Selir Pangeran Murong

Part 012. Mulai Bergerak

Part 12. Mulai Bergerak

 

Menuju aula utama paviliun Xing He, mereka harus melewati danau yang cukup besar. Bunga teratai tumbuh begitu indah di sana. Istana Pangeran Ketiga ternyata semegah ini. Jika hidup di dunia modern, pria tampan ini pasti seorang triliuner. Xin Qian menatap takjub pemandangan ini.

 

Tak heran ada begitu banyak wanita yang rela berbagi suami dengan para wanita lainnya di Paviliun Mei Hua. Mereka secara sukarela datang berbondong-bondong untuk mengikuti ujian seleksi demi menjadi selir pria ini. Serta merta, Xin Qian teringat dengan rombongan Lin Wei dan Wang Yue yang tadi menyambut mereka.

 

“A Yuan, kamu sangat populer di Hangzhou. Dari dua puluh calon selir tadi, bukankah Nona Lin Wei dan Wang Yue yang paling cantik?” tanyanya ketika mereka berjalan di pinggir danau.

 

“Jangan bicarakan mereka. Aku tidak peduli dengan mereka semua!” ketusnya.

 

Xin Qian bisa dengan jelas melihat betapa dua gadis itu memiliki penampilan fisik yang sangat menonjol. Sepasang mata phoniex dipadu dengan hidung mancung dan dagu lancip sungguh memesona. Bisa-bisanya pria ini tidak tertarik.

 

“Kamu mengabaikan begitu banyak keindahan, apa kamu tidak menyesal?”

 

Bukannya menjawab, Xuan Yuan malah membuang wajah ke arah lain dengan kesal.

 

Di pinggir danau, pucuk daun willow mulai bersemi. Bunga persik dan bunga plum bermekaran indah memanjakan pandangan mata. Pemandangan musim semi di Istana Xi Wei laksana hamparan karpet bunga yang indah. Taman Bunga itu diatur sedemikan rupa membuat tatap mata Xin Qian takjub tanpa henti.

 

Udara musim semi yang hangat berembus menerbangkan rambut keduanya, lembut.

 

“Mengambil selir, bukankah itu keharusan di Istana ini?” ulang Xin Qian.

 

“Aku akan hidup dengan aturanku sendiri. QianQian, di Negara ini tidak ada yang berani memaksaku.”

 

“Benarkah?” Xin Qian tertawa mendengar ucapan sombong pria tampan itu.

 

“Hmm, kamu akan melihatnya dengan baik.” 

 

Keduanya melewati jembatan melengkung menuju sebuah pulau buatan yang berada di tengah danau. Di pulau buatan itulah aula utama Paviliun Xing He berdiri dengan kokoh.

 

“A Yuan, kenapa paviliun ini sangat sepi?” tanya Xin Qian heran. Aula utama Paviliun Xing He terlihat begitu sepi. Tak ada lalu lalang pelayan seperti di Paviliun Lien Hua tadi.

 

“Paviliun Xing He adalah area terlarang, tidak boleh ada orang yang masuk tanpa izin dariku,” timpal Xuan Yuan datar. Pria ini sepertinya menyukai keheningan. Xin Qian hanya mengangguk, meski tak paham.

 

Dari aula utama, Xin Qian melempar pandangan pada taman bunga yang difungsikan untuk pemisah antara aula utama dengan bangunan lain yang ada di sana. 

 

Di musim semi ini, semua bunga di taman samping aula utama ini sudah bermekaran. Xin Qian mulai mengabsen satu persatu berbagai jenis bunga. Mulai dari peony, plum, krisan, magnolia dan bunga osmanthus semua tumbuh memperindah tempat itu.

 

Jika didefinisikan, mungkin ini adalah gambaran surga yang begitu indah. Bahkan dia mempunyai danau pribadi di paviliunnya. Sungguh pemborosan.

 

Tiga pengawal mengekor di belakang mereka tak berani berkomentar.

 

Sebelum melanjutkan langkah, Xuan Yuan menurunkan perintah kepada pengawal pribadinya.

 

“Ming Ye, siapkan pelayan wanita untuk QianQian!” titahnya.

 

Tiga pengawal itu saling pandang beberapa saat. Di paviliun ini mana pernah dimasuki pelayan wanita sebelumnya. Kedatangan Xin Qian di Istana Xi Wei telah merubah segalanya.

