Menjadi seorang guru di kota sebesar Makassar bukanlah perkara mudah. Setiap hari, energiku terkuras habis di depan kelas, menghadapi puluhan kepala dengan karakter yang berbeda-beda. Sore itu, kepalaku rasanya ingin pecah. Suara spidol yang sudah ingin habis tintanya beradu dengan papan tulis dan riuh rendah suara siswa masih berdenging di telingaku, meski jam pelajaran sudah lama usai.
Aku sedang merapikan tas di ruang guru ketika temanku, rekan sejawat yang mengajar di tempat yang sama menghampiriku dengan wajah yang terlalu cerah untuk ukuran orang yang baru selesai bekerja.
”We ayo pi liburan? Ada sepupuku mau datang dari kalimantan maui pergi berlibur, na ajak ke Bulukumba. Ke Pantai Baraki, pergi camping sekalian bakar-bakar ikanki hehe” katanya tanpa basa-basi.
Aku menghela napas panjang, bahkan tanpa menoleh padanya. “Malasnya. Mauka istirahat saja dulu keknya di rumah. Capek sekali perasaanku minggu ini.”
Namun, temanku ini bukan tipe orang yang mudah menerima kata ‘tidak’. Dia mulai mengeluarkan jurus-jurus mautnya. Dia membahas tentang pasir putih yang halus, tentang pelarian sejenak dari tumpukan tugas koreksi, hingga membawa-bawa nama sepupunya yang katanya sudah sangat berharap aku ikut. “Ayolah, temani ka’. Tidak ada cewek lain kalau saya sendiri pergi dengan rombongan laki-laki,nah nah nah” rengeknya waktu itu.
Awalnya aku bersikeras menolak karena ada jadwal mengajar yang tidak bisa kutinggalkan begitu saja. Sebagai anak pertama, instingku selalu mengatakan untuk mengutamakan tanggung jawab. Tapi melihat wajah melasnya, akhirnya egoku luluh. Dengan perasaan berat dan penuh rasa bersalah, aku terpaksa meminta izin di sekolah. Dan di sinilah petaka itu dimulai.
Aku bukanlah tipe orang yang bersahabat dengan perjalanan darat yang jauh. Mabuk darat adalah musuh bebuyutanku sejak kecil. Begitu mobil mulai melaju meninggalkan batas kota Makassar menuju arah Selatan, perutku sudah mulai memberikan sinyal protes. Empat jam lebih. Itu bukan waktu yang singkat untuk seseorang yang merasa dunia seolah berputar setiap kali mobil melibas tikungan tajam di daerah perbatasan Gowa dan Takalar.
”Masih jauh?” tanyaku dengan suara lemah, mataku terpejam rapat sambil memegang botol minyak angin yang aroma mentolnya sudah memenuhi kabin mobil.
”Sabar, sedikit lagi masuk Jeneponto maki ini sodaraaa,” jawab temanku santai.
Sedikit lagi? Itu bohong besar. Perjalanan ke Bulukumba adalah ujian kesabaran yang luar biasa. Jalanan yang bergelombang dan aroma pewangi mobil yang menyengat membuat rasa mualku semakin menjadi-jadi. Aku merasa tubuhku seperti diaduk-aduk. Hampir lima jam perjalanan yang menyiksa itu berlalu, hingga akhirnya aroma payau laut mulai tercium.
Aku turun dari mobil di Pantai Bara dengan langkah gontai. Pasir Pantai Bara itu putih sekali, tapi suasana hatiku saat itu tidak seputih pemandangannya. Kepalaku pening, wajahku pasti pucat pasi. Aku hanya ingin duduk diam, tapi ketenanganku tidak bertahan lama.
Di sana, aku melihatnya untuk pertama kali. Laki-laki berkulit gelap yang berdiri angkuh. Namanya, ah tidak perlu kusebut intinya yang aku aku tahu ternyata temannya temanku.
Dalam hati aku bergumam kecil “hm orang mana sih ini, gelap sekali” huhu …
Eh….. aku tersentak dalam lamunan ”Woi, kau! Bawa ini barang-barang ke sana. Jangan cuma berdiri liat-liat saja!” teriaknya dengan suara parau. Logat Toraja-nya kental sekali, bicaranya kasar tanpa embel-embel “permisi”.
Aku melotot. Darahku mendidih seketika. “Apa mubilang? Siapa mu suruh we? Ada tanganmu toh, bawa sendiri! Kau kira saya ini pembantumu?” balasku tidak kalah keras. Rasa mualku tadi langsung berganti jadi amarah.
Bukannya merasa bersalah, dia malah menoleh ke temannya dan tertawa lepas. ”Liat itu, keras sekali kepalanya!” katanya sambil terus menertawakanku. Aku makin dongkol. “Hanya mabuk mobil saja sampai begitu? Manja sekali ini Ibu Guru. Sini,” katanya sambil menyodorkan tenda lipat yang berat. ”Pegang ini. Jangan manja, di sini kita semua kerja.”
Kami berjalan menyisir pasir. Dia berjalan jauh di depan. “Cepat maki’ sedikit ee! Gelapki nanti lambatnya jalan !” teriaknya.
