”Dalam linguistik, kita mengenal istilah ‘Zero Morpheme’, sebuah keberadaan yang tidak tampak bentuknya, namun secara fungsional ia mengubah segalanya. Seperti itulah Ayah bagi kami selama lima tahun, sebuah kekosongan yang memberi makna pada setiap luka yang kami pikul.”
Malam ini, di sela-sela tumpukan diktat mata kuliah Kritik Sastra, aku menemukan kembali sebuah catatan lama. Kertasnya sudah menguning, persis seperti warna tembok rumah Nenek di gang sempit yang dulu kami tempati. Aku, Mayumi, di semester ketiga ini, mulai menyadari bahwa hidup kami tidak disusun oleh waktu, melainkan oleh peristiwa-peristiwa traumatis yang kami eja satu per satu hingga menjadi identitas.
Jika kau bertanya di mana aku tumbuh, aku akan membawamu ke sebuah gang sempit di jantung Kota Makassar. Gang itu, hanya sebuah celah sempit di antara dua tembok . Lebarnya hanya cukup untuk dua motor yang dipaksakan lewat.
Di sana, langit bukan milik kami. Langit hanyalah sepotong garis biru yang terjepit di antara jemuran tetangga yang tak pernah kering sempurna dan kabel listrik yang semrawut, saling melilit seperti benang kusut di kepala Nenek setiap tanggal tua. Di gang itu, aroma kehidupan adalah campuran antara uap selokan yang jenuh, wangi deterjen murah, dan tumisan bawang putih dari dapur Tante Sari.
Rumah Nenek berdiri di tikungan terdalam. Sebuah bangunan yang lebih mirip kotak korek api, namun di sanalah episentrum duka kami bermula. Dindingnya lembap, menyimpan rahasia tentang air mata yang tumpah setiap kali hujan turun menembus genteng yang retak. Di gang itu, kemiskinan bukan sekadar angka di atas kertas, tapi rasa dingin yang menyusup ke tulang setiap kali kami harus berbagi sebutir telur untuk tiga orang.
Nenek adalah satu-satunya tiang penyangga yang tidak pernah goyah. Ia adalah seorang guru honorer yang pengabdiannya lebih panjang dari sejarah kemerdekaan sekolahnya sendiri. Setiap pagi, aku melihatnya mengenakan kebaya usang yang sudah memudar warnanya, namun selalu rapi disetrika.
Kebiasaan kecil Nenek yang paling aku ingat adalah caranya menyelipkan kapur tulis di saku kebayanya. “Kapur ini adalah suara, Mayu,” katanya suatu kali sambil mengelus rambutku. “Tanpa kapur, papan tulis itu bisu. Dan tanpa pendidikan, kalian akan selamanya terjepit di gang ini.”
Nenek selalu pulang dengan serbuk putih yang menempel di ujung jarinya, debu kapur yang ia bawa pulang sebagai sisa-sisa perjuangan. Bagiku, debu itu adalah aroma kasih sayang. Namun bagi Farel, kakakku yang berusia lima tahun saat itu, debu kapur Nenek adalah pengingat bahwa kami hanya punya Nenek, sementara Ayah memilih untuk menjadi “kata benda” yang statis di kejauhan.
Farel tumbuh menjadi sebuah paradoks. Di usia yang masih sangat belia, ia sudah memiliki tatapan mata seorang pria dewasa yang habis dikhianati. Jika aku adalah “majas personifikasi” yang selalu mencoba menghidupkan harapan, Farel adalah “majas litotes” ia selalu mengecilkan segalanya, termasuk rasa rindunya.
Ia punya kebiasaan kecil yang aneh: mengetuk-ngetukkan jari membentuk pola tertentu di atas meja setiap kali nama Ayah disebut. Belakangan aku tahu, itu adalah caranya menahan ledakan di dalam dada. Ia tidak pernah menangis di depan Nenek. Ia lebih memilih duduk di sudut kamar yang gelap, menatap monitor komputer tabung bekas pemberian Om Danu.
Di sana, di depan cahaya biru yang memantul di wajahnya, Farel menemukan pelarian. Ia tidak butuh Ayah untuk mengajarinya naik sepeda, ia belajar cara membangun dunianya sendiri lewat baris-baris tutorial di YouTube. Baginya, pixel jauh lebih jujur daripada janji manusia. Pixel bisa diubah, bisa diperbaiki, dan jika salah, tinggal menekan tombol undo. Kehidupan nyata tidak punya tombol itu.
Ayah pergi saat aku berusia tiga tahun. Aku hanya ingat sepasang sepatu bot kulitnya yang berat melangkah keluar dari gang. Ayah mencintai Ibu terlalu dalam, namun cintanya bersifat destruktif. Kepergian Ibu karena sakit mendadak bukan hanya merenggut nyawa Ibu, tapi juga merenggut kewarasan Ayah.
