Selir Pangeran Murong

Bagian 015. Racun Kutukan Serigala

Part 15. Racun Kutukan Serigala 

 

Tirai malam yang berwarna hitam pekat, membungkus Istana Xi Wei dengan sempurna. Matahari telah kembali ke peraduan beberapa saat yang lalu. Di langit, sinar bulan yang bulat penuh bersinar terang, tapi tak sepenuhnya berhasil mengusir kegelapan. Meski ada nyala lampion di setiap beberapa langkah yang menerangi Aula utama Paviliun Xing He. Jika dilihat dari kejauhan, ada banyak titik-titik cahaya merah yang berasal dari cahaya lampion. Akan tetapi untuk orang yang terbiasa dengan cahaya yang begitu berlimpah di zaman modern, tentu saja masih tidak cukup terang. Itulah yang dirasakan gadis cantik tersebut jika malam datang. Kendati sudah cukup lama Xin Qian datang ke tempat bobrok ini, tapi tetap saja dia masih terus mengeluhkannya.

 

“QianQian, apa kamu tidak lapar?” Sebuah suara maskulin berhasil memanggil kesadaran Xin Qian yang terbang menjauh.

 

“He’em.” Xin Qian mendeham. Keduanya duduk berhadapan, tersekat sebuah meja yang dipenuhi hidangan. 

Pangeran Ketiga mengajaknya makan malam bersama di Aula Utama. 

 

Ruangan di Aula ini tampak remang-remang dalam penglihatan manusia modern. Hanya nyala lilin besar yang berpendar di setiap sudut ruangan. Di tengah meja juga ada beberapa lilin yang menyala menambah suasana sedikit konyol. Apakah mereka sedang makan malam romantis? Jika dibilang ini adalah candle light dinner, sayangnya bukan sengaja disetting demikian. Suasana romantis ini terjadi, berangkat dari keterbatasan penerangan. 

 

Sekarang, jangan bertanya tentang lampu pijar apakah sudah ditemukan oleh Thomas Alva Edison atau belum, karena jawabannya sudah bisa dipastikan. Omong-omong tentang lampu pijar, betapa Xin Qian merindukan ruangan yang terang benderang. Dia jadi teringat kembali pada baterei laptop dan ponselnya yang low. Hatinya kembali menjadi kesal.

 

“Ayo makan, kalau sudah dingin tidak enak!” Xuan Yuan menjepit daging dan meletakkan di mangkuk gadis yang duduk melamun di seberang meja. Biasanya gadis cantik ini sangat antusias saat waktu makan tiba. Sekarang dia malah duduk melamun tak menggerakkan tangan sama sekali. Itu sungguh aneh. Dari tadi, dia hanya duduk menatap nanat berbagai macam hidangan yang melimpah di meja bundar.

 

“Aku … ummp, aku sedang berpikir tentang penerangan ruangan ini. Jika teknologi sudah lebih maju, kita tidak membutuhkan begitu banyak lilin. Sepertinya itu akan bisa menghemat pengeluaran Istana Xi Wei.” Xin Qian berkata asal. Dia merasa begitu jumud karena terlalu lama tidak melakukan sesuatu yang menarik. Seharian hanya berjalan-jalan di Paviliun tanpa melakukan hal berarti membuatnya begitu bosan. Tak ada kemajuan dengan mesin waktunya.

 

Xuan Yuan mengerutkan dahi. Dia tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Xin Qian. 

 

“Jika tidak menggunakan lilin, kita akan memakai apa?” Xuan Yuan bertanya penasaran.

 

“Aaa, sudahlah, sebaiknya tidak dibicarakan sekarang. Aku belum tahu bisa menciptakan lampu atau tidak di tempat primitif ini.”

 

Apakah gadis ini adalah monster? Dia sudah begitu hebat mempunyai kemampuan menciptakan senjata surgawi yang begitu hebat, sekarang malah bicara tentang penerangan yang tidak membutuhkan lilin. Sekarang, dia malah menyebut tempat ini primitif? Apa-apaan ini?

