Perjalanan Si Gadis Penyihir Angin

Bab 60 : Pohon yang Tak Terbakar Api

Tubuh Frenska berguling-guling di hamparan tanah setelah dibawa paksa oleh sesosok manusia yang tiba-tiba menyerangnya. Beruntung hal tersebut tak terlalu berarti bagi gadis penyihir tumbuhan itu. Tetapi sekarang, dirinya tampak kebingungan dengan apa yang terjadi padanya.

“Uhh, Apa yang terjadi? Di mana ini?”

Ia melihat sekitar. Yang terlihat hanyalah pemandangan berupa hamparan tanah yang luas dan langit berwarna putih sejauh mata memandang. Tak lama kemudian ia pun baru menyadari sesuatu.

“Apa? Tempat ini? Jangan-jangan-”

Belum selesai ia berucap, terdengar suara gadis lainnya yang tertawa jahat.

“Hahaha. Selamat datang di Ruang Schrödinger ciptaanku, gadis penyihir tumbuhan dari Karelia.”

Frenska yang mendengarnya langsung menoleh ke berbagai arah untuk menemukan sumber suara tersebut, tetapi ia masih belum menemukannya.

“Siapa kau?” tanya Frenska dengan lantang.

“Hahaha. Akulah yang membawamu datang kemari, dan akulah yang akan memberikanmu banyak penderitaan. Jadi nikmatilah.”

WUSHH

BRUKK

Sebuah serangan misterius tiba-tiba menghantamnya. Bukan hanya sekali, tetapi serangan itu muncul bertubi-tubi. Gadis Flintberg itu pun tampak kewalahan.

“Cih, apa-apaan ini?” gumamnya.

BRUKK BRUKK

Serangan fisik dari berbagai arah terus menghantamnya bertubi-tubi. Ia pun terpaksa merapalkan mantra pelindung.

“Bio Vaia!!”

TRINGG

Frenska menciptakan sebuah pohon untuk melindungi dirinya. Barulah setelah ia melakukannya, serangan bertubi-tubi itu pun hilang. Tetapi kini ia bisa melihat sosok yang menyerangnya.

Ia merupakan anggota Brigade Penyihir, terlihat jelas dari lambang segitiga biru muda yang ia kenakan di lengan kanannya. Ia mengenakan sebuah jubah gelap dan memegang tombak merah sebagai senjatanya. Dilihat dari auranya, ia merupakan seorang gadis penyihir api, sama seperti Alberta.

“Hei, apa yang kau inginkan dariku?” tanya Frenska.

Gadis misterius itu tak menjawabnya dan hanya tertawa menyeringai seperti seorang psikopat.

“Hihihi …”

Hal itu pun membuat Frenska jengkel padanya.

“Heh, pemberontak, berhenti tertawa atau aku akan memotong lidahmu itu.”

Frenska mengarahkan Green Elder padanya dan bersiap menyerangnya dengan peluru-peluru daun.

Melihat hal tersebut, sang gadis misterius itu akhirnya berhenti tertawa. Tetapi ia berujar dengan ekspresi yang aneh.

“Hah, memotong lidahku?”

Ia hanya bergeming di sana. Tak lama berselang, gadis itu tiba-tiba berteriak sambil tertawa menyeringai.

“HAHAHA!! COBA SAJA KALAU BISA!!”

Dirinya tiba-tiba diselimuti api yang tinggi menjulang. Hal itu sontak membuat Frenska terkejut.

Gadis misterius itu memegang tombak merahnya dengan erat, lalu bersiap untuk melemparkannya ke arah Frenska dengan bantuan sihir apinya yang mengerikan itu.

“HIYAAAA!!”

WUSHH

Ia melemparkannya dengan sangat keras dan kencang. Frenska berusaha menahannya dengan sihir tumbuhannya.

“Cih, kuat sekali …”

Namun sayangnya kekuatan tombak itu jauh lebih kuat.

BRUKK

“Aghh …”

Frenska pun terhempas akibat ledakan dari serangan itu. Dirinya sempat berguling-guling beberapa kali sebelum akhirnya mampu berdiri kembali.

