Angin berhembus cukup kencang di cuaca yang cerah itu. Kurang dari 24 jam lagi rencana besar yang telah disepakati dalam rapat rahasia akan dilaksanakan. Namun di atas permukaan tanah itu nyaris tidak ada siapapun. Semuanya nampak sepi.
Alisa duduk di sebuah bangku taman, namun tidak ada bunga yang mekar di sekitarnya. Yang ada hanyalah wilayah kosong yang nyaris rata dengan tanah. Terlihat sejumlah kecil puing bangunan yang belum dibersihkan. Suasana Kartovik wilayah timur itu kini bak kota mati, bahkan mungkin seperti hamparan tanah luas tak bertuan.
Alisa menutup matanya sambil menengadah ke langit. Dirinya mengingat segala hal yang pernah terjadi di tempat itu bersama teman-temannya.
“Sebentar lagi, semua penderitaan ini akan berakhir. Tapi, ini terlalu sunyi. Aku kesepian,” ungkap Alisa dalam hati.
Perlahan air mata menetes dari pelupuk mata gadis Telhi itu. Ia benar-benar merindukan semuanya. Kehidupan yang damai, sekolah, serta kawan-kawan. Namun sekarang semuanya telah sirna.
Di tengah kesunyian itu, terdengar sayup-sayup suara langkah kaki mendekatinya. Alisa yang melihat seseorang berjubah gelap datang menghampirinya seketika mengusap air matanya. Orang itu lalu duduk di sebelah gadis Telhi tersebut.
“Kau sendirian saja ya, Alisa Garbareva?”
Orang itu bertanya pada Alisa sambil sedikit menaikkan kepalanya. Kini wajahnya bisa terlihat walaupun masih tertutup tudung.
“Eh, Yang Mulia?”
Alisa terkejut begitu melihat sosok yang mendekatinya ternyata Putri Inori Fatir. Namun sang putri bangsawan itu langsung menyuruhnya untuk tidak berbicara terlalu keras.
“Stt, jangan panggil aku Yang Mulia disini. Panggil saja aku kakak,” ucap Inori dengan telunjuk di bibirnya.
“Oh, baiklah,” jawab Alisa pelan.
Inori tersenyum tipis padanya.
“Lagipula, meskipun aku satu generasi dengan ayahmu, usiaku masih tergolong muda. Yah mungkin hanya beda 10 tahun darimu, hehe…” ujar sang putri sambil sedikit tertawa.
Alisa pun ikut tertawa tipis mendengarnya. Inori sedikit mendekatinya.
“Oh iya, Alisa. Ngomong-ngomong soal rencana kita nanti, ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu. Tapi aku tidak bisa mengatakannya di forum kemarin. Dan ini sepertinya hal penting yang harus kau ketahui.”
“Hal penting?” Alisa bertanya-tanya sambil menoleh ke arah sang putri.
“Tentang masa depan Kerajaan Archipelahia setelah kita berhasil menjatuhkan Calais dari takhtanya,” tegas Inori.
Alisa terdiam mendengarnya.
“Aku adalah cucu terakhir Sazali, dan mungkin juga merupakan anggota keluarga Fatir terakhir yang masih hidup hingga saat ini. Sebagai orang yang memegang posisi yang sangat penting, aku harus membebaskan seluruh rakyat Archipelahia dari belenggu ketidakadilan ini,” jelas Inori.
“Iya. Kakak memang benar. Semoga saja setelah semua ini berakhir, kakak bisa memimpin negeri ini dengan bijak,” ucap Alisa. Namun ternyata Inori tidak berpikiran seperti itu.
“Tidak,” tepis sang putri.
“Eh?”
“Aku tidak akan melakukan hal itu,” tegasnya.
Alisa terkejut mendengarnya.
“Maksud kakak?”
Sambil menyilangkan jari-jari tangannya, Inori menjelaskan maksud perkataannya.
