Rumah Sakit Bakti Husada biasanya menjadi tempat yang Ayah datangi untuk mengurus asuransi kesehatan guru-gurunya. Namun malam ini, Ayah terbaring di sana bukan sebagai administrator, melainkan sebagai pasien yang kalah oleh raganya sendiri. Tubuh yang selama bertahun-tahun ia paksa bekerja layaknya mesin penghitung itu akhirnya mencapai titik jenuh. Dokter mendiagnosisnya dengan komplikasi kelelahan akut yang berimbas pada fungsi jantungnya, sebuah metafora medis yang ironis untuk seorang pria yang hatinya memang sudah lama “bocor” oleh kerinduan.
Di ruang perawatan kelas dua yang berbau karbol, Ayah tampak sangat kecil di bawah selimut putih rumah sakit. Selang infus yang menancap di tangannya terlihat kontras dengan kulitnya yang coklat terbakar matahari dan penuh guratan kerja keras. Di atas nakas, ponsel lamanya diletakkan tepat di depan wajahnya, berharap setiap kali layar itu menyala, ada satu nama yang muncul.
Namun, selama tiga hari di sini, layar itu hanya menampilkan pesan dari guru-guru sekolah, doa-doa dari Mas Satria, dan notifikasi grup yayasan. Nama Marumi tetap menjadi ruang hampa yang absolut.
Aku duduk di kursi kayu di samping ranjang, menggenggam tangan Ayah yang terasa dingin. Kak Farel berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar dengan pandangan yang penuh dengan kemarahan yang tertahan.
“Mayu,” suara Ayah terdengar sangat lirih, hampir tenggelam oleh bunyi monitor detak jantung yang monoton. “Coba cek ponsel Ayah. Siapa tahu ada pesan masuk yang belum terbaca.”
Aku menarik nafas panjang, menahan sesak di dada. Aku mengambil ponsel itu. Kosong. Hanya ada pesan dari operator seluler. “Belum ada, Yah. Mungkin Kak Marumi sedang sibuk dengan ujiannya.”
Ayah tersenyum getir. Senyum itu lebih menyakitkan daripada tangisannya. “Iya, ya. Dia anak yang rajin. Masuk Hukum UI itu sulit, dia pasti sedang belajar di perpustakaan sampai lupa waktu.”
Kak Farel mendengus keras, ia berbalik dan menatap Ayah dengan mata merah. “Ayah! Sampai kapan Ayah mau membohongi diri sendiri? Marumi tidak sedang belajar! Dia baru saja mengunggah foto di media sosialnya, sedang makan malam mewah di kafe bersama teman-temannya! Dia tahu Ayah sakit, aku sudah mengirim pesan padanya, tapi dia bahkan tidak membacanya!”
“Farel, jangan…” bisikku mencoba menenangkan.
“Tidak, Mayu! Ayah harus tahu!” Kak Farel mendekat ke ranjang. “Ayah sedang sekarat di sini, dan anak emas yang Ayah agung-agungkan itu menganggap Ayah tidak lebih dari sekadar gangguan di layar HP-nya! Dia tidak peduli! Bagi dia, Ayah adalah orang asing yang kebetulan punya nama belakang yang sama!”
Ayah memejamkan mata. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya, mengalir melewati kerutan di pipinya dan membasahi bantal. Itu bukan air mata rasa sakit karena jarum infus, melainkan air mata karena pengakuan yang paling jujur bahwa ia memang tidak berarti apa-apa di dunia Marumi.
Setelah Ayah tertidur karena pengaruh obat, aku keluar menemui Kak Farel di koridor. Kak Farel sedang menendang-nendang kecil dinding rumah sakit, wajahnya benar-benar hancur.
“Kenapa dia jahat sekali, Kak?” tanyaku sambil terisak. “Hanya telepon satu menit saja, atau sekadar tanya ‘Ayah apa kabarnya’, apa itu sesulit itu bagi dia?”
Kak Farel menatapku dengan tatapan yang sangat dewasa. “Mayu, Marumi bukan jahat. Dia sudah ‘dihapus’. Tante Miranda telah melakukan pembersihan data yang sempurna di kepala Marumi. Di mata Marumi, Ayah adalah sosok yang gagal, yang meninggalkan dia, dan yang sekarang tiba-tiba muncul hanya untuk meminta simpati. Dia merasa tidak punya kewajiban moral pada Ayah.”
“Tapi Ayah yang membiayainya diam-diam!” seruku.
“Dia tidak tahu, dan dia tidak mau tahu,” sahut Kak Farel pahit. “Tante Miranda pasti bilang kalau semua fasilitas itu dari uang warisan atau keringat Tante sendiri. Marumi hidup dalam kebohongan yang nyaman, dan dia terlalu takut untuk keluar dari sana hanya untuk melihat Ayah yang ‘miskin’ dan sakit-sakitan.”
