Kesunyian adalah sejenis suara yang paling memekakkan telinga jika ia datang dari tempat yang seharusnya penuh dengan tawa. Ketika Rangga akhirnya melangkah melewati ambang pintu rumah pada pukul satu dini hari, ia tidak disambut oleh aroma kopi sisa atau derap langkah kecil yang biasanya menghampirinya untuk sekedar bertanya, “Sudah makan?”
Malam itu, rumah mereka terasa seperti sebuah museum yang telah lama ditinggalkan. Dingin, berdebu dalam arti metaforis, dan sangat asing.
Rangga meletakkan kunci motornya di atas meja kayu di ruang tamu. Pandangannya nanar. Di kepalanya masih terngiang suara tajam gadis di mall tadi. Sarah yang membuyarkan fantasinya. Namun, alih-alih merasa lega karena telah menemukan kenyataan, Rangga justru merasa hampa. Jiwanya masih tertinggal di koridor Nipah Mall, masih merayap di bawah bayang-bayang eskalator, masih mencari-cari sisa siluet yang ia anggap Aruna.
“Kirana?” panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban. Hanya suara detak jam dinding yang seolah sedang menghitung mundur sisa kewarasannya.
Rangga melangkah ke kamar tidur. Kosong. Tempat tidur itu tertata terlalu rapi, seolah tidak pernah disentuh sejak pagi. Ia beralih ke ruang kerja Kirana, tempat di mana wanita itu biasanya duduk menekuni naskah-naskah mereka. Di sana pun, kursi itu kosong. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Rak buku yang biasanya penuh dengan catatan-catatan kecil Kirana kini tampak lowong. Beberapa map hilang. Dan yang paling menyayat hati: foto mereka berdua di atas meja kerja itu sudah tidak ada di bingkainya.
Hanya ada secarik kertas putih di tengah meja, ditindih oleh pena yang pernah Rangga hadiahkan padanya.
Rangga meraih kertas itu. Tangan yang tadi gemetar karena mengejar “Aruna” kini bergetar karena rasa takut yang nyata.
“Rangga, aku tidak sedang pergi untuk menghukummu. Aku pergi untuk membiarkanmu. Selama setahun ini, aku merasa aku adalah rumah bagimu. Namun belakangan ini, aku sadar bahwa aku hanyalah sebuah halte tempatmu menunggu kereta yang salah.”
“Kau mencari wajah di kerumunan, mencari mata yang sudah lama terpejam. Kau menggali kubur di atas pasir, dan kau tidak sadar bahwa pasir itu mulai menimbun kita berdua. Aku tidak bisa mencintaimu sambil bersaing dengan hantu. Aku tidak bisa memelukmu sementara matamu selalu menatap ke arah pintu, berharap wanita lain yang masuk.”
“Aku memberimu kebebasan yang paling mutlak. Kejarlah dia. Temukan Aruna-mu pada diri orang lain. Aku tidak akan mengganggumu dengan kehadiranku yang mungkin kau anggap sebagai penghalang nostalgia. Jika rupa adalah segalanya bagimu, maka biarlah aku yang menghilang, agar kau tidak perlu lagi merasa bersalah saat kau menatapnya.”
Rangga terjatuh di kursi kerja Kirana. Dadanya sesak. Ia baru menyadari bahwa selama ia sibuk menjadi pengintai di mall, Kirana sedang mengemas jiwanya. Selama ia sibuk menghirup udara di sekitar orang asing, Kirana sedang belajar bernapas sendirian tanpa dirinya.
Di balik surat itu, Kirana meninggalkan sebuah puisi terakhir, sebuah syair yang ia tulis di tengah malam saat Rangga mungkin sedang bersembunyi di balik pilar-pilar Nipah Mall.
DEDIKASI PADA KEHILANGAN
Aku lepaskan tali ini dari dermaga, Sebab kau lebih mencintai badai yang lama pergi. Jangan cari aku dalam doa atau raga, Sebab namaku sudah kau hapus dari mimpi.
Kejarlah dia, seraut wajah yang kau anggap surga, Hingga kau sadar, kau hanya memeluk udara. Aku adalah cinta yang nyata, namun kau pilih luka yang fana, Kini pergilah, jadilah raja di kerajaan lara.