“Keluarga Fatir sudah melakukan kesalahan besar yang membuat rakyat Archipelahia menderita. Kami sudah tidak pantas memimpin negeri multikultural ini. Makanya kalau rakyat menginginkan aku mati setelah ini, aku bisa menerimanya dengan lapang dada.”
“Tapi, kalau kakak sampai mati, nanti siapa yang akan memimpin negeri ini?” tanya Alisa.
Inori menoleh ke arah Alisa sambil tersenyum.
“Tentu saja siapapun yang berhak mendapatkannya. Tapi aku lebih menginginkanmu, Alisa Garbareva.”
“Eh, aku?”
Alisa terkejut mendengar perkataan yang dilontarkan oleh sang putri.
“Benar. Kau adalah putri dari seorang teknokrat handal yang paling berpengaruh di kerajaan ini. Sirius Garbareva, ayahmu memegang peranan penting bagi kemajuan Archipelahia,” ujar Inori.
“Bukan hanya itu, kau juga memegang kunci bagi perdamaian di kerajaan ini lewat penelitian yang kau lakukan di Vitania. Dengan kedua modal tersebut, menurutku keluarga Garbareva sangat cocok menjadi penerus dinasti selanjutnya,” lanjut sang putri.
Alisa hanya terdiam mendengarnya.
“Setelah semua masalah ini selesai, aku ingin kau menjadi seorang ratu. Lalu menikahlah dengan seorang pria tak bermarga agar keluarga Garbareva bisa melanjutkan garis keturunan berdasarkan nama belakangnya,” tutur cucu Sazali tersebut.
Mendengar semua yang dijelaskan oleh Inori membuat Alisa tersenyum. Gadis itu sepertinya paham apa maksud yang diinginkan oleh sang putri. Tapi bagi Alisa, hal itu bukanlah tujuan hidupnya.
“Penjelasanmu sungguh menarik, kakak. Tapi maaf, sepertinya aku tidak bisa melakukan hal itu,” ucap Alisa.
“Eh, kenapa?” Inori bertanya-tanya.
“Walaupun aku memiliki semua hal yang kakak sebutkan tadi, aku merasa diriku tidak cocok untuk menjadi seorang keluarga bangsawan. Terlebih lagi, aku tidak berniat untuk menjadi seorang ratu,” tutur Alisa.
“Bagiku, melihat orang lain terlepas dari penderitaannya sudah cukup membuatku bahagia. Dibandingkan menjadi seorang bangsawan, aku lebih suka menjadi rakyat biasa,” lanjutnya sambil tersenyum pada sang putri.
Inori sempat terdiam sejenak mendengar apa yang dikatakan Alisa.
“Oh, begitu ya. Kau memang seorang gadis yang unik, Alisa Garbareva,” puji Inori.
Sang putri lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Baiklah kalau begitu. Sepertinya aku harus pergi dulu untuk mempersiapkan hari esok. Aku mohon bantuannya ya, Alisa,” ucap Inori sambil mengulurkan tangannya pada Alisa.
Gadis itu lalu berdiri dan menjabat tangan sang putri.
“Dengan senang hati, kakak.”
Inori pun pergi meninggalkan gadis itu. Tak berselang lama, terdengar suara seorang perempuan lainnya menyahut Alisa dari arah belakang.
“Alisa?”
Gadis Telhi itu lalu menoleh ke arah sumber suara.
“Eh, Flo?”
“Kau disini ya rupanya? Aku mencarimu dari tadi.”
“Hehe, aku sedang mencari udara segar,” jawab Alisa sambil menggaruk kepalanya.
Dengan kedua tangan di pinggang, Flo menghela napas.
“Huh, kau ini membuatku khawatir saja.”
“Hehe…” Alisa tertawa kecil mendengarnya.
Angin dingin kembali berhembus.
“Eh iya, Flo. Ngomong-ngomong soal hari esok, setelah semua ini selesai apakah kita masih bisa bersama lagi?” tanya Alisa.
“Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Flo balik.
Alisa sedikit mengalihkan pandangannya.