”Sabar! Kau tidak lihat ini pasir? Berat!” balasku berteriak. Sesampainya di lokasi, aku langsung menjatuhkan tenda itu. Di depanku, langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, tapi keindahan itu tertutup rasa benci. Saat dia sibuk memasang tenda, dia tiba-tiba menoleh. “Apa liat-liat? Kagum ko liat orang kerja ka?HAHAHA” dengan tertawa mengejeknya yang khas.
”Najis!” semprotku cepat. “Herankuji saja iyaa, kenapa na ada kah orang di dunia ini yang sifatnya kasar kek kau?”
Dia menatapku lurus. “Sopan santun itu ada tempatnya, Ibu Guru. Di sini, di alam, yang penting itu kerja sama. Kalau hanya mauko disanjung-sanjung, mending di kelas mako saja.”
Malam pun jatuh. Api unggun menyala di depan tenda, memecah gelap pekat Bulukumba. Dia duduk memeluk gitar tua. Jari-jarinya yang kecil tapi tebal dan jempol yang besar lincah bergoyang di atas senar. Nadanya pelan, kontras sekali dengan cara bicaranya tadi sore.
”Bisako main gitar k?” tanyanya tiba-tiba.
”Tidak kutau, kenapaika??,” jawabku dengan nada ketus
”HAHA santai bos, bertanyakuji ini tapi hmm anak pertama biasanya keras kepala, tidak mau kalah, tapi sebenarnya hatinya lembek seperti kapas,” ucapnya pelan. “Kau begitu juga, toh?”
Aku tersentak. “Sok tahu sekali kau.”
Dia mulai bernyanyi kecil, suaranya berat tapi punya sisi lembut yang tidak bisa dia sembunyikan. Di tengah lagu, aku tidak sengaja menangkap matanya. Dia melihat ke arahku bukan menantang, tapi intens. Tatapan itu membuatku salah tingkah di balik cahaya api yang remang.
Keesokan paginya, saat aku baru saja membuka resleting tenda dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, aku tersentak. Dia sudah ada di sana. Duduk santai di depan tendaku, entah sejak kapan. Kulit hitamnya makin kontras di bawah sinar matahari pagi.
Dia tidak bicara apa-apa, cuma duduk sambil terus melihat ke arahku seolah sedang memperhatikan gerak-gerikku dengan tatapan yang sulit dibaca. Aku yang masih berantakan karena baru bangun, hanya bisa terpaku. Di situlah aku sadar, bara di pantai ini benar-benar telah menyala.
Akupun menegurnya, “ Apa ko liat-liat, cantik muka bangun tidurku toh?” tanyaku ketus menutupi rasa gugup yang tiba-tiba muncul.
Dia cuman mengangkat bahunya sedikit, lalu membuang muka dengan senyum tipis yang sangat menyebalkan. “Iyo iyo cantimu belah hmmm luas ini pantai dih ayo pergi ukurki heheheh” jawabnya dengan suara serak ketawa mengejeknya yang khas.
Yang lain pun terbangun dan temanku mengajak, “We ayokmi pergi bakar-bakar ikan adami ikan na beli sepupuku ini, jammoko lagi situ berdebat berdua berdebat diperbakaran mo hahah”
Aku dan lelaki toraja itupun hanya mengiyakan. Kami pun mulai membuat api dan memebakar ikan..
”We, makanmi ibu guru jangko malu-malu ” ganggunya lagiii….
Aku hanya tersenyum kecut.. Aku sudah tidak ada energi menanggapinya..
Dan hari itu aku baru sadar, liburan di Bara ini tidak akan pernah tenang selama laki-laki Toraja ini ada disekitarku. Huh !!!
Benci dan penasaran ternyata hanya dibatasi oleh selembar benang tipis.
Saat dia berdiri di depanku setelah perdebatan angkat barang itu, napasnya yang memburu dan aroma tubuhnya yang bercampur bau laut menyeruak masuk ke indra penciumanku. Ada sorot mata yang tak bisa kujelaskan tajam, keras kepala, namun entah kenapa membuatku merasa benar-benar “dilihat”.
Aku membencinya, sungguh. Aku membenci caranya memerintah, aku membenci logatnya yang kasar, dan aku membenci bagaimana dia meremehkan kekakuanku. Tapi di balik semua rasa jengkel itu, ada sebuah getaran aneh yang tidak mau berkompromi dengan logikaku. Ada percakapan yang tidak terucap saat mata kami beradu di bawah terik Pantai Bara.
Mungkin benar kata orang, hal yang paling kita benci adalah hal yang paling berpotensi untuk menghancurkan pertahanan kita. Dan saat itu, di tengah bisingnya ombak, aku menyadari satu hal yang menakutkan laki-laki Toraja ini bukan sekadar orang asing yang lewat, dia adalah gangguan yang akan membuat duniaku yang rapi menjadi berantakan.
Permainan baru saja dimulai, dan sialnya, aku baru menyadari bahwa lawanku kali ini adalah seseorang yang tidak mengenal kata mengalah.
Bersambung……
#20harimencarimaaf
#day1
#novelgoodcompetition