael keesokan harinya ketika Heru kembali ke kampus. Sesekali matanya mencari sosok perempuan yang semalaman membuatnya tidak bisa tidur.

 

“Gue sudah blokir semua yang berhubungan dengan Kalina, dan siap dengan hubungan yang baru,” ujar Heru sambil memakai kaca mata hitamnya dan tersenyum. 

 

“Dasar Casanova! Kita ke pub nanti malam?” tanya Michael. 

 

“Sorry, gue gak ikut,” jawab Heru. 

 

“Loh kenapa? Tumben bener gak ikutan?” tanya Kevin. 

 

“Lo yah! Gue ikut juga, lo sama cewek lo berdua, anggap gue cuma kambing conge. Liatin kalian berdua cipokan depan gue, jijik gue lihatnya!” ujar Heru membayangkannya. 

 

“Makanya, lo cari dong pacar! Buat lo, siapa sih yang gak mau? Semua cewek bakalan antri cuma buat nemenin lo semalam,” ujar Michael. 

 

“Sabar bro … Bukan Casanova namanya kalau Heru gak dapat pengganti Kalina,” jawab Heru bangga. 

 

“Dah lo pergi dari sini! Gue lagi pengen sendiri,” usir Heru dengan mengibaskan tangannya menyuruh Michael untuk pergi. 

 

“Ya … ya … gue pergi. Nanti malam kalau lo berubah pikiran, datang aja ya, ajak siapa kek buat nemenin lo,” ujar Michael sambil melambaikan tangannya dengan tertawa. 

 

Heru melihat Sarah berada di beberapa baris kursi dan mata Heru tidak lepas dari Sarah. “Siapa cewek itu? Harusnya gue tanya Mike sebelum gue usir.” 

 

Heru memperhatikan Sarah yang selalu tampak sendirian, menangis, dan cepat-cepat pulang kembali ke mobilnya. Dia pun entah mengapa, mengikuti Sarah dua hari ini. Namun hari ini, dia menjaga jarak. Dia gak mau moodnya gaung berubah jelek jika ada serangan dari Sarah.

 

Dibukanya pintu mobilnya, dipasang kembali kacamata hitamnya, kemudian menatap wajahnya di spion. “Sudahlah Heru! Dia itu cewek selewat doang! Sekarang, mari kita Let’s go! Kita ke Starduck sekarang,” serunya. 

 

Mobil sportnya pun melesat meninggalkan mobil kecil Sarah, menuju outlet kopi terbesar. Di parkir mobilnya di bawah pohon rindang, kemudian masuk dan memesan minuman kopi kesukaannya, sambil melirik ke segala sudut ruangan. Dilihat jamnya sudah lewat 10 menit, tapi tidak tampak orang yang sedang duduk sendiri. 

 

“Sial, masa gue yang disuruh nunggu?” batinnya ngedumel. Biasanya cewek kalau mau bertemu dengan dirinya selalu datang lebih awal. 

 

Dilihatnya sekali lagi, dan disudut ruangan ada seorang gadis yang dia kenal, Anggie, teman Kalina, “Daripada gue disuruh nunggu, lebih baik Anggie yang nemenin gue,” gumamnya, dan menghampiri Anggie untuk say hello. 

 

“Hai, Anggie!” sapa Heru. 

 

“Eh, lo, Her! Ngapain lo disini? Bisa gak kalo lo jangan deket-deket gue dulu?” tanya Anggie panik. 

 

“Emangnya kenapa? Lo lagi nungguin orang?” tanya Heru penasaran. 

 

“Em, gak kok cuma nunggu teman,” jawab Anggie yang kikuk sambil menyeruput es di depannya. 

 

“Teman? Jangan-jangan lo mau selingkuh dari si Mike ya?” ledek Heru. 

 

“Ish!! Diam lo, awas ya kalau lo bilang Mike!” ancam Anggie. 

 

“Oke! Gue gak akan bilang kalau lo mau selingkuh. Lagian, bukan urusan gue juga, tapi gue penasaran, lo mau selingkuh sama siapa?” tanya Heru. 

 

“Gue bilang, gue nunggu temen!” bentak Anggie.

 

“Oh, oke! Karena teman yang lo tunggu, gue duduk disini,” ucap Heru sambil nyengir menyeruput es kopinya.

 

Anggie pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya kembali menyeruput minuman di depannya, sedangkan Heru hanya memperhatikan Anggie dan melihat sekeliling, mencari cewek yang dia sendiri lupa tanya namanya.

