Antara Aku dan Dia

Prolog

Revan mengejar Diandra yang lari darinya. Namun, Diandra terus saja bergelut dengan kesedihannya itu. Perasaannya seketika hancur saat mengetahui latar belakang Revan yang nyatanya adalah seorang CEO di suatu perusahaan milik pak Surya yang merupakan sahabat dari papa kandungnya.

Sejak lama mereka saling mengenal satu sama lain, mereka terpisah sejak berhasil menamatkan pendidikan Sekolah Dasar. Sejak saat itu Diandra dan Revan tidak pernah saling bertemu, apalagi untuk saling menyapa.

Saat itu teknologi belum terlalu canggih bahkan mereka baru memegang ponsel saat masih duduk di bangku SMP.

Revan mengejar Diandra dengan kecepatan tinggi, sebagai seorang atlet lari, tentu tak mudah baginya untuk menyaingi langkah wanita sudah berada jauh darinya.

Diandra berusaha mempercepat langkahnya meski akhirnya Revan berhasil menangkapnya dan menggenggam erat pergelangan tangannya. Diandra berusaha menepis genggaman Revan. 

Namun, genggaman itu terlalu erat untuk di tepisnya. Diandra menoleh pandangannya ke jalanan dan memasang wajah gusar terhadap pria yang berdiri di depannya itu.

Revan memegang kedua sisi wajahnya dan memaksa Diandra untuk menatap netranya.

Diandra tertegun dan gugup saat retina mata mereka saling menatap terhadap satu sama lain. Diandra menelan saliva dan berusaha menstabilkan degupan jantungnya. 

Rasanya gugup saat harus menatap kedua netranya dengan jarak dekat. Revan bahkan tak henti menatap wanita yang berambut pirang itu dan memusnahkan jarak antara mereka.

Diandra merasa risih dengan adegan romantis itu, dia pun mencoba menepis tubuh Revan dan berlari darinya. Namun, usaha Diandra berkali-kali gagal untuk menciptakan jarak dengannya.

Dengan sigap Revan menangkap pergelangan tangannya dan kembali menarik Diandra sehingga terjatuh dalam dekapannya.

“Sudahlah, usahamu akan sia-sia saja untuk menjauh dariku! Menyerah sajalah, Diandra. Aku tak akan membiarkan kamu pergi sebelum aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu. Ayolah, jangan begini!” tegas Revan yang mengguncang tubuhnya dan memaksanya untuk memberikan jawaban atas permintaan maaf yang telah dia lontarkan berkali-kali terhadap wanita berambut pirang itu. Revan berharap akan menerima maaf darinya.

“Jika kamu masih saja seperti ini bagaimana bisa aku memaafkan kamu, Revan Aldinara Putra!” tegas Diandra dengan tatapan gusar. Akhirnya Revan melonggarkan genggaman tangannya terhadap lengan kecil wanita itu. Sementara Diandra tersenyum masam karena merasa sangat jengkel dengan pria yang berdiri di depannya itu.

“Baiklah, aku minta maaf karena bersikap tak pantas denganmu. Tolong! Aku benar-benar minta maaf atas kejadian ini. Aku tak bermaksud untuk bersikap kasar denganmu Diandra Friyanka Putri.” Revan sedikit memelankan nada bicaranya.

“Oke, aku maafkan kamu, Revan. Tapi aku mohon jangan pernah membohongiku lagi! Aku bisa memaklumi kesalahanmu, karena manusia tak pernah lepas dari salah dan khilaf. Aku juga salah, aku minta maaf.” Diandra menunduk dan tak berani menatap wajah pria yang berdiri di depannya itu, karena Diandra juga merasa bersalah telah meninggalkan Revan sendirian di ruangannya saat mempersiapkan meeting bersama klien.

“Iya, Diandra. Aku telah memaafkan kesalahanmu, sekarang sebaiknya kita kembali ke ruangan untuk mempersiapkan meeting bersama pak Bagas.” ucap Revan.

“Baiklah, Revan.” sahut Diandra seraya mengangguk.

Mereka melangkah secara beriringan menuju pintu masuk kantor. Revan dan Diandra saling bergandengan mereka memasuki koridor kantor yang terlihat luas.

Mereka berdiri di depan pintu lift untuk menunggu pintu lift agar lekas terbuka dan membawa mereka menuju lantai dua.

Diandra memencet tombol yang berada di dinding pintu lift, saat itu situasi di lift itu sangat ramai sekali sehingga sulit rasanya untuk sampai ke ruangan dengan cepat.

