Antara Aku dan Dia

Darah Untukmu

Archand memasang wajah melas terhadap sang mama, agar mendapatkan perhatian yang sama seperti yang di dapatkan oleh Florensia. Pria itu berharap sang mama masih menyayanginya ketika sang mama sudah mendapatkan menantu sepertinya Florensia. Archand berharap kasih sayang sang mama terhadapnya tidak akan berkurang.

 

“Yang mana sakitnya, Sayang? Sini aku tiupin.”  

 

Florensia meraih punggung tangan kekasihnya lalu meniupnya dengan penuh kehangatan. Hal tersebut membuat Renata semakin mengganggumi dirinya. Dia tersenyum menatap wajah Florensia yang terlihat cantik, sudah cantik dia juga merupakan wanita yang baik.

 

“Yang ini, Sayang. Tiupin tolong! Biar sakitnya hilang.” sahut Archand.

 

“Jangan lebay kenapa sih, Florensia itu masih sakit, Nak. Suami macam apa kamu ini? 

Seharusnya kamu yang dampingin istrimu.” Renata cengegasan, dia berharap suatu saat nanti mereka akan berjodoh dan melangkah ke jenjang pelaminan.

 

“Suami? Kapan aku nikah sama Florensia, Ma? Kita aja baru beberapa hari pacaran. Masa iya sih udah nikah aja. Yang mau menikah dalam waktu dekat itu kak Revan, itu orangnya.” 

 

Archand menunjuk ke arah kursi yang berada di pojok, di mana Revan dan Diandra sedang sibuk merencanakan pernikahan mereka dalam waktu dekat. Renata tak menyadari kehadiran anak sulungnya di seberang sana. Apalagi setelah mendengar gagasan dari Archand yang mengatakan bahwa mereka kembali menyambung jalinan kasih mereka yang sempat terputus karena orang ketiga. Suci sedikit was-was saat Renata mulai menyadari keberadaan Revan dan Diandra. Dia takut jika Diandra akan mengatakan kejadian sebenarnya. Penyebab putusnya pertunangan mereka beberapa hari yang lalu.

 

“Revan? Sejak kapan kamu ada di sini?” tanya Renata, lalu menghampiri anak sulungnya.

Renata duduk di tengah-tengah Diandra dan Revan. Wanita paruh baya itu merangkul pasangan itu layaknya keluarga. Ada rasa bahagia terbesit di hatinya saat mendengar kabar bahagia itu. Renata tersenyum dan memeluk Diandra, dia mencium kedua pipi gadis yang berada di sampingnya itu.

 

“Mama beneran gak tahu kalau kalian ada di pojok ini. Habisnya kalian diam-diam saja sih. Ngomongnya bisik-bisik.” Renata kembali merungut.

 

“Namanya juga rumah sakit, Ma. Gak mungkin ngomongnya teriak-teriak.” sahut Revan tersenyum. “Lagian mama sibuk sama Florensia, sampai gak memerhatikan kamu berdua.” sahut Revan tertawa.

 

“Jadi kalian cemburu nih?” ledek mama. 

 

“Eng–enggak kok, Ma.” Revan menggeleng cepat.

 

“Cie, anak mama pakai malu-malu segala, kalau begitu kapan kalian mau menyelenggarakan pernikahan kalian ini, Nak?” tanya sang mama.

 

“Dalam waktu dekat, Ma. Kalau bisa dalam minggu ini, seraya menunggu tante Anantasya pulang dari luar negeri. Gimana, Ma?” Revan menggenggam tangan sang mama dan mempertanyakan apakah sang mama merestui pernikahannya itu? 

 

“Apakah mama menerima restu mama buat Revan? Kali ini Revan gak main-main, Ma. Revan serius mencintai DiandraD. Revan mohon kasi restunya, Ma.” Revan memasang wajah melas terhadap sang mama. Dia berharap Renata akan memberikan restu kepadanya dan mau membantunya untuk mempersiapkan pernikahan dalam waktu dekat.

 

“Iya, Nak. Mama setuju karena mama bisa melihat sendiri wanita pilihan kamu. Diandra merupakan wanita yang baik, dan tepat untuk kamu jadikan sebagai pasangan. Mama merestui hubungan kalian, Nak. Selamat ya, Diandra dan Revan. Semoga lancar sampai hari yang sudah di tentukan.” ucap Renata.