 

“Apa maksudmu dengan menyebut tempat ini primiti—“

 

“A Yuan, ini banyak sekali.” Xin Qian mulai menghitung berapa jumlah menu yang disajikan di meja.

 

Sepertinya, keluhannya tentang pemborosan yang dilakukan orang-orang zaman kuno dalam hal menu makan, benar-benar tidak berguna. Mereka hanya makan berdua, tapi ada tiga puluh menu yang tersusun di atas meja. 

 

“QianQian, kamu harus makan yang banyak!” Suara lembut Xuan Yuan membelai indra dengar Xin Qian.

 

Pria tampan yang saat ini mengenakan jubah hitam dipadukan dengan bahan brukat berwarna merah terlihat begitu agung dan bermartabat. Dia sama sekali tidak mendengarkan nada protes Xin Qian tentang hidangan makan malam. Pria itu justru menambahkan potongan daging ke mangkuk Xin Qian penuh perhatian.

 

“A Yuan, ada begitu banyak makanan, apakah kita bisa menghabiskannya?” Xin Qian terpaksa mengungkapkan keresahannya.

 

Kenapa harus seboros ini dalam sekali makan? Meski Xin Qian gemar makan enak, tapi jika sebanyak ini termasuk pemborosan. Xuan Yuan yang duduk di depannya tersenyum lebar mendengar keluhan Xin Qian.

 

“QianQian, kamu harus makan semua makanan kualitas terbaik, supaya otakmu tidak menjadi bodoh.” 

 

“Ckck, kapan aku bodoh? Bukankah aku sangat pintar, hmm?” balasnya cemberut.

 

Xuan Yuan hanya tertawa kecil sambil menambahkan sayur ke mangkuk Xin Qian lagi. Lalu, pria itu menjepit paha ayam dan meletakkan di mangkuk gadis cantik itu. Pria ini sangat perhatian. Adegan yang cukup menyentuh hati Xin Qian. Kehangatan seperti ini, belum pernah dirasakan gadis ini di dunia modern. Bertahun-tahun ini, dia hidup sendiri dalam kesepian. Hidupnya hanya berisi misi, misi dan misi.

 

“A Yuan, kamu juga harus makan yang banyak.” Senyum Xin Qian melebar. Dia membalas perlakuan Xuan Yuan, memberikan dua potong daging pada pria itu. 

 

Shu Ling menyaksikan keakraban kedua majikannya dengan wajah memerah. Selama menjadi pelayan di Istana Xi Wei, ini adalah pertama kalinya dia melihat Pangeran Ketiga memperlakukan wanita dengan lembut. Menepis anggapan semua orang bahwa, sang Pangeran tidak menyukai wanita.

 

Tiga pengawal yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa menyaksikan dalam diam. Meski menyimpan banyak keluhan pada Xin Qian, tetap saja mereka tidak berani mengkritik. Makin lama, Pangeran Ketiga sudah makin parah terinfeksi racun cinta dari gadis yang begitu diwaspadai Yunxi ini.

 

“QianQian, kelak, kita akan membesarkan anak-anak di tempat ini.” 

 

Xin Qian, “…”

 

‘Apa pria ini sudah gila? Setiap hari hanya membicarakan pernikahan dan anak? Siapa yang mau menikah denganmu!’ Xin Qian kembali berkicau dalam hati.

 

Lain kali, dia harus mendesak Xuan Yuan untuk segera menemui Kaisar. Terlalu lama tinggal di tempat ini, hanya akan membuat Xin Qian gila.

 

“Bagaimana menurutmu?” Xuan Yuan masih mengejar.

 

“A Yuan, terlalu banyak bicara saat makan itu bisa membuatmu mati muda, tahu tidak?” sahutnya setengah kesal.

