Sisa Aroma Hujan

Galeri Cinta Masa Lalu

Kamar itu hanya seluas empat kali empat meter, namun bagi Rangga, ruangan tersebut telah menjadi seluruh semestanya selama lima tahun terakhir. Di luar sana, Kota  Makassar sedang sibuk dengan deru kendaraan dan hiruk-pikuk manusia yang mengejar mimpi. Namun di dalam sini, waktu seolah membeku pada sebuah titik di masa lalu yang enggan beranjak.

Dua sumber sumber cahaya di ruangan itu berasal dari layar ponsel pintar yang digenggaman dan layar monitor laptop yang menyala di atas meja belajar Rangga. Cahaya biru itu memantul di matanya yang lelah dan sembab, memperlihatkan kantung mata yang menghitam akibat ribuan jam tidur yang tercuri oleh kenangan.

Jarinya bergerak mekanis. Sebuah gerakan yang sudah menjadi refleks, hampir menyerupai ritual suci yang dilakukan seorang pendeta di depan altar. Ia membuka facebook, menekan profil yang sudah ia hafal setiap pixel fotonya, lalu mulai melakukan scrolling. Jauh, sangat jauh ke bawah. Melewati ratusan hari tanpa makna, melampaui ribuan jam kesepian, hingga ia tiba pada sebuah garis waktu di tahun 2020.

Di sana, di layar seluas enam dan empat belas inci itu, Aruna kembali hidup.

Ia sedang berdiri di tepi pantai dengan gaun putih yang melambai ditiup angin. Rambutnya hitam legam, panjang, dan berkilau. Sebuah mahkota indah yang ia miliki sebelum segalanya berubah menjadi gersang. Matanya berbinar, memantulkan cahaya matahari terbenam yang berwarna jingga keemasan.

Rangga menyentuh layar itu dengan ujung ibu jarinya, seolah-olah jika ia menekannya cukup keras, ia bisa merasakan tekstur kulit pipi Aruna yang lembut yang tersenyum padanya. Seperti yang selalu dia dapati ketika bersama gadis itu.

”Dunia bilang kau sudah tiada, Na,” bisik Rangga, suaranya pecah di kesunyian kamar. “Tapi algoritma ini berkata lain. Di sini, kau masih tertawa. Di sini, kau tidak pernah kesakitan. Kau masih bernafas dalam format 1080p, abadi dalam setiap pixel yang tidak akan pernah menua.” Dan kau selalu tersenyum padaku, tiada derita yang kau alami”.

Rangga menghela nafas panjang, sebuah sesak yang sudah menjadi teman akrabnya sejak pemakaman itu. Ia beralih dari aplikasi media sosial ke aplikasi catatan. Di sana, terdapat ribuan baris kata yang tersusun rapi, naskah dari sebuah duka yang tak kunjung usai.

Hampir semua lirik lagu yang ia tulis memiliki pola yang sama. Jika orang lain menulis tentang cinta yang berbunga, Rangga menulis tentang bunga yang layu sebelum sempat mekar sempurna. Ia menulis tentang pantai, tempat favorit mereka datangi, yang kini terasa seperti padang pasir yang membakar kaki. Ia menulis tentang bangku di tepi pantai, tentang bangku taman di depan rumah sakit, tempat ia sering termenung menunggu jadwal kunjungan, yang kini terasa lebih dingin dari es di kutub manapun yang ada diatas bumi ini.

Namun, yang paling menyakitkan adalah baris-baris lirik yang ditujukan untuk “sang pencuri”. Itulah sebutan Rangga untuk kanker rahim yang menggerogoti tubuh Aruna selama lima tahun. Lima tahun yang dihabiskan Rangga di bangsal rumah sakit, menjadi penjaga setia, mencoba mempelajari istilah medis, menghitung tetesan infus, dan melihat bagaimana sel-sel jahat itu perlahan-lahan memadamkan cahaya di mata gadisnya.

”Aku masih cantik?” tanya Aruna saat itu, menatap pantulan dirinya di cermin rumah sakit.

Rangga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengecup kening Aruna lama sekali, seolah ingin menyalurkan seluruh sisa hidupnya ke dalam tubuh gadis itu. Setiap kali melihat Aruna, hatinya merintih, batinnya menangis.

