“Tuan William saya sudah memberikan nota kepada Tuan Felix Chow.” Seorang wanita melapor pada William Lim yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
“Kerja bagus. Bagaimana reaksinya?” William sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas di tangannya.
“Dia meminta waktu untuk memperjelas kasus ini untuk publik. Ini menyangkut kapabilitas dan image Kepolisian karena itu dia tidak dapat menghentikan kasus secara tiba-tiba.” Wanita itu menjelaskan dengan hati-hati.
“Tidak masalah! Mintalah Tuan Felix untuk melakukannya dengan hati-hati. Bagaimana pun juga Alex sama sekali tidak melakukannya kesalahan dan mengenai lukisan palsu yang dicuri itu tidak ada kaitannya dengan adikku itu bukan? Benarkah begitu Mai?” Kali ini William mendongakkan kepalanya menatap wanita yang sedari tadi berdiri di depan mejanya.
“Benar Tuan. Bahkan Tuan Alex hampir saja menjadi korban penipuan jika dua tahun lalu dia memenangkan lelang lukisan itu.” Mau tersenyum tipis.
“Nah betul itu!” William mengacungkan jari telunjuknya pada Mai seraya tertawa.
“Kalau begitu saya permisi!” Mai berpamitan karena tugasnya telah selesai.
William Lim adalah seorang politikus muda yang disegani di negeri ini. Saat ini dia menjadi salah satu kandidat yang kuat untuk menjadi orang nomor satu di negeri itu di masa mendatang.
“Aku harap kau tidak membuat kekacauan lagi, Alex.” Gumamnya seorang diri.
Dia tidak ingin adiknya terlibat terlalu jauh dalam masalah pencurian dan pemalsuan lukisan antik yang menghebohkan itu. Mengingat Felix Chow telah mengingatkannya untuk tidak ikut campur dalam masalah ini dua tahun lalu.
“Ini tidak sesederhana yang terlihat, Tuan William. Ini bukan sekadar pencurian dan pemalsuan, ini sindikat internasional.” Felix mengungkapkan kecurigaannya saat media menyorot hadiah ulang tahun untuk sang kakek dari adiknya itu.
Alex menghadiahi kakek mereka sebuah lukisan antik yang dinyatakan telah dicuri dan dipalsukan dan membuat dua orang kolektor menderita kerugian. Lukisan itu telah diverifikasi sebagai lukisan yang asli.
Tentu saja itu membuat publik bertanya-tanya karena balai lelang juga memverifikasi lukisan yang dipajang di balai lelang sebelum pelelangan juga sebagai lukisan yang asli.
“Aku tidak peduli dari mana kau mendapatkannya selama itu tidak membahayakan dirimu.” William kembali bergumam.
Alexander Lim, adik lelaki satu-satunya yang dia miliki. Sedari kecil mereka memiliki karakter yang jauh berbeda. Alex tidak pernah takut dalam mengambil keputusan dan resiko tetapi harus diakui adiknya itu memang cerdik dan sangat licin.
Berbeda dengan dirinya yang terkesan lebih tenang dan hati-hati. Karakter mereka dilengkapi dengan karakter Veronica, sepupu mereka, cucu perempuan satu-satunya sang kakek.
Veronica adalah gambaran wanita masa kini. Dia cantik, cerdas dan seksi. Kesehariannya dia hanya bermain game online, berjalan-jalan dan bergaya hidup ala sosialita muda. Meski begitu tidak ada yang meragukan sepak terjangnya dalam berbisnis.
“Tuan William, Nyonya Jenny ingin bertemu dengan Anda.” Felicia, sekretarisnya melapor bersama dengan seorang wanita paruh baya yang mengikutinya.
“Mami!” William berseru terkejut saat melihat sang ibunda menyambanginya. Dia segera berdiri dan menyambutnya.
“Apa yang membawa Mami kemari?” William merangkul wanita itu dan membawanya duduk di sofa di sudut ruangan.
“Tidak ada. Aku hanya ingin membicarakan beberapa hal denganmu.” Wanita itu tersenyum dan menepuk-nepuk punggung tangan William dengan lembut.
“Mengenai apa Mam?” William bertanya setelah mereka duduk berhadapan.
“Adikmu, Alex! Mami telah menyeleksi beberapa gadis yang Mami rasa cocok dengannya. Bisakah kau bantu Mami untuk mengatur mereka berkencan?” Nyonya Jenny tersenyum dan menatapnya penuh harap.
