“Selamat pagi dunia!” Vima berteriak sambil membuka jendela kamar. Vima menikmati angin yang berembus menyelusup masuk lalu merayapi tubuhnya. Di luar matahari mulai mengeluarkan warna semburat merah keemasan. Sangat cantik.
Tadi malam Vima susah tidur, dia terlalu gelisah menanti pagi. Hari ini abang Leo berjanji mengantarnya ke rumah kos. Dia tidak sabar hidup jadi anak kos, merasakan dunia baru.
Vima segera turun, mungkin ada hal yang bisa dia kerjakan. Barang-barang yang akan dibawanya nanti sudah dipersiapkan. Lagi pula barang miliknya tidak terlalu banyak.
Vima mendengar suara-suara di dapur, sepertinya mbak Darsih sudah bangun memasak untuk sarapan pagi.
“Selamat pagi, Mbak! Lagi masak apa?”
“Eh, bikin kaget! Ini lagi masak sup ayam, kemarin Nyonya kepingin sup ayam kampung.”
“Sini saya masak mbak! Mana bumbunya?”
“Ini bumbunya…memangnya Non Vima bisa masak?” Ada pandangan tidak percaya.
“Bisa lah!” Vima melihat tempat bumbu yang diberikan Mbak Darsih, “Hm, bumbunya lengkap.”
Dia segera menyibukkan diri dengan masakan yang akan dibuatnya. Ada Mbak Darsih yang membantu. Dari mulai mengupas bumbu, meracik, menggiling bumbu dan kemudian mencampurnya menjadi satu kesatuan rasa yang pas di lidah. Menurut Vima memasak adalah seni, dan dia jatuh cinta dengannya.
Sup ayam buatannya mengeluarkan aroma dan rasa yang khas, keluarganya selalu suka dengan sup hasil racikan tangannya. Ada campuran bawang putih, pala, jahe, merica, ketumbar dan jinten. Lalu hidung akan dimanjakan dengan wangi cengkeh, kayu manis dan kapulaga. Ada sedikit aroma sereh dan daun jeruk. Wangi, membangkitkan selera.
Dipotongnya wortel berbentuk bunga, dia ingin supnya tampil cantik. Hasil akhir diberi taburan bawang goreng yang renyah. Ah, sempurna!
“Wangi banget, masak apa Vi?” Namboru berada di belakangnya, melongok ingin tahu makanan yang dimasak Vima.
“Cuma sup ayam.” Vima merasa kikuk saat namboru terus memandangi wajahnya. Namboru seakan tak percaya kalau Vima yang memasak sup dengan aroma yang wangi menggugah selera.
“Rajin banget pagi-pagi sudah turun ke dapur.”
“Tadi Vi bangunnya kepagian. Lalu cari kesibukan di dapur membantu mbak Darsih.”
“Bou sudah tidak sabar untuk makan sup buatanmu. Mandi dulu lalu kita makan sama-sama ya?” Vima mengangguk kemudian bergegas mandi.
***
Kali ini Vima antusias memandangi jalanan, walaupun itu hanya berupa kendaraan yang berlalu lalang dan gedung-gedung yang berdiri diam terkadang tanpa makna.
Hatinya sedang bahagia, namboru dan Bang Leo akhirnya mengantar dia ke tempat tinggal barunya. Rumah kos di jalan Kertanegara.
Di dalam mobil, dia merasa tidak tenang ingin segera sampai. Puji-pujian namboru tentang sup ayamnya yang enak hanya terdengar seperti dibawa angin di telinganya, berlalu begitu saja.
“Serius Vi mau jadi anak kos? Nanti kalau dapat ibu kos yang galak bagaimana? Bisa kena omel terus lho Vi.” Leo mulai mengganggu.
“Nanti di kos suaranya enggak boleh keras-keras, bisa kaget ibu kosmu.” Leo menyindir. Vima langsung mengingat ketika sore itu Bang Leo sedang memergokinya nonton tv sambil berbicara keras mengomentari acara tv. Vima hanya menarik bibirnya-tersenyum-saat disindir begitu. Dia tetap tidak peduli.
“Leo, sudahlah! Jangan kau ganggu terus paribanmu itu!” Sepertinya namboru mulai takut Vima akan menangis atau merajuk.
“Biarin namboru, mungkin Bang Leo mendapatkan kebahagian dengan mengganggu saya.”