Gadis misterius itu kembali berujar dengan angkuh dan lantang setelah melihat peristiwa tersebut.

“HAHAHA!! BAGAIMANA RASANYA, GADIS PENYIHIR TUMBUHAN? KAU PIKIR DIRIMU BISA MEMOTONG LIDAHKU? AKULAH YANG AKAN MELAKUKAN ITU PADAMU!!” teriaknya sambil memanggil tombaknya kembali.

Frenska berusaha berdiri kembali dibalik debu akibat serangan itu, Terlihat dirinya mengusap keringat di pipinya. Tampak pula beberapa luka gores di kulitnya yang ia sembuhkan otomatis dengan sihir tumbuhannya.

“Menyembuhkan luka dengan sihir tumbuhan? Boleh juga. Tapi apakah kau bisa melakukannya kalau aku menyiksamu lebih lama lagi di sini?” ujar gadis misterius itu seraya menciptakan peluru-peluru api di belakangnya.

Frenska yang melihatnya juga bersiap dengan peluru-peluru daun yang ia ciptakan.

“Coba saja kalau bisa, pemberontak!!”

WUSHH WUSHH

Keduanya saling beradu serangan sihir. Peluru-peluru api yang diciptakan oleh gadis misterius itu berusaha ditangkis oleh peluru-peluru daun milik Frenska. Tetapi sayangnya, kekuatan gadis penyihir api itu masih jauh lebih kuat. Frenska pun makin kewalahan menahannya.

“Cih, berat sekali …”

Meskipun begitu, pertarungan adu peluru itu membuat Frenska menyadari sesuatu. Serangan dahsyat gadis penyihir api itu membuatnya bisa merasakan apa yang dirasakan sang musuh. Peluru-peluru api yang menghantam daun membuatnya mampu untuk merasakan amarah dari sang musuh.

“Ini, aku bisa merasakan amarah membara dari serangannya. Setiap peluru yang ia lepaskan menggambarkan kemurkaannya. Tapi, kenapa? Apa yang membuatnya menjadi sangat emosional seperti ini?” tanya Frenska dalam hati.

Hampir satu menit berlalu. Frenska makin terdesak dengan serangan itu.

“Ughh …, aku harus segera menghentikannya.”

Serangan peluru-peluru api itu hampir menembusnya. Namun untungnya Frenska berhasil mengatasinya.

“HIYAAAA!!”

TOKK

Frenska menghentakkan tongkatnya ke tanah dan menciptakan akar rambat yang langsung mengikat gadis misterius itu hingga tak mampu bergerak. Serangan peluru api yang ia lancarkan pun berhenti.

Dengan napas yang masih ngos-ngosan, Frenska berjalan perlahan ke arah sang musuh yang tak bergerak itu. Dirinya lalu menyentuh salah satu batang pohon ciptaannya untuk mengetahui apa tujuan dari gadis tersebut.

Butuh beberapa saat baginya untuk mengetahui apa yang dirasakan oleh sang gadis penyihir musuh. Namun saat ia melakukannya, Frenska terkejut bukan kepalang.

“Apa? Jadi seperti itu?” gumamnya.

Kemampuan sihir tumbuhannya berhasil menembus memori masa lalu sang musuh. Apa yang terjadi dengan gadis penyihir api itu rupanya membuat Frenska terperangah.

“Kau membenci tumbuhan, dan membenci gadis penyihir tumbuhan yang bahkan satu anggota brigade denganmu hanya karena musibah yang menimpa mendiang ayahmu? Apa kau sudah tidak waras, Felicia Schubert?”

Kemampuan Frenska berhasil membuatnya tahu identitas asli dari sang musuh yang merupakan gadis penyihir terkuat ketiga di Brigade Penyihir itu. Ia juga mengetahui alasan dari kemurkaan gadis penyihir api tersebut.

Ayah Felicia Schubert sudah meninggal akibat kecelakaan kerja saat dirinya menebang sebuah pohon raksasa di Pegunungan Vitania Utara, dan gadis itu menyaksikan peristiwa mengerikan itu secara langsung. Hal itulah yang menjadikannya sangat paranoid terhadap pohon.

