Cinta Dibalik Layar Data

Bab 16. Badai di Gerbang Janji

Keesokan harinya, setelah janji yang Randi ucapkan di depan Grup Pattasa, ia merasa seringan bulu. Kebahagiaan Bu Yuda yang terlihat samar, namun nyata, adalah hadiah terindah atas segala perjuangannya. Randi siap mengatur pertemuan dengan Kak Syarif; ia sudah merencanakan bagaimana membicarakan hal ini dengan Awal dan Arini secara serius, bukan lagi sebagai candaan.Namun, semesta punya skenario yang jauh lebih berat.

Siang itu, ketika Randi baru saja pulang dari sekolah dan bersiap menghubungi Kak Syarif, halaman rumahnya tiba-tiba dipenuhi suara riuh. Tiga orang dewasa dengan wajah tegang, sepasang suami istri dan seorang pria tua yang tampak murka, menerobos masuk tanpa permisi.

“Pak Randi?” tanya pria paruh baya itu dengan nada yang menusuk.

“Iya, saya Randi. Ada apa, Pak? Mohon maaf, ada keperluan apa?” tanya Randi bingung, jantungnya mulai berdebar tak karuan.

“Kami datang menuntut pertanggungjawaban, Randi! seru wanita itu, matanya berkaca-kaca menahan air mata dan amarah.

“Pertanggungjawaban? Maaf, ini soal apa?”

Pria tua itu maju, menatap Randi dengan sorot menghakimi. “Soal anakmu, Bayu! Dia sudah membawa lari anak gadis kami! Bahkan baru-baru ini dia nekat ke kampung halaman kami bersama dua sepupunya, menemuinya tanpa seizin kami!”

Dunia Randi terasa runtuh. Anakku,Bayu? Anak pertamanya, yang masih duduk di kelas 2 SMA, murid di sekolah tempatnya mengajar, berani melakukan kenakalan yang kini berubah menjadi aib dan tuntutan. Darahnya mendidih dan mendingin bersamaan. Bagaimana ia bisa melewatkan ini? Seberapa jauh Randi larut dalam duka Arumi dan pengejaran Bu Yuda, hingga tak melihat bahaya di bawah atap rumahnya sendiri? Rasa bersalah dan kegagalan sebagai ayah menghantam Randi hingga ke ulu hati.

“Tunggu, Pak. Saya tidak tahu menahu soal Bayu pergi ke kampung Bapak…”

“Tidak tahu? Anakmu sendiri yang melakukannya! Anakmu sudah menjanjikan pernikahan pada putri kami, Putri! Dia sudah mencoreng nama baik keluarga kami!” bentak Bapak itu.

Ibu Putri menangis pilu, “Putri sudah memutuskan tidak mau melanjutkan sekolah, Pak! Dia mau menikah dengan anak Bapak! Kami datang meminta kepastian! Kami tidak mau aib ini berlarut-larut!”

Tuntutan itu jelas, sebuah pernikahan yang harus dijalani oleh anaknya yang masih belia.

Randi harus memanggil Bayu. Bayu turun, wajahnya pucat pasi, namun matanya menunjukkan tekad yang keras kepala. Ia mengakui semua perbuatannya, membenarkan bahwa dia dan Putri ingin segera menikah.

Diskusi berubah menjadi perdebatan sengit, penuh emosi yang meledak-ledak. Keluarga Putri menuntut agar Bayu segera menikahi Putri demi menyelamatkan nama baik mereka.

Setelah keluarga Putri pergi dengan janji pertemuan lanjutan, rumah Randi terasa seperti medan perang yang sunyi. Randi menatap Bayu, bingung, kecewa, dan marah, semua bercampur menjadi satu kesakitan.

“Apa yang kamu lakukan, Nak? Kamu masih sekolah! Apa kamu pikir menikah itu main-main?” suara Randi bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.

Bayu hanya menunduk, bibirnya mengucap lirih, “Kami saling cinta, Pak. Kami mau menikah.”

Randi merasa seluruh beban dunia menimpa pundaknya. Ia harus menyelesaikan masalah ini, memastikan masa depan anak sulungnya, melindungi nama baik sekolah, dan menjaga martabat keluarga yang baru saja keluar dari masa duka.