 

Jujur, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa setiap kali Xuan Yuan membicarakan masa depan dengannya. Jika menolak, itu pasti bukan hal baik. Pria ini sangat berkuasa di tempat ini. Xin Qian menimbang semuanya dengan benar sebelum bertindak.

 

“Baiklah, kita bicara lain kali,” sahutnya menahan diri. Senyuman di wajah pria tampan itu memudar. Perubahan yang sangat kentara. Acara makan malam berlangsung tanpa perbincangan. Situasi yang jauh lebih baik bagi Xin Qian. Telinga kesemutan jika harus mendengar Xuan Yuan bicara tentang pernikahan dan anak-anak. Itu sangat menjengkelkan. 

 

Sesekali, Xuan Yuan mencuri pandang ke arah Xin Qian yang sibuk menikmati makanannya. Shu Ling dan tiga pengawal diam-diam menahan napas. Mereka mengutuk gadis sialan yang tidak tahu sopan santun tersebut. Jika yang mengatakan itu orang lain, Pangeran Ketiga pasti sudah memotong lidah orang kurang ajar itu. Sejauh ini, hanya Xin Qian seorang yang berani bersikap seperti itu pada Pangeran Ketiga. Bukannya marah, sang Pangeran malah menuangkan teh panas untuk Xin Qian. Dia mengangsurkan cangkir porselen itu dengan lembut.

 

“QianQian, minumlah!” ujarnya lembut.

 

“Terima kasih.” 

 

Ketika makan malam telah usai. Shu Ling dan Ming Ye sibuk membereskan meja. Dua majikan masih berbincang di sana. 

 

“A Yuan, kapan kita menghadap Kaisar?” tanya Xin Qian tak sabar.

 

“Itu … aarrghh….”

 

Suara erangan kesakitan mengalihkan perhatian semua orang. Yunxi dan Xue melesat mendekat dengan panik. Melihat raut wajah majikannya yang kesakitan. Dada mereka seperti akan meledak karena takut dengan racun yang masih bersembunyi dengan rapi di bagian tubuh Xuan Yuan.

 

“Yang Mulia!” Xue dan Yunxi sigap menopang tubuh sang Majikan. Tubuh Xuan Yuan menjadi kaku. Wajahnya terlihat sangat mengerikan. Keduanya sudah bisa memastikan bahwa racun sudah mulai bereaksi.

 

Hal inilah yang dikhawatirkan oleh tiga pengawal pribadi Xuan Yuan. Meski sudah berhasil dipadatkan, tapi racun itu masih ada di tubuh sang Pangeran. Sudah satu pekan ini, tiga pengawal itu mencoba membujuk Xuan Yuan untuk diperiksa tabib. Sialnya, pria bermahkota giok itu selalu menolak.

 

“Yang Mulia mengalami serangan balik dari racun di dalam tubuhnya,” ucap Xue khawatir.

 

“Cepat panggil Tabib Yang!” titah Yunxi pada Ming Ye yang baru saja kembali.

 

“Baik.”

 

Tanpa menunggu komando yang kedua kali, Ming Ye sudah menghilang dari tempatnya. 

 

Sementara Xue dan Yunxi berjalan tergesa menuju ruangan pribadi Xuan Yuan, sambil memapah tubuh Pangeran Ketiga yang tidak berdaya.

 

“Kita bawa ke ruangan pribadi Yang Mulia.” Urat di wajah dan leher Murong Xuan Yuan terlihat menonjol karena menahan sakit yang luar biasa. Wajah tampannya terlihat sangat mengerikan. Dia mengalami serangan balik dari racun yang ada di dalam tubuhnya. Sejak mereka menjadi pengawal pribadi Pangeran Ketiga, ini adalah pertama kalinya mereka melihat majikannya berada di titik kritis seperti ini.

 

Xin Qian yang saat ini berada di sana berjalan mengekori Xue dan Yunxi yang memapah Xuan Yuan. 