Di malam yang sunyi ini, Rangga mengambil pulpennya yang berada dalam tempat pensil  yang berdebu di sudut kamar.Jarinya perlahan bermain diatas kertas HVS, secara perlahan, menciptakan melodi syair yang menyayat hati. Ia mulai menggumamkan syair yang baru saja ia selesaikan, sebuah persembahan untuk Aruna yang kini hanya tinggal nama di sebuah nisan.

SYAIR: ANTARA INFUS DAN MIMPI

Di ujung jari, 

kususuri layar yang bercahaya 

Mencari wajahmu di sela algoritma yang fana 

Kau masih di sana, 

dengan gaun putih dan tawa yang sama 

Tak peduli bahwa di duniaku, kau telah menjadi doa.

 

Lima tahun kita bertaruh dengan angka laboratorium

Mencari harapan di antara botol-botol serum. 

Rahimmu adalah taman yang ingin ku tanami masa depan. 

Namun sel-sel jahat itu datang, menjadikannya pemakaman.

 

Ingatkah kau pada bangku taman di lobi utara? 

Tempat kita bertukar janji di tengah aroma kimia

Kau bilang kau takut, 

tapi tanganmu tetap menggenggamku 

Aku bilang aku kuat, 

padahal hatiku hancur menjadi debu.

 

Pantai itu kini hanya deru ombak tanpa makna. 

Pasirnya dingin, 

airnya terasa seperti air mata. 

Aku masih menyimpan fotomu di setiap lini masa. 

Karena hanya di sana, aku merasa kita belum binasa.

 

Lima tahun ku sembunyikan duka di balik unggahan lama. 

Seolah dengan menyimpannya, 

kau akan kembali menyapa. 

Selamat tidur, Aruna, 

di tempat tanpa rasa sakit. 

Biar di sini aku yang menjaga rindu yang kian menjepit.

 

Setelah selesai menulis, Rangga meletakkan pulpennya kembali. Ia merasa seolah energinya terkuras habis. Ia kembali menatap layar laptopnya yang masih menyala.Disana Akun pribadinya, bersama seluruh foto-foto Aruna tersimpan untuk selamanya. Ada sebuah notifikasi dari aplikasi “Memories” sebuah pengingat otomatis tentang apa yang terjadi lima tahun lalu.

Foto itu muncul,  Rangga dan Aruna di pantai tengah duduk berdampingan dengan tangan mereka saling menggenggam, Aruna memakai syal biru dan tersenyum lebar meski wajahnya sangat tirus. Itu adalah hari terakhir Aruna diijinkan pulang ke rumah sebelum akhirnya kembali masuk ke ruang ICU untuk selamanya.

Rangga tahu, ia terjebak. Ia membangun sebuah museum digital di mana Aruna adalah pemeran utamanya. Sahabat-sahabatnya sudah sering memperingatkan. Ibunya sudah sering menasehatinya, melihat Rangga yang tidak mau lagi keluar rumah untuk bersosialisasi. Mencari kehidupan baru, agar tidak menjadi mayat hidup yang tanpa tujuan.

”Kau menghidupkan hantu, Rangga,” kata Raka, sahabatnya, suatu kali datang main di rumahnya. Sampai kapan kau akan terpenjara oleh masa lalumu. Dan itu, yang ada di jari manismu yang telah menjadi rantai bagimu. Rantai yang selama ini telah membelenggu jiwamu, sadarlah, Ngga”

”Dia bukan hantu,” bantah Rangga saat itu. “Dia masih di sini, di setiap syair yang kutulis, di setiap foto yang ku unggah ulang. Selama aku belum menghapusnya dari profilku, dia belum benar-benar pergi.”

Raka tersenyum kasihan padanya, “ Kau telah membunuh dirimu sendiri, Ngga. Apa kau yakin ini yang diinginkan Aruna, Apa kau yakin di akan tersenyum bahagia disana melihat kau menghancurkan hidupmu sendiri? Raka menepuk pundak sahabatnya itu.

“Bukan sobat, bukan itu yang diinginkan Aruna, dia ingin kau melangkah keluar melihat kenyataan hidup” selesai berkata demikian Raka pamit pergi meninggalkan sahabatnya itu.

