“Jika kamu tak lagi ingin mendengarkan penjelasan ku, biarlah waktu yang memberi penjelasan padamu. Bahwa aku pun sama sepertimu menderita karena rindu. Teman, tak sedetikpun aku melupakanmu
🌿_ Kasih Widiyana Cantika, 21 Februari 2026 _🌿
_________
Cinta turut prihatin, perlahan telapak mulus itu menyentuh punggung tangan yang berada di depannya. “Kamu yang sabar, ya. Tapi …., kalau boleh aku tahu, kenapa kamu ninggalin dia dan memilih pergi menghampiri pacarmu?”
“Waktu itu pacarku sedang sekarat, Cinta. Makanya aku gak punya pilihan,” sahut Kasih. Gadis itu menangis sesenggukan. Membuatnya semakin prihatin melihat gadis yang sedang berhadapan dengannya itu.
“Udah, jangan nangis!” Cinta mengusap lembut punggung tangan itu, lalu menyunggingkan senyuman khas miliknya—mencoba memberi semangat padanya. “Aku yakin dia juga sedang mikirin kamu. Sedang membahas tentangmu bersama pria yang sudah lama dicintainya. Kan kamu bisa lihat sendiri, dia tersenyum lebar di sana.”
Cinta menoleh pada meja VIP nomor tujuh, memperlihatkan dua anak manusia yang sedang berbahagia di sana. Kasih menghapus butiran kristal yang berjatuhan, dia pun tersenyum saat menyadari hal itu. “Iya, sepertinya dia sedang bahagia.”
“Apa rencana kamu setelah ini?” tanya Kasih. Sedang Cinta tersenyum penuh arti, membuat gadis di depannya semakin penasaran. “Please, kasih tahu, dong!”
“Ada deh,” sahut Cinta seraya memainkan alisnya.
“Dih, pelitnya. Apa salahnya kasi tahu aku, kan bukan aku yang ulang tahun hari ini.”
Gadis itu mengerucutkan bibirnya, sedang Cinta tertawa menatap tingkahnya yang ubah seperti anak kecil. “Apa sih, Kasih? Gitu aja kok ngambek, habis ini kan jam Cinderella. Kamu siap-siap, ya! Nanti jangan lupa mainin musiknya, kan kamu pemain biola.”
“Siap kalau itu mah,” sahut Kasih seraya mengacungkan jempol. Bergegas gadis itu meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja. Mengetik pesan dan mengubahnya menjadi notifikasi pada ponsel milik Pangeran.
Sudah jam 23:45 sekarang waktunya kamu menyatakan cinta!
Bagai menonton film horor, pria itu pun terpaku. Sulit untuk mengatakan cinta pada gadis yang sedang menatapnya. Putri bingung sendiri melihat responnya.
“Hm, ada apa? Kenapa tiba-tiba kakak diam?” tanya gadis itu panik. Lekas dia mengangguk air putih, lalu menyodorkan pada sang pria. Dengan tangan gemetar, gelas berukuran sedang itu pun beralih di tangan sang pria, lalu menenggaknya hingga tandas.
“Kakak kenapa? Kok wajahnya tiba-tiba pucat?” tanya sang gadis. Membuat pria itu semakin panik dan tak sengaja mengutarakan perasaannya.
“Putri, Wo Ai Ni!” Mendengar pengakuannya, sang gadis tersentak. Kedua netranya hampir melompat dari tempatnya, dia meragukan indera pendengarannya saat itu.
“Kakak, kamu lagi gak sakit, kan? Kamu kenapa?” tanya sang gadis. Sedang pria itu masih sibuk mengendalikan dirinya. Dia malu setengah mati.
“Loh, Pangeran kenapa?” tanya Cinta yang juga memperhatikannya dari meja lain, begitupun dengan Kasih. Sangat disayangkan, pria itu berhasil dikalahkan oleh rasa takutnya. Kasih dibuat kecewa dengan tindakannya.
“Iya nih, Pangeran gak romantis banget. Masa kayak gitu dia menyatakan cinta, kan bisa pakai cara lain.” Gadis itu menggeram, rasanya ingin sekali memukul kepada sang pria. Cinta tersenyum, kembali menyakinkan gadis itu.
“Ya udah, gak apa-apa. Kan yang paling penting itu niatnya, bukan caranya saat menyatakan cinta. Aku tahu Putri gak bakal yakin, tapi kamu bisa lihat sendiri kan usahanya? Kalau gak begini, mereka gak akan punya waktu untuk berdua.”
“Iya sih.” Kasih mengangguk—membenarkan ucapannya, hingga akhirnya gadis itu tersentak saat menatap angka di layar ponselnya. “Oh May God, sudah jam Cinderella. Buruan nyalain kembang apinya!”
Kasih mengambil kembang api yang sudah tersedia diatas meja. Membawanya dengan hati yang penuh bunga. Langkahnya melebar, tak mempedulikan sepasang kekasih yang sedang memperhatikannya. Tak lama kemudian, Cinta pun menyusul langkahnya.
“Eh, ngapain bengong, ayo!”
Cinta melambaikan pada keduanya. Memberi arahan agar sepasang kekasih itu mengikuti langkahnya. “Pangeran, kamu sudah siap?” tanya Kasih seraya memberi aba-aba, membuat gadis di sampingnya bingung, menatap ketiganya secara bergantian.
“Eh, ini ada apa, ya?” tanya Putri.
Gadis berzodiak Aquarius itu mendekat, tanpa sadar jidatnya menabrak dada bidang milik sang pria, membuatnya berteriak kesakitan. ”Pangeran, sakit banget!” teriak gadis itu seraya mengusap jidatnya.