Ia pergi ke Jawa Tengah, bekerja di sebuah distributor barang campuran. Ia mengirim uang setiap bulan, tapi ia lupa mengirim dirinya sendiri. Uang wesel itu datang secara mekanis, seperti tanda baca dalam kalimat yang tidak punya nada.
”Ayah tidak sanggup melihat wajah kalian, Mayu,” bisik Nenek suatu sore saat aku bertanya mengapa Ayah tak kunjung pulang. “Setiap kali ia melihatmu, ia melihat mata ibumu. Setiap kali melihat Farel, ia melihat senyum ibumu. Ayahmu sedang sakit, Nak. Hatinya patah menjadi serpihan yang terlalu tajam untuk ia pungut sendiri.”
Aku mencoba memahaminya lewat kacamata sastra yang aku pelajari sekarang. Ayah sedang melakukan pelarian metaforis. Ia mengira jarak kilometer bisa menghapus jarak emosional. Ia salah besar. Semakin jauh ia berlari, semakin besar bayang-bayang Ibu menghantuinya di sela-sela laporan administrasi yang ia susun.
Kehidupan di gang sempit mengajarkan kami tentang kesunyian yang bising. Bising oleh suara radio tetangga, namun sunyi di dalam batin.
Aku sering melihat Farel menatap layar komputernya hingga larut malam. Ia terobsesi dengan desain grafis. Ia menggambar garis-garis vektor yang tajam dan presisi. Seolah-olah dengan menciptakan keteraturan di layar, ia bisa mengatur kekacauan di hatinya. Ketakutan terdalam Farel adalah menjadi miskin dan tidak berdaya seperti saat ia melihat Ibu menghembuskan nafas terakhir karena kita tidak punya cukup uang untuk ambulans yang lebih cepat.
Sedangkan aku? Ketakutanku adalah menjadi transparan. Menjadi anak yang keberadaannya tidak cukup kuat untuk membuat ayahnya pulang. Aku mengkompensasi rasa takut itu dengan kata-kata. Aku menulis surat yang tidak pernah kukirim. Aku menyusun kalimat-kalimat indah tentang kepulangan, hanya untuk ku robek di pagi hari.
Di sudut ruang tamu rumah Nenek, ada sebuah lemari kayu tua yang kacanya sudah retak. Di dalamnya, tersimpan foto Ibu dalam bingkai perak yang mulai menghitam. Ayah tidak membawa foto itu. Ia meninggalkannya bersama kami.
Setiap sore, Nenek akan membersihkan bingkai itu dengan ujung baju kaosnya. Itu adalah kebiasaan kecil yang penuh ritus. Nenek tidak pernah memaki Ayah di depan kami. Ia justru mengajarkan kami cara merawat sisa-sisa cinta yang ditinggalkan, meski itu hanya berupa bingkai foto dan debu kapur.
”Merelakan itu bukan tentang melupakan, Mayu,” ujar Nenek saat aku membantunya merapikan buku-buku PR muridnya. “Merelakan adalah saat kau mampu melihat luka itu tanpa merasa ingin berteriak. Seperti tanda koma dalam sebuah kalimat, ia memberi jeda agar kita bisa bernapas sebelum melanjutkan ke kata berikutnya.”
Lima tahun kami terjebak dalam jeda itu. Lima tahun kami menjadi anak-anak gang yang tumbuh di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit. Kami belajar bahwa dunia luar mungkin luas, tapi bagi kami, dunia hanyalah sepanjang gang menuju sekolah dan sesempit layar monitor Farel.
Aku menutup catatan lamaku. Di semester 3 ini, aku tahu bahwa kisah kami baru saja dimulai. Bab tentang kepulangan Ayah, bab tentang kemarahan Farel, dan bab tentang bagaimana aku belajar menerjemahkan air mata menjadi sebuah karya sastra yang bermakna.
Gang sempit itu mungkin telah kami tinggalkan secara fisik, tapi ia akan selalu menjadi “latar tempat” utama dalam setiap mimpi buruk dan mimpi indah kami. Karena di sanalah, di tengah kemiskinan dan keterbatasan, kami belajar satu hal yang tidak diajarkan di universitas manapun, bahwa untuk bisa melompat tinggi, terkadang kita harus berada di titik terendah lebih dulu. Dihina dan dipandang rendah hanya karena sebuah status ekonomi.
Bagaimana seorang ayah menganggap dirinya gagal menjadi seorang suami, karena gaji yang tidak cukup untuk makan seminggu.
#day1
#20harimencarimaaf
#novelgoodcompetition