Melampaui Batas Cinta

Chapter 1. Rahasia Bunga

Kususuri jalan-jalan protokol Kota Makassar yang dingin, Kugapai asa yang tak pasti. Aku berteman dengan dinginnya malam, mengharap ilham dari sebuah keajaiban. Aku bukanlah malaikat ataupun dewi, aku hanyalah manusia hina di pandangan Sang Khalik, mengharapkan Ridho DariNya. Semoga kutemukan arti sebuah kehidupan… Ku berjalan di antara pekatnya malam kota, Ku berselimut dengan dinginnya malam, Bermandikan peluh di malam yang buta, mengharap ada kasih dari si empunya hati nurani.

Di sekolah, Bunga menjelma siswa teladan. Datang tepat waktu, rajin belajar, dan otaknya yang cerdas menyerap pelajaran dengan cepat. Ia adalah magnet bagi kebaikan, termasuk bagi tiga sahabat karibnya sejak SMP: Mira yang cantik dan ceria meski mungil, Vira yang manja namun berpenampilan eksentrik, dan Mirna yang pendiam, namun memiliki mata pengamat yang tajam.

Namun, dunia Bunga tak lagi utuh. Sejak ayahnya direnggut kecelakaan tragis saat ia masih Kelas II SMP, laju ekonomi keluarganya oleng dan tenggelam dalam kekurangan. Sang Ibu, dengan punggung yang tak pernah lelah, merangkap menjadi Tukang Cuci demi menyambung hidup, meski upah yang didapat tak seberapa. Tekadnya membaja: anak-anaknya harus sekolah, setidaknya sampai tamat SMA. Dan Bunga, sebagai harapan tunggal, memikul janji itu.

Ada ungkapan pahit: ketika ekonomi mencekik, seseorang kadang terpaksa mengambil jalan pintas yang dianggap hina. Dan Bunga, di usianya yang rapuh, mengambil jalan itu. Sebuah pekerjaan yang dipandang kotor, namun baginya, ini adalah satu-satunya cara cepat untuk meredakan derita Sang Ibu dan menjamin kelangsungan sekolah adik-adiknya. Ia menciptakan dinding dusta, mengatakan pada Ibu dan sahabatnya bahwa ia bekerja di sebuah toko roti.

Meskipun demikian, Bunga tak pernah meninggalkan dunianya yang terang. Ia tetap hadir di sekolah, senantiasa menjadi Bunga yang disenangi.

Saat jam istirahat, di bawah terik Makassar, persahabatan mereka berempat bersemi di kantin. Namun, mata Mirna tak bisa dibohongi. Ia menatap Bunga dengan kecemasan yang mendidih.

”Kalau aku perhatikan, kau tak seperti biasanya, Bunga,” lontar Mirna, menyuarakan gejolak di hatinya.

”Maksudmu apa, Mir? Aku rasa tak ada yang berbeda,” jawab Bunga, mencari dukungan dari Vira.

”Tidak, Bunga. Kau kurusan, jauh berbeda,” tegas Mirna.

Vira dan Mira mengangguk, mengiyakan perubahan yang mulai menyelimuti sahabat mereka.

”Mungkin hanya kurang tidur,” desah Bunga pelan, menyandarkan alasannya pada pekerjaan malam membantu Ibu mencuci. Sebuah alasan yang sejujurnya adalah sebagian kebenaran dan sebagian lagi kabut penipuan.

Mira, dengan hati yang tulus, memeluk Bunga. “Kita sudah bersahabat sejak SMP. Bebanmu adalah beban kami juga. Katakan saja apa yang harus kami bantu.”

Vira menyambung, “Kita berempat ini sudah seperti saudara. Bicara saja, Bunga.”

Bunga tersenyum, senyum yang membalut rahasia gelapnya. “Terima kasih, saudaraku. Biarlah aku berusaha sendiri dulu. Jika tak mampu, aku pasti akan meminta bantuan kalian.”

Itulah Bunga, gadis yang terlalu tegar, yang memilih memikul bebannya sendirian. Mereka berjanji untuk saling menjaga, tak sadar bahwa janji itu akan segera diuji oleh takdir.

Pukul 22.00 Wita. Suasana hening Makassar kian mencekam, udara dingin menusuk kulit. Di Jalan Ratulangi, sebuah taksi biru meluncur, membawa Bunga yang baru saja “pulang kerja” menuju rumah. Ia tiba di pangkuan Ibunya yang masih sibuk menyetrika pakaian cuci-an.

”Assalamualaikum,” salam Bunga, menghampiri Ibunya yang membalas dengan senyum lelah.

”Sudah pulang, Nak? Kerjamu lancar?” tanya Sang Ibu.

”Beress, Bu. Semuanya lancar,” jawab Bunga, sebuah kebohongan yang lagi-lagi menyayat batinnya. Sang Ibu mencium keningnya, memerintahkannya untuk istirahat, tak menyadari betapa beratnya palu godam kehidupan yang memukul putri sulungnya.

Bunga juga memiliki Rangga, kekasih setangkup sekolahnya, yang bercita-cita menjadi mahasiswa Perikanan Unhas. Mereka memiliki ikatan keluarga, dan cinta mereka disambut baik oleh kedua keluarga.