Pria itu membungkuk, menatap lekat pupil milik sang gadis, membuat sang gadis ketakutan hingga memundurkan langkah.
“Kamu panggil saya apa?” tanya sang pria, kali ini gadis itu terlihat takut, menutup netranya dengan telapak tangan, dengan kedua kaki yang bergerak mundur, membuat gadis itu terpeleset.
Dengan sigap, Pangeran menyentuh pinggang rampingnya, membuat gadis itu semakin takut dan kembali berteriak. “Aaaagghhhh! Kakak mau ngapain?”
“Saya minta maaf, Putri. Lagian, kamu hampir jatuh, kan gak mungkin gak saya tolong.”
“Maaf, saya gak bermaksud kurang ajar,” sesal pria itu. Putri pun melunak, kali ini gadis itu memberanikan diri untuk mendekati pria yang tengah berhadapan dengannya.
“Udah, gak apa-apa. Lagian kalau kakak mau lebih, gak apa-apa juga,” ucap gadis itu asal. Sedang sang pria menggeleng.
“Tidak, Putri. Saya sayang sama kamu, dan saya harus menjaga kamu, bukan malah merusak. Jangan ngomong kayak gitu lagi!” ucap pria itu dengan nada tegas. Dia tak mau menyentuh gadis itu secara sembarangan. Pada akhirnya Putri pun tertawa. Baru kali ini dia melihat pria seperti Pangeran.
“Yakin nih, gak mau yang lebih? Kalau Putri udah siap loh, asalkan sama kakak,” sahut gadis itu tak menyerah. Sengaja membuat pria di depannya kesal hanya untuk mencari perhatian.
“Putri, saya sudah bilang kalau saya sayang sama kamu!” ucap sang pria dengan nada yang agak meninggi. Tapi masih terdengar tenang di telinganya. Gadis itu tertawa melihat mimik wajah sang Pangeran.
“Kakak bilang sayang sama aku, tapi gak mau ngasih yang lebih buat aku. Berarti kakak gak mau lamar aku? Gak cinta sama aku?” desak sang gadis, hingga akhirnya sang pria bernapas lega. Dia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
“Oh, kamu minta lamar? Saya kira apa?” sahutnya seraya tersenyum malu.
“Dasar pria, pikirannya pasti negatif mulu. Ya enggak lah, kan gak boleh,” sahut sang gadis dengan nada lembut. Membuat pria itu semakin luluh, hingga keberaniannya muncul.
Semangatnya meledak-ledak bagai kembang api yang tiba-tiba muncul menghiasi indahnya langit malam. “Putri, saya mencintaimu. Kamu mau gak, jadi pacar saya?”
Sang pria menatap penuh harap, hingga gadis itu mengangguk. “Iya, aku mau, Kak. Aku juga cinta sama kakak. Aku gak bisa hidup tanpa kakak, aku mau terus sama-sama kakak.”
Detik berikutnya gadis itu pun menghambur, memeluk sang pria. Dengan cepat, Pangeran mengurai pelukan itu.
“Putri, ini gak benar. Saya minta maaf, ya.”
“Loh, kok jadi kakak yang minta maaf, harusnya aku yang minta maaf. Kan aku yang salah, maafin aku, ya.” Saat gadis itu tersenyum wajah yang sangat menggemaskan, membuat pria itu semakin tak bisa mengendalikan perasaannya.
“Kamu ini, bikin saya malu. Oh iya, coba lihat kembang api di sana!”
Pangeran mengacung telunjuknya—menatap luasnya langit bersama percikan kembang api, seperti ribuan kuntum yang sedang menghiasi hatinya kala itu. Putri pun sama bahagianya, pandangannya tak beralih menatap ke arah lain.
Putri tersentuh, tanpa sadar dia melempar pujian pada suasana malam itu. “Indah banget, ya. Kembang api itu.”
Mendengar itu, Pangeran menoleh ke arah sang gadis. Senyumannya pun merekah sempurna. Pria itu melempar pujian pada gadis pujaannya.
“Dia sama indahnya denganmu. Bahkan dia kalah indahnya saat berhadapan denganmu. Kamu itu cantik Putri, dari wajah hingga ke hati. Kamu benar-benar sempurna buat saya.”
“Kakak bisa aja, aku gak sesempurna itu, karena aku manusia.” Sang gadis berbalik badan menatap pria yang baru saja merubah statusnya sebagai seorang kekasih. Gadis itu mendekat, memangkas jarak antara mereka. “Kak, izinkan aku menggenggam tanganmu. Boleh, kan?”
“Putri gak minta lebih kok, cuma mau genggam tangan kakak. Sekarang status kita sudah pacaran, dan kakak tidak pernah melakukan yang lebih, intinya jangan merasa terpaksa kalau kakak tidak nyaman. Biarkan saja semuanya berjalan dengan natural!”
“Iya,” sahut sang pria. Kemudian menganggukkan kepalanya. “Terima kasih banyak, kamu sudah mengerti dengan keadaan saya, dan saya berusaha akan menjaga kamu semampu saya. Tolong jangan pernah pergi di hidup saya.”
“Saya izin sentuh, ya.” Pangeran meminta izin dari sang kekasih, hingga gadis itu membalas dengan sebuah anggukan. Perlahan telapaknya meriah helai rambut milik sang kekasih dan tak henti mengatakan.
“Wo Ai Ni.”
“Xie-xie ni de ai,” balas gadis itu hingga keduanya larut dalam suasana bahagia. Kedua gadis itu mengerti, usai menaikan kembang api, mereka pun berlalu.
“Ayo, pergi!”