“Mam, kau tahu sendiri seperti apa putra kesayanganmu itu. Dia tidak akan menyetujui ide ini.” William menghela napas pelan dan memijit keningnya.
“Mau bagaimana lagi? Usianya sudah hampir mendekati 36 tahun dan dia masih sendiri. Mami tidak mau mendengar gosip yang tidak sedap mengenai dirinya.” Nyonya Jenny mengeluh pada putra sulungnya itu.
“Mami jangan khawatir. Alex akan baik-baik saja, dia hanya belum menemukan wanita yang tepat.” William tersenyum dan meraih tangan sang ibunda meremas jari jemarinya dengan lembut.
“Sampai kapan Mami harus menunggu? Adikmu itu membuat Mami selalu merasa khawatir.” Nyonya Jenny menatapnya sendu.
“Tidak perlu berlebihan Mam. Pernikahan bukan perkara mudah, pastinya Alex tidak ingin salah langkah. Sekarang Mami hanya perlu bersabar dan memberinya waktu. Jangan mengatur kencan buta dengan siapa pun untuknya.” Bujuknya lagi pada sang ibunda.
Nyonya Jenny mengangguk mengerti. Kemudian mereka berdua berbincang-bincang cukup lama hingga Nyonya Jenny berpamitan pada putra sulungnya itu.
@William
[Kau harus berterima kasih padaku]
[Atau malam ini kau akan berkencan buta lagi]
William berkirim pesan pada adiknya itu setelah sang ibunda meninggalkan kantornya.
@Alexander
[Good job Koko]
Balasan dari Alex datang cukup cepat dan membuat William tersenyum.
@William
[Tumben kau membalas dengan cepat]
[Biasanya lelet sekali]
@Alexander
[Aiyo Koko]
[Kenapa jadi serba salah]
[Lambat balas kau bilang lelet]
[Cepat balas kau bilang tumben]
[Lama-lama kau cerewet ya]
William tertawa seorang diri membaca balasan pesan dari adiknya. Selintas Alex memang terlihat kaku dan formal tetapi sesungguhnya dia pria yang humoris. Setidaknya dengan orang-orang yang dekat dengan dirinya.
@William
[Sekarang kau di mana?]
[Bagaimana kalau makan siang bersama?]
William kembali mengirimkan pesan untuk Alex. Balasan pesannya tidak menunggu lama karena Alex mengirimkan sebuah foto.
@Alexander
[Aku sedang dalam tawanan nenek sihir]
Begitu caption yang disertakan bersama foto itu. William tertawa lagi, jelas terlihat di foto itu Alex tengah bersama Veronica dan dua orang lainnya.
@William
[Oke kalau begitu]
[Selamat bersenang-senang]
William terkekeh membayangkan reaksi Alex saat membaca pesannya ini.
@Alexander
[Tentu saja aku bersenang-senang]
[Ada makhluk Tuhan paling seksi bersamaku]
Kini tawa William meledak. Dia tertawa cukup keras seorang diri. Alex mengirimkan foto seorang wanita cantik disertai emoji love yang cukup banyak.
@William
[Siapa dia?]
@Alexander
[Teman Ve]
[Ivy namanya]
@William
[Tumben sekali Ve memiliki teman yang enak dipandang]
@Alexander
[Entahlah]
[Will sepertinya gadis ini cukup menarik]
[Sedari tadi dia tidak menganggapku ada]
[Aku dicuekin]
William kembali tertawa membaca pesan dari Alex yang baru yang baru saja masuk. Dia tidak lagi membalas pesan itu dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Keluarga Lim sebenarnya berasal dari Indonesia. Namun, mereka telah cukup lama pindah ke Singapura, bahkan pada masa kakek buyut kedua kakak beradik Lim itu.
Namun, dalam keseharian selain bahasa Mandarin, bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua mereka. Apalagi hampir semua pekerja di rumah mereka berasal dari Indonesia.
Dalam Keseharian, baik William maupun Alex lebih sering berkomunikasi dengan bahasa Indonesia meski bukan bahasa Indonesia yang baku. Mereka terpengaruh pergaulan sosial mereka yang lebih sering berada dalam lingkaran kaum borjouis dari Indonesia, Hongkong, China dan dari Singapore sendiri.