 

Sebesar inikah virus Xin Qian menginfeksi tuannya? Mereka mengeluh di dalam hati.

 

“Baik.” Ming Ye segera meninggalkan tempat selepas memberi hormat pada Pangeran Ketiga. Meski menyimpan keluhan, mana berani dia tidak menaati perintah.

 

“QianQian, jika kamu butuh apapun, kamu bisa mengatakannya padaku.” Murong Xuan Yuan berkata lembut. 

 

“Baiklah, aku tidak akan sungkan memintanya darimu,” balasnya gembira.

 

Pria ini sungguh menepati janji. Itu sangat bagus. Di luar sana, ada banyak sekali wanita yang memujanya. Alih-alih dia menghiraukan mereka, pangeran ini malah menyukai Xin Qian. Setidaknya, sebelum dia mendapatkan hadiah dari Kaisar, dia harus mengandalkan Xuan Yuan.

 

Melihatnya, Yunxi dan Xue hanya bisa saling pandang. Mereka ingat bagaimana majikannya tadi mengabaikan para calon dengan begitu kejam. Sekarang, dia sangat memanjakan Xin Qian. Bahkan menyediakan pelayan pribadi untuknya. Benar-benar membuat iri.

 

“Yunxi, Xue. Kalian boleh pergi!” Xuan Yuan mengibaskan tangannya.

 

Xuan Yuan ingin mengantar Xin Qian ke aula samping sendiri tanpa ada gangguan orang lain. Dua pengawal itu terpaksa mundur sambil mengeluh dalam hati.

 

“Baik.” Xue dan Yunxi berjalan meninggalkan mereka. Keduanya kembali ke aula utama dan menunggu perintah selanjutnya dari Pangeran Ketiga.

 

Sementara Xuan Yuan dan Xin Qian mengayunkan langkah beriringan menuju aula samping. Keduanya berjalan melewati kolam ikan dan taman bunga yang dijadikan sebagai pembatas antara aula utama yang dijadikan tempat tinggal Murong Xuan Yuan dengan aula samping. 

 

“QianQian, kamu akan tinggal di tempat ini. Jika membutuhkan sesuatu, katakan padaku. Aku akan segera datang, mengerti?” Sekali lagi, pria itu mengulangi kalimat yang sama. 

 

“A Yuan, kamu sangat manis.” Hanya mendapatkan pujian seperti itu dari Xin Qian, A Yuan sangat puas.

 

Xin Qian tersenyum lebar. Pria ini sangat baik padanya. Meski A Yuan telah berbuat seenaknya sendiri dengan memberitahu semua orang bahwa dia adalah calon permaisurinya, tapi Xin Qian masih bisa menolerir. Apalagi, dia masih berguna baginya sebelum Xin Qian mendapatkan hadiah dari Kaisar.

 

“QianQian, tetap di sisiku. Aku akan melindungimu,” ucapnya sekali lagi.

 

Belum sempat Xin Qian menjawab, Xuan Yuan sudah kembali melanjutkan kalimatnya.

 

“Kita akan bersama menikmati buah persik dua musim ke depan.”

 

Xin Qian, “…”

 

‘Sialan. Ini adalah kalimat yang ketiga kalinya. Apakah pria ini benar-benar akan menahannya di tempat ini sampai dua musim ke depan?’ Xin Qian mengutuk dalam hati.

 

“QianQian.”

 

“Hmmp.”

 

“Berjanjilah padaku!” pintanya. Ucapan Xin Qian di dalam kereta tadi kembali terngiang-ngiang di telinga pangeran tampan ini. Dia tidak akan rela membiarkan wanita ini pergi darinya. 

 

“Kamu bebas melakukan apapun di tempat ini. Bagaimana?” Xin Qian bebas melakukan apapun di paviliun ini. Tak boleh ada yang menyinggungnya. Xuan Yuan akan memperlakukan Xin Qian dengan sangat baik supaya gadis ini betah tinggal di istana. Jika Xin Qian merasa nyaman, bukankah dia tidak akan berpikir untuk meninggalkan dirinya?

 

Aah, pria ini kenapa semakin tidak normal? Xin Qian merasa sangat tidak berdaya. Belum menjadi apa-apanya, dia telah mendominasi dirinya.

 

“A Yuan, aku sangat mengantuk,” ucapnya mengalihkan perhatian.

