Pada zaman dahulu kala, di gugusan pulau yang tersebar di kepulauan Spermonde, di tengah Laut Makassar, terbentang sebuah perkampungan nelayan. Daratan itu tentram dihias kehidupan sederhana, rumah-rumah berjajar rapi, dan penduduk yang rajin melaut mencari rezeki dari luasnya samudra.
Di antara barisan rumah itu ada sebuah rumah yang sedikit terpisah, namun tertata rapi sebuah rumah berciri khas Sulawesi Selatan, beratap nipah, bertingkat, penopang kayu berbaris enam belas batang. Tallu paddaserang, tontongan tallu rembangan, rinring tedde bulu pattung, timba sila tallu langka, coccoran bulu parring; tuka salapan baringan, dego-dego rinring lasuji. Begitulah sekilas rupa rumah adat itu sebuah bingkai tradisi yang kokoh menghadang zaman.
Rumah itu menghadap laut lepas, bersih dan teratur. Penghuninya, sepasang suami istri yang hidup rukun, berlandaskan saling pengertian dan kerja sama. Mereka dikaruniai dua anak: seorang laki-laki berumur kira-kira enam tahun dan seorang bayi perempuan empat bulan bak pinang dibelah dua, penanda kecantikan ibu dan kegagahan ayah, juga contoh keluarga berencana di zaman pra sejarah.
Kehidupan mereka tenteram, dihiasi cinta yang kerap tumpah dalam syair Makassar yang sering dinyanyikan oleh pemuda-pemudi yang sedang dilanda asmara:
Manna langi ero runtung
Tamparang kuntui labba
Kiama battu
Tana kaddo singaita
Lonna kaddangi matangku
Para jammengi ri lino
Anjayya sallang
Sitangring kisi puliang
Singaita rilino
Gassing ta sicini
Rianja kapang
Tenamo lappa sisalla.
Apa tonji anne lino
Bori pammari mariang
Anjayyapi sallang
Pasi’alle tasi’lakka
Dalam bahasa Indonesia bunyinya:
Walaupun langit runtuh,
Laut pun menjadi tawar,
Kiamat datang,
Cinta tak pernah pupus.
Dikala mataku terpejam,
Kita terima kematian,
Di akhirat kelak,
Bertemu tak berpisah.
Cinta kita di dunia,
Perpisahan memisahkan,
Di akhirat nanti,
Kita hidup dalam kekal.
Dunia cuma fatamorgana,
Kampung pelepas dahaga,
Di alam baqa,
Kita hidup dalam abadi.
Demikianlah, tanda keharmonisan yang mengikat mereka. Cinta itu tumbuh, empati dalam dua hati, tertera juga dalam lontara:
”Nia sekre allo anggappa tongi pammada pa’buritta rilawangan, rigau pabuntingan battu ribija pamma nakanna.”
(Suatu hari, pasangan suami istri itu mendapat undangan pernikahan dari salah satu warga kampung sebelah.)
Pada hari pesta itu, istri tampak sibuk bersolek. Ia mengenakan seluruh perhiasan yang dimilikinya, wangian rempah alami memenuhi udara, minyak, bunga, bedak tradisi; bibirnya komat-kamit saat memoles seluruh tubuhnya. Ia berpakaian adat: giwang, ponto bangkeng, baju labbu longko, lipa sabbe setiap helaian tertata rapi, menegaskan identitas kampungnya.
Ia berkata dalam hati bahwa semua tatap mata akan tertuju padanya bukan untuk membuat orang tunduk, melainkan karena ia dianugerahi kecantikan. Sang suami, duduk termangu, setengah melamun, hanya mampu tersenyum, betapa cantik istrinya, laksana bidadari turun dari surga. Kadang ia menelan ludah, terpesona oleh keharuman kasturi dan kesederhanaan yang memantul di wajah anak-anak mereka.
Cahaya keindahan itu tampak abadi sebuah pancaran dari hati murni, dari keserasian yang tulus. Ia adalah cahaya hayat yang bersumber dari ketulusan, membuat mahligai rumah mereka berkilau.