“Tidak. Maksudku, karena aku sudah lulus dari sekolah ini, mungkin aku harus pergi ke kota lain untuk bekerja. Aku tidak tahu setelah ini kau mau pergi kemana, tapi aku sendirian sekarang, aku…”
Mendengar keluh kesah Alisa yang kebingungan itu membuat Flo sedikit tersenyum.
“Hadeh, Alisa, Alisa. Kau terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak.”
Ia lalu menepuk kedua bahu gadis Telhi tersebut.
“Kau tak perlu khawatir. Aku akan selalu ada disisimu. Kemana pun kau pergi, aku akan selalu menemanimu, karena kau adalah sahabat terbaikku,” kata perempuan Vitania itu.
“Jadi jangan khawatir, Alisa. Selama aku ada disisimu, kau takkan merasa kesepian,” lanjut Flo sambil tersenyum.
Mendengar ucapan itu membuat mata Alisa sedikit berkaca-kaca. Tapi ia juga tersenyum bahagia karenanya.
“Terima kasih, Flo.”
Angin dingin berhenti berhembus. Suasana nampak sunyi. Tapi tak lama kemudian terdengar suara seorang pria memecah kesunyian.
“Ah, Alisa, Floria. Kalian disini rupanya.”
Keduanya sontak menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang pemuda berambut perak menghampiri mereka berdua.
“Eh, kau penasehat Gubernur Alistair itu bukan?” tanya Alisa.
“Benar. Aku Iskarius, penasehat Gubernur Karelia. Ngomong-ngomong kalian berdua sedang apa di tempat yang sepi seperti ini?” pemuda itu bertanya balik.
Flo yang curiga dengannya langsung menepis pemuda tersebut.
“Apa urusannya bagimu?”
Mendengar ucapan itu, Iskarius sontak melambaikan kedua tangannya seolah ia berkata bahwa dirinya tidak berniat mencari masalah.
“Eh, tunggu dulu Floria. Aku tidak bermaksud mengganggu kalian kok. Aku kesini hanya untuk mencari kalian saja karena ada suatu hal yang penting.”
“Hal yang penting?”
“Iya. Gubernur Alistair menyuruhku untuk mencari kalian berdua karena ada suatu hal yang ingin ia sampaikan terkait rencana hari esok,” ujar Iskarius.
“Rencana hari esok?” Alisa bertanya-tanya.
“Tentu saja. Besok adalah hari yang penting bagi masa depan kerajaan kita bukan? Gubernur Alistair menyuruhku untuk mencari kalian karena ada suatu hal penting yang ingin beliau sampaikan,” jawab Iskarius.
“Oh, begitu ya.”
Iskarius berhasil meyakinkan Alisa untuk ikut bersama dengannya. Begitu pula dengan Flo. Namun berbeda dengan sang sahabat, perempuan Vitania itu masih menaruh curiga pada Iskarius. Akan tetapi ia tetap mengikutinya demi melindungi Alisa dari ancaman.
Mereka berdua pun mengikuti kemana Iskarius mengajak mereka. Alisa dan Floria nampak tidak berbicara dengan Iskarius. Semuanya nampak biasa saja sampai Floria menyadari sesuatu.
“Tunggu, ini bukan jalan menuju tempat rahasia,” ungkap perempuan Vitania itu.
“Eh?” Alisa yang ada di depan Flo pun menyadarinya.
Mereka berdua berhenti di sebuah tempat yang cukup asing. Hanya ada reruntuhan bangunan di depan mereka, serta di samping kiri dan kanannya. Itu adalah jalan buntu.
“Kau sengaja menjebak kami ‘kan, Iskarius?” tanya Flo dengan suara yang cukup keras.
Mendengar ucapan perempuan Vitania itu, Iskarius langsung terdiam. Namun tak lama berselang ia tiba-tiba tertawa pelan.
“Hihi, sepertinya kalian sudah menyadarinya ya.”
Flo melihat keadaan sekitar. Rupanya mereka sudah dikepung oleh belasan pria dengan berbagai senjata, mulai dari pisau, parang, crossbow, hingga Politia. Mereka melihat keduanya dengan tatapan jahat.