 

“Xue, apa yang terjadi dengan A Yuan?” tanyanya penasaran.

 

Tadi mereka makan malam bersama, pria tampan ini tidak tampak sakit sama sekali. Kenapa tiba-tiba ada kejadian seperti ini?

 

Xue tidak sempat menanggapi pertanyaan Xin Qian. Dirinya terlalu fokus berpikir tentang tindakan apa yang akan mereka ambil selanjutnya. 

 

Dalam situasi seperti ini, dia akan mengabaikan pertimbangan yang pernah disampaikan Xuan Yuan sebelumnya. Satu-satunya hal yang terpikirkan oleh Xue adalah bagaimana cara untuk menyelamatkan Xuan Yuan.

 

“Yunxi, ada apa dengan A Yuan?” Tak mendapatkan jawaban dari Xue, Xin Qian beralih bertanya pada Yunxi. Yunxi yang dipanggil hanya menoleh sekilas. Dia tidak terlalu suka dengan keberadaan wanita ini di paviliun Xing He. Jika bukan karena ini adalah keputusan Xuan Yuan, dia pasti sudah mengusirnya pergi ke Paviliun Mei Hua sejak awal. 

 

“Nona Xin Qian, Anda sebaiknya kembali ke ruangan Anda.” Yunxi mengusirnya pergi.

 

Ini adalah titik terendah dari Pangeran Ketiga. Hanya tiga pengawal yang mengetahui tentang racun yang ada di tubuh Xuan Yuan. Jika berita ini tersebar, entah konsekuensi apa yang harus mereka dapatkan saat ini. Musuh sebenarnya masih bersembunyi di dalam kegelapan. Motif apa yang disimpan oleh penjahat itu saat melukai Xuan Yuan, mereka tidak tahu. Samar-samar, Yunxi mencurigai Xin Qian menjadi salah satu dari orang yang menginginkan nyawa Xuan Yuan.

 

“Biar aku lihat dulu, apa yang terjadi. Aku akan memeriksa A Yuan.” Xin Qian menatap Yunxi serius.

 

“Nona Xin Qian, Anda harus tahu batasan!” Yunxi tidak suka Xin Qian terlalu lancang ikut campur dalam masalah mereka.

 

“Aku hanya berniat baik untuk memeriksa keadaan A Yuan,” bela Xin Qian kesal.

 

Pria ini benar-benar tidak menyukainya. Sejak mereka bertemu sampai hari ini, Yunxi masih selalu menatapnya penuh curiga. Tidak mengapa dia bersikap seperti itu saat keadaan tidak darurat. Seharusnya dia bisa membedakan situasi. Xin Qian merasa sangat kesal.

 

“Apa kamu akan membiarkan A Yuan mati?”

 

“Lancang!” Yunxi meraung mendengar ucapan Xin Qian yang kejam. 

 

Wanita ini sangat keterlaluan. Jika tidak dijatuhi hukuman, dia akan semakin semena-mena. Yunxi tidak bisa lagi menahan kesabaran. Pria tampan ini adalah pelindungnya di tempat ini. Sampai dia mendapatkan hadiah dari Kaisar, Xuan Yuan tidak boleh mati. Jadi, Xin Qian harus menyelamatkannya.

 

“Kalau begitu izinkan aku memeriksa dulu!” Xin Qian mengikuti mereka. Bukannya takut, Xin Qian malah semakin merangsek mendekat. Dia sangat khawatir dengan keadaan Xuan Yuan. 

 

“Apakah kamu tabib? Kami sudah memanggil Tabib Kekaisaran. Nona Xin Qian perlu repot-repot.” Xue mencoba berkata lebih bijak. 

 

Kondisi Xuan Yuan saat ini tidak boleh diketahui orang luar. Mereka belum berhasil mengkonfirmasi latar belakang Xin Qian. Masih ada kecurigaan di dalam hati mereka. Akan berbahaya jika Xin Qian mengetahui kelemahan Pangeran Ketiga. Apalagi jika berita ini sampai menyebar keluar dari Istana Xi Wei. 