Dan bukan hanya itu. Saking bencinya terhadap pohon, ia juga diketahui menjebak sejumlah gadis penyihir tumbuhan sesama anggota brigade dan menghabisi mereka secara licik sebagai pengkhianat.

“Oh, jadi kau sudah mengetahuinya ya?” ujar Felicia sambil tertunduk. Suaranya tampak cukup dalam.

“Kenapa kau bisa punya pemikiran yang aneh seperti itu? Menyalahkan benda mati atas kematian ayahmu, dan membenci mereka karena hal itu?” Frenska bertanya-tanya tentang apa yang Felicia pikirkan. Namun pertanyaan itu membuat gadis penyihir api tersebut makin kesal dengannya.

“Pemikiran aneh? Jadi kau pikir aku ini orang yang sakit jiwa?”

Akar yang mengikat tubuh Felicia mulai mengeluarkan asap dan perlahan meleleh.

“Bisa-bisanya kau berkata seperti itu, padahal kau sendiri tidak pernah merasakan kepedihanku melihat peristiwa itu,” ujar Felicia.

Beberapa bagian akar mulai mengelupas. Frenska berusaha menahan agar sihir ciptaannya itu masih bisa mengekangnya, tetapi hawa panas yang diciptakan Felicia jauh lebih kuat.

“Kalau saja dia tidak ikut menebang pohon itu, mungkin aku masih bisa bersamanya. Pekerjaan itu, aku …”

Ekspresi wajahnya mulai tak karuan. Tak lama kemudian Felicia berhasil menghancurkan akar yang mengekang tubuhnya dengan ledakan dari sihir apinya.

“AKU TAKKAN PERNAH MELUPAKAN PERISTIWA ITU!! AKAN KUBAKAR SEMUA POHON-POHON YANG ADA DI SELURUH PLANET KAMINA INI, DAN KUHABISI SIAPA PUN YANG MENGHALANGI JALANKU!!”

Amarah membara gadis penyihir api itu menghasilkan hawa panas yang sangat kuat hingga membuat Frenska sedikit terhempas.

“FELICIA!! APA KAU SUDAH GILA? KALAU KAU MEMBAKAR SEMUA POHON YANG ADA DI PLANET INI MAKA SEMUA HAMU KAMINA, TIDAK, BAHKAN SELURUH MAKHLUK HIDUP YANG ADA DI PLANET KAMINA INI AKAN MUSNAH!!”

Frenska berteriak padanya, tetapi Felicia tak mau mengindahkannya. Hatinya sudah dipenuhi kebencian terhadap salah satu jenis makhluk hidup yang ada di planet itu.

“AKU TIDAK PEDULI!! AKU AKAN TETAP MELAKUKANNYA MESKIPUN SEMUA PLANET INI AKAN HANCUR SEKALIPUN!! KALAU DIA TAK MEMBIARKAN AYAHKU HIDUP MAKA DIA JUGA TIDAK LAYAK HIDUP!!” teriaknya dengan ekspresi aneh.

“Cih, wanita ini sudah kehilangan akal sehatnya,” ucap Frenska dalam hati.

Felicia mengarahkan tombaknya pada Frenska sambil tersenyum menyeringai.

“Baiklah, gadis penyihir tumbuhan. Mari kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan melindungi pohon-pohon sialan itu, haha …”

“Huh, apa boleh buat. Tak ada cara lain selain menghentikanmu di sini,” kata Frenska sambil mengarahkan tongkatnya ke arah gadis itu.

WUSHH

Pertarungan pun kembali berlanjut. Felicia dengan bantuan sihir apinya melesat dengan cepat untuk menusuk Frenska dengan tombaknya. Dengan cukup mudah Frenska menghindari serangan itu. Tetapi sejumlah percikan api kecil dari serangan itu rupanya masih bisa melukai gadis Flintberg tersebut.

“Ughh …”

Dengan cepat Felicia langsung berbalik dan kembali menyerangnya.