Kami berdua merasa sangat tidak berdaya. Di sekolah, kami bisa membantu Ayah merapikan data, membantu Ayah menghadapi Pak Heru. Tapi di sini, kami tidak bisa merapikan “kegagalan sistem” di hati Marumi. Kami tidak bisa memaksa seseorang untuk peduli.
Tengah malam, Ayah terbangun kembali. Ia tampak sedikit meracau. Ia memanggil-manggil nama Ibu, lalu menyebut nama Marumi berulang kali.
“Marumi… sudah makan, Nak? Pakai jas hujannya… di luar hujan…” igauan Ayah membuat hatiku seperti diremas.
Ayah sedang kembali ke masa lima belas tahun yang lalu, saat ia masih menggendong Marumi di bawah rintik hujan gang sempit. Di otaknya, Marumi masihlah bocah kecil yang butuh dilindungi, bukan gadis kuliahan yang kini memandangnya dengan jijik.
Aku mengambil ponselku sendiri, lalu memberanikan diri mengirim pesan ke nomor Marumi.
Kak Marumi, ini Mayumi. Ayah sedang sedang. Dia terus memanggil namamu. Aku mohon, Kak, sekali saja… teleponlah Ayah. Aku tidak minta Kakak datang, cukup suara Kakak saja di ujung telepon. Tolonglah, ini mungkin satu-satunya hal yang bisa membuat jantung Ayah kuat lagi.
Dua jam berlalu. Pesan itu hanya bertanda centang dua biru. Dibaca. Tapi tidak ada balasan. Tidak ada panggilan masuk.
Hening.
Kesunyian di ruang perawatan itu terasa lebih berat daripada beban administrasi sekolah mana pun. Aku menatap Kak Farel yang tertidur di kursi kayu dengan kepala tertunduk. Kami berdua adalah saksi hidup dari sebuah penolakan yang paling kejam: penolakan dari darah daging sendiri.
Menjelang subuh, kondisi Ayah sempat menurun drastis. Dokter dan perawat berlarian masuk. Aku dan Kak Farel diminta menunggu di luar. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, aku melihat Ayah berjuang untuk napasnya. Tangannya masih berusaha menggapai ponsel di nakas, seolah ia yakin keajaiban akan datang di detik-detik terakhir.
Namun, keajaiban itu adalah sebuah anomali yang tidak masuk dalam perhitungan nasib kami.
Hingga matahari terbit dan kondisi Ayah mulai stabil kembali, ponsel itu tetap membisu. Tidak ada basa-basi, tidak ada sapaan, apalagi kunjungan.
Saat Ayah benar-benar sadar sepenuhnya pagi itu, hal pertama yang ia lakukan adalah menatap ponselnya. Ia melihat tidak ada panggilan terjawab. Ia melihat tidak ada pesan baru.
Ayah tersenyum pada kami, sebuah senyuman yang paling tenang yang pernah kulihat selama hidupku. Namun, senyuman itu adalah senyuman penyerahan diri.
“Farel, Mayu,” ucap Ayah pelan. “Mulai hari ini, jangan pernah lagi mengirim pesan pada Marumi. Jangan pernah lagi mengharapkan dia datang.”
“Yah, tapi…”
“Tidak, Nak,” sela Ayah dengan ketegasan seorang Kepala Sekolah. “Ayah sudah melakukan audit terakhir di hati Ayah malam tadi. Ayah sadar, Ayah tidak bisa menagih piutang yang orangnya sendiri merasa tidak pernah berhutang. Memaksa Marumi untuk menyayangi Ayah hanya akan membuat Ayah terlihat semakin menyedihkan di matanya.”
Ayah memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. “Biarkan dia dengan dunianya. Ayah sudah cukup bangga melihatnya tumbuh sehat. Cukup kalian berdua yang ada di sini, itu sudah menjadi anugerah yang luar biasa besar bagi Ayah. Ayah tidak lagi merasa kekurangan.”
Aku menangis di pelukan Ayah. Di sekolah, Ayah mungkin sukses membereskan kekacauan data ratusan siswa. Ia mungkin pahlawan bagi Bu Fatma dan Pak Burhan. Tapi di ranjang rumah sakit ini, Ayah sedang belajar untuk mengikhlaskan kekacauan paling besar dalam hidupnya.
Ia sedang belajar untuk menutup “buku besar” tentang Marumi dengan angka merah yang permanen. Sebuah pengorbanan batin yang jauh lebih berat daripada bekerja lima tahun di gudang Jawa Tengah. Ayah sedang belajar untuk menjadi “Ayah” yang cukup bagi kami berdua, meski satu ruang di hatinya akan selamanya kosong dan berdebu.
#day14
#20harimencarimaaf
#novelgoodcompetition