“Kenapa?” Tanya Elizabeth.
Edward masih enggan menatap Elizabeth.
“Hahaha, lucunya. Ya ampun, wajah apa ini? Wajahmu semerah tomat, Edward! Kau lucu sekali.”
Elizabeth langsung mencubit pipi Edward.
“Ah..”
“Kamu lucu, Edward!”
Elizabeth tersenyum.
… – Edward malu.
‘Dia mengingatkanku pada mama,’ – dalam hati Edward.
“Ah iya! Nenekmu kan sudah menunggumu di depan. Ayo kita keluar!”
Elizabeth langsung menarik tangan Edward.
“Ah iya.”
Mereka pun pergi.
Beberapa menit kemudian…
“Ah, itu dia nenekmu. Rupanya dia menunggu kita di bawah.” Ucap Elizabeth.
“Ya.”
Edward terus menatap Elizabeth.
“Ayo kita datangi!” Ucap Elizabeth.
Elizabeth menarik tangan Edward lagi, dan Edward hanya diam, menurutinya.
“Halo, nenek. Selamat pagi.”
Elizabeth memberi hormat.
“Ah, selamat pagi. Namaku Vio,” ucap nenek Edward.
Vio langsung berdiri.
“Salam kenal, nek. Namaku Elizabeth. Biasa dipanggil ‘Eli’.”
“Oh. Begitu?”
“Ya, nek.”
“Hm. Itu artinya nama ‘Lizzie’ itu nama kesayangan yang diberikan khusus oleh cucuku untukmu, ya?”
“Eh?!”
Edward terkejut dan wajahnya langsung memerah!
‘Eh? Wajah Edward memerah?!’ – dalam hati Vio.
Vio terkejut!
“Hehe, iya nek. Itu nama kesayangan yang diberikan khusus oleh Edward padaku. Dia memang suka sekali memanggilku ‘Lizzie’,” ucap Elizabeth sembari tersenyum.
“Ah ya. Kau benar-benar sudah mengubah cucuku. Dia kelihatan sangat hidup sekarang.”
“Ya. Itu semua karena cintaku yang sangat besar untuk Edward. Aku sangat mencintainya,” ucap Elizabeth yang langsung menatap Edward dengan tatapan hangat.
(DEG) Edward terdiam.
“Aku benar-benar terkejut saat mengetahui hubungan kalian.” Ucap Vio.
“Ah.. maaf nek. Ini memang sangat mengejutkan. Aku benar-benar minta maaf.” Ucap Elizabeth.
“Hm. Sebenarnya kenapa kalian menyembunyikan hubungan kalian dari nenek? Kenapa harus dirahasiakan dalam waktu lama?”
“Ah itu..”
‘Aduh, aku harus kasih alasan apa?’ – dalam hati Elizabeth.
“Nek, ini semua karena keinginanku. Karena aku takut membuat nenek sedih,” ucap Edward sedih.
(Menatap Edward) ‘Ah.. pria ini sangat menyayangi neneknya,’ – dalam hati Elizabeth.
Elizabeth tersenyum.
“Apa maksudmu? Justru nenek akan sangat senang mendengarnya,” ucap Vio.
“Tapi pikiran burukku ini selalu menghantuiku, nek. Aku takut nenek akan merasa sedih dan kecewa jika tahu kalau aku mencintai orang lain. Karena nenek kan sangat menyayangi Rose. Jadi aku pikir nenek akan terus memaksaku berhubungan dengannya sampai menikah. Jadi aku terpaksa menyembunyikan semua ini dari nenek. Aku nggak mau membuat nenek sedih.”
“Oo.. Edy ku sayang.”
Vio langsung mendatangi Edward.
‘Edy? Jadi itu nama panggilan Edward? Lucunya,’ – dalam hati Elizabeth.
“Kau memang cucu kesayangan nenek. Kau benar-benar sangat manis karena selalu memikirkan perasaan nenek.”
Vio mengelus pipi Edward.
“Sekarang ini hanya nenek yang aku punya.”
Edward menggenggam tangan Vio.
‘Eh?! Apa itu artinya orang tua Edward sudah meninggal?!’ – dalam hati Elizabeth.
Elizabeth terkejut!
“Aku sangat menyayangi nenek lebih dari apapun. Aku hanya ingin melihat kebahagiaan nenek. Jadi itulah sebabnya aku nggak bisa mengatakan yang sebenarnya tentang hubunganku. Aku sebenarnya sudah lama mencintai Elizabeth. Aku bahkan ingin menikah dengannya. Skandal ini membuatku sadar kalau aku harus jujur pada nenek. Jadi, apa aku bisa menikahi Elizabeth? Aku yakin nenek sudah tahu soal skandal itu. Tolong maafkan aku, nek. Ampuni aku. Aku sudah membuat Wilson Group terguncang.”