 

“Baiklah, istirahatlah!” Ada rasa kecewa melintas dalam hati pemuda itu karena tak mendapati jawaban apapun dari Xin Qian. Namun, dia tidak akan tergesa. A Yuan akan bersabar menunggu sampai gadis itu siap.

 

Pangeran Ketiga bergegas kembali ke aula utama. Ketika Xuan Yuan sampai di sana, Xue dan Ming Ye sedang berbincang.

 

Ada satu masalah yang terlupakan selama perjalanan dari perbatasan. 

 

“Yang Mulia, hamba akan memanggil Tabib Yang untuk memeriksa Anda,” ucap Xue dengan wajah khawatir.

 

Mereka belum memeriksa sama sekali mengenai racun yang ada di tubuh majikannya tersebut. Xuan Yuan hanya mengkonsumsi penawar racun dan memadatkan racun dalam darahnya dengan tenaga dalam. 

 

Jika tidak segera ditangani dengan baik, Xue takut akan menjadi masalah di masa depan.

 

“Tidak, tidak perlu. Aku merasa baik-baik saja.” Xuan Yuan menolak. 

 

Sebenarnya, dia hanya merasa tidak nyaman jika ada orang lain yang mengetahui dia terkena racun.

 

“Yang Mulia, hamba khawatir ini akan menjadi masalah—-” 

 

“Aku belum mengetahui siapa orang itu?” tolak Xuan Yuan datar dan dingin.

 

Dalam beberapa hari, ada dua kelompok pembunuh yang datang ingin membunuhnya. Mereka semuanya bernasib sama. Mati tanpa bicara apapun.

 

Sebenarnya, siapa yang menyuruh orang-orang itu untuk membunuhnya? Penjahat itu bersembunyi di dalam kegelapan dengan begitu baik. Otak dari penyergapan itu masih bersembunyi di dalam kegelapan. Sedikit rumit untuk mengungkap apa motifnya. 

 

“Seharusnya mereka adalah suruhan Qing Feng, Yang Mulia.” Ming Ye memberi pendapat.

 

Pandangan mata Xuan Yuan menjadi rumit. Qing Feng memang musuh mereka. Beberapa bulan mereka bertempur di medan perang.

 

Namun, dia tidak bisa menyimpulkan bahwa pelaku penyergapan itu adalah Qing Feng. 

 

Apakah sesederhana itu? Masih ada banyak variabel. Musuh yang terlihat nyata, tidak lebih berbahaya dibanding musuh yang bersembunyi di dalam kegelapan.

 

“Bisa jadi, bukan,” tukas Xue.

 

“Lalu siapa?” tanya Ming Ye tampak berpikir.

 

“Selidiki dengan akurat! Jangan ada celah sama sekali!” titah Xuan Yuan dingin. Ada beberapa tebakan di dalam benaknya, tapi dia tidak bisa sembarangan mengatakannya jika belum ada bukti.

 

Ada enam negara di daratan ini. Selain Negara Qing, masih ada empat negara lain yang hidup tenang tak ada beriak. Namun, badai yang tersembunyi akan lebih sulit dihadapi. Separah apa gejolak di dalamnya, siapa yang tahu.

 

Mungkin saja mereka semua memiliki niat buruk untuk Da Liang. Jika demikian, bukankah mereka semua menginginkan nyawa Murong Xuan Yuan?

 

“Dari enam negara, apakah ada gerakan yang mencurigakan?” tanya Xuan Yuan. 

 

“Sumber informasi kita tidak mengatakan apapun terkait hal tersebut, Yang Mulia.” Ming Ye berkata tegas. Itulah alasannya memiliki pemikiran bahwa pelakunya adalah Qing Feng dari Negara Qing.

 

Xuan Yuan mengangguk. 

 

“Jangan lupa juga di dalam rumah sendiri!”

 

Ming Ye dan Xue saling bertukar pandang saat mendengarnya. Para pengawal itu tentu saja mengetahuinya. Di Istana Kekaisaran Da Liang, ada beberapa orang yang tidak menurunkan kewaspadaan sama sekali pada Xuan Yuan. 

 

“Baik.” 

 

“Ada beberapa orang yang mungkin saja merasa terancam dengan keberadaanku,” ujar Xuan Yuan dingin.

 

Senyuman indah yang tadi selalu tersungging saat dia di depan Xin Qian kini sepenuhnya menghilang. Bibir pria itu terkatup rapat menampakkan sosoknya yang dingin.

