Kemenangan atas Daeng Tongji membawa ketenangan yang telah lama hilang di Pulau Tuppa’ Biring. Namun, bagi Itarawe, ketenangan itu terasa seperti air yang tenang di permukaan namun bergolak di kedalaman. Suara ombak yang biasanya menidurkannya, kini terdengar seperti panggilan dari kejauhan. Ia menyadari bahwa takdirnya bukan hanya menjadi penjaga satu pulau, melainkan menjadi penawar bagi racun kejahatan yang mulai menjalar di daratan besar.
Di bawah pohon kelapa yang melambai, Itarawe berpamitan kepada Ikanang dan ayahnya.
”Ikanang, samudera tidak akan pernah penuh hanya dengan menampung air dari satu sungai,” ucap Itarawe lembut sambil menggenggam tangan gadis itu. “Hatiku tertinggal di sini, namun ragaku harus berjalan mengikuti arah angin yang meminta pertolongan.”
Basa Mangkasara: “Ikanang, tamparanga tenannu rassi punna siri’na binanga bawang nappasidua. Atinku ammantangi ri anne borika, mingka batang kaleku musti lannari ammaccini’ kaba’jikanga.”
Dengan hanya berbekal sehelai sarung sutra yang melilit bahunya dan sebuah badik pusaka yang terselip di pinggang, Itarawe melangkah meninggalkan pantai. Ia mengembara dari satu kampung ke kampung lain, menggunakan Silat Lumba-lumba dan Kilat Bintoeng untuk membela kaum lemah, menghancurkan cengkeraman perompak, dan memadamkan api ketidakadilan tanpa pernah meminta imbalan.
Pengembaraannya membawanya ke Lembah Hitam, sebuah tempat yang diselimuti kabut abadi di kaki Gunung Lompobattang. Tempat ini adalah wilayah kekuasaan Amma ciang, Sang Ratu Penguasa Kegelapan yang ilmunya konon mampu memutar balikkan siang menjadi malam.
Saat Itarawe melintasi sungai yang airnya berwarna kelam, ia dihadang oleh sesosok wanita yang kecantikannya mampu membuat rembulan merasa malu. Wanita itu mengenakan gaun dari kelopak bunga ros yang merah membara, namun matanya memancarkan kesedihan yang sangat dalam. Ia adalah Bunga Rosi, putri tunggal Ammaciang.
”Berhenti, Pendekar,” suara Bunga Rosi terdengar seperti petikan kecapi yang sumbang. “Setiap langkah yang kau ambil menuju istana ibuku adalah satu langkah menuju liang kuburmu sendiri. Pergilah sebelum kegelapan melahap cahayamu.”
Itarawe berhenti, ia merasakan getaran energi yang aneh. Bukan kebencian yang ia tangkap dari wanita di depannya, melainkan ketakutan yang disembunyikan di balik keangkuhan.
Basa Mangkasara: “Ammentang mako, Pendekar. Sikali-kali nusa’la’i jannangna ammakku, iamintu sikali-kali nucini’ matennu. Lampa mako riolo, ri tenanapi nukanre pettanga.” (Berhentilah, Pendekar. Sekali kau injak wilayah ibuku, sekali itu kau lihat mautmu. Pergilah, sebelum kegelapan memakanmu.)
Itarawe melangkah mendekat, tangannya tidak menyentuh hulu badik. Ia menatap Bunga Rosi dengan ketenangan lumba-lumba yang menghadapi badai.
”Bunga Rosi, bunga yang indah tidak akan bisa mekar dengan sempurna jika akarnya tertanam di tanah yang penuh dengan kutukan,” ucap Itarawe. “Aku datang bukan untuk mencari kematian, tapi untuk membawa kabar bahwa matahari masih bersinar di luar lembah ini.”
Bunga Rosi tertawa, namun tawanya berakhir dengan isak tangis yang tertahan. “Matahari? Bagiku, matahari hanyalah dongeng yang diceritakan oleh angin. Aku lahir dalam kegelapan, dibesarkan dengan darah, dan ditakdirkan untuk menjadi pewaris takhta yang penuh dengan penderitaan ini. Siapa kau berani bicara tentang cahaya padaku?”
”Aku adalah Itarawe. Anak dari samudera dan langit. Aku telah melihat bagaimana dendam bisa merusak wajah secantik milikmu,” jawab Itarawe. Ia teringat pada Daeng Tongji dan Daeng Menang.