“Nah, bagaimana, gadis penyihir tumbuhan? Apa kau masih sanggup untuk melindungi pohon-pohon itu dari amarahku? Haha …” ujarnya dengan lantang sambil tertawa.

“Yang benar saja. Ini baru permulaan,” jawab Frenska sambil menghindari serangan.

Felicia menyerang dari berbagai arah dengan tombaknya. Sementara itu Frenska lebih banyak menghindar sambil sesekali menangkis serangannya itu.

TAKK TAKK TAKK

Tombak api dan Green Elder saling beradu dengan kecepatan tinggi. Frenska masih bisa mengimbangi serangan gadis itu dengan Dancing Art miliknya. Namun sayangnya, staminanya makin terkuras karena harus mengimbangi kecepatan dari sang musuh.

 “Cih … sial. Kalau begini terus aku bisa kalah,” pikirnya.

TAKK TAKK TAKK

“Hahaha …”

Berbeda dengan Frenska, Felicia malah makin kegirangan dengan serangan-serangan yang ia lakukan. Raut wajahnya tak mengenal lelah, malah staminanya yang seakan makin bertambah.

“Amarahanya itu jadi kekuatan baginya …”

SRATT

Sebuah serangan berhasil melukai pipi kanan Frenska.

“Kalau begitu, tidak ada cara lain. Aku akan menggunakan teknik itu, walaupun mungkin akan menguras energiku lebih banyak lagi,” ucap Frenska dalam hati.

Felicia melompat mundur sebelum melesat kembali dengan bantuan sihir apinya. Senyuman menyeringai nan jahat terlihat dari raut wajahnya.

“Terimalah ini, gadis penyihir tumbuhan!!”

Dirinya tampak percaya diri dengan serangan yang ia lancarkan untuk menargetkan dada Frenska. Tetapi gadis Flintberg itu ternyata memiliki rencana lain.

TOKK

Frenska menghentakkan tongkatnya lalu merapalkan mantra.

“Bio Golem!!”

KRAK KRAK KRAKK

“Apa?“

Felicia seketika melompat mundur begitu menyadari tanah yang ia pijak tiba-tiba bergerak. Tak lama kemudian muncul akar dan daun dari bawah tanah yang saling menyatu dan membentuk sosok raksasa berotot setinggi hampir 10 meter. Gadis itu pun dibuat terkejut dengan kemunculan monster itu.

“Raksasa pohon? Menarik,” ucap Felicia.

“Ughh …”

Frenska sempat kehilangan keseimbangan setelah merapalkan mantra sihir yang cukup menguras tenaga itu. Akan tetapi dirinya tetap berusaha untuk berdiri dan mengalahkan gadis itu.

“LINDUNGI SEMUA POHON DAN KALAHKAN DIA, GOLEM TUMBUHAN!!”

GROOAAAHHHH

Monster itu meraung dengan sangat keras lalu berjalan dengan gagahnya ke arah gadis penyihir api itu.

Felicia yang melihat hal itu kembali tersenyum menyeringai.

“Haha … Kau pikir dengan menciptakan monster gendut ini bisa dengan mudah mengalahkanku?” katanya sambil mengarahkan tombaknya pada makhluk besar itu.

WUSHH

Tanpa diduga, golem tumbuhan itu melompat tinggi dan menyerang Felicia dengan tangan kanannya yang berbentuk belati raksasa. Hantaman keras dari serangan itu berhasil membuat tanah yang ia pijak hancur. Tetapi gadis penyihir api itu ternyata masih bisa menghindar.

GROOOAHHHH

Raksasa tumbuhan itu berusaha menyerang Felicia dengan berbagai cara. Pukulan, tendangan, hantaman, serta tembakan daun ia luncurkan. Akan tetapi hal itu masih belum bisa menumbangkan gadis penyihir api tersebut.

Sebaliknya, sihir pemanggil golem itu malah makin menguras energi Frenska.

“Aku harus menghentikannya demi menyelamatkan semua orang,” kata Frenska dalam hati.