Tiga hari berlalu sejak kepergian Kirana. Rangga benar-benar bebas. Tidak ada lagi pesan yang bertanya kapan ia pulang. Tidak ada lagi sorot mata sedih yang menunggunya di meja makan. Ia bebas datang ke Nipah Mall setiap jam, setiap menit.
Namun, kebebasan itu justru terasa seperti hukuman mati.
Ia kembali ke mall. Ia melihat Sarah lagi. Kali ini, ia mencoba mengikuti Sarah hingga ke tempat parkir. Ia ingin bicara, ingin mengatakan sesuatu, namun setiap kali ia menatap wajah itu, hatinya justru berteriak, “ DI MANA KIRANA?”
Wajah Sarah memang mirip Aruna, tapi Sarah tidak tahu cara merapikan kerah kemejanya. Sarah tidak tahu bahwa Rangga suka kopi tanpa gula di pagi hari. Sarah tidak tahu syair-syair yang ia tulis dengan air mata.
Rangga berdiri di tengah keramaian mall, dan tiba-tiba saja ia merasa mual. Ia melihat ribuan wajah yang lewat, namun tak satupun yang memiliki tatapan teduh Kirana. Ia mulai menyadari sebuah intrik batin yang mengerikan: ia telah menukar emas dengan kepingan kaca hanya karena kaca itu memantulkan cahaya masa lalu.
Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Kirana. Nomor itu aktif, namun tidak pernah diangkat. Ia mengirim pesan, namun hanya centang satu. Kirana benar-benar telah memutus frekuensi. Ia membiarkan Rangga tenggelam dalam obsesinya sendiri.
Di sebuah bangku di area food court, Rangga menulis dengan penuh kegilaan di buku catatannya. Kali ini bukan puisi untuk Aruna, melainkan ratapan untuk kebodohannya.
PASAR MALAM HANTU
Aku memiliki matahari, namun aku memilih lilin yang hampir padam. Aku memiliki rumah, namun aku memilih lorong yang kelam. Wajah itu… dia hanya topeng yang tak punya hati, Sedangkan kau, Kirana, adalah jantung yang kubuat mati.
Aku mengejar bayang, dan aku kehilangan terang. Kini aku berdiri di mall ini, merasa telanjang. Setiap sudut koridor menertawakan langkahku, Lelaki bodoh yang membuang mutiara demi debu.
Malam keempat, Rangga tidak lagi pergi ke mall. Ia duduk di lantai rumahnya yang kosong, dikelilingi oleh naskah-naskah lama yang mereka kerjakan bersama. Ia melihat tulisan tangan Kirana di pinggir naskah atau catatan-catatan kecil seperti “Bagian ini terlalu sedih, Rangga, buatlah tokohnya sedikit lebih tangguh.”
Rangga menangis hebat. Ia menyadari betapa kejamnya tindakannya. Kirana tidak pergi karena ia berhenti mencintai; Kirana pergi karena ia mencintai Rangga dengan cara yang paling tinggi: memberikan kesempatan bagi Rangga untuk mengakui dirinya sendiri.
Kirana ingin Rangga sadar bahwa ia mencintai Aruna sebagai kenangan, tapi ia membutuhkan Kirana sebagai kehidupan. Dan selama Rangga tidak bisa membedakan keduanya, Kirana tidak akan pernah kembali.
“Kirana… aku salah,” raungnya pada dinding-dinding bisu. “Aku tidak butuh wajah itu. Aku butuh jiwamu.”
Ia baru mengerti sekarang, mengapa Kirana memilih untuk menghilang tanpa kata-kata makian. Makian akan membuat Rangga merasa sebagai korban, tapi diamnya Kirana membuat Rangga harus berhadapan langsung dengan cermin kenyataan. Cermin yang memperlihatkan seorang lelaki yang pengecut, yang takut bahagia karena merasa harus selalu menderita demi masa lalu.
