Kususuri jalan-jalan protokol Kota Makassar yang dingin, Kugapai asa yang tak pasti. Aku berteman dengan dinginnya malam, mengharap ilham dari sebuah keajaiban. Aku bukanlah malaikat ataupun dewi, aku hanyalah manusia hina di pandangan Sang Khalik, mengharapkan Ridho DariNya. Semoga kutemukan arti sebuah kehidupan… Ku berjalan di antara pekatnya malam kota, Ku berselimut dengan dinginnya malam, Bermandikan peluh di malam yang buta, mengharap ada kasih dari si empunya hati nurani.
Di sekolah, Bunga menjelma siswa teladan. Datang tepat waktu, rajin belajar, dan otaknya yang cerdas menyerap pelajaran dengan cepat. Ia adalah magnet bagi kebaikan, termasuk bagi tiga sahabat karibnya sejak SMP: Mira yang cantik dan ceria meski mungil, Vira yang manja namun berpenampilan eksentrik, dan Mirna yang pendiam, namun memiliki mata pengamat yang tajam.
Namun, dunia Bunga tak lagi utuh. Sejak ayahnya direnggut kecelakaan tragis saat ia masih Kelas II SMP, laju ekonomi keluarganya oleng dan tenggelam dalam kekurangan. Sang Ibu, dengan punggung yang tak pernah lelah, merangkap menjadi Tukang Cuci demi menyambung hidup, meski upah yang didapat tak seberapa. Tekadnya membaja: anak-anaknya harus sekolah, setidaknya sampai tamat SMA. Dan Bunga, sebagai harapan tunggal, memikul janji itu.
Ada ungkapan pahit: ketika ekonomi mencekik, seseorang kadang terpaksa mengambil jalan pintas yang dianggap hina. Dan Bunga, di usianya yang rapuh, mengambil jalan itu. Sebuah pekerjaan yang dipandang kotor, namun baginya, ini adalah satu-satunya cara cepat untuk meredakan derita Sang Ibu dan menjamin kelangsungan sekolah adik-adiknya. Ia menciptakan dinding dusta, mengatakan pada Ibu dan sahabatnya bahwa ia bekerja di sebuah toko roti.
Meskipun demikian, Bunga tak pernah meninggalkan dunianya yang terang. Ia tetap hadir di sekolah, senantiasa menjadi Bunga yang disenangi.
Saat jam istirahat, di bawah terik Makassar, persahabatan mereka berempat bersemi di kantin. Namun, mata Mirna tak bisa dibohongi. Ia menatap Bunga dengan kecemasan yang mendidih.
”Kalau aku perhatikan, kau tak seperti biasanya, Bunga,” lontar Mirna, menyuarakan gejolak di hatinya.
”Maksudmu apa, Mir? Aku rasa tak ada yang berbeda,” jawab Bunga, mencari dukungan dari Vira.
”Tidak, Bunga. Kau kurusan, jauh berbeda,” tegas Mirna.
Vira dan Mira mengangguk, mengiyakan perubahan yang mulai menyelimuti sahabat mereka.
”Mungkin hanya kurang tidur,” desah Bunga pelan, menyandarkan alasannya pada pekerjaan malam membantu Ibu mencuci. Sebuah alasan yang sejujurnya adalah sebagian kebenaran dan sebagian lagi kabut penipuan.
Mira, dengan hati yang tulus, memeluk Bunga. “Kita sudah bersahabat sejak SMP. Bebanmu adalah beban kami juga. Katakan saja apa yang harus kami bantu.”
Vira menyambung, “Kita berempat ini sudah seperti saudara. Bicara saja, Bunga.”
Bunga tersenyum, senyum yang membalut rahasia gelapnya. “Terima kasih, saudaraku. Biarlah aku berusaha sendiri dulu. Jika tak mampu, aku pasti akan meminta bantuan kalian.”
Itulah Bunga, gadis yang terlalu tegar, yang memilih memikul bebannya sendirian. Mereka berjanji untuk saling menjaga, tak sadar bahwa janji itu akan segera diuji oleh takdir.
Pukul 22.00 Wita. Suasana hening Makassar kian mencekam, udara dingin menusuk kulit. Di Jalan Ratulangi, sebuah taksi biru meluncur, membawa Bunga yang baru saja “pulang kerja” menuju rumah. Ia tiba di pangkuan Ibunya yang masih sibuk menyetrika pakaian cuci-an.
”Assalamualaikum,” salam Bunga, menghampiri Ibunya yang membalas dengan senyum lelah.
”Sudah pulang, Nak? Kerjamu lancar?” tanya Sang Ibu.
”Beress, Bu. Semuanya lancar,” jawab Bunga, sebuah kebohongan yang lagi-lagi menyayat batinnya. Sang Ibu mencium keningnya, memerintahkannya untuk istirahat, tak menyadari betapa beratnya palu godam kehidupan yang memukul putri sulungnya.