Golem itu berusaha menyerang kembali, tetapi Felicia berhasil melompat dan menghindari serangannya sambil tertawa. Ia lalu berjongkok di kepala raksasa itu.

“Ahh, kau sudah mulai kehabisan tenaga ya, Frenska Albertovia,” ujarnya sebelum melompat untuk menghindari pukulan raksasa itu. Dirinya berhasil mengetahui identitas lawannya setelah menyentuh sang golem beberapa kali.

Frenska tak menjawabnya dan hanya fokus memegang tongkat hijaunya. Energinya benar-benar terkuras karena teknik sihir itu.

“Haha …”

Sementara itu Felicia melompat-lompat sambil menghindari serangan sang raksasa. Dirinya tampak kegirangan tanpa sedikit pun rasa lelah dari ekspresinya.

“Aku, aku harus selamatkan semuanya …”

BRUKK

Golem itu memukul tangannya ke tanah, dan lagi-lagi gadis penyihir api itu bisa menghindarinya dengan mudah.

“Kalau dia menang, maka dunia ini bisa tamat …” kata Frenska dalam hati.

BRUKK

“Aku, aku harus selamatkan semuanya. Sekolah, Linne, Flo, Alisa …”

GROOOAHHH

BRUKK

Dengan pukulan ke tanah, monster itu menciptakan akar raksasa yang langsung melesat untuk mengunci Felicia. Tetapi sayangnya gadis itu masih belum bisa dijatuhkan.

“Hihi …”

SRINGG SRINGG SRINGG

Sambil melayang-layang di udara, Felicia menghancurkan akar raksasa itu dengan tombak apinya. Hanya menggunakan sedikit sihir tanpa mantra sudah bisa menghancurkan teknik itu, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dengan Frenska.

“Uhuk …”

Frenska terbatuk dan mulai kehilangan keseimbangan. Energinya sudah hampir mencapai batasnya. Tempo serangan sang golem raksasa pun mulai melambat.

“Ah, rupanya kau sudah mencapai batasnya ya? Baiklah kalau begitu sekarang giliranku,” ujar Felicia.

Peringkat tiga Brigade Penyihir itu melompat salto ke udara, lalu memegang tombaknya dengan sangat erat dan bersiap untuk melakukan serangan balik.

“TERIMALAH INI, GADIS PENYIHIR TUMBUHAN!! TROI HYARTA SFYRD!!”

WUSHH

Felicia melempar tombaknya dan memecahnya menjadi tiga. Tombak bercahaya merah itu melesat dengan sangat cepat ke arah Frenska dan golem tumbuhannya. Sang golem berusaha menahan serangan itu, namun sia-sia saja. Dua buah tombak berhasil menembus perut dan kepalanya, membuat monster itu meledak dan hancur berkeping-keping.

“Apa?”

Frenska sangat terkejut dengan teknik sihir itu. Hanya dengan dua tombak bisa menghancurkan golem tumbuhan yang ia ciptakan. Namun ternyata itu belum cukup.

WUSHH

Satu tombak merah melesat tepat ke arahnya. Dengan kecepatannya, ia tak memberikan kesempatan bagi Frenska untuk menghindar, terlebih dengan kondisinya yang sudah kehabisan energi.

“Tidak …”

DUARR

Ledakan besar tercipta dari serangan itu, menghasilkan debu yang bertebaran di mana-mana. Felicia memanggil tombaknya kembali ke genggamannya sambil tersenyum menyeringai.

“Hihi …”

Tak ada sesuatu yang muncul dari balik gumpalan debu itu. Perlahan debu pun menghilang dan pemandangan mengerikan terlihat dibaliknya.

“Uhukkk …”

Gadis penyihir tumbuhan itu muntah darah. Seluruh tubuhnya gemetaran hingga hampir terjatuh, menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Dengan tatapan yang buram, ia melihat ke arah perutnya yang sudah berlubang akibat serangan itu.

“Huh, aku …”

Akibat serangan mematikan itu, kini dirinya tampak sekarat. Sangat kecil kemungkinan dia bisa selamat akibat teknik sihir itu.