Rangga mengambil ponselnya lagi. Kali ini ia merekam suaranya, sebuah pesan suara yang mungkin takkan pernah didengar, namun ia harus mengatakannya:
“Kirana, aku sudah berhenti. Aku tidak lagi di Nipah. Aku di rumah, di ruang kerjamu. Aku melihat kursi kosongmu dan aku menyadari bahwa Aruna tidak pernah ada di mall itu. Aruna sudah di tempatnya, dia sudah damai. Yang selama ini menemaniku berjuang, yang menanggung bau duka di tubuhku, yang memelukku saat aku terbangun karena mimpi buruk… itu kau. Hanya kau. Aku telah menjadi buta, dan kepergianmu adalah satu-satunya hal yang membuat mataku terbuka. Tolong, jangan biarkan terminal ini benar-benar tutup.”
Di suatu tempat yang dirahasiakan, mungkin di rumah orang tuanya di pinggiran kota atau di sebuah kos sempit yang tenang. Kirana duduk menatap layar ponselnya. Ia melihat notifikasi pesan suara dari Rangga. Ia melihat ratusan pesan teks yang masuk.
Jemari Kirana bergetar di atas layar. Ia ingin mengangkat telepon itu. Ia ingin mendengar suara Rangga yang memohon. Namun, ia menahan diri. Ia tahu, jika ia kembali terlalu cepat, Rangga akan kembali mengulangi polanya. Rangga harus benar-benar “bersih” dari bayangan itu.
Kirana menulis dalam buku hariannya, sebuah dialog batin yang tajam:
Aku tidak pergi untuk meninggalkanmu, Rangga. Aku pergi agar kau menemukan dirimu yang sebenarnya. Jika kau kembali padaku hanya karena kau gagal mendapatkan gadis mirip Aruna itu, maka aku akan pergi lagi. Tapi jika kau kembali karena kau menyadari bahwa aku adalah ‘aku’, bukan sekadar pengganti, maka pintuku akan selalu terbuka.
Ia menatap langit malam dari jendela kamarnya yang baru.
JARAK YANG MENYEMBUHKAN
Biarlah rindu ini menjadi guru yang keras, Mengajarimu cara membedakan emas dan ampas. Aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu, Tapi aku juga mencintai diriku, agar tak hancur olehmu.
Tunggu di sana, di rumah yang kini sepi, Hingga hantu itu benar-benar pergi dari mimpi. Jika fajar tiba dan matamu sudah jernih, Mungkin cinta kita takkan lagi terasa perih.
Rangga menghabiskan minggu itu dengan membersihkan setiap jejak “pencariannya”. Ia menghapus semua foto Sarah yang sempat diambil secara diam-diam. Ia membakar catatan-catatan obsesinya. Ia mulai menata kembali rak buku Kirana, berharap dengan mengembalikan letak barang-barang itu, ia juga bisa mengembalikan pemiliknya.
Konflik batinnya kini mencapai tahap penerimaan yang menyakitkan. Ia menyadari bahwa cinta adalah sebuah keputusan, bukan sekadar resonansi wajah. Ia telah gagal dalam keputusan itu, dan sekarang ia harus membayar harganya dengan kesunyian yang mencekam.
Ia sadar bahwa Kirana sengaja membiarkannya mengejar Sarah agar Rangga tahu rasanya “mendapatkan” apa yang ia inginkan namun merasa tetap hampa. Kirana memberikan obat pahit yang paling manjur dia disebut kenyataan.
Setiap malam, Rangga tidur di lantai ruang tamu, tepat di depan pintu. Ia menunggu suara kunci diputar. Ia menunggu langkah kaki yang familiar. Ia tidak lagi memikirkan Aruna. Di kepalanya kini hanya ada Kirana, Kirana yang marah, Kirana yang diam, Kirana yang terluka.
“Kembalilah, Kirana,” bisiknya sebelum terlelap. “Aku sudah tahu bedanya sekarang. Aku tidak lagi mencari nisan. Aku mencari rumah.”
Namun, pintu itu tetap terkunci. Dan Nipah Mall di kejauhan tetap berdiri tegak, menyimpan rahasia tentang seorang lelaki yang hampir gila karena rupa, dan seorang wanita yang cukup berani untuk menghilang demi menyelamatkan sebuah jiwa yang tersesat.
#day16
#20harimencarimaaf
#novelgoodcompetition