Cinta, apakah semuanya sudah berakhir? Di penghujung hari aku bertanya. Masihkah kau mencintaiku? Masih bisakah ingatanmu kembali
untuk mengingatku? Aku ingin kamu mengenalku sebagai wanitamu bukan adikmu!”
💦__ Putri Amelya Cendana, 07 Februari 1997 __💦
Di bawah pohon mangga, gadis berzodiak Aquarius itu menatap nyalang pada sosok yang sedang berhadapan dengannya. Kedua netra itu membola—bersama napas yang tercekat saat pergelangan ramping mencengkeram erat leher jenjangnya. Cinta kesulitan bernapas saat itu, membuatnya menyadari bahwa Putri bukanlah gadis yang bisa ditindas.Melihat hal itu, Kasih menangis meminta temannya untuk menghentikan aksinya.
“Udah, Put. Jangan diteruskan, dia bisa mati!” pinta gadis itu sambil menangis.
Sayangnya, sang teman tak menggubris permintaannya dan terus bertahan dengan aksinya. Bahkan mengabaikan darah yang mengalir di pergelangan rampingnya. Kasih yang sudah setengah panik pun berusaha menenangkan dirinya dengan mengingat kembali kenangan mereka sejak masih kecil.
“Putri, aku mohon hentikan! Aku gak membangkitkan tsunami pada dasar lautan,” ucapnya, membuat gadis terdiam dan melonggarkan cengkeramannya pada leher jenjang milik Cinta. Seketika dia mengingat kalimat yang familiar di telinganya, membuatnya kembali terdampar pada masa kecilnya—saat gadis berzodiak Aquarius itu berusia 12 tahun.
“Putri, kamu suka warna apa?” tanya Kasih kepada temannya.
Jari mungil itu semakin lincah memainkan kuas di atas kanvas. Dia tampak bersemangat saat sedang menggambar sepatu kaca untuk sang teman. “Aku mau menggambar sepatu kaca ini untukmu, tapi harus menggunakan warna favoritmu, gimana? Ideku bagus, kan?”
“Bagus, karena warna favoritku berasal dari gaun Cinderella,” sahut Putri seraya memainkan alisnya. Membuat sang teman tertawa.
“Berarti warna putih dong.”
Putri menoleh ke arah temannya seraya mengangguk—membenarkan jawaban gadis itu. Lalu melanjutkan perkataannya. “Iya. Selain gaun Cinderella, air juga warnanya putih. Bagiku air putih itu penting, makanya jangan ditinggal walau harga air putih lebih murah dari minuman yang lain!”
“Siap, Buk.” Kasih tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya sebagai tanda setuju. Lalu beringsut—memangkas jarak bersama sang teman. “Tapi aku pengen tahu deh, kenapa kamu segitu sayangnya sama air?”
“Air itu elemen dari lahir lahirku. Sifatku pun seperti air yang tenang, tetapi sewaktu-waktu bisa menjadi tsunami kalau sudah marah,” sahut gadis pemilik zodiak Aquarius itu dengan nada tenang. Membuat gadis di sampingnya bergidik mendengar jawabannya.
“Dih, kamu serem deh. Tapi aku gak pernah bikin kamu marah, kan?” tanya sang gadis.
Putri menggeleng. “Tidak. Sekalipun kamu tak pernah membuatku marah, dan jangan sampai kamu membangunkan sisi lain dariku,” ucapnya seraya menyungging senyum. “Terima kasih sudah berteman denganku sampai sejauh ini. Aku akan berusaha setia dan tidak menyapa gadis lain.”
“Hai, doumo arigatou,” sahut gadis pemilik nama Kasih Widiyana Cantika seraya tersenyum menatap sahabatnya.
“Dou itashimashite,” sahut sang gadis.
Gadis itu terduduk setelah puas menjelajahi kisah masa lalunya. Bergegas Kasih mendekat dan menenangkan gadis itu. Tangan mungil itu mencengkram kepalanya, seakan tak percaya dengan apa yang terjadi saat itu. Dengan keberanian penuh, Kasih berusaha meyakinkannya.
“Aku—kembali menemuimu di sini, dan aku lihat kamu masih setia padaku. Bahkan selalu mengingatku melalui sajak-sajak yang tertulis.” Gadis itu memeluk sahabatnya yang masih terlihat syok.
Mereka saling diam— bertengkar dengan pikiran masing-masing. Setelah merasa tenang keduanya pun saling menatap hingga padangan mereka pun bertemu. “Putri, terima kasih sudah setia sejauh ini.”
“Jangan bilang padaku, bahwa namamu Cantika.”
“Sayangnya, tebakanmu benar Putri Cendana,” sahut gadis yang bernama Cantika. Telapak mulus itu menyentuh jemari mungil milik sahabat kecilnya. “Akulah sahabat kecilmu dan aku juga orang yang kamu cari.”
“Maaf, ya. Baru berhasil sekarang, dan aku gak bermaksud ninggalin kamu, ini semua karena keadaan. Sekali lagi, aku minta maaf. Aku menyayangimu Putri, setelah ini kita gak akan berpisah lagi. Aku janji sama kamu, aku akan selalu setia denganmu.”
“Kenapa baru sekarang?”
Gadis itu menoleh—bersama butiran bening yang terus mengalir pada sudut netranya. Tanpa sadar, gadis di sampingnya itu ikut menangis. “Aku tahu aku salah, maafin aku ya, Putri. Aku gak bermaksud ninggalin kamu.”