Melihat lawannya yang sudah sekarat membuat Felicia tersenyum gembira. Ia seakan puas dengan serangan yang ia lancarkan.

“Hahaha…, bagaimana rasanya, Frenska si gadis penyihir tumbuhan? Kau benar-benar kesakitan bukan?”

“Huh … Huh …”

Frenska tak mampu menjawabnya dan hanya memegang tongkatnya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Terlihat bercak darah di tangan dan tongkat hijaunya.

“Yah, tapi karena kau berada di Ruang Schrödinger, kau tidak akan pernah bisa mati di sini. Jadi kau akan sekarat di sini selamanya, hihi …”

Felicia berbalik arah sambil menyeret tombak merahnya. Tampak dirinya tersenyum menyeringai.

“Setelah ini aku akan keluar dan menutup portal dimensi ini selamanya, lalu aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan pada dunia ini, dan kau takkan bisa menghentikanku. Jadi nikmatilah rasa nyawamu yang tertahan saat akan keluar dari tubuhmu, gadis penyihir tumbuhan.”

Mendengar ucapan itu, Frenska pun berusaha untuk bangkit meskipun nyawanya kini sudah di ujung tanduk.

“Tidak …”

Langkah kaki Felicia terhenti mendengar suara gadis penyihir tumbuhan itu.

“Tidak akan a-ku biarkan …”

Felicia kembali menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang merendahkan.

“Aku ha-rus melindungi, uhuk … teman-temanku, dan juga dunia ini …”

Frenska ntmpak terbatuk-batuk mengatakannya.

“Semuanya ha-rus aku lin-dungi, sekolah, Lin-ne, Flo, Ali-sa, uhukk … Aku … aku …”

Dengan semangat membara untuk melindungi semua yang dicintainya, gadis Flintberg itu mengangkat kepalanya.

“AKU AKAN MENGHENTIKANMU DI SINI, FELICIA!!”

Frenska berteriak dengan lantang.

“AYO, RED ELDER!!”

TRINGG

Darah yang menempel di tombak itu seketika membuatnya berubah warna menjadi merah. Hal itu pun membuat Felicia sedikit terperangah.

“Hah, jadi kau masih belum menyerah juga, Frenska Albertovia? Kau ingin merasakan rasa sakit yang jauh lebih mengerikan daripada ini hah?”

Felicia merendahkan gadis itu, akan tetapi ternyata dia terlalu angkuh terhadap apa yang ia hadapi.

“Wahai kehidupan yang hijau nan asri …”

TRINGG

Sebuah lingkaran sihir berwarna hijau muncul tepat di belakang gadis Flintberg itu. Selain itu juga muncul siluet sebuah pohon besar yang ada di belakangnya.

Melihat sang gadis penyihir tumbuhan merapalkan sebuah mantra Spell, Felicia pun berteriak dan berusaha menyerangnya kembali.

“KAU PIKIR BISA MENGALAHKANKU, HAH? RASAKAN INI!! TROI HYARTA SFYRD!!”

Felicia kembali menyerang Frenska dengan tombak merahnya. Namun ternyata hal di luar dugaannya tiba-tiba terjadi.

“aku memerintahkanmu untuk mengubah deret kehidupan lawanmu, dan menjadikannya satu dengan semesta …”

WUSHH

Hembusan angin yang kuat menghempaskan ketiga tombak itu. Felicia pun memanggil kembali tombaknya ke genggamannya. Namun ia kembali terkejut dengan apa yang terjadi pada senjatanya itu.

“Apa? Apa maksudnya ini?”

Tombak merah itu tiba-tiba mengeluarkan akar dan daun. Sontak hal itu membuat Felicia terperangah dan murka karenanya.

“KAU, KEPARAT KAU!!!”

Felicia berlari ke arah Frenska dengan tombaknya, namun gadis Flintberg itu akan segera menyelesaikan mantranya.

“dengan nama Sulinea Fatir, sang pencipta teknik suci ini, aku, Frenska Albertovia, melepaskanmu!!”

“MATILAH KAU, PENYIHIR TUMBUHAN!!”

