Semarang, 1997
Panas menyengat sampai menyentuh kulit dan puncak kepala, Vima terseok-seok menggeret koper beroda juga sekardus oleh-oleh. Terminal bis Terboyo sangat ramai, dia membaca nama terminal itu dari papan nama yang dipasang saat akan memasuki terminal.
Dihapusnya peluh yang menetes membasahi dahi, badannya berkeringat hingga bajunya terasa menempel erat ditubuh. Begitu sampai di rumah namboru, aku ingin langsung mandi, katanya dalam hati.
Dibacanya alamat di kertas yang diberikan mama kemarin sebelum dia berangkat. Dia bertekad bisa melakukannya sendiri, mencari rumah namboru di Semarang. Itu pekerjaan mudah, tinggal bertanya saja.
***
Empat hari yang lalu dia berangkat dari Medan, setelah beberapa hari harus mengalami drama dengan mama karena sulit melepaskan kepergiannya untuk merantau. Padahal dari awal mama tahu, kalau dia bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri, mama pasti akan kehilangan dirinya. Ternyata saat keputusan datang, tetap sulit untuk melepaskan.
Vimala, itu namanya. Mama mengambil namanya dari bahasa sansekerta yang berarti feminim. Mungkin mama berharap Vima bisa menunjukkan sisi keperempuanannya. Tangguh, mandiri, lembut yang seperti itulah.
***
Hari Sabtu pagi, tanggal 26 Juli, Vima menantikan pengumuman kelulusan untuk masuk perguruan tinggi negeri. Sedari kemarin rasanya sudah tidak sabar menanti esok pagi, dan pagi ini perasaan berdebar dan tidak sabar semakin kuat mengentak.
Sudah tiga tahun Vima mempersiapkan diri agar bisa lulus dan kuliah di universitas negeri favorit. Bahkan satu bulan sebelum ujian, Vima belajar secara intensif dan selalu berkutat dengan buku-buku soal juga rajin menyimak berita agar bisa mengerjakan soal-soal pengetahuan umum dan sosial. Vima tidak mau harapannya menjadi sia-sia.
Pukul 06.00 Vima sudah pergi membeli koran terbitan lokal yang mencantumkan nama peserta ujian yang lulus. Dikayuhnya sepedanya ke warung Wak Soleh secepat yang dia bisa. Tak sabar untuk membaca pengumuman dan berharap namanya tercantum disitu.
Bersaing dengan ribuan orang yang juga punya keinginan yang sama tidak mudah. Apalagi kalau universitas dan jurusan yang dipilihnya termasuk favorit. Masih diingatnya saat ujian kemarin, dari awal yang gugup kemudian menjadi tenang dan berusaha semaksimal mungkin bisa menyelesaikan semuanya.
“Aih Ma, kenapa pagi-pagi sudah sampai di sini?” Wak Soleh menyapa terkejut, karena tidak biasanya Vima belanja sepagi ini. Biasanya dia akan belanja di kios Wak Soleh sekitar pukul 08.00.
Wak Soleh selain menjual koran juga menjual barang kelontong, sayuran juga ikan. Vima hampir setiap hari pergi berbelanja dan kemudian akan ditaruhnya barang belanjaannya di keranjang sepeda.
“Mau beli koran ,Wak!”
“Aku kira mau belanja Ma, tidak biasanya beli koran.”
“Mau lihat pengumuman lulus UMPTN ,Wak!”
“Oh, Kau ikut ujian…semoga lulus ya ,Ma.”
“Iya Wak, semoga ya. Vima pulang dulu, terima kasih ,Wak!”
Cepat dikayuhnya lagi sepedanya agar segera sampai di rumah. Wak Soleh yang melihatnya tersenyum dan merasa kagum akan semangat Vima.
Dari dulu Wak Soleh selalu memanggil Vima dengan Ma, karena lidahnya sangat susah melafalkan huruf V dengan benar. Selalu menjadi P. Gadis itu pernah protes saat Wak Soleh memanggilnya Pima.
“Itu bukan namaku Wak, Vima…Vi-Ma.” Vima mengajari Wak Soleh cara melafalkan namanya dengan benar. Akhirnya mereka berdua tertawa.
“Sudahlah, wak panggil Ma saja daripada kau protes terus!”
“Itu pun tak mengapa ,Wak!” kata Vima sambil tersenyum.
***
Vima menyenderkan sepeda di tembok pembatas. Dia segera bergegas masuk ke dalam rumah, membuka lembar demi lembar koran.