“Aku gak percaya! Kamu pergi tanpa alasan.” Putri menatap nyalang, membuatnya tersentak dan nyaris terbungkam. Cantik menyadari, ada yang salah dengan gadis itu.
“Sepertinya …. Kamu salah paham. Aku tak seperti apa yang kamu tuduhkan.”
“Pulang!” titah Putri. Gadis itu menatap lurus ke depan. Sedang gadis di sampingnya sibuk menghalau air matanya yang terus mengalir tanpa diminta. Menit berikutnya Cantika memejamkan netranya, berusaha pasrah dengan keadaan. Cantika menoleh ke arah samping sebelum berlalu.
“Aku mengerti, mungkin antara kita memang sudah terjadi kesalahpahaman. Tapi jika kamu sudah tahu kebenarannya, jangan pernah sungkan mencariku. Aku sayang kamu, Putri. Aku selalu sayang sama kamu,” ucapannya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan sang teman. Cantika mengerti bahwa gadis itu masih belum bisa mencerna keadaan, bergegas dia melangkah menyusuri lorong taman hingga membawanya pada pintu keluar.
Cantika terperangah mendapati kehadiran Cinta di sampingnya. Gadis itu melangkah mundur, berusaha menghindar. “Kamu mau apa? Tolong, jangan ganggu aku!” pinta Cantika pada gadis bertubuh tinggi itu.
Sayangnya, Cinta terlanjur kesal padanya—menggenggam erat pergelangan milik gadis itu, menghadirkan rasa sakit di area pergelangan. Membuat gadis itu berteriak. “Tolong! Jangan ganggu aku. Please,” teriak Cantika.
Suaranya terdengar sampai ke dalam. Cinta terlihat panik, menyadari kehadiran Putri di sampingnya. Gadis itu menatap marah padanya, mendekat perlahan ke arah Cinta. “Apa yang kamu mau darinya?”
Perlahan Cinta melonggar genggamannya, segera menunduk saat Putri memangkas jarak antara mereka. “Aku— hanya iri padanya. Selama ini kenapa harus dia? Aku merasa bahwa aku bukan siapa-siapa di kehidupanmu.”
“Apakah permintaanku untuk menjadi temanmu, terlalu berlebihan?” Cinta menunduk, tak berani menatap gadis yang sedang berhadapan dengannya.
“Permintaanmu gak salah. Salahnya, aku yang gak mau menjadi temanmu. Jadi, jangan memaksa, apalagi sampai merugikan pihak lain,” sahut gadis itu, lalu berbalik arah. Dengan berani Cinta menarik pergelangan ramping yang masih berlumuran darah.
“Aku minta maaf. Izinkan aku membersihkan lukamu,” pinta gadis itu takut-takut. Sedang gadis di di depannya hanya tersenyum.
“Pembuat luka, tidak perlu repot menyembuhkannya. Biarkan waktu yang menyembuhkan rasa sakitnya.” Setelah mengatakannya, gadis itu pun berlalu menuju pintu keluar. Tak tinggal diam Kasih pun mengejar langkah sahabatnya hingga terhenti saat pergelangan tangannya ditarik oleh seseorang.
“Please, gak usah dikejar!” titah Cinta.
Gadis itu tertegun melihatnya melunak, tidak buas seperti biasanya. Dengan suara pelan, gadis pun memberanikan diri untuk bertanya. “Kenapa? Pergelangannya kan terluka karena ulahmu!” Mendengar jawabannya, Cinta menarik napas dalam.
“Iya, aku sadar aku salah. Aku terlalu memaksanya, dan jika boleh jujur aku memang ingin berteman dengannya. Menggantikan posisimu. Sayangnya kamu sudah kembali ke Riau, membuatku kehilangan peluang,” sentak gadis itu, membuat Kasih terbungkam.
“Tapi sudahlah, kesempatanku sudah habis dan sekarang giliran kamu yang memasuki relung hatinya. Aku tahu dia masih mengharapkan kehadiranmu di sini, bersama kenangan yang tak akan pernah terhapus dari lubuk hatinya.”
“Aku juga minta maaf, jika selama ini sudah jahat padamu.” Cinta menyodorkan telapak tangannya, lalu tersenyum. “Yuk, kita berdamai! Aku juga lelah menyakitimu terus-terusan. Semua itu sia-sia, karena dia sama sekali tidak memandangku.”
Kasih menatap ragu pada telapak mulus itu, detik berikutnya dia pun membalas. “Aku harap kamu gak lagi bohong, Cinta. Sejujurnya, aku juga lelah berdebat denganmu terus. Kamu selalu cemburu saat Riyan menyapaku. Padahal kami tidak memiliki hubungan apapun.”
“Sudahlah. Lagian, dia tidak menyapamu. Melainkan menyapa temanmu,” sahut Cinta. Gadis itu pun tersenyum. “Sejak dulu Riyan mencintai Putri, tetapi cintanya tak pernah terbalas, hingga akhirnya Riyan menyerah dan memutuskan untuk menerima perjodohan kami.”
“Selama ini aku hanya tidak berani berhadapan dengan Putri. Jujur, aku juga sakit hati karena dia tak bisa menerimaku menjadi temannya.”
“Karena itulah kamu aku jadikan pelampiasan,” sahutnya. Seketika gadis itu pun menunduk bersama air matanya yang mengalir tanpa sadar. Cinta menatap wajah cantik itu. Tergambar penyesalan di sana. “Maaf, ya. Selama ini aku jahat banget sama kamu.”