Melampaui Batas Cinta

Chapter 26. Cinta Rayhan Pada Monica

Rangga termenung seorang diri di dalam ruangannya, membayangkan Monica yang begitu menaruh dendam padanya.

Meski berulang – ulang dia meminta maaf pada wanita itu.

Dia mengingat kembali perjalanan hidupnya saat kehilangan seorang Rianti. Yang dianggap telah mati, ternyata kembali hadir dalam kehidupan. Begitu pula Maya, sahabat Maya yang telah lama dikenalnya.

Apalagi Mira, sahabat Risa juga pernah berharap mendapatkan cinta Rangga. Namun Rangga menolaknya, tapi mengapa ketika Monica hadir dalam kehidupannya dia tidak mampu menolak gadis itu.

Bahkan selama 2 tahun bersamanya mengarungi indahnya percintaan sepasang kekasih. 

“ Hari ini kau membuatku semakin membencimu ” 

“Perlakuanmu padaku, aku tidak akan melupakannya selamanya”

“Aku bersumpah suatu hari nanti kau akan kubuat dirimu memohon untuk menerimamu!” batin Monica menggerutu dan mencaci maki Rangga.

“ Kau telah menjual, maka seorang Monica akan membeli segala perlakuanmu hari ini !” balas dendam Monica begitu besarnya.

Diambilnya foto Rangga yang terletak diatas meja riasnya.

Krak krak.

Foto itu dilemparnya, membuat bingkai kaca itu pecah.

“Tidak, tidak ada apa-apa!” suara Bik Ima dari luar kamar 

“Masuk Bik!” panggil Monica dari dalam kamar.

“Tolong bibi bersihkan, dan foto laki – laki bangsat itu dibakar atau dibuang saja ke tong sampah !’ pintanya pada Bik Ima yang keluar untuk mengambil sapu dan sekop sampah.

“Ya, Tidak!” jawab Bi Ima yang mulai menyapu pecahan kaca dan membingkai yang patah.

Monica menuju kamar mandi. Tidak lama kemudian terdengar suara air dari pancuran.

Nampaknya Monica ingin mandi. Di dalam kamar mandi dia menangis sejadi – jadinya.

Setelah menangis, dia pun akhirnya mandi. Dinginnya udara yang mengguyur tubuh dan kepalanya tidak mampu mendinginkan amarah di dalam hatinya. Dan kemarahan itu telah menjadi dendam yang membutakan isi hatinya.

Kini yang ada hanya balas dendam, karena merasa telah dicampakkan oleh Rangga.

Hiruk pikuk suara musik menggema, di seluruh ruangan diskotik yang dipenuhi para muda – mudi yang datang untuk menghabiskan malam.

Di meja bartender seorang gadis dengan rambut kecoklatan tengah memesan minuman keras.

“Sepertinya kamu lagi banyak masalah ya!” tegur bartender itu pada Monica.

“Tidak biasanya kamu pesan minuman keras seberat ini!” lanjut Brian.

Brian adalah bartender handal diskotik tempat Monica datang untuk bersenang-senang – senang.

“ Cuma pengen aja rasain miras racikan kamu !” ngelak Monica tidak ingin diketahui kalau memang dia saat ini penuh balas dendam pada Rangga.

Suara musik memekakkan telinga. Di depan DJ yang menggerakkan musik bergoyang dengan penuh histeris. Sengaja membakar semangat para pengunjung untuk menghabiskan malam ini.

“ Hai, tumben kamu baru kelihatan “ sebuah suara menegur Monica.

“Hai, apa kabarmu, Ray!” Monica langsung memeluk begitu tahu siapa yang menegur.

 “ Baik – baik saja, seperti yang kamu lihat !” balas Ray sambil mengambil tempat duduk di samping Monica.

Rayhan, seorang pemuda yang sebenar menaruh hati pada Monica, namun cintanya melingkari sisi tangan. Lantaran Monica lebih jatuh pada Rangga dibandingkan pada Rayhan. 

“Lama gak ketemu kamu makin cantik aja!” puji Ray pada Monica yang hanya tersenyum manis padanya.