 

“Baik, kami mengerti,” jawab mereka serentak.

 

Xue dan Ming Ye seketika lupa mengungkit masalah racun yang menginfeksi tubuh tuannya. Mereka bergegas untuk menjalankan perintah.

 

Namun, belum sempat keduanya melangkah, seorang pelayan wanita datang tergopoh-gopoh dengan wajah ketakutan. Rumor bahwa Pangeran Ketiga sangat galak rupanya membuat pelayan kecil itu ketakutan. Ini pertama kalinya Paviliun Xing He memanggil seorang gadis pelayan. 

 

Di Istana lain, para pelayan begitu menyukai paviliun tempat tinggal para pangeran. Para pelayan berlomba-lomba untuk mendapatkan kesempatan bisa mencuri perhatian majikannya. Jika beruntung, mereka bisa diangkat menjadi selir. Atau paling tidak, mereka akan diangkat menjadi pelayan pribadi Pangeran. Itu sudah menjadi anugerah besar bagi mereka.

 

Lain halnya dengan Paviliun Xing He, para pelayan di Istana ini justru ketakutan jika mendapatkan tugas untuk melayani di paviliun ini. Meskipun Pangeran Ketiga sangat tampan, ada rumor yang mengatakan majikan mereka yang tidak menyukai dan bersikap kasar pada wanita yang membuat para pelayan ketakutan.

 

“Yang Mulia, Shu Ling memberi hormat.” Shu Ling berlutut di depan Xuan Yuan.

 

“Yunxi, bawa dia ke aula samping!” titahnya dingin.

 

Alih-alih menjawab salamnya, Xuan Yuan memerintahkan Yunxi untuk membawa Shu Ling ke aula samping.

 

“Baik.” Yunxi melangkah tegap meninggalkan aula utama. Shu Ling mengikutinya setelah bernapas lega.

 

“Shu Ling, tugas Anda di paviliun ini untuk melayani Nona Xin Qian,” ucap Yunxi sambil berjalan.

 

“Apakah Nona Xin Qian ini adalah calon selir Yang Mulia?” tanya Shu Ling berbinar. Bisa melayani calon selir, itu akan membuat statusnya naik menjadi pelayan tingkat satu. Semua pelayan Istana Xi Wei akan menghormatinya.

Rasa takut di dalam hati Shu Ling sudah sepenuhnya menghilang. Asalkan tidak melayani Pangeran Ketiga, dia sudah merasa tenang.

 

“Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” sahut Yunxi datar. Shu Ling tetap saja merasa bangga. Binar bahagia masih berkilat di sepasang netranya.

 

Ketika mereka sampai di aula samping, Xin Qian masih duduk dengan malas di gazebo di taman. Melihat majikannya yang sangat menawan itu, Shu Ling semakin berbinar.

 

“Shu Ling memberi hormat pada Nona Xin Qian,” ucapnya semringah.

 

“Shu Ling, berdirilah, jangan sungkan!” balas Xin Qian sambil tersenyum.

 

“Terima kasih, Nona Xin Qian.” 

 

Yunxi memerintahkan Shu Ling untuk menyiapkan hidangan untuk Xin Qian, sedangkan Yunxi masih berdiri di sana.

 

“Kenapa Anda tidak pergi, Tuan Yun?” sindirnya sepeninggal Shu Ling.

 

“Nona Xin Qian, aku akan memberitahu Anda beberapa hal. Sebelum kedatangan Anda, tidak ada satu pelayan wanita pun yang diizinkan bermalam di paviliun ini. Yang Mulia bukan orang yang bisa Anda ganggu sepanjang waktu. Jadi Nona Xin Qian tidak boleh melewati batasan!”

 

Yunxi merasa perlu untuk memberi peringatan. Menurutnya, gadis aneh ini sedikit tidak tahu aturan. Bahkan dia tidak bisa berbasa-basi pada Yang Mulia Selir Hui. Jika dibiarkan, dia pasti akan berbuat semena-mena. Sebelum semua kekhawatirannya terjadi, Yunxi harus memberi batasan untuk Xin Qian supaya tidak menginjakkan kakinya di aula utama secara sembrono.

 

“Tuan Yunxi, bukankah Yang Mulia berkata bahwa jika aku membutuhkan sesuatu harus mengatakan padanya. Artinya, dia tidak merasa keberadaanku di sini mengganggunya bukan?” Xin Qian merasa bahwa pengawal bernama Yunxi ini adalah pengawal yang paling cerewet dan banyak mengkritiknya. Tentu saja Xin Qian merasa tersinggung.