Baru pada hari itu setelah berbulan-bulan, mungkin bertahun lamanya istri kembali bersolek, disentuh parfum dan kosmetik tradisional. Zaman dulu, keterbatasan membuat wanita tidak terjebak dalam kosmetik, nur kehidupan tetap terpancar dari wajah tanpa harus diracuni bahan kimia. Orang tua pernah berpesan:
Biasana nama lajju,
Manna modena tonji,
Nakanre mode
Ammayu ribiasana..
Accalla riton tonganna, abbarra ripaladangna
Anjo gincuna, alo’llosso ribungunna
Nagaddeangi modena, napassaran gaggana
Na’bere besan sarro eroka nipuji
Tena ballamo na sala, cappa tuka’ tana onjo
Tena na’sala, passolle ana’ rungkayya.
Nasihat itu pun menjadi bertuah, banyak gadis lalu menahan diri dari berlebih-lebihan dalam bersolek, cukup bedak biasa untuk menjaga kebugaran. Semua keluarga wajib menghadiri upacara kenduri, pernikahan, kematian sebagai jaminan ikatan sosial, untuk anjangsana, untuk memelihara ikatan antarsesama.
Menjelang pesta, sang suami tak henti memuji, “Memang engkau masih tetap cantik seperti empat tahun yang lalu.”
Istri membalas dengan syair lembut:
Katte kucini palampang
Bunga-bunga rimatangku
Katte minassa
Turungka kabuyu-buyu
Tugguru bunga sarengku, runang bunga samayaku
Kurappung tongi palampang jangan-janganna.
Suami spontan menjawab:
Kupatada simayanu sayang
Kugubah bunga-bunganna
Kuboli jarre
Rikali bombong atingku
Lalu si istri meneruskan:
Samayaku samayata
Niboli ribone kambu
Nafa Pangngainta
Tana irina rianging.
Harumnya percakapan mereka meleleh jadi tawa. Sang suami, terharu, melompat dan memeluk istrinya bagai kucing lapar menerkam tikus putih namun istri sigap mengelak laksana burung walet. Ia menenangkan, “Eee, sabbaraki daeng (sabar, kakak). Ka anne kamma amodea langre ikatte…” ia meminta sabar, menolak prasangka buruk.
Ia menaruh pesona yang jenaka dan lembut: “Nakana mamo ana-ana caccaka attoaka alla rinring. Hore maunamo. (Berkata anak cicak yang menyimak kemesraan mereka, Hore, mau sekali ya menerkam istri).
Berkatalah sang suami pada istrinya, ” Tayangma barang sikadde mata, akan kulengkapi kecantikanmu” Setelah berkata demikian, sang suami begkelabat bagaikan elang laut yang mengepakkan sayap dan menghilang.
Suami pergi sekejap, bagai angin berlalu. Beberapa saat kemudian ia kembali, menyanyi kecil, seperti bocah yang mendapat durian runtuh, ia membawa cincin.
Nyanyiannya penuh keluh:
Ta’kuassengi kalengku nanu paminrang pamai..
Inakke mami nuboli mangngitung simpung.
Pammuji niami rikau, tanu balassa pangngai
Na’pangrekengku jari bala rikalengku
Sassa lalangku ri lino, kuerang lingka rianja
Cinna cinikku jari racummi rinakke
Lonna kutanga dolangan tamparang pak kuburanku.
Attompo butta mesan taena arengna.
Terjemahan:
Tak kuasa diriku terhindar dari kata meminjam
Diriku kau simpan dalam mahligai kecintaanmu
Kehormatanku menjadi musibah,
Kesengsaraanku akan kubawa menghadap Rabbi
Karena cinta yang mematikan,
bila aku di lautan dan menemui maut, biarlah laut jadi kuburku
beratap tanah dengan nisan tak bernama.
Mendengar itu, hati istrinya tersiksa namun juga dipenuhi kagum-kagum oleh keberanian dan cintanya. Mereka memiliki rasa tanggung jawab untuk membina rumah dan mendidik anak-anak, untuk meneruskan kehidupan.