Aku gagal. Randi bergumam dalam hati. Aku gagal sebagai suami mendiang Arumi yang berjanji menjaga anak-anak. Aku gagal sebagai ayah. Bagaimana Randi bisa menata hidup baru bersama Bu Yuda, sementara hidup anak pertamanya hancur berantakan di usia yang terlalu muda?

Bayangan wajah Bu Yuda muncul. Randi baru saja berjanji akan melamarnya! Bagaimana ia bisa membawa masalah seberat ini sebagai ‘hadiah’ lamaran? Randi tidak bisa melibatkannya, tidak boleh membebaninya. Ia harus menyelesaikan badai ini sendirian, dalam keheningan yang menyakitkan.

Randi meraih kepalanya. Pusing. Tekanan pekerjaan, duka yang belum sembuh total, dan kini, kehancuran rumah tangga anak yang masih belia. Stres itu menusuk, membuat Randi ingin lari, ingin kembali ke masa duka yang tenang daripada menghadapi kenyataan ini.

Randi sadar, ia harus menjauh sejenak. Ia tidak bisa menemui Bu Yuda, tidak bisa menepati janji pada Kak Syarif. Ia akan terlihat sebagai pria tak bertanggung jawab yang bahkan tak bisa mengurus anaknya sendiri.

Keesokan harinya, ketika Bu Yuda menelepon, Randi mengangkatnya dengan suara yang dibuat-buat tenang.

“Assalamualaikum, Pak Randi. Bapak masuk hari ini mengajar tidak, ta? Apakah Bapak sudah punya waktu?” tanya Bu Yuda, menyiratkan kerinduan dan keresahan atas ketidakhadiran Randi di sekolahnya.

“Waalaikumsalam, Bu Yuda. Maaf, Bu, saya… saya sedang ada masalah keluarga yang sangat mendesak. Berat sekali. Saya harus fokus menyelesaikan ini dulu.”

Hening di seberang telepon. Hening yang terasa menusuk dan penuh pertanyaan tak terucapkan.

“Masalah berat, Pak?” Bu Yuda terdengar berat.

“Iya, Bu. Masalah anak. Tolong, beri saya waktu. Jangan khawatirkan saya, jangan khawatirkan janji kita. Tapi tolong, beri saya jeda sejenak.”

Randi memintanya untuk tidak khawatir, padahal yang ia lakukan justru menancapkan keraguan baru di hatinya. Ia menjauh darinya, padahal baru saja ia berjanji untuk selalu hadir.

Pelangi yang baru saja aku lihat, kini tertutup awan pekat. Janji yang ku ucap kemarin, kini menjadi bara di lidahku.

Aku tidak bisa menjemputmu, Yuda. Aku tidak bisa membawamu ke dalam badai yang diciptakan oleh kegagalanku sebagai ayah.

Randi memilih sendiri dalam gelap, karena ia tak mau Bu Yuda, yang suci, ikut ternoda oleh aib ini. Kepala ini dihantam ribuan palu, dada ini sesak oleh stres yang mencekik. Maafkan aku, Yuda. Untuk sementara, aku harus kembali ke jurang sepi.

 

Randi harus menyelamatkan anakku, sebelum ia menyelamatkan cintanya. Ia kini terperangkap dalam masalah besar. Ia terpaksa membatalkan janji dan menjauh dari Bu Yuda, tepat setelah ia memenangkan hatinya, demi menyelesaikan kekacauan yang diciptakan oleh Bayu.

Lates Chapters

Bab 30. Panggung Sandiwara di Yayasan Matahari

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden ruang rapat Yayasan Matahari terasa lebih menyengat dari biasanya. Randi duduk di ujung meja oval, memandangi…

Bab 29. Di bawah Naungan Matahari

Hari-hari berikutnya membawa Randi ke tengah pusaran pengakuan. Kemenangan Bintang Timur melawan ancaman penutupan telah menjadi desas-desus manis di kalangan yayasan. Tak lama setelah Randi…

Bab 28. Matahari Terbit Di Atas Puing

Setelah perpisahan dingin dengan Pak Arman, beberapa hari terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca bagi Randi. Pengangguran bukanlah bagian dari rencana yang ia susun…

Bab 27. Harga Sebuah Kebenaran

Setelah malam yang sunyi itu, di mana kehangatan Bu Yuda menjadi satu-satunya perlindungan Randi dari badai ancaman Pak Arman, Randi tahu keputusan sudah tak bisa…