“ Kamu minum minuman keras, sejak kapan ?” tanya Rayhan pada Monica

“Ya sejak malam ini, mang kenapa?” Monica balik bertanya pada Rayhan.

“Gak papa, cuman heran saja. Kamu ada perubahan total!” Rayhan seolah menyelidiki Monica. Dengan perubahan yang terjadi pada gadis yang masih dicintainya itu.

“Brian, tambah lagi minumannya dong!” pinta Monica pada Brian.

“Tidak, sudah cukup kamu minum malam ini!” Rayhan mencegah Brian untuk menambah minuman Monica.

“Kenapa kamu larang sayang, aku mau minum berapa gelas, berapa botol apa urusan kamu !” ketus Monica pada Rayhan yang beragama Islam Brian memberikan minuman.

“Monica, kamu tuh udah mabuk. Cukup minumnya!” kata Rayhan 

“Aku belum mabuk tau, aku masih sadar nih.”

“Lihat aku masih sanggup berdiri?” Monica coba berdiri namun sempoyongan. Untung saja Rayhan dengan cepat memegangnya, hingga dia tidak jatuh.

“ Sini biar aku antar kamu pulang !” menawari bantuan pada Monica yang berjalan sambil dipapah oleh Rayhan.

“ Kamu bawa mobil kan, biar aku yang nyetir !” Kata Rayhan sambil menerima kunci dari Monica.

“Brian, masukkan semua minumannya ke nota tagihan aku!” pinta Rayhan pada Brian sebelum membawa Monica menuju ke parkiran.

Rayhan menempatkan Monica yang sudah mabuk berat ke dalam mobil. Lalu dia pun mengantar Monica pulang. 

Malam yang semakin larut, jalan – jalan mulai sepi dilalui kendaraan.. Sehingga tidak terlalu lama Rayhan melajukan mobil menuju rumah Monica.

Rayhan memasuki perumahan elit dan langsung menuju ke rumah Monica. Setelah memarkirkan mobil, dia memapah Monica yang sudah tak sadarkan diri karena mabuk.

Terpaksa digendongnya gadis itu menuju pintu dan memencet bel. Biasa Bik Inah belum tidur kalau Monica belum pulang.

Ting Tong

Tak lama suara pintu terbuka dari dalam.

“Malam Bik!” Rayhan mengucapkan salam, begitu pintu rumah terbuka.

“Malam Den, waduh pasti Neng Monica mabuk lagi ya Den !” kata Bik Inah melihat Monica dalam gendongan Rayhan.

“ Ya, udah aku langsung bawa saja ke dalam ruangan aja Bik !” kata Rayhan langsung menuju kamar Monica yang berada di lantai atas.

Bi Inah membukakan pintu kamar dan Rayhan masuk dan membaringkan Monica diatas kasur dan menyelamatkannya.

“Bik Inah jaga Neng Monica ya!”

“ Saya langsung saja pulang !” pamit Rayhan pada Bik Ina.

Baru saja Rayhan akan beranjak keluar, Monica bangun dengan sempoyang menuju kamar mandi.

Hampir saja dia terjatuh, mungkin jika Rayhan tidak cepat menahan tubuh gadis itu pasti akan terjatuh dan membentuk lemari hias.

“ Rayhan memapah tubuh Monica kamar mandi, belum juga sampai menuju pada westefal.

“erghh… bleargh…” Monica muntah. Dan sedikit mengenai baju Rayhan. Aroma minuman keras begitu menyengat. 

Setelah dirasa tidak ada yang mau dimuntahkan Rayhan memapah Monica menuju ke atas kasur.

“ Waduh baju Adeng kena muntah !” kata Bik Inah.

“Gak papa kok, cuma sedikit, Bik!” ujar Rayhan

“ Ya udah bibi kalau mau istirahat, istirahat saja “

“Biar aku yang jagain Monica, Bik!” kata Rayhan sambil mencekik Monica.

 “Nanti aku tidurnya di sofa aja, Bik!” lanjut Rayhan.

