“Kita mau kemana sih, Ra?” Mbak Maya sedikit panik ketika laju kecepatan mobilku meningkat.
Bukan hanya waktu yang sedang aku maksimalkan, tapi juga aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri hasil DNA bayi Sintia. Aku bahkan sampai membayar dua orang preman untuk mengawal proses pemeriksaannya. Karena aku sangat yakin, hasil lab yang pernah dilakukan sebelumnya adalah salah.
“Aku akan membuktikan kebenarannya sama kamu, Mbak.” Sahutku singkat, tanpa menoleh ke arahnya.
Ia masih mengejarku dengan pertanyaan-pertanyaannya, tapi aku sudah enggan menjawab. Justru aku memutar musik dengan intonasi tinggi, agar ia berhenti bertanya.
Aku juga meminta bantuan Anton. Saat ini, mungkin hanya Anton satu-satunya orang yang bisa aku percaya. Dan itu pun masih mungkin. Karena jujur, setelah semua yang terjadi, aku sangat hati-hati dalam bergaul.
Anton ku minta untuk berada di rumah sakit. Dan memastikan jika hasil tes DNA itu telah dilakukan dengan benar. Dan juga jika aku belum sampai ke rumah sakit, Anton bisa mengambil hasilnya terlebih dahulu, pikirku.
“Ra!” teriak Mbak Maya. “pelankan mobilnya!” pekiknya lagi.
Berulang kali ia berteriak, hingga akhirnya aku menuruti. Ia juga mematikan musik di mobilku dengan paksa. Terlihat raut wajah marah yang tak lagi disembunyikannya.
Mbak Maya memang tak suka jika ada yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ia akan sangat marah. Karakter tegas yang ia punya tak sepenuhnya membuatnya berani melakukan tantangan.
“Aku tidak mau mati konyol di sini.” Cecarnya lagi.
Bisa ku lihat kemarahan di wajahnya. Bahkan ia juga meminum obat yang ada di dalam tas sandang branded miliknya.
“Obat ap aitu?” tanyaku penasaran.
“Obat penenang.”
“Sejak kapan?” tanyaku lagi. Aku baru tahu jika Mbak Maya mengkonsumsi obat penenang. Terlihat keringat di keningnya mengalir deras dan ia segera meraih sehelai tissue untuk mengusapnya.
“Sejak Mas Bimo selingkuh.” Sahutnya, sesaat setelah keringatnya mulai mengering.
Aku yang sedang mengendarai mobil tiba-tiba saja menekan rem dadakan, membuat kami berdua sedikit maju ke depan dengan posisi punggung yang membungkuk, hampir saja membuat kepalaku terbentur.
“Maksud Mbak?” aku kembali memastikan, ku pastika juga mobilku sudah terparkir dengan baik di pinggiran jalan ray aini.
Ku telusuri dan ku ingat-ingat kembali rekam jejak perjalanan cinta Mbak Maya dan Mas Bimo. Sungguh, aku tak percaya lelaki itu melakukannya pada Mbak Maya. Memang, aku takt ahu pasti bagaimana mereka bertemu, aku hanya mendengar kisahnya saja, itu pun dari cerita Mama.
Mereka bertemu saat reuni SMA. Bisa dikatakan Mbak Maya dan Mas Bimo sudah cukup kenal di masa lalu. Benih-benih cinta yang hadir sesudahnya membuat wanita cantik itu mempercayakan masa depannya pada Mas Bimo. Tapi sekarang?
Aku mengusap wajah dengan kedua telapak tanganku. Rasanya begitu frustasi.
“Sejak kapan?” aku kembali bertanya meski pertanyaan sebelumnya belum dijawab olehnya.
Kali ini wajah Mbak Maya mengarah padaku. Ia tersenyum kecil, tapi aku bisa melihat itu hanya sebuah senyuman untuk menguatkan dirinya sendiri. Sebegitu menyedihkannya seorang perempuan yang dikhianati suaminya, kini aku justru iba padanya, meski sebenarnya nasibku sendiri sama.
Entahlah. Meski kacau, aku tetap ingin mendengar penjelasan darinya.
“Sejak Dara masih berusia 1 tahun.”