 

“Tadi kalian bilang A Yuan terkena racun, aku sedikit tahu tentang berbagai jenis racun. Di Sekte Emei kami, Guru telah membekali kami—“

 

“QianQian, periksa aku!” Terdengar perintah Xuan Yuan yang bergetar menahan rasa sakit.

 

Xue dan Yunxi, “…”

 

‘Yang Mulia, bagaimana kalau wanita ini adalah mata-mata musuh? Bukankah nyawa Anda dalam bahaya.’

 

“Minggir! Apa kalian tidak mendengar perintah A Yuan?” Xin Qian merangsek masuk ke ruangan pribadi Xuan Yuan.

 

Xue dan Yunxi, “kamu….”

 

Keduanya menahan kesal. Gadis ini sangat kurang ajar. Mentang-mentang mendapatkan kasih sayang Pangeran Ketiga, dia bisa bersikap galak pada mereka.

 

Xin Qian adalah jenius di zaman modern. Sebelum masuk di organisasi pembunuh, dia telah berlatih di alam liar begitu lama. Pengetahuannya begitu berlimpah tentang berbagai jenis tanaman beracun dan tanaman obat. Organisasi ini sangat kejam, tidak akan menerima orang yang tidak mempunyai kualifikasi bertahan hidup di dalam hutan liar.

 

Untuk bisa bertahan hidup, dia harus mengenali berbagai tanaman yang bisa dimakan. Mau tidak mau, dia memperlajari semua jenis tanaman yang ditemuinya. Ada berbagai macam tanaman racun juga tanaman obat herbal yang ditemuinya.

 

Kadang, dia menggunakan jenis racun aneh yang berhasil diraciknya untuk membunuh orang. 

 

“Buka bajunya!” titahnya pada Yunxi dan Xue yang berada di sana.

 

“Dasar mesum!” 

 

Wanita tidak tahu aturan ini meminta dua pria itu melepaskan baju Xuan Yuan dengan begitu santai, sungguh membuat wajah Xue dan Yunxi memerah karena marah. Gadis ini tidak ingat batasan.

 

Xin Qian, “…”

 

‘Ada apa lagi? Bagaimana caranya untuk memeriksa jika dia tidak melihat lukanya?’ Xin Qian sangat kesal dengan aturan ketat di zaman kuno ini. Apa mereka sangat bodoh? Xin Qian bernyanyi di dalam hati.

 

Di zaman ini, seorang wanita dan pria masih ada batasan. Jangankan bersentuhan kulit, saling melihat tubuh saja sudah dianggap melanggar aturan. Hanya pria yang boleh berprofesi sebagai tabib, karena batasan ini. Gadis yang bisa dengan bebas menyentuh dan melihat tubuh pria tanpa aturan seperti ini pastilah bukan gadis baik-baik.

 

“Aku mau memeriksa luka! Bagaimana caranya jika tidak dibuka bajunya?” Xin Qian menahan kemarahannya.

 

Yun dan Xue mendengus sebal. Namun ucapan gadis itu masuk akal, mereka terpaksa menuruti perintah Xin Qian.

 

“Lihatlah!” Xuan Yuan menunjukkan luka di lengannya kepada Xin Qian.

 

Yunxi dan Xue, “…”

 

‘Yang Mulia, sebelumnya Anda menolak diperiksa oleh Tabib. Sekarang meminta Nona Xin Qian memeriksa. Apakah gadis ini mempunyai kualifikasi untuk memeriksa Anda? Apakah Anda benar-benar telah dibutakan oleh cinta pada gadis ini?’ Dua pengawal ini diam-diam mengeluh.

 

Xuan Yuan telah bersedia dengan senang hati diperiksa gadis ini, dia bisa apa? Saat ini, dia harus bergerak cepat. Dia bertaruh untuk mempercayai Xin Qian sekali lagi.