Setelah beberapa lama, nampak dari jauh nampak suaminya kembali dengan berlari kecil menemui istrinya. Di tanganya tergenggam sebentuk cincin emas bertatakan berlian. Setelah berada dihadapan istrinya, suaminya menyerahkan cincin tersebut untuk dipakai.
Istri menerima cincin itu dengan gembira, menyelipkannya pada jari, dan seketika sesuatu berubah, ada sensasi seperti tersetrum membuat ia terdiam, firasat mengusik hatinya seakan sesuatu buruk akan terjadi.
Ia bertanya: “Adakah pesan Dg Tonji ketika kanda meminta cincin ini?”
Suami: “Cuma dia bilang, cincin ini milik leluhur, hanya engkau yang pertama kali meminjamnya, mengingat hubungan saudara.”
“Ah, pakailah, jangan berfirasat buruk. Kalau kita kembalikan, tentu Dg Tonji tersinggung. Kalau kita tidak mengembalikan, aku yang salah.”
“Baiklah, kalau sudah kehendaknya”
Dengan lengkap semua persiapan, sang istri berangkat ke pesta, dengan pesan suami, cepat pulang, jangan buat aku sengsara menunggu. Istri membalas dengan senyum yang meyakinkan. Namun hidup sering tak sama dengan khayal, niat baik dan suci bisa berujung pahit. Tidak semua bunga berbuah.
Waktu berjalan. Sore menjelang, istri pulang dari pesta, namun wajahnya bagaikan rembulan yang luntur, lesu, pucat, langkahnya lamban seperti terserang penyakit. Suami terkejut melihatnya. Ia memeluk istrinya yang kemudian menangis histeris, membuat anak-anak terbangun.
“Cincin itu, daeng… cincin itu” istri terisak.
“Kenapa cincin itu?” tanya suami.
“Cincin itu terjatuh ke dasar laut,” jawabnya. Tangis bayi terdengar parau dalam kesunyian. Suami bergegas, hilang bagaikan bayangan. Sepenanak nasi lamanya ia kembali, wajah sayu, badan lemas.
“Dg Tonji tidak ingin digantikan dengan barang apapun. Menurutnya itu cincin pusaka dan tiada duanya.” Suami menjelaskan dengan nada kecewa.
“Apa hendak dikata? Kita harus mencarinya. Kita akan naik perahu kecil, mencari sampai kita tak mampu lagi, dan menerima akibatnya.”
Malam itu sunyi tanpa kecantikan hanya keresahan, keraguan, dan ketakutan yang mencekam. Sebelum fajar, pasangan itu melangkah menyusuri jalan setapak, daun pandan menggantung menutup, wajah mereka penuh harap namun cemas. Mereka bertukar kata-kata kecil:
“Teaki tettere dudu daeng, ajjappa ka’na sossoka kodong dinging”
(Jangan cepat berjalan, kak. Tubuhku seperti ditusuk dinginnya angin malam.)
“Bolimi kamma andi, karo-karo paki na baji ka’na sobokki sallang tawua.”
(Simpanlah rasa dingin itu, kita harus cepat sebelum orang lain melihat.)
“Punna paeng dingingko, apamo lani kana, ka dinging lani battui.”
(Jika kau dingin, apalah daya nanti yang kita temui lebih dingin menusuk tulang.)
“Iye daeng, barang tenaja naka singarrang anatta”
(Iya, semoga kita pulang sebelum anak-anak terbangun.)
Mereka sampai pada sebuah karang yang menjorok tiga sampai empat meter dari pasir pantai tempat sepi yang jarang digunakan. Di sana mereka memeriksa dan menunjuk. Tanpa banyak bicara, sang suami melompat dan menyelam. Istri menunggu, menggenggam sarungnya erat, menahan dingin.
Sepuluh, dua puluh menit berlalu, suami muncul sesekali, memberi kode belum ditemukan, lalu menyelam lagi. Ia mencari di celah karang, menarik rumput laut namun cincin tak kunjung ditemukan. Fajar mulai merekah. Istri yang tak sanggup melihat suaminya kelelahan, mengikat ujung bajunya dan ikut berenang. Mereka menyelam berulang ratusan kali, membuat rumput laut berhamburan seperti sampah di permukaan.