Ditelusurinya pengumuman yang berisi nama peserta, nomor ujian dan universitas yang menerima dengan jari telunjuknya. Dilembar kedua dan ketiga namanya tidak tercantum, harapan semakin tipis. Vima nyaris putus asa. Dilembar ke sekian dan dibaris ke sekian dilihatnya namanya tercantum disitu. Dibacanya berulang-ulang untuk meyakinkan diri. Lalu Vima bersorak “Aku lulus!”
Mama yang mendengar teriakan Vima segera bergegas ke ruang depan, dilihatnya anak perempuannya tersenyum padanya. “Aku lulus, Ma!”
Pagi itu, ada keharuan yang menyelusup direlung hatinya. Anak gadisnya bisa memenuhi harapannya, dan sekaligus ada rasa ketakutan berpisah dengan Vima. Mereka berpelukan erat, bahagia sekaligus sedih.
“Aku berjanji akan baik-baik saja Ma, tidak akan membuat mama malu. Aku bisa menjaga diriku.”
***
Siang ini Vima di sini, berkeringat dan bersusah payah dengan barang bawaannya. Tak terduga ternyata cuaca kota Semarang sangat tidak bersahabat.
Empat hari yang lalu dia naik kapal laut dari Medan ke Jakarta lalu dilanjutkan naik bis ke Semarang. Perjalanannya tidak mudah, tapi menyenangkan. Menjadi pengalaman pertama untuknya dan mungkin selanjutnya.
Awalnya dia gugup saat harus menaiki tangga kapal, bertanya-tanya bagaimana rasanya berada di dalam kapal dan berlayar berhari-hari dengan orang-orang yang tidak dikenalnya. Tekadnya yang kuat membuat dia percaya kalau dia bisa.
Melihat perjalanan yang akan dilakoni Vima, membuat mama ragu melepasnya. Vima terus merayu dan meyakinkan mama, anak gadis yang keras kepala kata mama. Kalau bukan karena ada namboru dan amang boru yang tinggal di Semarang, mama pasti tidak akan melepas kepergiannya.
Diingatnya pesan namboru untuk naik taksi dari terminal ke rumah. Namboru tidak bisa menjemput karena demam, amangboru sedang berada di luar negeri, sedangkan anak namboru yaitu sepupunya sedang berada di luar kota. Jadi tidak ada yang bisa menjemput. Namboru hanya bisa menelepon dan memberitahukan caranya.
Untunglah tidak sulit mencari taksi, banyak yang mangkal di terminal. Begitu berada di dalam taksi rasanya sejuk, karena ada pendingin udara yang dipasang dengan suhu yang lumayan kencang. Disebutkannya alamat yang harus dituju. Supir taksinya ramah, sesekali mengajak Vima bicara. Terus terang dia sangat berterima kasih diajak bicara, karena itu bisa membuat Vima tetap terjaga. Vima terlalu lelah dan mulai mengantuk. Matanya terasa berat, menggelayut merayu untuk membuatnya tertidur. D
ipandanginya jalanan, tidak ada pemandangan yang menarik hanya kendaraan bermotor yang berlalu-lalang dan bangunan yang tinggi, ciri khas pemandangan di kota besar. Benar-benar membosankan.
Saat mulai terkantuk-kantuk dan nyaris tertidur didengarnya supir taksi bicara, “Kita sudah masuk kawasan Jangli Mbak, sebentar lagi sampai.”
Vima terkesiap. Pemandangan berubah menjadi rumah-rumah besar, gedongan. Terlihat kalau penghuninya orang kaya. Vima tahu amang boru seorang pengusaha, tapi dia tidak menduga kalau sekaya ini.
Begitu sampai di suatu bangunan rumah besar, temboknya berwarna putih dan berpagar tinggi terbuat dari kayu yang tebal. Vima meyakinkan diri kalau itu benar rumah namboru. Dicocokkannya nomor rumah yang tertera di kertas dengan nomor rumah yang ada di tembok. Vima mulai memencet bel, berharap dia tidak salah alamat. Didengarnya suara orang melangkah lalu membuka pagar.
“Apa benar ini Non Vimala?” Perempuan itu bertanya dengan sedikit keraguan di wajah.
Mungkin melihat tampang Vima yang kucel, pakaiannya yang sederhana, perempuan itu tidak yakin kalau Vima saudara si pemilik rumah. Vima menganggukkan kepala, perempuan itu tersenyum, “Ayo masuk Non, sudah ditunggu nyonya.”
Namboru : Saudara perempuan dari ayah, bisa kakak atau adik.
Amang boru : Sebutan untuk suami dari namboru