 

Gadis itu tidak memedulikan bagaimana anggapan Xue dan Yunxi, dia segera memeriksa luka Xuan Yuan ketika apa yang dimintanya telah siap.

 

Xin Qian mencium darah di lengan Xuan Yuan. 

 

“Ini … aroma bunga monkshood,” gumam Xin Qian pelan.

 

Bagaimana bisa A Yuan bisa terkena racun ini? Sejak kapan?

 

“Kapan A Yuan terserang racun ini?” tanya Xin Qian pada Yunxi.

 

Yunxi terlihat enggan menjawab. Namun, pada akhirnya dia juga menjawab. 

 

“Malam terakhir di perbatasan selatan sebelum kita berangkat ke sini, ada anak panah yang berhasil melukai lengan Yang Mulia,” balasnya.

 

“Sial, bukankah itu sudah lebih dari sebulan? Bagaimana bisa kalian membiarkan racun ini begitu lama di tubuh A Yuan?” sentaknya kaget bercampur marah.

 

Bagaimana bisa pria ini membiarkan racun ini begitu lama di tubuhnya? Apakah mereka tidak tahu, bunga aconitum napellus ini menghasilkan racun yang sangat mematikan? Tidak disangka orang zaman kuno bisa begitu hebat. Dengan kemampuan tenaga dalamnya dia bisa memadatkan racun supaya tidak menyebar.

 

Tubuh pria ini kuat sekali. Setelah begitu lama, baru menampakkan gejala keracunan.

 

Yunxi menghela napas menampakkan ada penyesalan yang dalam.

 

“Saat itu, Yang Mulia sudah minum penawar dan memadatkan racun di dalam darahnya dengan tenaga dalam supaya tidak menyebar.” Tadinya dia mengira, Murong Xuan Yuan sudah baik-baik saja setelah minum penawar racun. Ternyata racun masih bersembunyi dengan begitu baik di tubuhnya.

 

Xin Qian membuang napas gusar.

 

“Siapkan air bersih, cuka, pisau….” Xin Qian membutuhkan beberapa barang. Xue bergegas untuk menyiapkan apa yang diminta gadis ini tanpa bertanya.

 

“Nona, Anda tahu jenis racun ini?” tanya Xue penasaran.

 

Xin Qian mengangguk. Ini adalah racun dari bunga moonkshood. Salah satu jenis racun yang mematikan. Sering juga disebut racun kutukan serigala. Di zaman modern, racun ini biasa disebut racun aconite. Jika seseorang terifeksi dalam dosis tertentu, saraf akan lumpuh bahkan lebih dasyat lagi denyut jantung akan berhenti dalam hitungan jam.

 

“Seharusnya, ini adalah jenis racun kutukan serigala,” sahutnya penuh penyesalan.

 

“Kutukan serigala?” Xue dan Yunxi bertanya bersamaan. Xuan Yuan tidak banyak berkomentar, meski dia masih bisa menyimak pembicaraan mereka. Racun ini telah membuatnya kehilangan tenaga.

 

“Iya, bisa juga disebut racun aconite, kalau aku tidak salah racun ini biasanya dibubuhkan pada anak panah.” Xin Qian menyebut dengan detail penggunaan racun jenis ini.

 

“Bagaimana Anda bisa tahu semua ini?” tanya Yunxi curiga.

 

“Jenis racun kutukan serigala ini biasanya dibubuhkan di senjata,” sahutnya.

 

Xin Qian tahu arti tatapan Yunxi padanya. Pengawal itu mencurigainya. 

 

Tiba-tiba gadis itu merasa menyesal karena tanpa sengaja telah mengekspos kehebatannya. Padahal dia sudah berjanji tidak akan melibatkan diri dengan urusan orang-orang zaman kuno.

 

“Saat masih di sekte, adik seperguruanku pernah terkena jenis racun ini.” Terpaksa Xin Qian berbohong supaya Yunxi tidak semakin mencurigainya.