“Alhamdulillah, terima kasih, Ma.” 

 

Diandra mencium punggung tangan Renata dan tersenyum menatap wanita paruh baya yang ini sedang membelai lembut rambutnya. Renata bersyukur karena pilihan anak-anaknya adalah pilihannya juga. Dia sangat bahagia karena kedua putranya menjatuhkan hatinya kepada dua wanita yang tepat. Renata dan suaminya tidak pernah memprioritaskan materi dan popularitas. Tapi yang terpenting baginya adalah perilakunya dalam memperlakukan calon suaminya dan calon mertua.

 

“Iya, Nak. Sama-sama.” sahut Renata.

 

“Mama!” panggil Revan lirih.

 

“Ada apa, Nak?” tanya sang mama tersenyum menatap wajah putra sulungnya.

 

“Kalau boleh Revan mau minta maaf sama tante Anantasya, karena Revan udah mutusin pertunangan tanpa alasan. Apakah ada kesempatan untuk meminta maaf sama tante Anantasya? Revan merasa malu sekali, Ma.” sambung Revan.

 

“Kan niat kamu tulis, Nak. Kamu boleh kok minta maaf langsung sama Anastasya.

Tidak ada salahnya dengan mengatakan maaf, ingat ya, Nak. Jangan pernah gengsi untuk meminta maaf baik dengan siapapun kamu berhadapan. Apalagi mengatakan terima kasih, jangan pernah malu mengucapkan hal tersebut kepada orang yang tepat.” 

 

Renata menasehati putra sulungnya itu, karena sebuah ini Renata sangat sulit mendapatkan kata maaf dan terima kasih kepada putra sulungnya itu. Dia sangat berbeda dengan adiknya.

 

“Iya, Ma. Revan selalu ingat akan nasehat mama. Terima kasih banyak ya, Ma.” 

 

Revan memeluk sang mama dengan penuh kehangatan. Sama seperti dia memeluk kekasihnya. Menurut Revan kedua wanita tersebut sangat pantas mendapat perlakuan baik darinya, karena selama ini mereka selalu bertahan dalam menghadapi sikap egoisnya.

“Iya, Nak. Terima kasih ya.” sahut sang mama. 

 

“Sayang, kita telepon mama kamu yuk. Boleh gak?” tanya Revan.

 

“Iya, kita coba yuk. Siapa tahu sekarang waktunya mama istriahat.” gumam Diandra. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan menelepon mamanya yang sedang berada di luar negeri. Gadis itu berusaha menghubungi sang mama. Setelah masuk Diandra segera menyerahkan ponsel itu kepada Revan. Agar Revan bisa berbicara langsung dengan sang mama.

 

“Sayang, mereka lagi merencanakan pernikahan ya? Kelihatan serius banget.” bisik Archand kepada kekasihnya, pria itu terus saja menatap ke arah pojok di mana Renata, Diandra, dan Revan sedang berdiskusi dengan Anantasya lewat via telepon.

 

“Mereka kan mau menikah dalam waktu dekat, Sayang. Syukurlah kalau mereka sudah bisa saling melengkapi satu sama lain. Bukankah selama ini kita mengharapakan hal yang sama? Kita ingin melihat kak Diandra bahagia bersama pilihannya.” sahut Florensia yang tersenyum menatapnya wajah kekasihnya itu. Florensia memengang tangan kekasihnya yang kini sedang mendekapnya dengan erat.

 

“Kalau kita kapan ya?” tanya Archand.

 

“Kapan apanya, Sayang.” 

 

Sektika Florensia tertawa saat mendengarkan pertanyaan dari kekasihnya. Wajahnya memerah dan memanas karena menahan malu. Gadis itu merasa sangat bahagia dengan pertanyaan kekasihnya, karena hal itu menandakan bahwa kekasihnya itu serius menjalani hubungan bersamanya. Florensia berharap suatu saat nanti mereka segera melangkah ke jenjang pernikahan.

 

“Kapan nikahnya gitu.” sahut Archand tersipu malu. 

 

“Eh buru-buru benget sih, Sayang. Kak Revan aja belum nikah loh, masa kamu mau melangkahi mereka. Adik seperti apa kamu ini?” ledek Florensia.