Edward hendak berlutut.
“Eh eh, Edy.”
Vio langsung menahan Edward.
‘Ah! Edward..’ – dalam hati Elizabeth.
Elizabeth sedih melihatnya.
‘Ternyata dia sebegitu tertekannya. Itu sebabnya dia mengajakku menikah. Itu semua karena dia harus mempertahankan Wilson Group. Perusahaan yang diberikan oleh orang tuanya,’ – dalam hati Elizabeth.
“Tolong jangan begitu, Edy. Kau membuat nenek sedih.”
“Maaf, nek. Aku sudah menghancurkan segalanya. Maafkan aku.”
“Tidak, Edy. Tidak. Kau tidak menghancurkan apapun. Ini semua adalah takdir. Lagipula kau mencintai Elizabeth, kan? Kalian berdua saling mencintai, kan?”
“Ya, nek,” ucap Elizabeth.
Edward mengangguk.
“Kalau begitu, menikahlah. Nenek merestui kalian.”
Vio menggabungkan tangan Edward dan Elizabeth.
“Lakukan apa yang membuatmu bahagia, Edy. Kau sudah terlalu banyak bekerja keras selama ini. Sekarang adalah waktunya untukmu bahagia. Kau tidak perlu memikirkan perusahaan. Kau hanya perlu fokus pada masa depanmu sekarang. Nenek selama ini hanya menginginkan kebahagiaanmu. Kau juga seharusnya jujur saja pada nenek kalau kau sudah menemukan cinta sejatimu. Kau seharusnya tidak menyembunyikannya dari nenek. Lain kali jangan begitu, ya. Nenek menyayangimu, Edy.”
“Aku juga sangat menyayangimu, nek. Lebih dari apapun!”
Edward langsung memeluk Vio.
“Oo.. cucuku sayang. Kau memang selalu membuat nenek bahagia. Sekarang adalah waktumu untuk bahagia. Nenek akan mendukung semua keputusanmu!”
“Hm. Tapi bagaimana dengan perusahaan itu? Aku..”
“Sudah kubilang kau tidak perlu memikirkannya. Sekarang aku sudah tidak peduli lagi dengan perusahaan itu. Wilson Group benar-benar sudah membuatmu depresi berat. Semenjak orang tuamu meninggal, kau hanya fokus mengurus perusahaan itu tanpa memikirkan dirimu sendiri. Kau bahkan tidak punya waktu untuk bahagia. Padahal kau masih sangat muda. Sekarang sudah. Jangan pikirkan perusahaan itu lagi!”
“Tapi itu peninggalan mama dan papa.”
“Ya nenek tahu. Tapi sudahlah. Kau sudah mengorbankan banyak hal. Jadi sekarang lupakan soal itu. Fokus saja pada masa depanmu! Jadi kapan kalian akan menikah?”
“Hm. Aku ingin menikahi Elizabeth malam ini secara private. Setelah pernikahan itu selesai, aku akan mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan semuanya.”
“Apa harus konferensi pers? Nenek benar-benar ingin kalian menikmati pernikahan kalian. Tapi pernikahan ini sangat mendadak.”
“Ini harus dilakukan agar skandal kami bisa hilang, nek. Artikel itu benar-benar menghancurkan reputasi kami!”
“Ah iya, kamu benar.”
“Sekarang nenek tidak perlu memikirkan apa-apa. Aku yang akan menyelesaikan semuanya. Nenek jangan khawatir.”
“Terlalu banyak beban di pundakmu, Edy. Bahkan masih ada kuliah online yang harus kau selesaikan.”
‘Eh? Jadi Edward kerja sambil kuliah online?! Ya ampun. Beban itu begitu berat. Mana usianya masih 22 tahun. Dia masih sangat muda. Tapi sudah dihadapkan pada masalah yang bertubi-tubi,’ – dalam hati Elizabeth.
Elizabeth menatap Edward dengan wajah sedih.
“Aku baik-baik saja kok, nek. Aku akan selesaikan semuanya. Edy mu ini nggak pernah menyerah. Jadi nenek percayakan saja semuanya padaku. Nenek jangan khawatir. Oke?!”
‘Edward..’ – dalam hati Elizabeth.
“Hm. Maafkan nenek ya. Nenek ini sangat beban.”
“Hei, jangan bilang begitu, nek. Nenek ini sudah tua. Jadi nenek memang harus diam di rumah. Selama Edy masih hidup, Edy nggak akan pernah membiarkan nenek menderita! Itu janji Edy!”
‘Dia benar-benar pria yang sangat baik. Aku benar-benar beruntung bertemu dengannya. Hm..’ – dalam hati Elizabeth.
Bersambung…