 

“Apakah Anda bisa menyembuhkan adik seperguruan Anda itu, Nona?” tanya Xue bersemangat. 

 

Sepertinya, pria ini sudah mulai mempercayai Xin Qian.

 

“Pertama, racun ini harus di keluarkan.” 

 

“Bagaimana caranya?” tanya Xue antusias.

 

“Dengan operasi. Aku akan menyayat di bagian sini, membuang racun dan membersihkannya.”

 

Yunxi dan Xue, “…”

 

Dua pengawal itu tersentak kaget. Mereka menatap Xin Qian seperti melihat monster. Wanita ini sebenarnya siapa? Mana ada seorang wanita yang memiliki mental sekuat itu. Dia begitu ringan berkata akan menyayat kulit dan memotong bagian tertentu. Lalu membuangnya begitu saja tanpa rasa takut sedikit pun. Dia bahkanmengatakan kalimat sekejam itu tanpa berkedip.

 

“Bagaimana lagi, tidak ada cara lain lagi!” ucapnya ringan.

 

Xue dan Yunxi saling pandang. Sebelum keduanya menatap Xuan Yuan bersamaan.

 

“Lakukanlah!” ucap Xuan Yuan tanpa ragu.

 

“Yang Mulia, ini….” Xue dan Yunxi masih menyimpan keraguan dengan kemampuan Xin Qian dalam hal ini.

 

Benarkah gadis ini juga menguasai ilmu pengobatan? Sebelumnya, dia sudah memperlihatkan kehebatannya dalam membuat senjata yang belum pernah dikenal di zaman kuno. Sekarang dia mempunyai pemahaman mendalam tentang racun. 

 

Xin Qian mendengus pelan.

 

Seandainya yang terkena racun ini bukan A Yuan, dia tidak akan peduli. Pria tampan ini adalah induk semangnya. Bisa dibilang, Xin Qian hanya bisa hidup dengan menjadi parasit di tubuh Xuan Yuan. Mana mungkin dia bisa membiarkan induk semangnya mati sebelum dia mendapatkan hadiah dari Kaisar?

 

“Jangan menunggu sampai A Yuan sekarat, Yunxi!” Xin Qian tidak bisa menunggu lebih lama.

 

Xin Qian mulai melakukan sterilisasi pisau yang akan digunakannya untuk menyayat lengan Xuan Yuan. 

 

“Tahan sebentar, ini akan sangat sakit!” ucap Xin Qian pada pemuda tampan itu lembut.

 

Xuan Yuan mengangguk patuh. Belum pernah dia sepatuh ini pada seseorang. Xue dan Yunxi semakin tidak berdaya antara khawatir dengan tindakan yang dilakukan Xin Qian ini akan mencelakai majikannya, juga kh

Lates Chapters

Bagian 029. Mengatur Kamar untuk Mereka

Part 29. Mengatur Kamar untuk Mereka   Di Paviliun Mei Hua, sekumpulan gadis muda dan cantik yang berjumlah dua puluh orang sedang berbicara serius di…

Bagian 028. Pangeran Kedua

Part 28. Pangeran Kedua   Suasana sedikit canggung. Peristiwa hari ini memang terjadi di luar ekspektasi. Huantian yang berniat baik menghibur Ying Lan, tapi kini…

Bagian 027. Tiga Pangeran Minum Teh Bersama

Part 27. Tiga Pangeran Minum Teh Bersama   Putra Mahkota Da Liang, Murong Huantian mengibaskan jubahnya ketika keluar dari kereta kuda. Pangeran Pertama saat ini…

Bagian 026. Permaisuri Xin

Part 26. Permaisuri Xin   "A Yuan, aku ... lapar." Xin Qian memasang wajah memelas. Gadis itu baru saja selesai berhias, tapi Pangeran Ketiga sudah…