 

Sepuluh menit berjalan, Anggie dan Heru sama-sama terdiam. Anggie yang merasa tidak nyaman dengan adanya Heru pun mulai mengambil ponselnya dan mengirim pesan, “Kamu sudah sampai Starduck?”

 

Ponsel Heru pun berbunyi dan muncul notifikasi. Heru melihat pesan dan membalasnya, “Aku sudah menunggu sepuluh menit, dan aku tidak suka menunggu. Kutunggu lima menit lagi, jika tidak datang, Aku pulang.”

 

Bunyi ponsel Anggie yang kembali berbunyi. Heru melihatnya, dan menyambar ponsel milik Anggie. “Hei!!!” teriak Anggie kaget.

 

“Heh! Ternyata lo rekomendasinya Tante Bella? Lo mau selingkuh ama gue?” tanya Heru marah.

 

“Eh! Gue gak tahu kalau lo temenan sama Tante Bella! Dia cuma bilang, mau dikenalin gak sama cowok tajir!” bela Anggie.

 

“Lo gak tahu apa, Bella itu ibu tirinya gue?” tanya Heru.

 

“Mana gue tahu! Lo jadian sama Kalina tiga bulan aja, lo gak pernah cerita tentang keluarga lo!” kembali Anggie membela dirinya.

 

“Iya juga, gue gak pernah bilang juga.” Heru menepuk jidatnya. 

 

“Lo ada masalah dengan Mike?” tanya Heru.

 

“Gue dah pacaran sama Mike lumayan lama, tapi dia belum berani lamar gue, padahal nyokap bokap gue pengen cepat-cepat gue nikah,” jelas Anggie.

 

“Emang rese yah jadi cewek, kudu cepat-cepat nikah,” cerca Heru sambil meminum minumannya.

 

“Soalnya gue hamil,” jawab Anggie pelan.

 

“Uhuk uhuk, apa!” Heru tersedak mendengar jawaban Anggie.

 

“Gila yah lo! Andai gue orang lain, dan orang itu mau pacaran sama lo, emang lo mau bilang, kalau lo lagi hamil?” tanya Heru marah.

 

“Bukan gitu maksud gue! Gue mau ajak kerjasama buat bikin Mike cemburu. Kalau dia cemburu, dia mau nikahin gue!” jawab Anggie.

 

“Lo cewek bikin susah aja! Apa kalian maen gak tahu apa itu namanya pengaman? Pas giliran hamil saja merasa jadi korban!” 

 

Anggie terdiam mendengar perkataan Heru. Heru benar, dia pacaran dengan Michael sudah melampaui batas, konsekuensi pun harus ditanggung. Tapi jangankan ditanggung bersama, Michael menyuruhku untuk menggugurkannya. Semalam, dia berpikir adalah waktu yang tepat di hari anniversary Kalina dan Heru. Namun, Kalina putus dan ketika diantar pulang, dia bercerita kalau dirinya hamil, Michael malah menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan.

 

Tawaran Tante Bella beberapa waktu lalu, pernah dia simpan. Ketika curhat, dia diberi nomor ponsel seorang cowok tajir. Di dalam pikirannya, bisa membuat Michael cemburu. Tapi ternyata, cowok itu adalah Heru.

 

“Lo urus masalah lo sama Michael! Pikirkan berdua! Jangan mau enaknya saja! Dah gue cabut dulu,” pamit Heru. Dia tidak mau ditambah beban dengan curhatan seorang gadis yang ingin dimengerti.

 

Baginya, cewek terlalu cengeng untuk menghadapi masalah, dan tidak menggunakan otaknya untuk berpikir.

 

“Cewek cengeng …! Sialan kenapa gue inget sama cewek gila itu?” pikirnya ketika melangkah keluar menuju mobilnya.

 

 

 

Lates Chapters

Bab 98. Akhir Sebuah Kisah

"Disini jam 10 malam Bun. Aku tidak bercanda."   "Oke! Ceritakan pada Bunda, apa yang terjadi disana." Helena mendengarkan Sarah dengan lebih serius.   Sarah…

Bab 97. Akhir Perjalanan Bella

"Maafkan aku Sarah. Maafkan aku Heru! Aku telah jahat pada kalian! Ya aku yang sudah membunuh Daddy dengan memasukkan obat hingga over dosis, aku juga…

Bab 96. Gelandangan di Paris

Setelah mendapatkan ijin dari dokter kandungan untuk pergi honeymoon ke Paris, Heru menyewa pesawat pribadi agar perjalanan mereka lebih nyaman.   "C'est votre numéro de…