Bab 26. Sekolah Sebagai Arena Politik

Strategi Randi yang disarankan oleh Bu Yuda, bermain sabar, mengurangi visibilitas, dan mengalihkan kredit berjalan cukup efektif selama beberapa minggu. Ketegangan dengan Pak Arman mereda,…

25. Menghadapi Ancaman Dengan Hikmat

Seperti biasanya Randi, menjemput Yuda di sekolah tempat istrinya itu mengajar. wajahnya kusut seperti tak bergairah. Perubahan itu ditangkap oleh Yuda. Dia tahu betul sikap…

24. Intrik di Balik Gerbang Sekolah

Pernikahan Bu Yuda dan Randi ibarat keseimbangan sempurna. Kehangatan rumah tangga menjadi bentengnya. Namun, ketenangan di rumah justru diimbangi dengan gejolak baru di lingkungan kerjanya,…

Bab 23. Garis Batas di Angkasa

Kisah bisik-bisik di meja bundar MKKS, meskipun tidak merusak reputasinya, tetap sampai ke telinga Randi melalui Bu Yuda. Randi mendengarkan laporan istrinya tentang kecemburuan Bu…

Bab 22. Simpang Data dan Kepala Bayangan

Dua tahun telah berlalu sejak Randi, sang penyelamat data, mengambil alih tugas ganda. Dua tahun Randi menari di antara meja-meja: meja kepemimpinan di Bintang Timur,…

Bab 21. Panggilan Dari Angkasa

Bu Yuda adalah istrinya, sosok yang menjaga rumah dan anak-anaknya di tengah badai kehidupan ganda Randi. Ia juga mengajar di SMP/SMA Angkasa, sebuah sekolah kecil…

Bab 20. Janji Yang Di Sempurnakan

Tiga bulan setelah lamaran di Panakkukang, Randi dan Bu Yuda mengikat janji suci. Berbeda dengan harapan banyak orang, Bu Yuda memilih melangsungkan resepsi pernikahan di…

Bab 19. Menepati Janji Suci

Malam itu, setelah berhasil menghubungi Kak Syarif, Randi merasa perlu berbicara langsung dengan Bu Yuda, bukan hanya untuk memberitahu tanggal, tetapi untuk mengucapkan terima kasih…

Bab 18. Membuka Hati Keluarga

Satu bulan telah berlalu sejak pernikahan Bayu. Kehidupan di rumah Randi perlahan kembali normal. Bayu dan Putri, meskipun masih remaja, memulai hidup baru dengan bimbingan…

Bab 17. Ikrar Di Kampung Halaman

Berkat uluran tangan Bu Yuda dan dukungan moral yang ia berikan, Randi mampu menata pikirannya. Uang tunai dari Bu Yuda memang sangat membantu, namun yang…

Bab 15. Tembok Itu Telah Runtuh

Minggu sore itu, semesta seperti bersekutu. Grup Pattasa berencana menjenguk salah satu anak dari anggotanya yang sedang sakit, dan seperti biasa, Randi menjadi pengantar utama…

Bab. 14. Antara Pusara dan Dermaga

Randi tidak memilih melamar dengan tergesa-gesa. Ia memilih jalan yang lebih sulit dan konsisten. Membuktikan keseriusannya melalui tindakan dan kehadiran yang tak pernah absen, sebuah…

Bab 13.Senandung Pelangi yang Menguning

Setelah kepergian Arumi, ruang duka yang Randi dekap perlahan diusik oleh riuh desakan. Godaan untuk melangkah maju datang bukan hanya dari sudut sekolahnya, melainkan merambat…

Bab. 12. Janji di Ujung Perpisahan

Setelah malam-malam panjang Randi membagi energinya antara merapikan administrasi sekolah dan menjaga Arumi, keadaan kekasihnya memasuki fase kritis. Kanker Rahim itu tidak mau berkompromi. Seminggu…

Bab. 11. Nafas Kedua dan Operasi Citra

Randi duduk di mejanya, menatap dashboard Dapodik yang kini berwarna hijau, menandakan validitas sempurna. Ia telah menang di semua lini internal. Dan penutupan SMP Bintang…

Bab 10. Ironi di Ujung Tombak Nasib Operator Sekolah

Keberhasilan Randi sebagai Plt Kepala Sekolah tidak serta merta menghapus ingatannya sebagai operator yang berjuang. Justru, posisi barunya memberinya perspektif yang lebih jelas dan menyakitkan…
error: Content is protected !!