“ Iya deng, maaf sudah direpotin Deng Rayhan !” ucap Bik Inah sambil keluar dari kamar tidur Monica.

Dan meninggalkan Rayhan yang menyalakan AC ruangan.

Baru saja Rayhan akan meninggalkan Monica. Gadis itu terjaga.

“Raihan?” merasa heran karena Rayhan berada di dalam kamarnya.

“Tadi kamu mabuk berat, saya mengantar kamu pulang!” jelas Rayhan pada Monica yang bangun dari baringnya.

Pengaruh alkohol belum seluruhnya hilang, kepalanya dirasakan masih pusing.

“ Kamu nginep aja disini !” Monica menawari kepada Rayhan agar tetap tinggal dan menginap malam ini.

“Malam ini aku, mau kamu menemaniku, Ray!” Monica bermanja pada Rayhan.

Rayhan tahu apa yang diinginkannya, seperti yang pernah mereka lakukan. Meski akhirnya dia ikhlas melepas Monica untuk memilih Rangga.

“Rayhan…aku butuh kamu sayang!” goda Monica sambil membuka kancing baju blusnya lalu membantingnya ke sisi kasur.

Pemandangan tubuh terbuka Monica itu mengarah ke atas. Rayhan menelan ludahnya menyaksikan pemandangan itu.

Tubuh seorang wanita yang selama ini didambakan untuk dapat didekap dan dipeluknya. Namun hasrat itu tidak pernah tercapai, karena di dalam hati hanya ada Rangga. Laki – laki yang sudah beristri dan punya seorang putri. Entah apa yang istimewa pada laki – laki itu, membuat Monica tergila – gila.

Dan malam ini, wanita itu telah memancing gairahnya, dan mungkin kesempatan untuk dapat merasakan kehangatan tubuh sintal wanita itu akan segera dirasakannya. Tubuh Monica begitu bagus, dengan hiasan – hiasan yang ada pada tubuh putih bersih itu.

Memang Monica sangat pandai memancing gairah seorang laki – laki. 

Perlahan Monica mendekati Rayhan yang berdiri di sisi kasur.

Monica membuka resleting celana Rayhan dan melorotkan ke bawah jatuh ke kaki laki – laki. Diusapnya seluruh tubuh kekar laki – laki itu, lalu dimainkan dengan tangan lembutnya. Digenggamnya dari luar celana dalam

Akhirnya, pergulatan pun terjadi antara Monica dan Rayhan diatas kasur. Monica berkali – kali menjerit menahan kenikmatan saat Rayhan memuncaknya mengajak menuju puncak kenikmatan. Hingga akhirnya mereka terkulai lemas diatas kematian dengan nafas yang saling berburu.

Lates Chapters

Chapter 30. Pengorbanan Seorang Isteri ( Tamat )

Risa dan Rangga duduk bersama di ruang tamu rumah Monica.  Mereka berdua datang menemui Monica. Wanita itu bertanya – tanya ada apa dengan kedatangan Rangga…

Chapter 29. Dendam Dan Dosa Masa Lalu

Rangga setelah dinyatakan pulih oleh dokter diperbolehkan  kembali ke rumahnya.  “ Papi istirahat dulu, jangan masuk kantor besok “ kata Risa pada Rangga yang baring…

Chapter 28. Aksi

Monica dan Mira selalu membayangi setiap langkah Rangga. Dan berusaha untuk mencelakai Rangga dan Risa. Bahkan membayar sekelompok orang - orang untuk mencelakai Rangga. “…

Chapter 27. Hasutan Mira Yang Menyesatkan

Mira bertemu dengan Monica. Entah apa yang mereka rencanakan. Monica yang punya dendam pada Rangga tetap akan membalaskan dendamnya. Dendam telah membutakan hatinya. Mira berusaha…

Chapter 25. Maafkan Aku Sayang

“ Raisya mana sayang “ Rangga bertanya karena tidak melihat putrinya  ada dirumah. “ Dia lagi di rumah bapak, sepertinya anak itu kerasan di sana.ujar…