Basa Mangkasara: “Inakke Itarawe. Ana’na tamparanga siagang langi. Kucini’mi angkana dendamma ampanra’i rupannu kaminang baji’a. Teako kammai sanra’ ri pettanga!” (Aku Itarawe. Anak laut dan langit. Kulihat bagaimana dendam merusak wajahmu yang cantik. Jangan biarkan dirimu terbelenggu kegelapan!)
Tiba-tiba, suara tawa menggelegar dari balik kabut. Itulah suara Amma Ciang yang mengawasi mereka melalui cermin sihirnya. “Bunga Rosi, putriku! Mengapa kau membuang waktu dengan mangsa yang terlihat lezat ini? Cabut jantungnya dan buktikan bahwa kau adalah darah dagingku!”
Bunga Rosi gemetar. Ia terbelah antara rasa patuh kepada ibunya dan kekaguman yang tiba-tiba muncul terhadap ketulusan mata Itarawe. Dengan terpaksa, ia mencabut sebilah pedang yang berbentuk duri bunga mawar.
”Maafkan aku, Itarawe. Di lembah ini, hanya ada satu hukum, membunuh atau dibunuh!”
Bunga Rosi menyerang dengan teknik Silat Kelopak Berdarah. Gerakannya sangat indah namun mematikan, seperti ribuan duri yang terbang ditiup angin. Itarawe tidak melawan dengan kekerasan. Ia menggunakan Silat Kilat Bintoeng untuk menghindar sehalus udara.
Ting! Ting!
Pedang Bunga Rosi berkali-kali hanya mengenai bayangan Itarawe. Saat Bunga Rosi melakukan serangan menusuk yang fatal, Itarawe menggunakan gerakan lumba-lumba untuk menyelinap ke belakangnya, lalu dengan lembut ia memegang pergelangan tangan Bunga Rosi.
”Gunakan kekuatanmu untuk membebaskan dirimu, bukan untuk mengikat orang lain,” bisik Itarawe tepat di telinga Bunga Rosi.
Konflik hati Bunga Rosi memuncak. Ia menjatuhkan pedangnya dan jatuh terduduk di atas tanah yang lembab. “Aku tidak bisa, aku tidak ingin menjadi seperti dia, Itarawe. Tapi aku tidak punya tempat untuk pergi.”
Itarawe berlutut di depannya, ia mengambil kerang pemberian ibunya dari saku sarungnya dan meletakkannya di telapak tangan Bunga Rosi.
”Kerang ini hidup di dasar laut yang gelap, namun ia menghasilkan mutiara yang paling terang. Kau adalah mutiara itu, Bunga Rosi. Kau hanya perlu keberanian untuk keluar dari cangkang kegelapan ini.”
Bunga Rosi menatap mutiara itu, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, setitik cahaya muncul di matanya. Namun, kabut di sekitar mereka mendadak memerah. Tanah bergetar. Amma Ciang murka melihat putrinya mulai terpengaruh oleh sang pendekar.
”Pengkhianat!” suara Ammaciang membahana. “Jika kau tidak mau membunuhnya, maka kalian berdua akan membusuk di dasar lembah ini!”
Itarawe berdiri, memasang kuda-kuda Pasang Makassar yang paling kokoh. Ia menatap Bunga Rosi yang masih menangis.
”Berdirilah, Bunga Rosi. Tunjukkan pada ibumu bahwa bunga yang mekar karena cinta jauh lebih kuat daripada duri yang tumbuh karena benci. Mari kita hadapi kegelapan ini bersama.”
Basa Mangkasara: “Ammentang mako, Bunga Rosi. Pa’maccini’angi ri ammu angkana bunga makkalili’na cinta kaminang gassing battu ri duri siri’na dendam. Lanri mako siagang inakke!”
Bunga Rosi menghapus air matanya. Ia mengambil kembali pedangnya, namun kali ini aura pedang itu tidak lagi merah gelap, melainkan putih bersih. Mereka berdua berdiri berdampingan, menatap ke arah istana kabut yang mulai bergoyang. Pertempuran terbesar antara cahaya cinta dan kegelapan ilmu hitam baru saja dimulai di kaki Gunung Lompobattang.
Itarawe tahu, perjalanannya masih panjang, namun dengan Bunga Rosi di sisinya, ia merasa bahwa samudera dan langit kini telah bersatu untuk melawan segala bentuk kejahatan di muka bumi.