Bagian 025. A Yuan Marah

Part 25. A Yuan Marah     "Hiyaaa! Hiyyaaa!"   "Xiao Shan, maaf merepotkanmu untuk terus berlari. Kita tidak boleh terlambat sampai Ibukota!" Wajah cantik…

Bagian 024. Bunga Krisan Dewa

Part 24. Bunga Krisan Dewa   Berita tentang harta karun Gunung Fenghuang dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Da Liang seperti penyebaran wabah penyakit. Ratusan…

Bagian 023. Gunung Fenghuang

Part 23. Gunung Fenghuang   Pertarungan masih berlangsung meski tidak berimbang. Dengan kemampuan mereka yang bisa dibilang setara. Jika satu lawan satu, Xin Qian masih…

Bagian 022. Bertemu dengan Pembunuh

Part 22. Bertemu dengan Pembunuh   Lampion merah yang sengaja dipasang di setiap sudut aula menerangi sepasang insan yang duduk berhadapan terhalang meja yang dipenuhi…

Bagian 021. Berani Meninggalkanku?

Part 21. Berani Meninggalkanku?     A Yuan menatap dingin punggung Huantian yang melewati jembatan melengkung di atas danau buatan. Tak ada kehangatan di dalamnya…

Bagian 020. Dua Bersaudara yang Tidak Akur

Part 20. Dua Bersaudara yang Tidak Akur     Istana Fengyi Permaisuri Lao Yin Fang   Putra mahkota duduk dengan malas di hadapan Permaisuri Lao…

Bagian 019. Lamaran

Part 19. Lamaran   Kereta kuda telah sampai di Istana Xi Wei, keduanya menghadap Selir Hui Yuan Shi. Xin Qian ingin mengucapkan terima kasih, Selir…

Bagian 018. Masuk Istana

Part 18. Masuk Istana   Langkah kaki gadis petualang waktu itu terayun menuju aula utama setelah menghabiskan makan siangnya. Hari ini dia harus merawat luka…

Bagian 017. Jasa Kedua

Part 17. Jasa Kedua     Ada yang bilang bahwa dinding-dinding Istana mempunyai mata dan telinga. Ternyata ucapan itu bukanlah omong kosong belaka. Meskipun tiga…

Bagian 016. Operasi

Part 16. Operasi      Seorang pria berseragam tabib istana berjalan tergopoh-gopoh sambil menggendong kotak obat milikinya. Beberapa kali, Tabib Yang melirik Ming Ye, setidaknya…

Part 014. Sebuah Harapan

Part 14. Sebuah Harapan   Xin Qian berjalan sambil menggerutu. Pelayan kecilnya ini benar-benar polos. Itu sangat menyebalkan. Dalam perjalanan kembali, Shu Ling masih saja…

Part 013. Paviliun Mei Hua

Part 13. Paviliun Mei Hua   Kedatangan Shu Ling di Aula samping ini menjadi hiburan tersendiri bagi Xin Qian. Minimal, dia bisa menghilangkan suasana hatinya…

Part 012. Mulai Bergerak

Part 12. Mulai Bergerak   Menuju aula utama paviliun Xing He, mereka harus melewati danau yang cukup besar. Bunga teratai tumbuh begitu indah di sana.…

Part 011. Paviliun Xing He

Part 11. Paviliun Xing He   Seorang wanita dengan pakaian brukat dengan warna perpaduan biru muda dan biru tua duduk tampak begitu megah di aula…

Part 010. Istana Xi Wei

Part 10. Istana Xi Wei   Dua puluh ribu pasukan Da Liang yang telah berjalan selama tiga puluh hari dari perbatasan semakin bersemangat. Pasalnya, hari…

Part 009. Ibukota Hangzhou

Part 9. Hangzhou    Berita tentang kepulangan dua puluh ribu pasukan Da Liang dari perbatasan sudah sampai di telinga Kaisar. Meskipun pasukan besar itu baru…
error: Content is protected !!