“Bah! Sudah pintar kau menjawab! Belajar dari mana, Vi?”
“Tak payah lah awak harus belajar cuma untuk itu.”
“Hahaha, rupanya tak bisa lagi awak menggoda. Sudah pandai menjawab sekarang.”
Vima berharap paribannya ini berhenti menggodanya, karena dia lebih suka memandangi jalanan sambil mempersiapkan hati. Ada banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya saat ini.
Apakah ibu kosnya baik? Apakah teman–temannya baik dan menyenangkan? Apakah dia bisa cepat beradaptasi? Apakah ada perbedaan kasta senior dan yunior disitu? Akankah ada upacara selamat datang seperti yang dilihatnya difilm–film?
Semoga semuanya bisa dilewati, Vima mulai merasa gamang. Ditariknya napas lalu diembuskannya sebelum turun dari mobil. Matanya menatap ke arah bangunan besar yang ada di depan. Ya, ini rumah yang akan ditempatinya entah sampai berapa lama.
Rumah bertembok putih dengan pagarnya yang tinggi berwarna hitam. Di teras ada beberapa kursi dan satu meja. Dari depan rumah itu terlihat sunyi. Berkali-kali dia berdoa semoga penghuninya ramah kepadanya.
***
Namboru dan Bang Leo telah pergi, sekarang dia sendiri di kamar. Pelan-pelan Vima membongkar isi koper dan kardus yang berisi bermacam-macam barang. Sebelum pergi namboru berkali-kali mencium pipinya dan berkali-kali memberikan nasihat yang sama, “Jaga diri ya Vi, tidak usah ikut pergaulan yang aneh-aneh. Belajar! Kalau butuh bantuan bilang ke namboru atau Leo ya. Jangan segan!”
Vima hanya mengangguk, sesekali keluar juga kata “Iya Namboru” dari mulutnya. Sedangkan Bang Leo hanya memandangi sambil sesekali tersenyum pada Vima.
Di kamar ini dia sendiri. Vima lebih memilih satu kamar sendiri daripada bergabung dengan teman lain. Karena ada juga yang satu kamar berisi dua orang. Vima merasa membutuhkan privasi, ada saat dia tidak ingin diganggu.
“Halo anak baru!” Seseorang mengetuk pintu kamarnya yang terbuka.
“Hai, sini masuk!” Vima melihat wajah perempuan berkacamata yang tersenyum ramah. Semoga temannya ini bukan sejenis makhluk yang ingin tahu dan usil.
“Kenalkan, namaku Leli. Aku kuliah di fakultas ekonomi, asalku dari Tegal.” Suaranya mantap dengan logat Tegal yang sangat khas. Vima suka mendengar Leli bicara, suka dengan logatnya.
“Aku satu kamar dengan Cholidah, anak ekonomi juga. Nanti aku kenalkan.” Vima mengangguk senang.
“Kalian berdua angkatan berapa?” Ini penting ditanyakan untuk melihat strata dalam pergaulan. Apakah Vima harus memanggil dia mbak, kakak atau cukup panggil namanya saja.
“Kami angkatan 97. Kamu?”
“Sama. Aku di fakultas hukum.”
“Hai anak baru!” Vima melihat perempuan tinggi berkulit cokelat, berhidung sangat mancung tersenyum memegangi daun pintu.
“Eh, ini teman sekamarku namanya Cholidah!” Leli menunjuk Cholidah. Vima agak susah menyebutkan namanya, mungkin karena belum terbiasa saja.
“Boleh aku memanggilmu Pakis? Kamu cantik seperti perempuan Pakistan. Aku susah melafalkan namamu,” katanya berterus terang. Pakis dan Leli tertawa terbahak-bahak.
“Boleh…boleh…baru kamu yang memanggilku seperti itu.” Lagi-lagi dengan logat Tegal yang sangat kental.
“Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk menghina atau apa…aku cuma ingin bisa memanggil kamu dengan mudah.”
“Iya tidak apa-apa…namamu?”
“Aku Vimala! Kamu bisa memanggilku dengan Vima, atau Vi atau Ima seperti Wak Soleh kalau memanggilku.”
“Wak Soleh?”
“Oh, itu tetanggaku di Medan. Dia tidak bisa melafalkan namaku dengan benar, jadi Wak Soleh memilih nama panggilan yang mudah untuk memanggilku.” Vima tersenyum, matanya bersinar jenaka. Vima menyukai kedua teman barunya.