”Siap dong, apalagi dengan doi yang kucinta sepertimu,” kata Bunga dengan senyum termanisnya, saat mereka berkencan, menikmati nasi goreng spesial dan menonton film di Bioskop Arini yang ramah kantong pelajar.

Rangga, yang berasal dari keluarga berada, selalu cemas melihat Bunga yang bekerja paruh waktu. “Bunga, sudahlah kau berhenti saja kerja,” katanya, menggenggam tangan halus Bunga.

Bunga bersandar di pundak Rangga, merangkai alasan. “Maaf, Rangga. Ibu banting tulang. Aku takut sekolahku terganggu,” jawabnya, menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih getir.

Rangga, tak punya daya untuk membujuk, hanya bisa mengusap rambut gadisnya. “Aku takut sesuatu terjadi padamu, Bung.”

”Insyaallah, aku akan baik-baik saja,” jawab Bunga, memandang Rangga, yakin bahwa cinta mereka akan tetap tumbuh subur, meskipun takdir seringkali menunjuk ke arah yang berbeda.

Aduhai kekasih pujaan hatiku, Aku serahkan sepenuhnya hatiku. Kuharap cinta di antara kita berdua akan terus tumbuh subur. Duhai, sang pujaan hati, Lihatlah jauh di lubuk hati ini, Di sana telah terukir indah namamu.

Enam hari berlalu. Di kamar serba putih, Bunga terbaring dengan kantong darah kini menggantikan cairan bening di infus. Di luar, Sang Ibu menangis di bangku panjang.

Mira dan Mirna menerobos masuk, disusul Vira yang memeluk Sang Ibu yang tak henti menangis.

”Hai, suster-susterku!” sapa Bunga, suaranya nyaris tak terdengar, namun senyum dipaksakan itu tetap ada.

Bunga meminta Vira untuk masuk. Ketika mereka bertiga berkumpul, ia mengumpulkan sisa tenaganya, dan mata yang redup itu menatap mereka satu per satu.

”Sahabat-sahabatku, ada rahasia yang harus kukatakan. Selama ini, aku tidak bekerja di toko roti…”

Jantung ketiga sahabatnya seakan berhenti berdetak.

”…Tapi, aku menjual diri ini pada laki-laki hidung belang,” desah Bunga.

”Ah, apa?!” seru ketiga sahabatnya bersamaan.

Air mata Bunga mengalir, membasahi pipinya yang kurus. “Mungkin inilah buah dari perbuatanku. Berdusta pada kalian dan ibuku! Maafkan aku, sahabat. Kalian tahu, toko mana yang mau mempekerjakan anak yang masih berstatus siswa…”

Ia merangkai kata-kata terakhirnya dengan nada lirih. “Inilah takdir yang harus kujalani. Cita-cita membahagiakan Ibu dan adikku mungkin hanya sebuah cerita setelah kepergianku. Aku merasa beruntung memiliki sahabat seperti kalian. Maafkan saya jika terpaksa mengecewakan.”

”Cukup! Kamu pasti sembuh!” Vira mencoba menyangkal takdir.

Namun, Bunga telah menerima nasibnya. “Satu hal lagi aku minta: jika kalian bertemu seorang Ustadz atau Ustadzah, coba kalian tanyakan, apakah dosa-dosa yang selama ini kulakukan, dengan membiarkan tubuhku dinikmati, akan diampuni?”

Bunga meminta Mira, Vira, dan Mirna untuk merahasiakan pekerjaan kotornya dari Ibu dan Rangga. Kemudian, dengan suara yang semakin terputus-putus, ia meminta Ibunya dipanggil.

Sang Ibu mendekat, air mata membasahi pipi. “Bu, maafkan Bunga. Kalau Bunga harus mengecewakan Ibu!”

”Tidak, Nak. Kamu anak ibu yang paling tegar. Istirahatlah,” jawab Ibunya, berusaha tegar.

”Tapi, jangan biarkan adik-adikku putus sekolah. Bunga sayang Ibu dan adik-adik… Bu, Bunga capek, ingin tidur. Ayah dari tadi menunggu!”

Bunga memejamkan mata. Genggaman tangannya terlepas dari tangan Sang Ibu.

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun.

Sang Ibu, meskipun hatinya hancur berkeping-keping, berbisik tegar, “Istirahatlah, Bunga. Ibu ikhlas melepaskan kepergianmu.”

Bunga, sang gadis tegar yang memilih jalan terjal demi cinta pada keluarganya, telah menghembuskan napas terakhir. Kisah hidupnya berakhir di antara tumpukan tanah merah, di salah satu Pemakaman Umum Kota Makassar. Bunga telah layu, meninggalkan segala kenangan, segala kisah yang telah mereka ukir, namun juga meninggalkan sebuah pertanyaan abadi tentang kerasnya Takdir dan sebuah Cinta yang buta.