Mata mereka memerah, napas terengah, namun tak ada jejak cincin. Mereka teringat anak-anak, malu mengalahkan harga diri dan kehormatan tetapi tekad mereka tetap membara. Lagu kecil meneguhkan:
Takkala basami, takkujung bangun turu
Naku pelo sombalakku
Ku alleanna Tallanga na toa lia
( Terlanjur basah tubuh ini, ku tak ingin layar yang telah kukembangkan kulipat kembali; lebih baik tenggelam daripada pulang sebelum berhasil.)
Dengan tekad itu, mereka tak menyerah. Mereka melupakan anak yang terbaring di rumah sejak dini hari. Matahari turun, langit merekah merah darah, laut murung seolah prahara akan datang; tak satu pun perahu bercahaya di antara ombak. Alam merunduk pada kehendak-Nya.
Tiba-tiba, amarah alam pun meledak. Angin meraung, ombak menggila, pohon-pohon tumbang, rumah-rumah porak. Jeritan manusia dan tangisan anak-anak bercampur kegawatan meraja. Gemuruh petir, gelap menutup dunia, seperti kiamat, seperti kutukan. Badai meluluhlantakkan apa saja yang ada di daratan.
Dalam amukan itulah, pada sepasang suami istri yang masih berada di laut, sesuatu terjadi: kodrat melampaui nalar. Tanpa diduga, suami berubah menjadi ikan lumba-lumba dan istri menjadi duyung. Saat itu pula, murka alam mereda.
Langit kembali berhias bintang, angin tenang, laut berkilau dalam sinar bulan purnama. Tiba – tiba diatas permukaan laut dua makhluk itu muncul di permukaan seperti manusia berenang dan memancarkan air mancur pada tiap nafasnya.
Terdengar suara parau, “Huuu, huuu, huu”, seperti nafas penyesalan. Mereka berputar-putar di tempat keajaiban, seolah mencari sesuatu, lalu meloncat tinggi dan menghilang ke barat.
Di kampung, pagi datang tanpa pesan perpisahan dari orang tua. Dua anak ditinggalkan merasa lapar, si bayi menangis karena haus. Manusia sibuk memulihkan diri, membersihkan reruntuhan, membangun kembali rumah, mengobati yang luka. Dukun-dusun bekerja, desas-desus bermunculan, ada yang berkata dewa laut murka sebab tak diberi sesajen, ada pula yang menuding lupa melakukan “Tammu taun” ulang tahun kampung. Setiap lidah punya cerita.
Di antara bisik-bisik itu, Dg Tonji menuduh, cincin pusaka telah dicuri oleh pria tampan kampung sebelah, bapak Itarawe. Ia menyatakan caci maki, menuding dan menyebar fitnah agar keluarga itu tercela, bahkan ia mengusulkan agar istri cantik itu ditenggelamkan. Keluh kesah Dg Tonji bermula dari cinta lama yang sakit, cinta pada bapak Itarawe yang tak terbalas, pengkhianatan yang menoreh sampai lima belas tahun; ia merasa dikecewakan. Dendamnya menuntun ujaran pedas.
Dg Menang menanggapinya, “Jadi tindakan apa yang kau ambil, Dg Tonji?”
Dg Tonji mengungkap, ia pernah mendatangi ayah Tarawe menagih janji, menuntut perhitungan; namun karena Tarawe disukai gurunya, Dg Tonji kalah.
Ayah Itarawe hanya berkata untuk meredakan amarah Dg Tongji, dengan berkata dengan lembut: “Bila jalan yang engkau buka tertutup, sabarlah, karena Tuhan akan membukakan jalan yang tertutup.
” Kata-kata itu tetap mengusik Dg Tonji menjadi bara yang membara dalam hatinya hingga ia bertekad menempuh segala jalan untuk menghapus rasa sakit itu di bumi.