Pagi yang tenang, seorang pria bernama Randu sedang duduk santai, menikmati secangkir kopi di teras rumahnya ketika ia mendengar suara mengeong pelan. Ia menoleh dan melihat seekor kucing kecil berbulu oranye sedang duduk di depan pintunya. Mata kucing itu menatapnya dengan pandangan penuh harap, dan di lehernya terdapat kerah kecil berwarna biru dengan sebuah catatan kecil yang terikat rapi.
Randu terheran melihat kucing liar di lingkungan itu, membungkuk untuk mengambil kucing itu. Ia mengelus kepalanya dengan lembut sebelum membuka catatan kecil di kerahnya. Tulisan tangan yang rapi terlihat di sana:
“Kepada siapapun yang menemukan kucing ini, namanya adalah Kacy. Ia tersesat dan saya sangat mencemaskannya. Jika anda menemukannya, tolong hubungi saya di nomor ini: 08123456798. Terima kasih banyak.”
Randu tersenyum kecil, merasa tergerak oleh catatan penuh perhatian itu.
“Jadi, namamu Kacy, ya?” kata Randu sambil mengelus kucing itu. Tanpa pikir panjang, ia mengambil ponselnya dan menelepon nomor yang tertera.
Setelah beberapa dering, suara seorang wanita menjawab.
“Halo?” suaranya terdengar lembut, tetapi sedikit cemas.
“Halo, saya Randu. Saya menemukan kucing Anda, Kacy, di depan rumah saya. Ia baik-baik saja,” kata Randu, mencoba menenangkan wanita di ujung telepon.
Ada jeda sejenak sebelum wanita itu menjawab dengan nada lega.
“Oh, terima kasih banyak! Saya sangat khawatir. Bolehkan saya datang untuk mengambilnya?”
“Tentu. Ini alamat saya,” kata Randu, memberikan petunjuk arah.
“Saya akan menunggu.” lanjutnya.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah Randu. Seorang wanita turun dari mobil itu. Rambut hitamnya terurai lembut, dan matanya memancarkan kombinasi lega dan kebahagiaan.
Ketika Randu membuka pintu, wanita itu tersenyum lebar melihat Kacy di pelukannya.
“Kacy!” serunya sambil mengulurkan tangan. Kucing itu langsung melompat dari pelukan Randu ke dalam dekapan pemiliknya. Wanita itu memandang Randu dengan penuh rasa terima kasih.
”Terima kasih banyak sudah menjaga dia. Saya Rani.”
“Sama-sama. Kucing ini sangat manis. Senang bisa membantu,” jawab Randu dengan senyum ramah.
Ketika pandangan mereka bertemu, ada sesuatu yang aneh namun akrab. Seolah-olah mereka pernah bertemu sebelumnya, tetapi ingatan itu kabur, seperti bayangan yang sulit dijangkau.
Rani pun tampak merasakan hal yang sama. Ia menatap Randu dengan alis sedikit berkerut, mencoba mengingat sesuatu.
“Randu, ya?” tanyanya perlahan.
”Nama ini … terasa tidak asing.” ucap Rani dalam hati.
Randu mengangguk pelan.
”Rani, nama anda terasa familiar bagi saya. Tapi saya tidak yakin pernah mendengar dari mana.”
Keduanya terdiam sejenak, membiarkan perasaan aneh itu menggantung di antara mereka. Akhirnya, Rani tersenyum kecil dan berkata,
“Mungkin kita hanya kebetulan merasa begitu. Bagaimanapun, saya sangat berterima kasih karena Anda telah menemukan Kacy.”
Namun, sejak pertemuan itu, Randu merasa gelisah. Ada sesuatu tentang Rani yang terus mengusiknya, sesuatu yang hampir bisa ia ingat tetapi selalu menghilang di ujung pikirannya.
Ia mencoba mengabaikan perasaan itu, tetapi setiap kali ia memikirkan senyuman Rani atau suaranya, rasa familiar itu semakin kuat.