“Kau!! Apa maksud dari semua ini?” bentak Flo.
Mereka berdua terjebak. Nyaris tidak ada cara lain untuk kabur selain harus menghadapi mereka semua. Cincin Angke Floria mulai bercahaya, pertanda dirinya siap untuk berubah wujud. Namun tanpa diduga, tangan kanan Iskarius yang ada di depannya tiba-tiba bergerak. Ia terlihat seperti memegang suatu alat.
“Huff, aku tidak suka nada bicaramu itu, gadis penyihir.”
Tangan kanan Iskarius terlihat seperti menekan sesuatu. Dan tak lama berselang, sesuatu pun terjadi.
“Eh…? Flo…”
BRUKK
Alisa yang berdiri di depannya tiba-tiba tumbang tanpa sebab. Floria yang melihat hal itu seketika berlari ke arah sang sahabat.
“ALISA!!”
Ia menggapai tubuh sang sahabat yang tidak sadarkan diri itu.
“Hei, Alisa!! Bangun!!”
Floria berusaha membangunkannya, tapi tidak ada respons. Ia benar-benar panik dan bingung dengan apa yang terjadi.
Berbeda dengan Iskarius. Ia nampak tertawa menyeringai mendengar suara kepanikan perempuan Vitania itu.
“Hihi…”
Sontak hal itu membuat kecurigaan Floria terbukti. Iskarius benar-benar menjebak mereka berdua.
“Cih, Vreyt!!”
TRINGG
Tanpa basa-basi, Floria langsung berubah wujud menjadi gadis penyihir lalu berlari ke arah Iskarius seraya memegang pedang besarnya.
“Kau!!!”
Namun sayangnya Iskarius sudah menyadari hal tersebut. Pemuda itu kembali menggerakkan tangan kanannya dan seolah menekan sebuah tombol. Pada saat yang bersamaan tiba-tiba Floria terjatuh tanpa sebab hingga pedangnya ikut terlepas dari genggamannya.
BRUKK
“Uhukk…”
Bukan hanya itu, perempuan Vitania tersebut juga merasakan sesuatu hal yang aneh. Dadanya tiba-tiba merasa sakit seperti ada yang menggenggam organ dalamnya dengan sangat keras.
“Ughh, apa-apaan ini? Dadaku- sakit sekali? A-apa yang terjadi?”
Floria memegangi dadanya sambil meringis kesakitan. Tak lama kemudian, Iskarius berbalik ke arahnya sambil menunjukkan benda yang ia genggam.
“Rupanya benda ini benar-benar efektif untuk menundukkan para gadis penyihir ya.”
Floria terkejut begitu melihat sebuah benda misterius yang Iskarius genggam di tangan kanannya. Benda itu terlihat seperti sebuah remote control dengan berbagai tombol dan besi pemancar sinyal. Tepat di atas pemancar sinyal itu terlihat sebuah benda berupa permata yang mengeluarkan cahaya.
“Benda itu? Jangan-jangan…”
Belum sempat Flo berucap, Iskarius mengungkapkannya.
“Benar sekali. ‘Tombol Perintah’, teknologi pengontrol impuls syaraf dari tubuh gadis penyihir. Aku sungguh tidak percaya teknologi ini benar-benar berguna,” ujar Iskarius.
“Dengan adanya teknologi ini, kini kalian tidak lebih dari sosok boneka yang dikontrol oleh mesin. Hihi…” lanjutnya sambil tertawa jahat.
“B-biadab…” ucap Flo terbata-bata sambil berusaha berdiri.
Gadis penyihir Vitania itu berusaha untuk bangkit kembali dan mengambil pedangnya, namun dirinya tertahan oleh rasa sakit yang teramat di dadanya. Iskarius pun kembali berujar dengan nada yang angkuh.
“Floria Fresilca, mantan anggota Brigade Penyihir Garis Depan Vitania. Mungkin kau masih penasaran ya, kenapa aku melakukan hal ini?”