 

“Iya deh, iya. Aku mengerti kamu kan emang adik yang baik. Makanya Diandra sayang banget sama kamu. Aku tu memang beruntung ya, bisa mendapatkan kekasih seperti kamu, udah baik, cantik pintar masak lagi.” Archand mencubit ujung hidungnya, dan tersenyum menatap pupil mata indah milik kekasihnya. 

 

“Ya iyalah, aku kan baik. Gimana kak Diandra gak sayang sama aku.” sahut Florensia yang memeletkan lidahnya. Dia merasa sedikit jengkel dengan kekasihnya itu.

 

“Sayang, aku lapar. Kita makan yuk!” ajak Archand. 

 

“Makan apa? Emangnya kamu pengen makan apa? Bukankah kesukaan kita sama selama ini? Ya sudah, pesan aja apa yang mau kamu pesan.” sahut Florensia.

 

“Oke, kalau begitu kita pesan bakso bakar saja, gimana?” tanya Archand.

 

“Kok kalian repot-repot pesan sih, biar aku aja yang belikan. Soalnya aku juga mau beli makanan di luar. Soalnya lapar banget.” Sahut Suci.

 

“Boleh, aku titip bakso bakar dua porsi ya.” Archand memberikan beberapa uang berwarna merah dan menuliskan pesanannya lewat selembar kertas.

 

“Yaelah, Can. Kayak aku kurir aja pakai kertas segala, lagian uang yang kamu berikan jumlahnya lebih lo.” gumam Suci.

 

“Udah, kalau ada kembaliannya ambil saja.” sahut Archand.

 

“Kamu serius, terima kasih ya. Oke, kalau begitu selamat menunggu. Sebentar lagi pesanan kalian akan segera sampai.” Suci melangkah menuju pintu keluar, dan bergegas menuju lift yang akan. Membawanya ke lantai bawah.

“Sayang, aku masih penasaran deh. Kenapa kamu masih mau berteman sama Suci? Padahal dia udah mengecewakan kamu loh.” tanya Archand penasaran.

 

“Aku sudah lama mengenal Suci, jadi sedikit banyaknya aku sudah tahu tentang dia. Suci sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Meskipun nakal tapi Suci selalu melindungiku dari Rian. Aku tahu Suci merebut kak Revan karena khilaf.” ucap Florensia.

 

“Aku yakin, Sayang? Cuma khilaf doang?” Archand kembali melontarkan pertanyaan kepada gadis itu. Pria itu dibuat kagum dengan sikapnya yang sangat mudah maafkan kesalahan orang lain dan selalu mencari tahu kebenaran tanpa langsung bertindak gegabah.

 

“Baiklah, Sayang. Semoga Suci selalu berada di jalan yang baik ya.” gumam Archand.

 

“Amin ya Allah.” ucap Florensia dan Archand serempak.

 

“Sayang, dari pada kita menunggu lama mendingan kita main game dulu yuk. Game Hay day kesukaan kamu. Kamu kan sangat suka game pertanian.” gumam Archand. 

 

“Ayo! Game pertanian kamu udah level berapa?” tanya Florensia. 

 

“Udah level 40, kalau kamu pasti udah level 50 kan? Cepat banget sih?” protes Archand.

 

“Enggak, masih lama. Level 50 belum ada istimewanya sama sekali. Sini aku bantuin mengelola pertanian kamu!” sahut Florensia yang merampas ponsel milik kekasihnya, dan membantunya untuk mengelola pertanian milik kekasihnya.

 

Setelah beberapa menit Florensia mengelola pertanian milik kekasihnya, akhirnya dia berhasil meraih level 42 dengan waktu dua jam. Archand sangat kagum dengan kaahlian kekasihnya dalam bermain game. Bukan hanya game, gadis itu juga bisa mengelola perusahaan dan juga perkebunan yang asli. 

Florensia pernah mengajak kekasihnya untuk mengelola perkebunan yang asli milik mendiang kakeknya. Meksipun dikenal sebagai pemimpin perusahaan tak membuat gadis itu malu untuk terjun langsung ke perkebunan dan mengelola perkebunan milik kakeknya.

Membuat semua orang kagum dengannya, apalagi karyawan-karyawan yang bekerja di perkebunan itu. Selain pintar, gadis itu juga sangat baik dalam memperlakukan karyawannya. Dia juga meberikan upah yang lebih tinggi untuk para karyawannnya yang rajin. Florensia dikenal sebagai seorang pemimpin yang tegas. Namun, gadis itu juga baik dan mudah beradaptasi dengan berbagai kalangan.