Felicia makin dekat dengan gadis itu, akan tetapi mantra Spell sudah selesai.

“BIOMESA ALPALMA!!”

WUSHH

Sebuah hembusan angin yang kencang berhasil menghempaskan Felicia hingga dirinya berguling-guling di tanah. Meskipun begitu, dia berhasil menyeimbangkan diri dengan tombaknya.

Tak lama kemudian lingkaran sihir dan siluet pohon menghilang. Angin kencang pun berhenti berhembus. Suasana di Ruang Schrödinger itu hening seketika.

Terlihat Frenska yang tertunduk sambil memegang tongkat merahnya. Melihat hal itu, Felicia kembali berjalan menghampirinya sambil tersenyum jahat. Ia berpikir bahwa Spell yang Frenska rapalkan tidak berarti apa-apa baginya.

“Hah? Jadi hanya seperti ini Spell yang kau rapalkan itu, Frenska si gadis penyihir tumbuhan?”

Gadis Flintberg itu hanya diam di sana. Dengan senyuman jahatnya, Felicia menghampiri gadis itu.

“Sudah kubilang kau tidak akan-, eh … tunggu …”

Felicia terlalu kegirangan sampai ia menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya. Dirinya tiba-tiba tak bisa bergerak sama sekali. Kulit halusnya itu mengeras dan keluar sesuatu berwarna hijau dari rambutnya.

“Hei, apa yang kau lakukan padaku?” tanya Felicia panik.

Frenska yang menyaksikan hal itu tersenyum tipis.

“Uhukk … Aku mengubah deret kodifikasi sel tubuhmu menjadi sel tumbuhan. Singkatnya, lewat Spell itu aku mengutukmu menjadi pohon,” ungkapnya.

“Si-al …”

Tubuh Felicia kini sudah hampir tak karuan lagi. Tangannya sudah berubah menjadi batang dan rambutnya kini sudah berganti menjadi daun. Hanya sisa kepalanya saja yang masih berwujud manusia.

“Sebenarnya Spell ini hanya mengubah wujudmu menjadi pohon selama beberapa jam saja. Uhukk … Tapi karena ini adalah Ruang Schrödinger, kau tidak akan bisa kembali berubah wujud menjadi manusia lagi, setidaknya sampai Supernova dari Formalha menelan seluruh Kamina dan melenyapkan semua partikel gaib di planet ini,” lanjutnya.

“Ti-dak …” ucap Felicia terbata-bata.

Anggota Brigade Penyihir terkuat ketiga itu tampak menangis ketakutan, tetapi Frenska tak mempedulikannya. Sambil terpapah-papah dan memegangi perutnya yang sudah berlubang, gadis Flintberg itu berjalan keluar portal, meninggalkan Felicia yang kini sudah menjadi sebuah pohon sempurna di sana.

“Sampai jumpa 5 miliar tahun lagi, Felicia Schubert.”

***

Lates Chapters

Bab 77 : Bersamamu, Selamanya

Awan gelap mulai menutupi sinar Formalha, pertanda hujan akan turun di ibukota Sentralberg. Angin pun berhembus walau tak kencang. Sementara itu di pusat kota, suara…

Bab 76 : Penghakiman

WUSHH Pusaran angin yang sangat kencang itu tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Lingkaran sihir yang sebelumnya berputar di udara juga lenyap tak bersisa. Kini yang terlihat…

Bab 75 : Senyap

Angin berhembus semakin kencang. Suara adu senjata hingga ledakan sihir masih terdengar di seantero ibukota Sentralberg. Namun tidak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh…

Bab 74 : Sang Raja yang Serakah

“Uhuk... uhuk...” Debu yang berterbangan dari reruntuhan itu membuat keduanya terbatuk-batuk. Kedua gadis itu terjatuh dari lantai atas akibat sebuah ledakan hingga terhempas ke lantai…

Bab 73 : Ruangan Sebelah

Hawa dingin menembus kulit mereka berdua. Perlahan keduanya pun membuka mata. “Dimana ini?” Dua gadis itu mendapati diri mereka terbaring di atas lantai dalam sebuah…

