“Kalina!!” pekik Anggie, melihat tangan yang terkena goresan kaca gelas.
“Hati-hati, lo.” Anggie panik, mengambil tisu untuk membersihkan tangan Kalina yang terluka.
“Lo urus Kalina, gue mau telepon Heru,” kata Michael yang tidak terlalu suka mendengar curhatan para wanita, jadi sebaiknya menyingkir.
“Gue sudah bosan, Mike,” jawab Heru ketika menerima panggilan telepon dari Michael.
“Kapan sih lo mau berhenti mempermainkan perempuan?” tanya Michael.
“Loe kan dah tahu siapa gue, gue ingin sendiri dulu,” ditutupnya ponsel Michael dan Heru pun melanjutkan perjalanan pulang, memarkir mobilnya di garasi dan dilihat jam tangannya sudah hampir jam 12 malam.
Malam itu, Heru tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya melanglang buana kembali teringat pertemuannya dengan gadis gila yang ternyata satu kelas dengannya. “Andai saja, itu cewek gak nangis, dia akan terlihat cantik. Gue gak nyangka kalau dia kuat, mandiri, gak seperti cewek-cewek yang gue lihat selama ini. Siapa namanya ya? Besok gue mau ke kampus lagi. Siapa tau gue liat dia lagi.”
***
“Heh lo mutusin Kalina kemarin, apa dia gak ngehubungin lo lagi?” tanya Michael keesokan harinya ketika Heru kembali ke kampus. Sesekali matanya mencari sosok perempuan yang semalaman membuatnya tidak bisa tidur.
“Gue sudah blokir semua yang berhubungan dengan Kalina, dan siap dengan hubungan yang baru,” ujar Heru sambil memakai kaca mata hitamnya dan tersenyum.
“Dasar Casanova! Kita ke pub nanti malam?” tanya Michael.
“Sorry, gue gak ikut,” jawab Heru.
“Loh kenapa? Tumben bener gak ikutan?” tanya Kevin.
“Lo yah! Gue ikut juga, lo sama cewek lo berdua, anggap gue cuma kambing conge. Liatin kalian berdua cipokan depan gue, jijik gue lihatnya!” ujar Heru membayangkannya.
“Makanya, lo cari dong pacar! Buat lo, siapa sih yang gak mau? Semua cewek bakalan antri cuma buat nemenin lo semalam,” ujar Michael.
“Sabar bro … Bukan Casanova namanya kalau Heru gak dapat pengganti Kalina,” jawab Heru bangga.
“Dah lo pergi dari sini! Gue lagi pengen sendiri,” usir Heru dengan mengibaskan tangannya menyuruh Michael untuk pergi.
“Ya … ya … gue pergi. Nanti malam kalau lo berubah pikiran, datang aja ya, ajak siapa kek buat nemenin lo,” ujar Michael sambil melambaikan tangannya dengan tertawa.
Heru melihat Sarah berada di beberapa baris kursi dan mata Heru tidak lepas dari Sarah. “Siapa cewek itu? Harusnya gue tanya Mike sebelum gue usir.”
Heru memperhatikan Sarah yang selalu tampak sendirian, menangis, dan cepat-cepat pulang kembali ke mobilnya. Dia pun entah mengapa, mengikuti Sarah dua hari ini. Namun hari ini, dia menjaga jarak. Dia gak mau moodnya gaung berubah jelek jika ada serangan dari Sarah.
Dibukanya pintu mobilnya, dipasang kembali kacamata hitamnya, kemudian menatap wajahnya di spion. “Sudahlah Heru! Dia itu cewek selewat doang! Sekarang, mari kita Let’s go! Kita ke Starduck sekarang,” serunya.
Mobil sportnya pun melesat meninggalkan mobil kecil Sarah, menuju outlet kopi terbesar. Di parkir mobilnya di bawah pohon rindang, kemudian masuk dan memesan minuman kopi kesukaannya, sambil melirik ke segala sudut ruangan. Dilihat jamnya sudah lewat 10 menit, tapi tidak tampak orang yang sedang duduk sendiri.
“Sial, masa gue yang disuruh nunggu?” batinnya ngedumel. Biasanya cewek kalau mau bertemu dengan dirinya selalu datang lebih awal.
Dilihatnya sekali lagi, dan disudut ruangan ada seorang gadis yang dia kenal, Anggie, teman Kalina, “Daripada gue disuruh nunggu, lebih baik Anggie yang nemenin gue,” gumamnya, dan menghampiri Anggie untuk say hello.
“Hai, Anggie!” sapa Heru.
“Eh, lo, Her! Ngapain lo disini? Bisa gak kalo lo jangan deket-deket gue dulu?” tanya Anggie panik.