Memberikan masa pada sahabatnya itu untuk merenungi setiap baris ucapannya, agar Rangga kembali seperti dulu. Rangga yang tegar dan tabah menghadapi setiap tantangan hidup.

Rangga yang selalu dinantikan kehadirannya, dinantikan nasehatnya bagi teman-temannya yang memiliki masalah hidup.  

Rangga tahu argumennya terdengar gila bagi orang lain. Tapi bagi seseorang yang telah mendampingi kekasihnya berjuang melawan kanker selama lima tahun, melihat setiap inci penderitaannya lalu melepaskan bukanlah sebuah pilihan sederhana. Merelakan bagi Rangga terasa seperti pengkhianatan. Jika ia melupakan Aruna, maka siapa lagi yang akan mengingat betapa hebatnya gadis itu berjuang?

Ia pun kembali merebahkan tubuhnya di kasur yang terasa terlalu luas. Cahaya ponsel itu tetap menyala, menampilkan profil Facebook Aruna yang tak akan pernah lagi membalas pesannya.

”Selamat malam, Na,” bisiknya sebelum memejamkan mata. “Besok, aku akan mengunggah foto kita yang lain. Biar dunia tahu, cintaku belum mati untukmu.”

Di luar, hujan mulai turun, membasahi jendela kamar Rangga, menyamarkan suara isak tangis yang akhirnya pecah juga di tengah kegelapan yang pekat.

Ingatan Rangga melesat kembali ke tahun-tahun yang dihabiskan dalam aroma abadi cairan antiseptik dan suara dengung mesin monitor. Lantai empat rumah sakit Unhas Makassar itu telah menjadi alamat keduanya. Ia bahkan lebih mengenal wajah perawat shift malam daripada wajah tetangganya sendiri di lingkungan tempat tinggalnya.

Di kamar nomor 402, Aruna terbaring. Tubuhnya yang dulu bugar, yang dulu lincah menari di bawah guyuran hujan, kini tampak begitu rapuh di balik selimut putih kaku milik rumah sakit. Kanker rahim itu bukan sekadar penyakit bagi Rangga,  itu adalah pencuri yang bekerja dalam senyap, mengambil warna dari pipi Aruna, kekuatan dari kakinya, dan perlahan-lahan, kilau dari matanya.

”Ngga, apa aku masih terlihat seperti Aruna-mu?” suara Aruna memecah kesunyian malam itu, sangat pelan hingga hampir tenggelam oleh suara tetesan infus.

Rangga yang sedang duduk di kursi plastik keras di samping tempat tidur, segera mendongak. Ia baru saja selesai merapikan tumpukan hasil laboratorium yang berantakan. Ia meraih tangan Aruna, tangan yang kini terasa begitu ringan, kulitnya seputih kertas roti dengan urat-urat biru yang menonjol jelas.

”Kau selalu menjadi Arunaku,” jawab Rangga mantap, meski hatinya terasa seperti diremas. “Bahkan jika kau berubah menjadi awan atau embun sekalipun, aku akan selalu mengenalimu.”

Aruna tersenyum getir. Ia melirik ke arah cermin kecil di atas nakas. Rambut hitamnya yang dulu panjang hingga pinggang kini mulai menipis. Namun, Rangga tidak membiarkan Aruna melihatnya menangis. Ia justru mencium puncak kepala Aruna, berbisik bahwa ia justru terlihat seperti pejuang yang paling cantik.

Selama lima tahun, hidup Rangga adalah tentang angka. Kadar hemoglobin, jumlah leukosit, jadwal kemoterapi, dan sisa saldo di buku tabungannya yang kian menipis. Namun, Rangga tidak pernah mengeluh. Bagi dia, setiap rupiah yang keluar adalah perpanjangan waktu untuk satu hari lagi bersama Aruna. Setiap malam yang ia habiskan dengan tidur terduduk di kursi rumah sakit adalah harga kecil untuk sebuah senyuman di pagi hari.

Ada satu malam yang tak pernah hilang dari ingatan Rangga. Malam setelah sesi kemoterapi ketiga yang sangat berat. Aruna terus muntah, tubuhnya menggigil hebat meski suhu ruangan sudah diatur hangat.

Rangga memeluknya dari samping tempat tidur, berusaha membagi kehangatan tubuhnya sendiri. “Sakit, Ngga… perutku rasanya seperti terbakar,” rintih Aruna di sela tangisnya yang tertahan.