Chapter 24. Tak Sudi Kata Maaf

Dua tahun lamanya Rangga dan Monica menjalin hubungan asmara. Monica tetap bersabar agar Rangga mau menerima cintanya sepenuh hati kendati dia telah menyerahkan kesuciannya pada…

Chapter 23. Benarkah Karena Khilaf

Rangga tersenyum lembut sambil menarik kursi untuk Monica. Mereka berdua duduk di seberang satu sama lain, masih terdapat senyuman hangat di wajah mereka. Monica tertawa.…

Chapter 22. Awal Dari Sebuah Dendam

Rangga melangkah masuk ke dalam kafe, mencari ketenangan di tengah keramaian. Ia menghampiri meja bartender sambil tersenyum. "Selamat malam, satu Americano panas, tolong," ujar Rangga.…

Chapter 21. Dendam Membutakan Hati

Setelah dokter memastikan kondisi Rangga benar-benar pulih, ia akhirnya diizinkan pulang—meski dengan syarat ia tetap rutin melakukan kontrol selama dua bulan ke depan. Risa membuka…

Chapter 20. Kembali Dari Kematian

Rangga terbangun dari tidurnya. Namun itu bukan tidur biasa, dadanya terasa ringan, terlalu ringan. Ia memandang sekeliling dan tubuhnya merinding. “Hei… aku di mana ini?”…

Chapter 19. Jangan Tinggal Kami

Tiba–tiba lamunan Risa buyar ketika nada dering ponselnya meraung memecah keheningan rumah. “Assalamualaikum,” ucapnya lirih, dada tiba-tiba terasa sesak tanpa sebab yang jelas. “Waalaikumsalam… apakah…

Chapter 18. Healing

“Hei, kamu melamun ya?” suara Rangga memecah kesunyian. “Enggak kok, Pi…” Risa tersenyum lirih, berusaha menutupi kegelisahan yang sejak tadi mengusik hatinya. “Sejak kapan permaisuriku…

Chapter 17. Bayang – Bayang Monica

Sepertinya Monica selalu tahu setiap langkah Rangga. Buktinya, dia bahkan tahu Rangga sedang berada di Kota M selama seminggu, dan mengetahui kantor cabang baru yang…

Chapter 16. Pelampiasan Nafsu

Malam semakin larut, jalan-jalan mulai sepi. Rayhan tidak membutuhkan waktu lama untuk melajukan mobil menuju perumahan elit Monica. Setelah memarkirkan mobil, dia memapah Monica yang…

Chapter 15. Monica

Udara malam begitu dingin, tetapi suasana pertemuan Rangga dan Monica terasa sangat panas. Mereka bertemu di sebuah kafe. "Saya harap kamu jangan mengganggu kehidupanku lagi!"…

Chapter 14. Mimpi Buruk

Tentu, berikut adalah perapian naskah novel Anda, dengan penajaman konflik emosional, penggambaran suasana, dan dramatisasi adegan mimpi buruk. Cuaca malam ini terasa begitu dingin. Risa…

Chapter 13. Putri Kecil Kita

Dua tahun usia pernikahan Risa dan Rangga. Dan benih cinta Rangga telah tertanam di rahim Risa. Kabar bahagia ini membuat mereka semakin bersyukur dan menanti…

Chapter 12. Impian Yang Terwujud

Hubungan antara Risa dan Rangga kembali terjalin. Perpisahan selama bertahun-tahun justru membuat ikatan cinta mereka semakin erat. Bak pepatah, dua insan yang ditakdirkan bersama tak…

Chapter 11. Janji

Tidak banyak yang mereka perbincangkan di kafe. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang. Tuhan, apakah benar dia akan menjadi milikku? Sungguh, saat ini menjadi ragu,…

Chapter 10. Mentari Bukan Purnama

 Dalam keheningan berteman dengan bayangan, Hanyut pada kenangan yang semakin memudar. Aku hanya mendekap sebuah bayangan yang kucipta, pada dia, pada kenangan. Kucurahkan segalanya di…
error: Content is protected !!