“Emangnya kenapa? Lo lagi nungguin orang?” tanya Heru penasaran.
“Em, gak kok cuma nunggu teman,” jawab Anggie yang kikuk sambil menyeruput es di depannya.
“Teman? Jangan-jangan lo mau selingkuh dari si Mike ya?” ledek Heru.
“Ish!! Diam lo, awas ya kalau lo bilang Mike!” ancam Anggie.
“Oke! Gue gak akan bilang kalau lo mau selingkuh. Lagian, bukan urusan gue juga, tapi gue penasaran, lo mau selingkuh sama siapa?” tanya Heru.
“Gue bilang, gue nunggu temen!” bentak Anggie.
“Oh, oke! Karena teman yang lo tunggu, gue duduk disini,” ucap Heru sambil nyengir menyeruput es kopinya.
Anggie pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya kembali menyeruput minuman di depannya, sedangkan Heru hanya memperhatikan Anggie dan melihat sekeliling, mencari cewek yang dia sendiri lupa tanya namanya.
Sepuluh menit berjalan, Anggie dan Heru sama-sama terdiam. Anggie yang merasa tidak nyaman dengan adanya Heru pun mulai mengambil ponselnya dan mengirim pesan, “Kamu sudah sampai Starduck?”
Ponsel Heru pun berbunyi dan muncul notifikasi. Heru melihat pesan dan membalasnya, “Aku sudah menunggu sepuluh menit, dan aku tidak suka menunggu. Kutunggu lima menit lagi, jika tidak datang, Aku pulang.”
Bunyi ponsel Anggie yang kembali berbunyi. Heru melihatnya, dan menyambar ponsel milik Anggie. “Hei!!!” teriak Anggie kaget.
“Heh! Ternyata lo rekomendasinya Tante Bella? Lo mau selingkuh ama gue?” tanya Heru marah.
“Eh! Gue gak tahu kalau lo temenan sama Tante Bella! Dia cuma bilang, mau dikenalin gak sama cowok tajir!” bela Anggie.
“Lo gak tahu apa, Bella itu ibu tirinya gue?” tanya Heru.
“Mana gue tahu! Lo jadian sama Kalina tiga bulan aja, lo gak pernah cerita tentang keluarga lo!” kembali Anggie membela dirinya.
“Iya juga, gue gak pernah bilang juga.” Heru menepuk jidatnya.
“Lo ada masalah dengan Mike?” tanya Heru.
“Gue dah pacaran sama Mike lumayan lama, tapi dia belum berani lamar gue, padahal nyokap bokap gue pengen cepat-cepat gue nikah,” jelas Anggie.
“Emang rese yah jadi cewek, kudu cepat-cepat nikah,” cerca Heru sambil meminum minumannya.
“Soalnya gue hamil,” jawab Anggie pelan.
“Uhuk uhuk, apa!” Heru tersedak mendengar jawaban Anggie.
“Gila yah lo! Andai gue orang lain, dan orang itu mau pacaran sama lo, emang lo mau bilang, kalau lo lagi hamil?” tanya Heru marah.
“Bukan gitu maksud gue! Gue mau ajak kerjasama buat bikin Mike cemburu. Kalau dia cemburu, dia mau nikahin gue!” jawab Anggie.
“Lo cewek bikin susah aja! Apa kalian maen gak tahu apa itu namanya pengaman? Pas giliran hamil saja merasa jadi korban!”
Anggie terdiam mendengar perkataan Heru. Heru benar, dia pacaran dengan Michael sudah melampaui batas, konsekuensi pun harus ditanggung. Tapi jangankan ditanggung bersama, Michael menyuruhku untuk menggugurkannya. Semalam, dia berpikir adalah waktu yang tepat di hari anniversary Kalina dan Heru. Namun, Kalina putus dan ketika diantar pulang, dia bercerita kalau dirinya hamil, Michael malah menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan.
Tawaran Tante Bella beberapa waktu lalu, pernah dia simpan. Ketika curhat, dia diberi nomor ponsel seorang cowok tajir. Di dalam pikirannya, bisa membuat Michael cemburu. Tapi ternyata, cowok itu adalah Heru.
“Lo urus masalah lo sama Michael! Pikirkan berdua! Jangan mau enaknya saja! Dah gue cabut dulu,” pamit Heru. Dia tidak mau ditambah beban dengan curhatan seorang gadis yang ingin dimengerti.
Baginya, cewek terlalu cengeng untuk menghadapi masalah, dan tidak menggunakan otaknya untuk berpikir.
“Cewek cengeng …! Sialan kenapa gue inget sama cewek gila itu?” pikirnya ketika melangkah keluar menuju mobilnya.