Rangga tidak bisa melakukan apa pun untuk mengambil rasa sakit itu. Ia hanya bisa membisikkan doa, menyanyikan potongan lirik lagu tanpa musik untuk mengalihkan perhatian Aruna. Di saat itulah, lirik-lirik lagu Rangga berubah. Tidak ada lagi lagu tentang cinta yang manis. Yang lahir adalah syair tentang ketabahan dan kemarahan pada takdir.

Syair yang tercipta di malam itu:

”Di sela bunyi mesin yang berdenyut, 

Kulihat jiwamu yang tak pernah berlutut. 

Meski raga ini perlahan terkikis habis, 

Cintaku padamu takkan pernah menjadi tangisan.”

Suatu sore, saat Aruna merasa sedikit lebih kuat, mereka duduk di kursi roda dekat jendela besar di ujung koridor. Mereka menatap matahari yang tenggelam di balik gedung-gedung tinggi Kota Makassar.

”Kalau nanti aku sembuh,” suara Aruna terdengar penuh harap, “aku ingin ke pantai. Bukan untuk berenang, hanya untuk merasakan pasir di sela jari kakiku. Aku sudah terlalu lama hanya merasakan ubin rumah sakit yang dingin ini.”

Rangga mengangguk, mencatat setiap keinginan Aruna di dalam kepalanya seolah itu adalah perintah suci. “Kita akan ke sana. Ke pantai mana pun yang kau mau. Aku akan menyewa satu pantai hanya untukmu.”

Namun, takdir tidak pernah benar-benar mendengarkan janji manusia. Seminggu setelah percakapan itu, kondisi Aruna menurun drastis. Sel-sel ganas itu telah menyebar, mengabaikan segala dosis obat yang diberikan para dokter.

Sel – sel ganas itu itu menguasai seluruh tubuh Aruna yang tak sadarkan diri. Dokter dengan berat hati mengabarkan kondisi terkini Aruna, kondisi yang membuat seluruh persendian Rangga bagaikan tak bertulang. Hatinya terasa tercabik-cabik mendengar penuturan dokter yang seolah telah berada di titik akhir dari pengobatan yang dijalani selama ini oleh Aruna

Di detik-detik terakhirnya, Aruna hanya sempat membisikkan satu hal yang menghancurkan benteng pertahanan Rangga selama lima tahun ini. “Rangga… terima kasih sudah menjagaku. Tapi tolong, jangan ikut mati bersamaku.”

Kalimat itu adalah luka terdalam bagi Rangga. Karena baginya, saat Aruna menghembuskan napas terakhir, separuh dari jiwanya memang ikut terkubur. Itulah sebabnya ia menyimpan Aruna di media sosialnya, di lirik lagunya, di setiap sudut ponselnya karena dengan begitu, ia merasa masih bisa memenuhi janji untuk tidak “ikut mati”, meski ia juga tidak benar-benar merasa hidup. Baginya Aruna merupakan denyut nadinya, kekasihnya itu detak jantungnya.

Kembali ke masa kini, Rangga meletakkan ponselnya. Bayangan Aruna yang kesakitan di rumah sakit selalu bertabrakan dengan foto-foto Aruna yang tertawa di Facebook. Ia terjepit di antara dua kenyataan,  Aruna yang menderita, dan Aruna yang abadi.

Ia memejamkan mata, dan aroma antiseptik itu seolah tercium kembali, bercampur dengan aroma parfum milik Aruna yang kian memudar di bantalnya.

#day1

#20harimencarimaaf

#novelgoodcompetition

Lates Chapters

Prolog

BLURB (Sampul Belakang) Bagi Rangga, mencintai Aruna adalah sebuah pengabdian tanpa batas. Selama lima tahun, dunianya hanya berputar di antara dinding - dinding rumah sakit,…

Hidup Setelah Mati Dalam Kenangan

Pantai Losari sore itu tidak berbeda dengan sore-sore biasanya riuh oleh klakson kendaraan yang terjebak macet di Jalan Penghibur, wangi pisang epe yang dibakar diatas…

Di Ambang Fajar

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur Makassar, menyisipkan garis-garis cahaya keperakan di sela-sela tirai ruang tamu yang masih menyisakan aroma kecemasan semalam. Di dalam ruangan…