 

“Kamu….” 

 

“Apa? Katakan, apa aku salah karena telah berkontribusi pada Da Liang dalam memenangkan pertempuran?” Dia sengaja kembali mengungkitnya. Pria ini benar-benar kacang lupa kulitnya.

 

Xin Qian tidak boleh diam saja kalau pengawal bernama Yunxi ini menindasnya. Bukankah dia yang berhasil membuat senjata surgawi dan mempunyai kontribusi besar di sini. Bahkan dia pantas disebut sebagai pahlawan. Seharusnya Da Liang menyambutnya secara khusus karena kontribusi ini. Bukan malah memberi tekanan seperti ini padanya.

 

Pada akhirnya, Yunxi tidak bisa membantah. Wanita ini benar-benar pandai bicara.

 

“Kamu bisa mengatakan semua kebutuhanmu padaku, Nona. Tidak perlu mengganggu—“

 

“Tidak, aku tidak suka bicara denganmu. Kamu cerewet sekali!” tolaknya.

 

Yunxi, “…”

 

‘Wanita ini benar-benar berlidah tajam dan suka mencari musuh. Apa dia tidak takut nyawanya melayang jika bersikap seperti ini di Istana? Bahkan dia berani memarahi pengawal pribadi Pangeran Ketiga.’

 

Xin Qian bergegas masuk ke ruangan mengabaikan keberadaan Yunxi yang masih berdiri membeku di sana dengan wajah kesal.

 

Di dalam hati, Yunxi mengeluh, kenapa Pangeran Ketiga membawa Xin Qian tinggal di sini? 

 

Bukanlah sebuah ide yang bagus membiarkan wanita tidak tahu aturan ini tinggal di paviliun Xing He. Bagaimana jika Xin Qian ini ternyata mata-mata?

 

“Aku akan menambah jumlah penjaga di Aula utama.” Yunxi berkata sambil melangkah meninggalkan tempat itu.

 

Benar, dia harus mengambil langkah preventif. Harus memperketat penjagaan di aula utama. Jika wanita ini berbahaya, bukankah nyawa Pangeran berada di dalam bahaya. 

 

Begitu Yunxi telah sampai di aula utama, Xue dan Ming Ye sudah menyambutnya di depan pintu. 

 

“Xue, perketat penjagaan di sekitar aula utama!” ucapnya begitu jarak antara dirinya dengan Xue tersisa beberapa langkah.

 

“Hey, ada apa? Bukankah Yang Mulia sudah dijaga oleh para pengawal bayangan?” Para pengawal rahasia Xuan Yuan menjaganya dalam kegelapan. Mereka menyembunyikan diri dengan sangat baik. Tak ada yang tahu keberadaan pengawal ini, tapi ketika ada ancaman musuh, mereka akan segera muncul. 

 

“Wanita aneh itu, apakah kamu tidak curiga padanya? Bagaimana jika dia mata-mata untuk membunuh Yang Mulia?” Yunxi berkata serius.

 

Mereka memang belum mengkonfirmasi langsung latar belakang Xin Qian. Kekhawatiran Yunxi ini bisa saja terjadi. 

 

“Baiklah, kita tambahkan para pengawal di Aula utama.” Akhirnya Xue juga sependapat dengan Yunxi.

 

Murong Xuan Yuan adalah Dewa Perang Da Liang. Selama ini Da Liang mempunyai militer yang begitu besar dan berpengaruh dibawah pimpinannya. Jika terjadi sesuatu padanya, bukankah ini bisa membahayakan negara Da Liang mereka?

