Randi menyeka keringat di pelipisnya. Bukan karena terik matahari, melainkan karena panasnya ruang kelas X IPS. Randi, seorang lulusan Pendidikan Sosiologi yang cerdas, tahu betul cara membuat materi sekering mungkin terdengar menarik. Namun, kecerdasannya tidak berbanding lurus dengan stabilitas keuangannya.
Selama 18 tahun, ia mengabdi sebagai guru honorer di SMA Swasta Harapan Bangsa, sebuah sekolah tua yang bertahan hidup di tengah kota. Gajinya, yang hanya cukup untuk bertahan hidup dengan 3 anak yang masih kecil – kecil. Namun Randi tidak pernah mengeluh, karena baginya mencerdaskan kehidupan bangsa itu jauh lebih penting dari segalanya. Walaupun kadang dia harus mencari sampingan untuk mendapatkan receh tambahan agar dapat menambah penghasilannya.
“Pak Randi,” panggil Kepala Sekolah, Pak Haidir, dari ambang pintu ruangannya. Disana ada Pak Ahmad dan Pak Muhammad, ketiga sosok inilah yang benar-benar menghargai dedikasi Randi.
“Ya, Pak?”
“Ada tawaran pekerjaan untukmu. Di sekolah teman lama saya, SMP/SMA Bintang Timur. Posisi… operator sekolah.”
Randi meletakkan pena dan mengangkat alis. “Operator? Sekolah apa, Pak? Saya tidak pernah berurusan dengan data. Selama ini saya hanya mengajar, tahu apa saya tentang Dapodik dan sejenisnya?”
Pak Haidir duduk di hadapan Randi, nadanya menjadi serius. “Sekolah itu sedang gawat darurat, Randi. Mereka terancam dicabut izin operasionalnya. Operator lama mereka lalai. Sebuah kesalahan fatal, lima puluh lima siswa kelas IX SMP tidak terdaftar sebagai peserta Ujian Nasional.”
Mendengar angka itu, Randi terhenyak. Lima puluh lima nyawa, lima puluh lima masa depan gagal dan sekarang harus terancam lagi?
“Kepala Sekolah mereka, Pak Arman, menghubungi saya. Dia butuh orang yang teliti, yang mau belajar cepat, dan yang bisa dipercaya. Saya langsung menyebut namamu. Kamu mungkin tidak tahu Dapodik, tapi kamu orang yang bertanggung jawab, Randi. Itu jauh lebih penting.”
” Kamu punya kemampuan itu, tidak mungkin kami merekomendasikan dirimu, jika itu tidak ada pada dirimu, Pak !” Pak Ahmad menimpali ucapan Pak Haidir.
Randi menunduk, menghela napas panjang. Pekerjaan ini adalah lompatan besar ke wilayah yang tidak ia kenal, meninggalkan papan tulis demi layar monitor. Tapi ada janji gaji bulanan yang pasti, dan yang lebih penting, ada kesempatan untuk menjadi seorang penyelamat.
“Kapan saya harus mulai, Pak?” tanyanya, keputusan sudah bulat.
“Secepatnya. Untuk gaji kamu, nanti kamu sendiri yang bicarakan dengan Pak Arman. Dan dia akan mencarikan orang yang mau membimbing kamu untuk belajar dapodik. Kamu hanya perlu berani.”
” Bismillah saja, Pak. Pasti kamu bisa menolong sekolah itu” Pak Ahmad memberikan keyakinan pada Randi yang memberikan keberanian pada dsirinya sendiri. Ini sebuah tanggungjawab berat sekaligus amanah dari orang – orang yang selalu berada disaat dirinya dalam masalah.
” Saya akan coba, terima kasih atas dukungan dan semangat yang diberikan kepada saya, Pak ” Randi memandang ke tiga orang yang duduk didepannya.
Dua hari kemudian, Randi tiba di SMP/SMA Bintang Timur. Sekolah itu tampak biasa, dapat dikatakan seperti rumah. Berada didalam gang sempit yang hanya bisa dilalui 1 mobil Suasana di dalamnya terasa tegang dan penuh desas-desus. Para guru dan staf berjalan dengan wajah cemas.
Pak Arman, Kepala Sekolah, menyambutnya dengan tangan terbuka tetapi tatapan lelah. “Terima kasih sudah datang, Randi. Maaf, kita tidak punya waktu untuk berbasa-basi. Masalah ini harus segera diselesaikan.”
Ia membawa Randi ke sebuah ruangan kecil berpendingin udara yang penuh dengan berkas dan perangkat komputer. Ini adalah ruang operator sekolah. Di meja, teronggok sebuah laptop usang dan tumpukan print-out data siswa yang berantakan.
“Ini adalah warisan dari operator lama, Taufik,” jelas Pak Arman, menunjuk tumpukan kertas itu. “Dia selalu mengatakan, ‘Semua data sudah beres, Pak.’ Ternyata, dia hanya beres-beres di atas kertas, bukan di sistem Dapodik.”
