Erina menunggu Alex di dalam mobil. Erina sudah tidak sabar untuk menyantap belalang goreng.
Air liurnya sudah ingin menetes membayangkan betapa renyahnya belalang berpadu gurih, pedas manisnya bumbu.
Uh! Pasti sangat nikmat.
Ngidam yang ekstrim bukan?
Erina pun baru kali ini sebenarnya, sebesar ini Erina belum pernah merasakan namanya belalang goreng atau mungkin ini bawaan bayi? Entahlah!
Alex kembali ke dalam mobil setelah mendapatkan apa yang diinginkan istrinya. Sebagai suami yang baik Alex selalu melakukan apa saja yang membuat Erina bahagia, asal itu tidak melanggar norma norma yang ada.
“Ini Sayang.” Alex mengulurkan tangan yang memegang satu cup berisi belalang goreng pedas manis.
Alex sendiri sebenarnya agak ngeli jika melihat melihat hewan sejenis belalang. Apa lagi untuk memakannya.
Tidak dulu deh!
Kres!
Kres!
Terdengar bunyi belalang saat Erina mengunyahnya. Alex hanya menatapnya dengan tatapan aneh. Tidak berapa lama Alex kembali tersadar, Ia pun menyalakan mesin mobilnya dan kembali melanjutkan perjalan pulang.
______
Bulan ini usia kandungan Erina menginjak usia sembilan bulan.
Persiapan mereka untuk menyambut kelahiran baby pun sudah 100%.
Mulai dari kamar bayi, pernak pernik di dalamnya lemari bayi yang sudah dipenuhi dengan pakaian, kaos kaki, sepatu dan masih banyak lagi barang yang lain.
Alex pun sudah mengambil cuti, menyerahkan semua pekerjaan pada Jo.
Sebagai suami siaga Alex selalu ada kapanpun jika Erina butuh pertolongan nanti.
Tapi Alex masih memantaunya di rumah.
Alex menerapkan itu pada Della, yang lebih sering menemani dan menjaga Erina.
Malam ini Erina merasakan tidak nyaman pada perutnya.
Erina pun terus bolak balik ke kamar mandi buang air kecil.
Sedangkan Alex, entah kenapa malam ini tertidur sangat pulas. Sampai Erina naik turun tempat tidur pun tidak tahu.
Perutnya juga sesekali terasa mulas.
Erina mencoba merasakannya tanpa membangunkan Alex.
Erina membuka ponselnya, Ia searching mencari tahu apa saja yang dirasakan ketika orang akan melahirkan.
Dari yang Erina baca, beberapa tandanya sudah ia rasakan.
“Aw!” Erina merasakan perutnya sakit. Erina meletakan ponselnya kembali.
Hilang lagi!
Mules lagi!
Begitu saja terus berulang kali.
Erina tetap tidak mau membangunkan Alex.
Namun saat ini beda, sakitnya terasa sering. Walau Erina membawanya jalan jalan kecil agar mengurangi rasa sakitnya namun tidak bisa. Malah semakin sakit.
“Aw! Aduh!” keluh Erina.
Saat ini Erina baru saja keluar kamar mandi, tapi perutnya terasa sangat sakit sampai Erina mendudukan dirinya di depan pintu kamar mandi, karena sangat sakit jika untuk berjalan.
“Mas! Bangun Mas! Sakit!” Teriak Erina memanggil Alex.
Namun yang di panggil masih tidak merespon.
Erina kembali mencoba untuk bangun namun hasilnya masih sama.
“Aw!”
“Mas Alex!”
“Mas!” Erina masih teriak mencoba membangunkan Alex lagi.
Alex langsung terbangun ketika mendengar teriakan Erina entah yang keberapa kali.
Alex membuka mata. “Sayang kamu dimana?” Alex panik. Erina tidak ada di tempat tidur.
“Mas. Aku disini Mas! Sakit!”
Alex langsung menoleh ke arah suara.
“Sayang!”
Alex langsung turun dan berlari menghampiri Erina yang.
Yang terduduk di lantai, Alex mengira jika Erina terjatuh saat keluar dari kamar mandi.
“Huhuhu..Sakit Mas.”
Alex mengangkat tubuh Erina, membawanya ke tempat tidur, dengan hati hati Alex membaringkan Erina.
“Apanya yang sakit Sayang?” Alex terlihat sangat khawatir. Apalagi Erina terus memegangi perutnya.
“Kenapa gak bangunin Mas,kalau mau ke kamar mandi, kan bahaya kalau jatuh begini.”
“Aw! Sakit Mas! Aku gak jatuh. Aduh!” Teriak Erina sambil terus mengelus perutnya.
“Perutku sakit Mas. Huhuhuhu…” Saking sakitnya Erina sampai menangis.
Mendengar jawaban Erina, Alex malah terbengong.
Gak jatuh?
Terus kenapa Erina terduduk di lantai?
Atau jangan jangan?
Raut wajah Alex langsung berubah panik.
“Sayang! Jangan jangan kamu mau melahirkan!” Erina langsung mengangguk.
“Huhu..sakit Mas.”
“Tunggu sebentar Sayang. Mas panggil Mama dan Della.”
Setelah mengatakan itu Alex langsung berlari keluar kamar.