Beberapa hari kemudian, sebuah kejadian membuat segalanya berubah. Saat Randu sedang merapikan lemari tua di rumahnya, ia menemukan sebuah kotak penuh dengan benda-benda dari masa kecilnya.
Di dalam kotak itu, ia menemukan sebuah buku harian kecil dengan sampul biru. Dengan hati-hati, ia membuka buku itu dan mulai membacanya.
Di salah satu halaman, ia menemukan sebuah catatan tentang seorang teman masa kecil bernama Rani. Tulisan itu penuh dengan kenangan tentang permainan mereka di taman, petualangan kecil mereka di sekitar desa, dan bahkan janji-janji kecil yang mereka buat. Salah satu janji itu tertulis dengan huruf besar:
“Randu dan Rani akan selalu bersama, tidak peduli apa yang terjadi.”
Randu tertegun. Ingatan-ingatan itu mulai kembali, perlahan namun pasti. Rani adalah teman masa kecilnya, seseorang yang pernah sangat berarti baginya, tetapi mereka terpisah ketika keluarga Rani pindah ke kota lain. Ia tidak pernah mendengar kabar darinya sejak saat itu.
Tanpa ragu, Randu segera mencari nomor Rani di panggilan terakhirnya dan meneleponnya.
“Halo?” suara Rani terdengar di ujung telepon, kali ini lebih tenang.
“Rani, ini Randu. Saya baru saja menemukan sesuatu, apakah kamu ingat masa kecilmu? Di desa ini?” ucapnya dengan menggebu.
Ada keheningan panjang sebelum Rani menjawab.
“Ya … Saya ingat. Tapi saya tidak pernah bisa mengingat dengan jelas. Ada banyak kenangan yang terasa kabur.”
“Kita dulu berteman. Sangat dekat. Kamu bahkan pernah berjanji bahwa kita akan selalu bersama,” kata Randu sambil tersenyum kecil, meskipun ia tahu Rani tidak bisa melihatnya.
Rani terdiam. Lalu, dengan suara bergetar, ia berkata,
“Randu, itu kamu?”
“Ya, ini aku dan aku rasa takdir telah membawa kita bertemu lagi.” jawab Randu penuh rasa syukur.
Beberapa hari kemudian, mereka bertemu di taman tempat mereka biasa bermain semasa kecil. Rani membawa Kacy bersamanya, dan kucing itu tampak puas duduk di pangkuan Randu, seolah-olah tahu bahwa tugasnya telah selesai. Mereka berbicara panjang lebar, mengenang masa kecil mereka dan saling mengisi kekosongan cerita yang hilang.
Namun, ada sesuatu yang belum terungkap. Ketika Randu bertanya bagaimana Kacy bisa tersesat begitu jauh, Rani menggelengkan kepala.
“Aku tidak tahu. Kacy tidak pernah pergi jauh dari rumah sebelumnya. Tapi entah bagaimana, dia sampai di depan rumahmu.”
Randu mengelus kepala Kacy, yang mengeong pelan.
“Mungkin, dia hanya ingin menyatukan kita lagi,” gumamnya.
Malam itu, ketika Rani dan Kacy sudah pulang, Randu duduk sendirian di ruang tamu, merenungkan semua yang telah terjadi. Ia merasa bersyukur atas pertemuan yang tidak terduga itu.
Namun, saat ia hendak mematikan lampu dan pergi tidur, matanya tertuju pada kerah kecil Kacy yang masih ada di mejanya.
Ia mengambil kerah itu dan memeriksa catatannya sekali lagi. Kali ini, ia menyadari bahwa di balik catatan itu ada tulisan kecil lain yang hampir tidak terlihat. Tulisan itu berbunyi:
”Mencari rumah yang tak pernah hilang. Mencari cinta yang tak pernah padam.”
Randu merasakan dingin menjalar di tubuhnya.
“Siapa sebenarnya yang menulis catatan itu? Dan bagaimana Kacy bisa tahu ke mana ia harus pergi?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di pikirannya, tanpa jawaban yang jelas.
Namun, satu hal yang ia yakin, pertemuan ini bukanlah kebetulan.