Terminal Terakhir

Malam di Makassar setelah badai emosi di Nipah Mall terasa lebih pekat dari biasanya. Rangga berdiri di anjungan Pantai Losari, membiarkan angin laut yang kasar…

Surat Terbuka Di Balik Jendela Dunia

Dunia digital yang dulu digunakan Rangga sebagai kotak hitam untuk menyimpan memori Aruna, kini berubah menjadi medan pertempuran terakhir untuk harga dirinya. Setelah sepuluh hari…

Rumah Tanpa Jendela

Kesunyian adalah sejenis suara yang paling memekakkan telinga jika ia datang dari tempat yang seharusnya penuh dengan tawa. Ketika Rangga akhirnya melangkah melewati ambang pintu…

Menggali Kubur Diatas pasir

Nipah Mall bukan lagi sekadar pusat perbelanjaan dengan arsitektur terbuka yang megah di mata Rangga. Tempat itu telah bermetamorfosis menjadi sebuah katedral sunyi tempat ia…

Obsesi di Nipah

Pikiran manusia bagaikan labirin yang paling berbahaya, dan Rangga baru saja mengunci dirinya sendiri di dalam lorong yang paling gelap. Pesan yang ia kirimkan kepada…

Reverberasi

Satu tahun telah berlalu sejak nisan Aruna dibasuh dengan doa dan penerimaan. Satu tahun pula sejak Rangga memutuskan untuk berhenti menjadi tawanan kenangan dan mulai…

Membasuh Luka Dengan Cahaya

Waktu bukan lagi sekadar angka yang berdetak di atas jam dinding bagi Rangga, waktu telah berubah menjadi kanvas yang perlahan-lahan ia warnai dengan keberanian baru.…

Diantara Titik dan Koma

Angin malam Makassar yang membawa aroma garam dari pesisir Pantai Losari berhembus pelan, memainkan ujung jilbab Kirana. Di bangku taman yang catnya mulai mengelupas itu,…

Menulis Untuk Hidup

Dunia digital ternyata menawarkan sebuah bentuk katarsis yang tidak pernah Rangga bayangkan sebelumnya. Di sebuah kamar kos yang sempit di sudut kota Makassar, dengan hanya…

Kesetiaan Pada Jarak

Jarak ternyata bukan sekadar angka di atas peta atau spasi di antara dua kursi. Bagi Rangga, jarak telah bertransformasi menjadi sebuah ruang ibadah. Sebuah altar…

Jarak Diantara Kita

Rangga mengira bahwa setelah cincin itu dilepaskan, jalan di depannya akan menjadi sebuah karpet merah menuju kebahagiaan baru. Ia mengira bahwa merelakan Aruna adalah satu-satunya…

Lingkaran Yang Terlepas

Pagi itu, udara Kota Makassar terasa sedikit lebih ringan. Rangga berdiri di depan rumahnya, menatap lurus ke arah cakrawala di mana matahari mulai merayap naik,…

Gaung Yang Kembali

Enam bulan telah berlalu sejak malam di pemakaman itu. Makassar masih sama bising, sesak, dan terburu-buru. Namun, bagi Rangga, warna kota ini perlahan mulai kembali.…

Di Balik Tanah yang Bersuara

Kompleks makam tua dengan hamparan batu-batu besar menjadi hiasan makam-makan yang disana. Aroma bunga kamboja yang jatuh dan bau tanah yang lembab menyambutnya seperti pelukan…

Kaki Yang Berkhianat

Dunia di luar kamar Rangga ternyata jauh lebih bising dari yang ia ingat. Setelah berminggu-minggu mengunci diri dalam gua kenangan, suara klakson kendaraan di jalanan…

Restu Yang Mati

Di sudut kamar yang pengap itu, Rangga menarik laci meja belajarnya. Di bawah tumpukan kertas lirik, ia mengambil sebuah foto fisik yang tepiannya sudah mulai…

Cincin Diakhir Tawa

Pagi itu, jendela kamar Rangga masih tertutup rapat, seolah ia ingin mengunci sinar matahari agar tidak lancang masuk dan mengganggu kegelapannya. Tirai tebal berwarna abu-abu…
error: Content is protected !!