Apa? Ini benar-benar gila, pikirku. Mas Bimo selingkuh sejak Dara, anak perempuannya, masih bayi. Dan sekarang Dara sudah beranjak remaja. Bagaimana sejauh ini ia bisa bertahan dengan lelaki toxic seperti Mas Bimo.
“Kamu sudah gila, Mbak?” tanpa sopan aku menyerangnya dengan pertanyaan itu.
Menurutku, hanya wanita bodoh yang bertahan dengan lelaki yang berulang kali telah menyakitinya. Mbak Maya yang seorang kepala sekolah, juga cantik dan baik. Karirnya cukup menjanjikan. Dan aku yakin ia bisa menghidupi putrinya seornag diri, tanpa bantuan lelaki jalang itu. Tapi bagaimana ia bertahan sampai melewati angka satu dekade?
“Banyak hal yang tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata, Ra. Kamu tak akan mengerti.” Sahutnya lemah. Ia hanya menatap ke depan. Di sana ada penjual gorengan yang sedang mangkal, dikerumuni emak-emak yang baru saja pulang belanja. Setidaknya, pemandangan seperti ini ikut mencairkan suasana hati kami yang sama-sama keruh.
“Ini benar-benar di luar logika ku.” Aku menghela napas panjang. Lalu merebahkan tangan kananku ke atas setir mobil, hanya untuk melampiaskan kekecewaanku padanya.
Ya, aku kecewa. Mengapa ia melukai dirinya sendiri sejauh ini. Demi anak? Justru bertahannya ia membuat Dara semakin tersiksa. Pantas saja gadis mungil itu tumbuh dengan karakter pendiam dan sulit beradaptasi.
Aku pernah menjemput Dara di sekolahnya. Ku perhatikan ia yang hanya duduk sendirian di pos satpam, menunduk sembari memeluk erat tas ranselnya. Ia terlihat begitu murung dan tak bersemangat. Bahkan ia enggan bicara meski dengan orang yang dekat dengannya. Sehingga bisa ku simpulkan, bertahan dalam pernikahannya juga tak memberi dampak positif bagi kesehatan mental Dara. Lantas apa yang masih ingin dipertahankan Mbak Maya?
“Banyak, Ra.” Ia kembali menoleh ke arahku. “karir Mbak, masa depan Dara, reputasi Mas Bimo sebagai seorang pejabat pemerintahan. Semua itu menghantui Mbak setiap hari Ra. Kamu gak akan paham gimana rasanya jadi Mbak.” Bulir air mata pun mengalir dari pelupuk mata Mbak Maya.
Ini pertama kali aku melihat wanita itu menangis. Pasti rasanya sangat sakit, dan ia sudah menahannya begitu lama. Wanita kuat sepertinya, mungkin ada banyak di dunia ini, terluka dan tersakiti sepanjang hidupnya.
Aku pun tak ingin lagi membantah. Ku sodorkan lagi sehelai tisu ke arahnya. Mungkin saat ini, ia pun tak ingin mendengar banyak kata yang keluar dari mulutku.
“Karena itu Mbak ingin kamu mempertahankan hubunganmu dan Erlangga. Mbak gak mau kalian berpisah. Bukan karena alasan harta. Tapi Mbak tahu tak bisa memaksa kamu untuk jadi seperti Mbak, kita jelas berbeda. Itu kesalahan Mbak, selalu ingin orang lain terlihat bodoh seperti Mbak” ia kembali terisak.
Aku mengusap punggungnya. Hanya sekadar ingin menguatkan, meski sebenarnya aku sendiri pun sudah hancur.
“Ra,” Mbak Maya menggenggam tangaku. “lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Mbak minta maaf, sebenarnya Mbak sudah tahu dari awal tentang perselingkuhan Erlangga, dan Mbak menutupinya. Maafkan Mbak Ra.” Sambungnya lagi.
Seperti tersambar petir. Aku kembali dikejutkan olehnya.
Aku tak menjawab apapun. Ku putuskan untuk kembali menyetir dengan perasaan kalut yang ku punya. Sampai akhirnya suara teriakan Mbak Maya terdengar jelas olehku, sebuah truk menghantam mobil kami dari belakang, dan setelah itu aku tak lagi tahu apa yang sedang berlaku.