Bab 72 : Sang Korporat

Topi homburg yang dikenakannya ia berikan pada seorang gadis berambut pendek dengan pakaian serupa di sampingnya. Pria itu lalu memberikan hormat pada sang raja beserta…

Bab 71 : Konferensi Meja Bundar

Sinar bintang biru Formalha menyinari Sentralberg di pagi itu. Suara hiruk pikuk Carreta dan Motosicca yang berlalu lalang di jalanan beraspal hitam mewarnai suasana ibukota…

Bab 70 : Hari H

Lokasi rahasia, Ibukota Chekovia, Daerah Otonom Vitania. Sebuah ruangan besar menyerupai aula berdiri megah di dalam ruang bawah tanah raksasa. Ruangan itu diperkirakan cukup untuk…

Bab 69 : Arti dari Sebuah Nama

Angin berhembus cukup kencang di cuaca yang cerah itu. Kurang dari 24 jam lagi rencana besar yang telah disepakati dalam rapat rahasia akan dilaksanakan. Namun…

Bab 68 : Pertemuan Para Penguasa

Semua orang sudah ada di tempat rahasia ini. Melalui sihir interface yang diciptakan oleh Lilia, sang kakak sekaligus Gubernur Karelia Alistair Stefansson bertatap muka dengan…

Bab 67 : Menjelang Pertemuan

Alisa dan Floria berjalan di lorong bawah tanah yang panjang itu, melewati dinding bebatuan dan kayu oak di sisi kiri dan kanan mereka. Terlihat ada…

Bab 66 : Kebenaran Tentangnya

Gubernur Alistair mengusap air matanya, sementara itu kondisi Linne sudah jauh lebih tenang. Pembicaraan pun kembali berlanjut. “Huh, sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang panjang…

Bab 65 : Penyesalan dan Kekecewaan

Alisa Garbareva, Floria Fresilca, Linne Helenawicz dan Felipe Elsberg tampak tak percaya bahwa mereka telah dipanggil oleh orang nomor satu di Karelia itu. Alistair Stefansson…

Bab 64 : Pagi Kelabu

Pagi itu semuanya nampak tak biasa. Tidak ada senda gurau, canda tawa, serta kesenangan-kesenangan lainnya di Kartovik ini. Setelah peristiwa penyerangan itu, semuanya seakan sirna.…

Bab 63 : Prajurit Surga

Cahaya terang menembus kegelapan. Sinarnya begitu menyilaukan mata. Penglihatannya masih nampak buram saat itu, tapi perlahan semuanya terlihat jelas. Gadis itu pun membuka matanya. “Uh,…

Bab 62 : Vilhelmina

BRUKK Wanita itu terhempas oleh serangan lawannya. Walaupun ia adalah gadis penyihir api terkuat se-Vitania, tapi kemampuan lawannya yang merupakan gadis penyihir terkuat nomor 1…

Bab 61 : Panah Naga Api

Sudah lebih dari 60% wilayah Kartovik Timur luluh lantak akibat serangan itu. Korban pun semakin banyak yang berjatuhan. Tapi sayangnya bantuan dari luar tidak ada…

Bab 59 : Gerbang Hitam, Dunia Putih

“Huh... Huh... Tidak akan... aku biarkan...” Tepat di tengah-tengah reruntuhan bangunan yang mulai terbakar itu, dua orang gadis penyihir terlihat saling berhadapan satu sama lainnya.…

Bab 58 : Sang Pelindung

Kartovik Timur benar-benar terbakar pada malam itu. Serangan sihir yang dilancarkan para pemberontak Vitania berhasil meluluhlantakkan kota pendidikan yang eksotis tersebut. Kini hanya terlihat puing-puing…

Bab 57 : Para Pembelot

TRINGG TRINGG BANGG BANGG BANGG WUSHH DUARR Suara adu senjata, tembakan senapan, serangan sihir, hingga ledakan terdengar di seantero wilayah Kartovik Timur yang baru saja…
error: Content is protected !!