Beberapa menit kemudian mereka pun kembali ke ruangan pribadi milik Revan. Segera Diandra mengambil semua berkas-berkas yang telah dia persiapkan tadi dan meletakkannya ke dalam tas kerja milik Revan. Diandra sendiri merupakan sekretaris pribadinya Revan.

Usia mereka hanya selisih dua tahun saja. Revan menginjak usia 26 tahun, sedangkan Diandra menginjak usia 24 tahun. Meski begitu, tetap aja Revan masih bersikap manja dengan Diandra yang usianya dua tahun lebih muda darinya.

“Bagaimana, Revan? Sudah selesai?” tanya Diandra. 

“Coba ulangi sekali lagi!” tegas Revan.

“Apa? Bukankah aku sudah mengatakannya dengan baik?” tukas Diandra tak kalah ketus.

Diandra tak sadar jika dia salah dalam berbahasa. Saat jam kerja berlangsung tidak seharusnya dia memanggil bos nya dengan sebutan nama.

“Diandra ini masih jam kerja! Panggil aku dengan sebutan Pak Revan!” tegas Revan seraya menatap sinis 

Diandra segera membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Dia baru menyadari bahwa apa yang dia lakukan merupakan kesalahan besar bagi Revan.

“Kenapa? Baru sadar? Huh, kemana saja kamu? Ya sudah, ikut aku sekarang jangan membuat mereka menunggu lebih lama.” 

Revan melangkah lebih dulu darinya, dengan napas terengah-engah Diandra mengikuti langkah kakinya yang cepat itu. Diandra merasa kewalahan mengikuti langkah kaki atasannya. Rasanya ingin sekali Diandra menendang bokong Revan, belum lagi saat dia di tegur pada beberapa menit yang lalu.

“Cepatlah, Diandra! Apa lagi yang kamu tunggu?” desis Revan yang menatapnya dengan tatapan sinis. Ya, seperti itulah Revan ketika menjalani profesinya sebagai bos. 

Dia benar-benar menjaga wibawanya sebagai seorang atasan. Revan terkenal tegas dan dingin saat berada di ruangannya. Berbeda dengan kehidupannya sehari-hari.

“Tapi, Revan—” Diandra gelagapan dan tak berani melanjutkan ucapannya. Dia takut jika Revan kembali marah dengannya. Revan benar-benar membuatnya serba salah.

Diandra akhirnya terdiam dan menelan saliva. Dia hanya menunduk dan tak berani menatap pria yang tengah duduk di kursi sopir itu.

“Tidak ada tapi! Masuk sekarang!” bentak Revan.

“Siap!” sahut Diandra dengan tegas.

Diandra tersentak dan tak sengaja menjawab perkataan Revan dengan suara lantang dan tegas.

Bukannya marah, malah Revan tersenyum bahagia melihat respon dari wanita yang masih berada di ambang pintu mobil itu. Revan tersenyum menatap wanita itu. Dengan hati yang luluh Revan membukakan pintu khusus untuk dirinya.

“Bagus, coba saja jawabanmu seperti itu sejak tadi. Pasti aku tidak akan membentak seperti tadi.” sahut Revan dengan memelankan nada bicaranya dan tersenyum kepada wanita itu. 

“Sudahlah, ayo masuk sekarang!” lanjut Revan.

“Baik, Pak Revan.” sahut Diandra tersenyum.

Diandra tersenyum, dia segera masuk dan mengatur posisi duduknya dengan baik. Saat sudah merasa nyaman Diandra menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi. Revan mendekat dan meraih ke arah pinggang wanita itu. Dengan cepat Diandra menepis tangan Revan dan membentaknya dengan tegas. Wajah Diandra terlihat memanas dan memerah kala itu. Diandra terbawa emosi dan berprasangka buruk terhadap Revan.

Plak!

“Apa sih, Di? Sakit tahu gak?!” bentak Revan.

“Seharusnya saya yang marah, Pak! Tidak seharusnya bapak kurang ajar terhadap saya, mentang-mentang saya bawahan bapak, eh malah seenaknya saja!” bentak Diandra yang tak kalah ketus darinya. Diandra terlihat emosi saat menatap wajahnya.

“What?” Revan mengernyitkan kedua alisnya dan mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat tidak mengerti dengan maksud Diandra. 

“Kamu ini kenapa sih, Diandra? Ada apa sama kamu? Saya kurang ajar bagaimana sih sama kamu?” tanya Revan lagi.

Tanpa menjawab apapun Diandra hanya terdiam dan memberikan jeda agar Revan mampu berpikir dengan baik. Dia ingin Revan mengakui kesalahannya dan minta maaf kepadanya.