Dapodik. Database Pokok Pendidikan. Kata yang asing di telinga Randi.
“Tugasmu, Randi, adalah memverifikasi dan memvalidasi ulang seluruh data sekolah, terutama data 55 siswa itu. Mereka harus diakui oleh sistem, atau izin sekolah ini dicabut. Dan yang perlu diingat, batas waktu kita sangat mepet. Besok, kamu mulai pelatihan intensif. Malam ini, tolong, pelajari saja sistemnya. Coba saja buka Dapodik. Aplikasi itu sudah terinstal di laptop ini.”
Setelah Pak Arman pergi, Randi duduk di kursi kulit yang berderit. Ia menatap layar laptop. Di sana, ikon aplikasi bergambar logo kementerian pendidikan seolah menantangnya.
Randi mengambil napas dalam-dalam. Tangannya gemetar saat mengklik dua kali ikon tersebut.
Layar Dapodik terbuka. Randi dihadapkan pada sebuah antarmuka yang kompleks, penuh kolom, tab, dan kode-kode yang tidak ia pahami. Ada data rinci siswa, guru, sarana prasarana, dan riwayat sekolah. Semuanya saling terkait, membentuk sebuah labirin digital yang rumit.
Ia mencoba mencari bagian data peserta ujian, tapi gagal. Setiap klik membawanya ke menu lain yang lebih membingungkan. Ia merasa seperti seorang pelaut yang tiba-tiba ditinggalkan di tengah samudra tanpa kompas.
Randi menyandarkan punggung, kekecewaan mulai merayapi. Aku guru honorer, bukan programmer data, batinnya. Mungkin Pak Haidir salah merekomendasikan.
Namun, saat matanya kembali menangkap tumpukan berkas 55 siswa kelas IX SMP yang terancam putus sekolah, ia teringat wajah cemas Pak Arman dan pesan dari Pak Haidir.
Orang yang mau belajar. Itu jauh lebih penting.
Randi menarik napas lagi, meraih secarik kertas, dan mulai membuat daftar. Ia mencatat setiap tab yang ia buka, setiap kode yang ia temukan, dan setiap error yang muncul di layar. Ia menganggapnya sebagai musuh yang harus dipetakan.
Malam itu, hingga jam dua dini hari, Randi tidak lagi merasa gentar. Ia telah bertransformasi dari seorang guru yang menjelaskan materi di papan tulis menjadi seorang detektif yang memecahkan kode di depan layar. Ia tidak hanya mencoba memahami Dapodik; ia mulai mencari tahu, mengapa Taufik, operator sebelumnya, bisa melakukan kesalahan sebesar itu. Apakah ini hanya kelalaian, atau ada intrik yang lebih dalam di balik layar data SMP/ SMA Bintang Timur?
Dari informasi yang didapatkan, data – data tersebut tidak terkirim ke pusat data admin dinas lantaran operator lama lebih fokus pada pendataan calon pemilih yang kebetulan saat itu memasuki masa demokrasi. Demokrasi pemilihan calon legislatif dan kepala negara.
Dalam kekalutan tersebut, hadir guru yang telah lama mengabdi di SMP/SMA Bintang Timur. Biasa dipanggil Pak Haji. Dia menawarkan seseorang bisa membantunya belajar soal dapodik dan membimbingnya bila diperlukan.
Tawaran itu sontak diterima oleh Randi. Menurut Pak Haji, temannya itu telah lama menjadi seorang operator sekolah, bahkan bisa dikatakan neneknya dapodik. Lantaran sistem data itu masih bernama Padamu negeri, Pak Jaya sudah berkecimpung di dunia itu.
Namun karena kesibukan Pak jaya, sehingga belum bisa membuat janji. Randi terus mencari orang yang bisa membimbingnya. Dia mencoba menghubungi Pak Mail, yang juga seorang operator data lewat seorang teman. Namun yang didapatkan kekecewaan, ternyata Pak Mail tidak ingin membagi ilmu. Dia menolak dan menyarankan mencari orang lain.
Batin Randi menjerit, ingin rasanya menangis. Namun baginya untuk mundur itu bukan sifatnya. Ketika dia sudah memutuskan, maka dia akan terus berusaha untuk dapat tampil sebagai orang yang mampu. Apalagi memikirkan nasib siswa yang terancam tidak ikut ujian nasional. data yang masih amburadul, sementara tekanan dari Dinas Pendidikan memberikan batas waktu, agar data – data calon peserta tersebut sudah harus masuk di sistem data dinas. jika tidak maka akan fatal akibatnya, bisa jadi, siswa – siswa tersebut kembali akan gagal mengikuti ujian nasional.
Tanpa istirahat, Randi terus mengutak-atik dapodik, mempelajari secara detail, menonton tutorial yang banyak berseliweran di Youtube. Detak jarum jam seperti bom waktu yang siap meledak jika dia gagal.