Keesokan harinya, setelah janji yang Randi ucapkan di depan Grup Pattasa, ia merasa seringan bulu. Kebahagiaan Bu Yuda yang terlihat samar, namun nyata, adalah hadiah terindah atas segala perjuangannya. Randi siap mengatur pertemuan dengan Kak Syarif; ia sudah merencanakan bagaimana membicarakan hal ini dengan Awal dan Arini secara serius, bukan lagi sebagai candaan.Namun, semesta punya skenario yang jauh lebih berat.
Siang itu, ketika Randi baru saja pulang dari sekolah dan bersiap menghubungi Kak Syarif, halaman rumahnya tiba-tiba dipenuhi suara riuh. Tiga orang dewasa dengan wajah tegang, sepasang suami istri dan seorang pria tua yang tampak murka, menerobos masuk tanpa permisi.
“Pak Randi?” tanya pria paruh baya itu dengan nada yang menusuk.
“Iya, saya Randi. Ada apa, Pak? Mohon maaf, ada keperluan apa?” tanya Randi bingung, jantungnya mulai berdebar tak karuan.
“Kami datang menuntut pertanggungjawaban, Randi!” seru wanita itu, matanya berkaca-kaca menahan air mata dan amarah.
“Pertanggungjawaban? Maaf, ini soal apa?”
Pria tua itu maju, menatap Randi dengan sorot menghakimi. “Soal anakmu, Bayu! Dia sudah membawa lari anak gadis kami! Bahkan baru-baru ini dia nekat ke kampung halaman kami bersama dua sepupunya, menemuinya tanpa seizin kami!”
Dunia Randi terasa runtuh. Anakku,Bayu? Anak pertamanya, yang masih duduk di kelas 2 SMA, murid di sekolah tempatnya mengajar, berani melakukan kenakalan yang kini berubah menjadi aib dan tuntutan. Darahnya mendidih dan mendingin bersamaan. Bagaimana ia bisa melewatkan ini? Seberapa jauh Randi larut dalam duka Arumi dan pengejaran Bu Yuda, hingga tak melihat bahaya di bawah atap rumahnya sendiri? Rasa bersalah dan kegagalan sebagai ayah menghantam Randi hingga ke ulu hati.
“Tunggu, Pak. Saya tidak tahu menahu soal Bayu pergi ke kampung Bapak…”
“Tidak tahu? Anakmu sendiri yang melakukannya! Anakmu sudah menjanjikan pernikahan pada putri kami, Putri! Dia sudah mencoreng nama baik keluarga kami!” bentak Bapak itu.
Ibu Putri menangis pilu, “Putri sudah memutuskan tidak mau melanjutkan sekolah, Pak! Dia mau menikah dengan anak Bapak! Kami datang meminta kepastian! Kami tidak mau aib ini berlarut-larut!”
Tuntutan itu jelas, sebuah pernikahan yang harus dijalani oleh anaknya yang masih belia.
Randi harus memanggil Bayu. Bayu turun, wajahnya pucat pasi, namun matanya menunjukkan tekad yang keras kepala. Ia mengakui semua perbuatannya, membenarkan bahwa dia dan Putri ingin segera menikah.
Diskusi berubah menjadi perdebatan sengit, penuh emosi yang meledak-ledak. Keluarga Putri menuntut agar Bayu segera menikahi Putri demi menyelamatkan nama baik mereka.
Setelah keluarga Putri pergi dengan janji pertemuan lanjutan, rumah Randi terasa seperti medan perang yang sunyi. Randi menatap Bayu, bingung, kecewa, dan marah, semua bercampur menjadi satu kesakitan.
“Apa yang kamu lakukan, Nak? Kamu masih sekolah! Apa kamu pikir menikah itu main-main?” suara Randi bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.
Bayu hanya menunduk, bibirnya mengucap lirih, “Kami saling cinta, Pak. Kami mau menikah.”
Randi merasa seluruh beban dunia menimpa pundaknya. Ia harus menyelesaikan masalah ini, memastikan masa depan anak sulungnya, melindungi nama baik sekolah, dan menjaga martabat keluarga yang baru saja keluar dari masa duka.
Aku gagal. Randi bergumam dalam hati. Aku gagal sebagai suami mendiang Arumi yang berjanji menjaga anak-anak. Aku gagal sebagai ayah. Bagaimana Randi bisa menata hidup baru bersama Bu Yuda, sementara hidup anak pertamanya hancur berantakan di usia yang terlalu muda?
Bayangan wajah Bu Yuda muncul. Randi baru saja berjanji akan melamarnya! Bagaimana ia bisa membawa masalah seberat ini sebagai ‘hadiah’ lamaran? Randi tidak bisa melibatkannya, tidak boleh membebaninya. Ia harus menyelesaikan badai ini sendirian, dalam keheningan yang menyakitkan.
Randi meraih kepalanya. Pusing. Tekanan pekerjaan, duka yang belum sembuh total, dan kini, kehancuran rumah tangga anak yang masih belia. Stres itu menusuk, membuat Randi ingin lari, ingin kembali ke masa duka yang tenang daripada menghadapi kenyataan ini.
Randi sadar, ia harus menjauh sejenak. Ia tidak bisa menemui Bu Yuda, tidak bisa menepati janji pada Kak Syarif. Ia akan terlihat sebagai pria tak bertanggung jawab yang bahkan tak bisa mengurus anaknya sendiri.
Keesokan harinya, ketika Bu Yuda menelepon, Randi mengangkatnya dengan suara yang dibuat-buat tenang.
“Assalamualaikum, Pak Randi. Bapak masuk hari ini mengajar tidak, ta? Apakah Bapak sudah punya waktu?” tanya Bu Yuda, menyiratkan kerinduan dan keresahan atas ketidakhadiran Randi di sekolahnya.
“Waalaikumsalam, Bu Yuda. Maaf, Bu, saya… saya sedang ada masalah keluarga yang sangat mendesak. Berat sekali. Saya harus fokus menyelesaikan ini dulu.”
Hening di seberang telepon. Hening yang terasa menusuk dan penuh pertanyaan tak terucapkan.
“Masalah berat, Pak?” Bu Yuda terdengar berat.
“Iya, Bu. Masalah anak. Tolong, beri saya waktu. Jangan khawatirkan saya, jangan khawatirkan janji kita. Tapi tolong, beri saya jeda sejenak.”
Randi memintanya untuk tidak khawatir, padahal yang ia lakukan justru menancapkan keraguan baru di hatinya. Ia menjauh darinya, padahal baru saja ia berjanji untuk selalu hadir.
Pelangi yang baru saja aku lihat, kini tertutup awan pekat. Janji yang ku ucap kemarin, kini menjadi bara di lidahku.
Aku tidak bisa menjemputmu, Yuda. Aku tidak bisa membawamu ke dalam badai yang diciptakan oleh kegagalanku sebagai ayah.
Randi memilih sendiri dalam gelap, karena ia tak mau Bu Yuda, yang suci, ikut ternoda oleh aib ini. Kepala ini dihantam ribuan palu, dada ini sesak oleh stres yang mencekik. Maafkan aku, Yuda. Untuk sementara, aku harus kembali ke jurang sepi.
Randi harus menyelamatkan anakku, sebelum ia menyelamatkan cintanya. Ia kini terperangkap dalam masalah besar. Ia terpaksa membatalkan janji dan menjauh dari Bu Yuda, tepat setelah ia memenangkan hatinya, demi menyelesaikan kekacauan yang diciptakan oleh Bayu.