Pertama Alex berlari ke kamar Mama.
Tok!
Tok!
” Ma! Buka pintunya!” teriak Alex di depan kamar Mama, tangannya tidak berhenti mengetuk pintu.
Mama yang sedang tertidur mendengar pintunya diketuk tanpa henti pun mulai terganggu.
“Alex! apa apa sih!” Mama terlihat kesal.
Bagaimana tidak!
Saat Mama melihat jam masih jam dua dini hari, Alex malah membuat keributan. Begitu pikir Mama.
Ceklek!
Begitu pintu terbuka, Alex langsung menarik tangan Mama.
Mama yang tidak siap pun langsung terhuyung ke depan.
“Alex! Lepas! Kamu ini apa apaan sih!” bentak Mama kesal.
“Astaga!” Alex langsung melepas tangannya.
“Maaf Ma. Erina Ma, Erina!” ucap Alex tergugu saking paniknya.
Mendengar nama Erina, kesal Mama hilang begitu
saja berganti dengan khawatir.
Apalagi melihat Alex yang panik begini.
“Kenapa dengan Erina? Kalau ngomong yang jelas.”
Alex nampak menarik napasnya perlahan, membuatnya sedikit tenang.
“Sepertinya Erina akan melahirkan Ma. Dia kontraksi.”
Mama langsung tercengang kaget.
“Ya ampun Alex. Kamu ini benar bener ya, istri mau melahirkan kenapa malah ditinggal bukannya buruan di bawa kerumah sakit.” oceh Mama sambil berjalan menuju kamar Alex.
Alex hanya diam mendengarkan saja ocehan Mama.
Begitu sampai kamar Mama langsung menghampiri Erina.
“Ma. Sakit Ma, huhuhu..” tangis Erina kembali pecah ketika Mama menghampirinya.
“Sabar ya. Kita kerumah sakit sekarang.” ucap Mama menenangkan.
“Alex kamu cepat siapkan mobil. Malah ngapain lagi diam di sini.” titah Mama.
Alex tersadar dan langsung berlari turun ke bawah. Sekitar sepuluh menit Alex sudah kembali.
“Ma. Mobil sudah siap.”
“Ya sudah. Ayo kita bawa Erina sekarang.”
Alex mengangguk, lalu menggendong Erina membawanya turun.
Alex terlebih dulu membawa Erina ke dalam mobil.
Sebelum pergi Mama membangunkan Della.
Tok!
Tok!
“Della.” panggil Mama.
Della yang sensitif terhadap suara langsung membuka matanya. Della turun dari tempat tidur dan berjalan untuk membuka pintu.
“Nyonya. Apa ada masalah?” tanya Della.
“Erina akan melahirkan. Kamu tolong siapkan barang yang harus dibawa, nanti kamu telpon Jo langsung saja menyusul ke klinik bersalin Kasih Bunda. Saya dan Alex akan kesana sekarang.” Mama memberi perintah.
“Baik Nyonya.”
Setelah itu Mama langsung pergi menyusul Alex
Sedangkan Della langsung menuju kamar bayi, tidak lupa sebelum itu Della mengabari Arpha terlebih dulu.
Della dengan cekatan memasukan beberapa keperluan bayi.
Setelah itu Della langsung menuju kamar Alex untuk menyiapkan pakaian Erina.
Kurang dari dua puluh menit Jo tiba di rumah utama.
Setelah memarkirkan mobil, Jo turun dan berlari masuk ke dalam rumah.
“Dell. Della!” panggil Jo.
Della yang baru saja keluar dari kamar Alex, langsung menyahuti panggilan Jo.
“Gue disini Jo.” jawabnya.
Jo menengok ke arah suara, lalu berlari menghampiri Della yang kerepotan membawa tas.
“Sini Saya bantu.” Jo mengambil tas yang dibawa Della.
“Dengan senang hati.” jawab Della sambil tersenyum kepada Jo.
Setelah tas berpindah tangan, Della berjalan mendahului Jo.
Jo hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Della.
Arpha ikut turun dan langsung ke mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Della juga sudah menunggu di sana.
Jo terlebih dulu memasukan tas di kursi belakang. Setelah itu baru Jo masuk begitu juga dengan Della.
Jo menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas.
“Kita ke klinik bersalin Kasih Ibu.” ucap Della.
“Hem.”
_______
“Alex. Bisa lebih cepat gak? Aduh bagaimana ini! Ketubannya sudah pecah!” Mama benar benar sangat panik dan juga takut.
Ketuban Erina Sudah pecah!
Hanz melihat Erina dan Mama lewat spion.
“Iya Ma. Ini juga udah ngebut. Sabar sebentar lagi sampai ya Sayang.”
Alex kembali menambah kecepatan mobilnya.
Mengendarai mobil dengan fokus terbagi memang sangat berbahaya, tapi Alex mencoba sebisa mungkin untuk tetap fokus pada jalanan.
Alex tidak ingin terjadi sesuatu di jalan yang akan menghambat mereka untuk tiba di klinik.
“Ah! Mas ini sakit sekali.”
“Ma. Ini sakit Ma.”
Huhuhu..Erina mencoba mengambil napas, berharap sakitnya sedikit berkurang.
Tangan Mama tidak henti hentinya mengusap perut dan juga punggung Erina.