 

“Bagaimana kamu bisa menjadi sepintar ini, Sayang?” tanya Archand yang berdecak kagum dengan kelincahannya saat bermain game. “Kamu makin gemesin deh.” sambung Archand.

 

“Pintar apanya, Sayang? Aku tidak pintar kok.” 

 

Florensia yang masih saja fokus kepada game nya. Dia sedang memetik hasil pertanian dia game itu. Florensia membayangkan jika suatu saat nanti dia mengelola perkebunan yang asli bersama Archand yang sudah sah menjadi suaminya. Gadis itu larut dalam lamunannya sehingga membuatnya tak sadar akan kehadiran perawat di depan matanya. Salah satunya adalah Giska sahabat Revan. 

 

“Maaf Florensia.” 

 

Giska menepuk pundaknya dengan pelan. Perlahan gadis itu pun tersadar dari lamunannya, seketika Florensia menjadi malu saat kepergok melamun. Ketiga perawat itu tersenyum menatapnya termasuk kekasihnya Archand. Florensia berusaha mengalihkan pandangannya untuk membuang rasa malunya karena larut dalam lamunannya kala itu.

 

“Kamu sedang melamun ya? Kayaknya bahagia banget.” ucap Giska.

 

“Tenang kak Giska, kekasih saya hanya melamunkan saya saja. Dia adalah kekasih yang sangat setia, Kak.” sahut Archand.

 

“Oh, jadi Florensia sedang memikirkan kamu? Kok kamu tahu?” tanya Giska tertawa.

 

“Saya ini kekasih yang sangat peka, Kak. Bagaimana saya tidak tahu. Soalnya kekasih saya itu sering merindukan saya, jangankan pergi selama seminggu beberapa detik aja dia udah bertanya-tanya.” Archand membuak kekasihnya kesal. 

 

“Aduh, Archand. Jangan gombalin kekasihmu terus dong. Kasihan dia, kamu ini bisanya bikin Florensia emosi saja.” Giska tak hentinya tertawa melihat tingkah Archand.

 

“Benar banget, Kak. Jahilnya gak habis-habis. Pusing Flo lihatnya.” sambung Flo.

 

“Tapi kan kamu sayang, gak apa-apalah pusing. Tapi aku ini bikin kangen loh, Sayang. 

Ya sudah, ini waktunya tranfusi darah. Kamu harus istriahat jangan marah-marah mulu Sayang. Jaga kondisinya, jangan membuat darahnya macet.” Titah Archand.

 

“Wah benar-benar calon suami yang siaga. Tolong di pertahankan ya, Florensia. 

Kamu beruntung banget bisa mendapatkan kekasih yang perhatian seperti Archand. 

Baiklah, kalau gitu usahakan agar darahnya tidak macet ya. Selama istirahat.” 

 

Giska menunduk dan berpamitan dengan sopan dengan pengunjung dan juga pasiennya. Perawat itu adalah sahabat Revan. Maka dari Giska bersikap ramah dan terlihat dekat dengan keluarga Revan.

Sebelumnya Archand pernah menceritakan tentang Giska kepada Florensia. Sejak awal Florensia mulai di rawat rumah sakit, gadis itu sempat bertemu dengan Giska, karena sebelumnya Florensia sempat menganggap bahwa kekasihnya pernah berpacaran dengan perawat cantik itu.

“Baik, terima kasih.” Florensia tersenyum ramah. 

Gadis itu menatap langkah kaki perawat cantik itu hingga langkah kakinya menghilang dari pandangan Florensia. Gadis itu tersenyum ketika mengingat kembali ucapan Giska yang mengatakan bahwa Archand merupakan suami siaga. Florensia larut dalam kebahagiaan saat berada di samping kekasihnya itu.