Lates Chapters

Bagian 029. Mengatur Kamar untuk Mereka

Part 29. Mengatur Kamar untuk Mereka   Di Paviliun Mei Hua, sekumpulan gadis muda dan cantik yang berjumlah dua puluh orang sedang berbicara serius di…

Bagian 028. Pangeran Kedua

Part 28. Pangeran Kedua   Suasana sedikit canggung. Peristiwa hari ini memang terjadi di luar ekspektasi. Huantian yang berniat baik menghibur Ying Lan, tapi kini…

Bagian 027. Tiga Pangeran Minum Teh Bersama

Part 27. Tiga Pangeran Minum Teh Bersama   Putra Mahkota Da Liang, Murong Huantian mengibaskan jubahnya ketika keluar dari kereta kuda. Pangeran Pertama saat ini…

Bagian 026. Permaisuri Xin

Part 26. Permaisuri Xin   "A Yuan, aku ... lapar." Xin Qian memasang wajah memelas. Gadis itu baru saja selesai berhias, tapi Pangeran Ketiga sudah…

Bagian 025. A Yuan Marah

Part 25. A Yuan Marah     "Hiyaaa! Hiyyaaa!"   "Xiao Shan, maaf merepotkanmu untuk terus berlari. Kita tidak boleh terlambat sampai Ibukota!" Wajah cantik…

Bagian 024. Bunga Krisan Dewa

Part 24. Bunga Krisan Dewa   Berita tentang harta karun Gunung Fenghuang dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Da Liang seperti penyebaran wabah penyakit. Ratusan…

Bagian 023. Gunung Fenghuang

Part 23. Gunung Fenghuang   Pertarungan masih berlangsung meski tidak berimbang. Dengan kemampuan mereka yang bisa dibilang setara. Jika satu lawan satu, Xin Qian masih…

Bagian 022. Bertemu dengan Pembunuh

Part 22. Bertemu dengan Pembunuh   Lampion merah yang sengaja dipasang di setiap sudut aula menerangi sepasang insan yang duduk berhadapan terhalang meja yang dipenuhi…

Bagian 021. Berani Meninggalkanku?

Part 21. Berani Meninggalkanku?     A Yuan menatap dingin punggung Huantian yang melewati jembatan melengkung di atas danau buatan. Tak ada kehangatan di dalamnya…

Bagian 020. Dua Bersaudara yang Tidak Akur

Part 20. Dua Bersaudara yang Tidak Akur     Istana Fengyi Permaisuri Lao Yin Fang   Putra mahkota duduk dengan malas di hadapan Permaisuri Lao…

Bagian 019. Lamaran

Part 19. Lamaran   Kereta kuda telah sampai di Istana Xi Wei, keduanya menghadap Selir Hui Yuan Shi. Xin Qian ingin mengucapkan terima kasih, Selir…

Bagian 018. Masuk Istana

Part 18. Masuk Istana   Langkah kaki gadis petualang waktu itu terayun menuju aula utama setelah menghabiskan makan siangnya. Hari ini dia harus merawat luka…

Bagian 017. Jasa Kedua

Part 17. Jasa Kedua     Ada yang bilang bahwa dinding-dinding Istana mempunyai mata dan telinga. Ternyata ucapan itu bukanlah omong kosong belaka. Meskipun tiga…

Bagian 016. Operasi

Part 16. Operasi      Seorang pria berseragam tabib istana berjalan tergopoh-gopoh sambil menggendong kotak obat milikinya. Beberapa kali, Tabib Yang melirik Ming Ye, setidaknya…

Bagian 015. Racun Kutukan Serigala

Part 15. Racun Kutukan Serigala    Tirai malam yang berwarna hitam pekat, membungkus Istana Xi Wei dengan sempurna. Matahari telah kembali ke peraduan beberapa saat…

Part 014. Sebuah Harapan

Part 14. Sebuah Harapan   Xin Qian berjalan sambil menggerutu. Pelayan kecilnya ini benar-benar polos. Itu sangat menyebalkan. Dalam perjalanan kembali, Shu Ling masih saja…

Part 013. Paviliun Mei Hua

Part 13. Paviliun Mei Hua   Kedatangan Shu Ling di Aula samping ini menjadi hiburan tersendiri bagi Xin Qian. Minimal, dia bisa menghilangkan suasana hatinya…

Part 011. Paviliun Xing He

Part 11. Paviliun Xing He   Seorang wanita dengan pakaian brukat dengan warna perpaduan biru muda dan biru tua duduk tampak begitu megah di aula…

Part 010. Istana Xi Wei

Part 10. Istana Xi Wei   Dua puluh ribu pasukan Da Liang yang telah berjalan selama tiga puluh hari dari perbatasan semakin bersemangat. Pasalnya, hari…

Part 009. Ibukota Hangzhou

Part 9. Hangzhou    Berita tentang kepulangan dua puluh ribu pasukan Da Liang dari perbatasan sudah sampai di telinga Kaisar. Meskipun pasukan besar itu baru…
error: Content is protected !!