Bunga juga memiliki Rangga, kekasih setangkup sekolahnya, yang bercita-cita menjadi mahasiswa Perikanan Unhas. Mereka memiliki ikatan keluarga, dan cinta mereka disambut baik oleh kedua keluarga.
”Siap dong, apalagi dengan doi yang kucinta sepertimu,” kata Bunga dengan senyum termanisnya, saat mereka berkencan, menikmati nasi goreng spesial dan menonton film di Bioskop Arini yang ramah kantong pelajar.
Rangga, yang berasal dari keluarga berada, selalu cemas melihat Bunga yang bekerja paruh waktu. “Bunga, sudahlah kau berhenti saja kerja,” katanya, menggenggam tangan halus Bunga.
Bunga bersandar di pundak Rangga, merangkai alasan. “Maaf, Rangga. Ibu banting tulang. Aku takut sekolahku terganggu,” jawabnya, menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih getir.
Rangga, tak punya daya untuk membujuk, hanya bisa mengusap rambut gadisnya. “Aku takut sesuatu terjadi padamu, Bung.”
”Insyaallah, aku akan baik-baik saja,” jawab Bunga, memandang Rangga, yakin bahwa cinta mereka akan tetap tumbuh subur, meskipun takdir seringkali menunjuk ke arah yang berbeda.
Aduhai kekasih pujaan hatiku, Aku serahkan sepenuhnya hatiku. Kuharap cinta di antara kita berdua akan terus tumbuh subur. Duhai, sang pujaan hati, Lihatlah jauh di lubuk hati ini, Di sana telah terukir indah namamu.
Enam hari berlalu. Di kamar serba putih, Bunga terbaring dengan kantong darah kini menggantikan cairan bening di infus. Di luar, Sang Ibu menangis di bangku panjang.
Mira dan Mirna menerobos masuk, disusul Vira yang memeluk Sang Ibu yang tak henti menangis.
”Hai, suster-susterku!” sapa Bunga, suaranya nyaris tak terdengar, namun senyum dipaksakan itu tetap ada.
Bunga meminta Vira untuk masuk. Ketika mereka bertiga berkumpul, ia mengumpulkan sisa tenaganya, dan mata yang redup itu menatap mereka satu per satu.
”Sahabat-sahabatku, ada rahasia yang harus kukatakan. Selama ini, aku tidak bekerja di toko roti…”
Jantung ketiga sahabatnya seakan berhenti berdetak.
”…Tapi, aku menjual diri ini pada laki-laki hidung belang,” desah Bunga.
”Ah, apa?!” seru ketiga sahabatnya bersamaan.
Air mata Bunga mengalir, membasahi pipinya yang kurus. “Mungkin inilah buah dari perbuatanku. Berdusta pada kalian dan ibuku! Maafkan aku, sahabat. Kalian tahu, toko mana yang mau mempekerjakan anak yang masih berstatus siswa…”
Ia merangkai kata-kata terakhirnya dengan nada lirih. “Inilah takdir yang harus kujalani. Cita-cita membahagiakan Ibu dan adikku mungkin hanya sebuah cerita setelah kepergianku. Aku merasa beruntung memiliki sahabat seperti kalian. Maafkan saya jika terpaksa mengecewakan.”
”Cukup! Kamu pasti sembuh!” Vira mencoba menyangkal takdir.
Namun, Bunga telah menerima nasibnya. “Satu hal lagi aku minta: jika kalian bertemu seorang Ustadz atau Ustadzah, coba kalian tanyakan, apakah dosa-dosa yang selama ini kulakukan, dengan membiarkan tubuhku dinikmati, akan diampuni?”
Bunga meminta Mira, Vira, dan Mirna untuk merahasiakan pekerjaan kotornya dari Ibu dan Rangga. Kemudian, dengan suara yang semakin terputus-putus, ia meminta Ibunya dipanggil.
Sang Ibu mendekat, air mata membasahi pipi. “Bu, maafkan Bunga. Kalau Bunga harus mengecewakan Ibu!”
”Tidak, Nak. Kamu anak ibu yang paling tegar. Istirahatlah,” jawab Ibunya, berusaha tegar.
”Tapi, jangan biarkan adik-adikku putus sekolah. Bunga sayang Ibu dan adik-adik… Bu, Bunga capek, ingin tidur. Ayah dari tadi menunggu!”
Bunga memejamkan mata. Genggaman tangannya terlepas dari tangan Sang Ibu.
Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun.
Sang Ibu, meskipun hatinya hancur berkeping-keping, berbisik tegar, “Istirahatlah, Bunga. Ibu ikhlas melepaskan kepergianmu.”
Bunga, sang gadis tegar yang memilih jalan terjal demi cinta pada keluarganya, telah menghembuskan napas terakhir. Kisah hidupnya berakhir di antara tumpukan tanah merah, di salah satu Pemakaman Umum Kota Makassar. Bunga telah layu, meninggalkan segala kenangan, segala kisah yang telah mereka ukir, namun juga meninggalkan sebuah pertanyaan abadi tentang kerasnya Takdir dan sebuah Cinta yang buta.