Lates Chapters

Ingatlah Hari Ini

“Berawal dari kebencian, perlahan hati itu luluh dengan sendirinya. Ketika pertama kali melihatnya bersikap dingin kepadaku, dikarenakan kesalahan masa lalu. Aku pernah mengabaikannya, perlahan aku…

Melamarmu di Hari Ulang Tahunku

Malam itu menjadi saksi kebahagiaan mereka di mana mereka sedang menyaksikan percikan kembang api yang menghiasi langit nan kelam. Gadis itu tersenyum bahagia saat menyaksikan…

Malam Pertunangan

Archand menggandeng tangan Florensia dengan penuh kehangatan, dia menuntum kekasihnya hingga sampai ke atas pentas. Saat itu Arhcanda mempersembahkan sebuah lagu untuknya. Hal tersebut membuat…

Merayakan Ulang Tahun di Cafe

Malam telah tiba, mereka sedang asik mendengarkan alunan musik yang mengalun merdu di telinga, di tambah lagi dengan iringan suara dari seorang vokalis. Diandra menikmati…

Kejutan Hari Ulang Tahun

Saat itu jam menunjukkan pukul sembilan pagi, di mana kedua pasangan pengantin tesebut masih betah di dalam kamar. Diandra memandang wajah suaminya dan membalas lembut…

Hari Pernikahan

Akhirnya momen yang yang di tunggu telah tiba, di mana Diandra dan Revan akan melaksanakan ijab kabul. Diandra duduk di meja rias dan menatap wajahnya…

Saat Terindah Bersamamu

“Archand!” teriak Florensia.    “Apa Sayangku? Kalau kangen gak usah teriak-teriak begitu dong, malu di dengarkan mama. Kalau kamu pengen bareng sama aku, yuk! Kita…

Kepulangan Florensia

Sudah tiga hari Florensia terbaring lemah di rumah sakit, kondisinya sudah mulai pulih dan sudah kembali bertenaga. Florensia sudah bertemu dokter dan sudah di perbolehkan…

Ceritakan Tentang Kita

Sesampainya di rumah sakit gadis itu bergegas menghampiri ruang depan. Diandra mengabaikan Suci yang masih duduk di dalam mobil untuk membayar ongkos taksi Online. Diandra…

Mencari Hadirnya

Mendengar pernyataan dari gadis itu, bi Narsih pun tersenyum. Seketika dia mengingat putri tunggalnya yang kini sedang bekerja di perusahaan milik keluarga Aldhinara. Namun, hingga…

Mencari Ketenangan

Diandra berada di sudut kamarnya, gadis itu masih memikirkan adiknya yang diam-diam dia tinggalkan saat gadis itu sedang melaksanakan rutinitasnya setiap pagi. Diandra mencuri kesempatan…

Kepergian Diandra

Pagi itu Florensia mengetuk pintu kamar Diandra, gadis itu mengetuk pintu kamar sang kakak berkali-kali. Namun, tetap saja dia tak kunjung menerima jawaban apapun dari…

Batal Nikah

Archand bingung harus bagaimana untuk menanggapi keluarganya itu. Dia berharap keputusan yang di buat oleh keluarganya adalah keputusan yang tepat. Meskipun Archand tahu mereka selalu…

Kisah Nan Indah

Mereka sampai ke tempat tujuan, di mana mereka sedang asik memandangi pemandangan nan indah yang berada di tengah kota. Florensia menyisir jalanan yang tampak mulus.…

Ceritakan Tentang Kita

Akhirnya Revan menyerah. Revan mengakui bahwa dirinya benar-benar cemburu saat mendapati Diandra dekat dengan pria lain. Termasuk dengan adik kandungnya sendiri. Revan memang menyimpan perasaan…

Cuirga

Archand menatap curiga kepada gadis yang sedang berdiri di hadapannya itu. Rasanya ingin sekali Archand memarahi gadis itu. Akan tetapi, pria itu masih butuh nyali…

Calon Besan

Setelah bersiap-siap Florensia dan Diandra keluar bersamaan di dalam kamar. Sontak membuat sang mama terkejut ketika melihat dua anak gadisnya tampil lebih cantik dan berbeda…

Salah Paham

Cuaca sangat cerah pada sore itu, meskipun mentari mulai bersembunyi di balik awan. Kedua insan tersebut sibuk menghabiskan waktu berdua, kata-kata demi kata telah terucap…

Berkumpul Bersama Keluarga

Renata sedang asik berdiskusi dengan calon besan yaitu; Anantasya. Mereka sedang asik membahas rencana pernikahan anak-anak mereka. Mereka mencoba untuk menemukan tanggal bagus untuk melaksanakan…

Bersamamu Kuhabiskan Waktu

Cuaca tampak cerah saat itu secerah hati mereka saat melihat senyuman anak-anak panti asuhan yang sedang memeluk mereka dengan penuh kehangatan. Perasaannya seketika menjadi tenang…
error: Content is protected !!