Bab 95. Pernikahan Ulang

"Hahaha." Sarah tidak bisa menjawab apapun karena humor madam Gun disertai dengan ekspresinya membuat Sarah tertawa. Heru yang melihatnya hanya tersenyum dan menutup wajahnya dengan…

Bab 94. Pembatalan Pernikahan

"Pak Hakim yang terhormat, ibu Bella masih menjadi buronan sampai saat ini," ucap Hotman Ferris disertai dengan anggukan dari pihak hakim. Hotman Ferris menampilkan Sarah…

Bab 93. Sidang Pengadilan

"Ogah! Gue gak mau bekas orang. Lo aja kasih orang, apalagi gue, hahaha!" jawab Setiawan.   "Hahaha, setiap kejahatan, pasti ada hukumannya. Thanks bro, buat…

Bab 92. Tes DNA

Mobil Heru meluncur di jalanan kota Jakarta. Heru duduk di belakang Daman dan rasanya masih terasa genggaman tangan Sarah di jemarinya, "Aden teh dari tadi…

Bab 91. Kalina Yang Kesepian

"Kembali ke Jakarta," jawab Heru.   "No! Aku tidak mau ke rumahmu. Bukankah sudah ada nyonya baru?" tanya Sarah menyelidiki.   "Hm, aku akan memberikanmu…

Bab 90. Di Rumah Sakit

Heru membutuhkan waktu 30 menit untuk tiba dari bandara menuju RSU Surabaya dan dengan sedikit tergesa-gesa, Heru menuju loket informasi untuk bertanya dimana ruang inap…

Bab 89. Kedatangan Polisi

"Polisi? Baik, suruh mereka masuk ke ruangan saya," jawab Heru.     "Ada apa polisi kemari? Apa ada berita mengenai tante Bella?" pikir Heru.  …

Bab 88. Interogasi Polisi

"Iya, pak."     "Lalu apakah kalian ada permasalahan dengan Bella Salsabila Putri ini? Karena sepertinya Bella adalah tersangka dari pembunuhan yang dilakukan dengan cara…

Bab 87. Interogasi

"Dor!"     Suara tembakan itu disertai juga dengan suara kereta api yang tidak sempat berhenti mendadak menyeret mobil Bima kemudian terdengar ledakan. Mobil-mobil yang…

Bab 86. Saat Genting

***   "Josh, apakah kau single?" tanya Bella.       "Aku seorang duda dengan seorang anak yang sudah gadis remaja."       "Istrimu?"…

Bab 85. Konferensi Pers

Heru dan Kalina melangsungkan resepsi pernikahan di hotel bintang 5 dengan undangan khusus. Namun, ada beberapa wartawan yang diundang untuk meliput pesta mewah tersebut.  …

Bab 84. Berita Viral

***   "Sayang, baca ini!" Helena menyerahkan ponselnya kepada Sarah.       "Mereka ingin mencelakai kita Bun, kita dalam pengawasan" ucap Sarah dengan lirih.…

Bab 83. Sarah dan Helena diusir

Dengan lesu, Heru kembali ke ruangannya, "Apa yang harus gue katakan kepada Sarah yang sedang hamil juga?"     Diambil ponselnya, kemudian melakukan video call…

Bab 82. Hasil USG Kalina

"Kalina! Lo dengar gue kan?" tanya Michael. Ingin rasanya dia cepat-cepat pulang. Dia lebih kangen bersama dengan istrinya yang sebentar lagi hendak melahirkan. Bersama Kalina,…

Bab 81. Harga Sebuah Kesepakatan

Kalina mengangguk, sambil kembali menunjuk berkas yang masih ditutup, Kalina menjelaskan, "Disini, lokasi Sarah dan ibunya. Mereka mempunyai toko bakery di Bali, jadi, aku masukkan…

Bab 80. Gara-Gara Lima Milyar

"Hufh! Belum, untunglah!" Sarah berdiri dan melihat setiap orang yang datang untuk berangkat, dari kejauhan, Sarah melihat sosok badan yang dia kenal. Memakai jeans dengan…

Bab 79. Kode Kalina Untuk Bella

"Tamu? Siapa ya? Aku jarang menerima tamu. Apakah teman-teman arisanku? Aduh! Makeup aku kemana ya? Apa yang harus aku pakai? Aku belum sempat ke mall!"…
error: Content is protected !!