Menurut Diandra, hal tersebut harus di hadapi dengan ketegasan. Diandra tak mampu berpikir dengan baik saat itu. Revan hanya ingin memasang sabuk pengaman yang berada di bagian kursi mobil, tepat di pinggangnya. Bukan ingin berniat buruk terhadapnya.

“Jawab! Bagaimana aku bisa mengerti dengan maksudmu kalau kamu hanya diam seperti ini, Diandra!” titah Revan, tapi Diandra masih saja memilih bungkam dan tak mau berbicara apapun kepadanya, setelah lama berpikir akhirnya Revan pun peka dan menyadari bahwa Diandra hanya salah paham kepadanya. 

Revan tertawa lepas saat sudah mengetahui semuanya. Bahkan dia menganggap bahwa wanita yang berada di sampingnya itu mudah memiliki pikiran negatif terhadap orang lain.

“Hahahaha ….” Revan tertawa keras.

“Apa, hah? Mengapa bapak tertawa menatap saya?” tanya Diandra yang melototi nya, hampir saja bila mata Diandra keluar dari tempatnya. 

“Bapak meremehkan saya? Saya tidak segampang itu ya, Pak!” tegas Diandra.

“Oke, sekarang saya mengerti dengan ucapan kamu. Diandra, sekretaris pribadiku yang terhormat. Saya tidak berniat buruk pada kamu, justru saya ingin melindungi kamu dengan memakaikan sabuk pengaman terhadapmu, agar kamu terhindar dari bahaya. Kita harus tertib dalam berkendara dan mematuhi aturan. Jadi, jangan berpikir jika saya ingin bertindak kurang ajar ke kamu.” jelas Revan dengan mimik wajah serius.

Mendengar hal tersebut Diandra hanya bungkam dan tak mampu menahan rasa malu. Diandra menutupi wajahnya dengan menggunakan sepuluh jarinya. Rasanya dia sangat malu sekali untuk kembali menatap atasannya itu. 

Belum lagi beberapa menit yang lalu dia bertindak tegas terhadap atasannya dan tak segan-segan memarahinya. Revan tersenyum dan mendekatkan wajahnya kepada wajah Diandra. Dengan pelan Revan meraih kedua tangan yang telah menutupi wajah cantiknya itu.

“Sudahlah, aku mengerti jika kamu malu.” Revan melepaskan kedua tangan yang menutupi seluruh wajahnya. Revan hanya tersenyum memandangnya dan berusaha meyakinkan wanita itu bahwa dia tidak marah. 

“Enggak, Pak. Saya malu kepada bapak.” sahut Diandra yang perlahan menuruti tangan Revan yang sedang membuka wajahnya. 

Diandra menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Terlihat air mata telah tergenang di bola matanya dan siap menghujani pipinya yang mulus itu. Diandra seakan tak punya nyali lagi untuk menatap atasannya itu.

“Hey, sudahlah. Kamu tidak perlu memanggilku bapak, karena ini di luar jam kerja. Sekarang tatap mataku dan lihat, apakah aku benar-benar meledek?” tukas Revan yang memegang kedua sisi wajahnya dan memaksa wanita itu untuk menatapnya. “Lihatlah, apa wajah ini terlihat marah dan menaruh dendam?” tanya Revan lagi.

Diandra menggeleng pelan dan menjawabnya dengan penuh keraguan. “Tidak, Revan. Kamu tidak terlihat marah kepadaku.” sahut Diandra yang memberanikan diri untuk menatap pria itu dan berusaha menepis semua rasa malunya. 

“Baiklah, aku minta maaf, ya, atas kejadian tadi. Aku mengakui kalau aku mudah berpikiran negatif terhadap orang lain.” sahut Diandra.

“Mulai sekarang belajarlah untuk mementingkan logika dan mengendalikan perasaan! Selama ini kamu selalu saja mengedepankan perasaan dan membuang jauh-jauh logikamu. Ayolah, Diandra. Kamu pasti bisa berpikir lebih maju!” titah Revan.

Tanpa banyak bicara Diandra menepis tangan pria yang sedang memegang kedua sisi wajahnya itu. Dengan senyuman menyeringai Diandra membentak Revan agar tak lagi mengaturnya dalam segi berpikir. Diandra cenderung mengedepankan perasaannya dan membuang jauh-jauh logikanya. 

Oleh karena itu Diandra gampang patah hati dan sering sensitif dengan situasi yang membuatnya merasa tidak nyaman.

“Tidak, Revan! Kamu tidak perlu mengajariku, aku tahu perasaan berperan penting. Apalagi dalam segi mencintai kekurangan pasangan masing-masing.” tukas Diandra seraya menepis tangan pria yang sedang duduk di sebelahnya itu.