Lates Chapters

Chapter 30. Pengorbanan Seorang Isteri ( Tamat )

Risa dan Rangga duduk bersama di ruang tamu rumah Monica.  Mereka berdua datang menemui Monica. Wanita itu bertanya – tanya ada apa dengan kedatangan Rangga…

Chapter 29. Dendam Dan Dosa Masa Lalu

Rangga setelah dinyatakan pulih oleh dokter diperbolehkan  kembali ke rumahnya.  “ Papi istirahat dulu, jangan masuk kantor besok “ kata Risa pada Rangga yang baring…

Chapter 28. Aksi

Monica dan Mira selalu membayangi setiap langkah Rangga. Dan berusaha untuk mencelakai Rangga dan Risa. Bahkan membayar sekelompok orang - orang untuk mencelakai Rangga. “…

Chapter 27. Hasutan Mira Yang Menyesatkan

Mira bertemu dengan Monica. Entah apa yang mereka rencanakan. Monica yang punya dendam pada Rangga tetap akan membalaskan dendamnya. Dendam telah membutakan hatinya. Mira berusaha…

Chapter 26. Cinta Rayhan Pada Monica

Rangga termenung seorang diri di dalam ruangannya, membayangkan Monica yang begitu menaruh dendam padanya. Meski berulang - ulang dia meminta maaf pada wanita itu. Dia…

Chapter 25. Maafkan Aku Sayang

“ Raisya mana sayang “ Rangga bertanya karena tidak melihat putrinya  ada dirumah. “ Dia lagi di rumah bapak, sepertinya anak itu kerasan di sana.ujar…

Chapter 24. Tak Sudi Kata Maaf

Dua tahun lamanya Rangga dan Monica menjalin hubungan asmara. Monica tetap bersabar agar Rangga mau menerima cintanya sepenuh hati kendati dia telah menyerahkan kesuciannya pada…

Chapter 23. Benarkah Karena Khilaf

Rangga tersenyum lembut sambil menarik kursi untuk Monica. Mereka berdua duduk di seberang satu sama lain, masih terdapat senyuman hangat di wajah mereka. Monica tertawa.…

Chapter 22. Awal Dari Sebuah Dendam

Rangga melangkah masuk ke dalam kafe, mencari ketenangan di tengah keramaian. Ia menghampiri meja bartender sambil tersenyum. "Selamat malam, satu Americano panas, tolong," ujar Rangga.…

Chapter 21. Dendam Membutakan Hati

Setelah dokter memastikan kondisi Rangga benar-benar pulih, ia akhirnya diizinkan pulang—meski dengan syarat ia tetap rutin melakukan kontrol selama dua bulan ke depan. Risa membuka…

Chapter 20. Kembali Dari Kematian

Rangga terbangun dari tidurnya. Namun itu bukan tidur biasa, dadanya terasa ringan, terlalu ringan. Ia memandang sekeliling dan tubuhnya merinding. “Hei… aku di mana ini?”…

Chapter 19. Jangan Tinggal Kami

Tiba–tiba lamunan Risa buyar ketika nada dering ponselnya meraung memecah keheningan rumah. “Assalamualaikum,” ucapnya lirih, dada tiba-tiba terasa sesak tanpa sebab yang jelas. “Waalaikumsalam… apakah…

Chapter 18. Healing

“Hei, kamu melamun ya?” suara Rangga memecah kesunyian. “Enggak kok, Pi…” Risa tersenyum lirih, berusaha menutupi kegelisahan yang sejak tadi mengusik hatinya. “Sejak kapan permaisuriku…

Chapter 17. Bayang – Bayang Monica

Sepertinya Monica selalu tahu setiap langkah Rangga. Buktinya, dia bahkan tahu Rangga sedang berada di Kota M selama seminggu, dan mengetahui kantor cabang baru yang…

Chapter 16. Pelampiasan Nafsu

Malam semakin larut, jalan-jalan mulai sepi. Rayhan tidak membutuhkan waktu lama untuk melajukan mobil menuju perumahan elit Monica. Setelah memarkirkan mobil, dia memapah Monica yang…

Chapter 15. Monica

Udara malam begitu dingin, tetapi suasana pertemuan Rangga dan Monica terasa sangat panas. Mereka bertemu di sebuah kafe. "Saya harap kamu jangan mengganggu kehidupanku lagi!"…

Chapter 14. Mimpi Buruk

Tentu, berikut adalah perapian naskah novel Anda, dengan penajaman konflik emosional, penggambaran suasana, dan dramatisasi adegan mimpi buruk. Cuaca malam ini terasa begitu dingin. Risa…

Chapter 13. Putri Kecil Kita

Dua tahun usia pernikahan Risa dan Rangga. Dan benih cinta Rangga telah tertanam di rahim Risa. Kabar bahagia ini membuat mereka semakin bersyukur dan menanti…

Chapter 12. Impian Yang Terwujud

Hubungan antara Risa dan Rangga kembali terjalin. Perpisahan selama bertahun-tahun justru membuat ikatan cinta mereka semakin erat. Bak pepatah, dua insan yang ditakdirkan bersama tak…

Chapter 11. Janji

Tidak banyak yang mereka perbincangkan di kafe. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang. Tuhan, apakah benar dia akan menjadi milikku? Sungguh, saat ini menjadi ragu,…
error: Content is protected !!