Flo tak menjawabnya. Sambil telungkup di tanah, ia berusaha untuk memegang kembali pedangnya meskipun itu sangat sulit.
“Aku kira sebagai bekas mata-mata, kau bisa mengetahui tujuanku dengan mudah. Tapi ternyata kau payah juga,” ujar Iskarius meremehkan Flo.
“Apa? Tujuan? Jangan-jangan…”
Iskarius tersenyum menyeringai, lalu kembali berujar dengan nada yang dalam.
“Iya. Aku adalah mata-mata ganda Paduka Raja Rocky Calais.”
Flo terkejut bukan kepalang. Dirinya tak bisa berkata-kata mendengarnya.
Melihat ekspresi perempuan Vitania itu membuat Iskarius tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHA!!! BISA-BISANYA MATA-MATA BRIGADE PENYIHIR SEPERTIMU TIDAK TAHU MENAHU TENTANG APA YANG KULAKUKAN. BODOH SEKALI, BODOH!!!” teriak Iskarius sambil mencemooh Flo.
Pemuda berambut perak itu lalu berjalan-jalan mengitari tubuh Flo yang tak bisa bergerak itu.
“Dengar. Sebagai pengikut setia Paduka Raja, aku sudah mengincar nyawa Inori Fatir sejak aku diangkat jadi penasehat Alistair. Tapi sialnya, aku selalu tak punya waktu untuk melenyapkannya,” jelas Iskarius.
“Me-lenyapkan-nya?” ucap Flo terbata-bata.
“Tapi bukan hanya si Inori itu saja. Aku juga mengincar semua orang penting yang berusaha mengancam kedudukan Paduka Raja. Dan salah satunya adalah dia, si teknokrat ahli hukum tata negara itu,” lanjut pemuda tersebut.
“Teknokrat ahli hukum tata negara? Apa? Jangan-jangan kau juga mengincar-“
Floria menoleh dengan susah payah ke arah Alisa yang terbaring tak sadarkan diri di tanah itu. Sementara itu Iskarius tersenyum lebar.
“Betul. Betul sekali. Orang yang kumaksud adalah ayahnya.”
Iskarius kembali mendekatinya.
“Kedatangannya ke tempat rahasia itu adalah berkah bagiku. Aku jadi tak perlu susah payah memutar otak karena umpannya sudah ada di hadapanku,” lanjut pemuda tersebut.
Flo kembali menoleh ke arah Iskarius dengan susah payah.
“Kali ini Sirius Garbareva tidak punya pilihan lain. Karena aku sudah menangkap putrinya, dia pasti akan keluar dari persembunyiannya dan datang untuk menyelamatkannya. Dan saat itu terjadi, kemenangan telak bagi kami. Hihi…” kata Iskarius sambil tertawa jahat.
Tidak ada yang menyangka bahwa Iskarius, pemuda berambut perak tangan kanan Gubernur Karelia itu ternyata seorang loyalis Calais. Lewat perintah raja, ia menjalankan aksi jahatnya untuk melenyapkan siapapun yang mengancam kedudukan singgasana Rocky. Benar-benar di luar dugaan.
“Ku-kurang ajar-”
Floria berusaha bangkit untuk menyelamatkan Alisa. Namun apa daya, teknologi pengontrol impuls syaraf itu sudah berhasil melumpuhkannya.
Melihat kedua gadis itu tak berdaya, Iskarius pun bersiap menyelesaikan tugasnya.
“Sayang sekali. Kau tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, Floria Fresilca.”
Pemuda berambut perak itu mengarahkan ‘Tombol Perintah’ ke arah Floria yang hanya terdiam menyaksikannya.
“Selamat malam, mantan anggota Brigade Penyihir.”
Iskarius menekan tombolnya. Floria yang tengah telungkup itu seketika berubah wujud kembali menjadi manusia normal, dan hentakan keras di bagian organ dalamnya membuatnya pingsan. Mereka berdua pun kalah di tangannya.
***