“Diandra! Sungguh wanita yang sangat merasa kepala!” bentak Revan, “Sudahlah, kita harus berangkat menemui klien sekalian! Para klien tidak boleh di buat menunggu. Sebaiknya, kamu pikirkan omonganku yang tadi, Diandra.” tukas Revan yang mencoba menyetir mobilnya, dan siap menuju tempat yang telah dijanjikan dengan para klien.

 Di sepanjang perjalanan, mereka hanya berdiam diri satu sama lain. Tiada kata yang terucap dari keduanya. Revan berusaha mencuri pandangannya terhadap wanita yang sedang sibuk memperhatikan kendaraan yang sedang berlalu lalang di sampingnya. 

Revan meraih tombol yang ada di pintu kursi penumpang dan menutup kaca jendela, agar Diandra berhenti memperhatikan jalanan dan mulai fokus kepadanya.

“Ada apa denganmu, Revan?” tukas Diandra geram.

“Jangan tanyakan padaku, mengapa aku? Tapi tanyakanlah kepada dirimu sendiri. Diandra Friyanka Putri! Jangan hanya fokus menatap jalanan saja, tapi …” hampir saja Revan keceplosan, dia ingin bilang jika Diandra harus fokus kepada hubungan mereka. 

Meskipun dekat selama bertahun-tahun. Namun, tak membuat Diandra jatuh hati kepada CEO tampan yang sedang menatapnya itu. 

Diandra mengernyitkan kedua alisnya dan mempertanyakan apa yang ingin Revan sampaikan sebenarnya, sehingga membuat dirinya serbasalah.

“Tapi apa, Revan Aldinara Putra? Please, answer!”

 Diandra membuang pandangannya ke arah lain. Gadis itu memanyunkan bibirnya, pertanda bahwa dia sangat jengkel dengan pria yang berada di sebelahnya itu. 

Revan mengelus dada saat dia berhasil mengendalikan perasaannya. Revan tak mau jika terjebak dengan perasaannya sendiri, dia menyenderkan pundaknya dan mencari posisi nyaman saat menyetir. Revan sedikit menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai ke tempat tujuan. 

Sementara Diandra sangat ketakutan dengan laju mobil yang ke kendarai oleh pria yang duduk di kursi sopir itu. Diandra memeluk Revan dengan erat, dia sangat takut dan tak hentinya meneriaki Revan dengan berbagai ucapan.

“Revan! Kamu gila ya? Apa kamu bosan hidup?” teriak Diandra seraya memejamkan matanya. 

Semakin dia berteriak dengan kencang, semakin erat pula pelukan itu. Revan hanya tertawa kecil dan menambah kecepatan mobil yang dia kendarai. Dia senang ketika Diandra memeluk tubuhnya dengan erat. 

“Revan!” Diandra mencoba menghentikan aksi pria itu, dan mengalihkan kendali. Dengan berani Diandra merebut kemudi itu dan menggantikan Revan untuk menyetir. Bahkan Diandra mengimpit paha Revan karena geram dengan tingkah sahabatnya sekaligus CEO di perusahaan di tempat dia bekerja. Diandra tak memedulikan perkataan Revan, dia tetap fokus kepada kemudi mobil yang sedang dia kendalikan untuk menggantikan posisi Revan sebagai sopir. 

Menurutnya Revan benar-benar sudah kelewatan, dia egois dan hanya mementingkan kesenangannya sendiri tanpa memikirkan keselamatan dirinya sebagai penumpang di dalam mobil milik pria tengil itu.

Revan memeluknya dari sisi belakang, tapi Diandra tetap fokus kepada kemudi mobilnya, akhirnya mereka pun sampai tepat waktu di tempat tujuan.

“Apa kamu gila Diandra? Beraninya kamu menghimpitku? Sakit!” bentak Revan seraya meringis kesakitan karena di duduki oleh gadis cantik itu. 

Revan berusaha memijat pahanya yang kesakitan itu, rasanya enggan untuk turun dari mobil pribadinya dan menghampiri klien yang sudah menunggunya beberapa menit yang lalu.

“I don’t care, Revan! Yang penting aku selamat dari keegoisanmu!” bantah Diandra.

Lates Chapters

Ingatlah Hari Ini

“Berawal dari kebencian, perlahan hati itu luluh dengan sendirinya. Ketika pertama kali melihatnya bersikap dingin kepadaku, dikarenakan kesalahan masa lalu. Aku pernah mengabaikannya, perlahan aku…

Melamarmu di Hari Ulang Tahunku

Malam itu menjadi saksi kebahagiaan mereka di mana mereka sedang menyaksikan percikan kembang api yang menghiasi langit nan kelam. Gadis itu tersenyum bahagia saat menyaksikan…

Malam Pertunangan

Archand menggandeng tangan Florensia dengan penuh kehangatan, dia menuntum kekasihnya hingga sampai ke atas pentas. Saat itu Arhcanda mempersembahkan sebuah lagu untuknya. Hal tersebut membuat…

Merayakan Ulang Tahun di Cafe

Malam telah tiba, mereka sedang asik mendengarkan alunan musik yang mengalun merdu di telinga, di tambah lagi dengan iringan suara dari seorang vokalis. Diandra menikmati…

Kejutan Hari Ulang Tahun

Saat itu jam menunjukkan pukul sembilan pagi, di mana kedua pasangan pengantin tesebut masih betah di dalam kamar. Diandra memandang wajah suaminya dan membalas lembut…

Hari Pernikahan

Akhirnya momen yang yang di tunggu telah tiba, di mana Diandra dan Revan akan melaksanakan ijab kabul. Diandra duduk di meja rias dan menatap wajahnya…

Saat Terindah Bersamamu

“Archand!” teriak Florensia.    “Apa Sayangku? Kalau kangen gak usah teriak-teriak begitu dong, malu di dengarkan mama. Kalau kamu pengen bareng sama aku, yuk! Kita…

Kepulangan Florensia

Sudah tiga hari Florensia terbaring lemah di rumah sakit, kondisinya sudah mulai pulih dan sudah kembali bertenaga. Florensia sudah bertemu dokter dan sudah di perbolehkan…

Darah Untukmu

Archand memasang wajah melas terhadap sang mama, agar mendapatkan perhatian yang sama seperti yang di dapatkan oleh Florensia. Pria itu berharap sang mama masih menyayanginya…

Ceritakan Tentang Kita

Sesampainya di rumah sakit gadis itu bergegas menghampiri ruang depan. Diandra mengabaikan Suci yang masih duduk di dalam mobil untuk membayar ongkos taksi Online. Diandra…

Mencari Hadirnya

Mendengar pernyataan dari gadis itu, bi Narsih pun tersenyum. Seketika dia mengingat putri tunggalnya yang kini sedang bekerja di perusahaan milik keluarga Aldhinara. Namun, hingga…

Mencari Ketenangan

Diandra berada di sudut kamarnya, gadis itu masih memikirkan adiknya yang diam-diam dia tinggalkan saat gadis itu sedang melaksanakan rutinitasnya setiap pagi. Diandra mencuri kesempatan…

Kepergian Diandra

Pagi itu Florensia mengetuk pintu kamar Diandra, gadis itu mengetuk pintu kamar sang kakak berkali-kali. Namun, tetap saja dia tak kunjung menerima jawaban apapun dari…

Batal Nikah

Archand bingung harus bagaimana untuk menanggapi keluarganya itu. Dia berharap keputusan yang di buat oleh keluarganya adalah keputusan yang tepat. Meskipun Archand tahu mereka selalu…

Kisah Nan Indah

Mereka sampai ke tempat tujuan, di mana mereka sedang asik memandangi pemandangan nan indah yang berada di tengah kota. Florensia menyisir jalanan yang tampak mulus.…

Ceritakan Tentang Kita

Akhirnya Revan menyerah. Revan mengakui bahwa dirinya benar-benar cemburu saat mendapati Diandra dekat dengan pria lain. Termasuk dengan adik kandungnya sendiri. Revan memang menyimpan perasaan…

Cuirga

Archand menatap curiga kepada gadis yang sedang berdiri di hadapannya itu. Rasanya ingin sekali Archand memarahi gadis itu. Akan tetapi, pria itu masih butuh nyali…

Calon Besan

Setelah bersiap-siap Florensia dan Diandra keluar bersamaan di dalam kamar. Sontak membuat sang mama terkejut ketika melihat dua anak gadisnya tampil lebih cantik dan berbeda…

Salah Paham

Cuaca sangat cerah pada sore itu, meskipun mentari mulai bersembunyi di balik awan. Kedua insan tersebut sibuk menghabiskan waktu berdua, kata-kata demi kata telah terucap…

Berkumpul Bersama Keluarga

Renata sedang asik berdiskusi dengan calon besan yaitu; Anantasya. Mereka sedang asik membahas rencana pernikahan anak-anak mereka. Mereka mencoba untuk menemukan tanggal bagus untuk melaksanakan…
error: Content is protected !!