[Mas, kamu dimana? Aku mau tanya siapa wanita yang ada di sebelah kamu kemarin saat arisan keluarga kita? Aku tahu dari photo yang dikirimkan Ratu di wa grup, tapi pesannya segera dihapus.] aku mengirim pesan suara ke Mas Erlangga, suamiku.
Perasaan ku berubah kalut. Yang tadinya sangat bahagia karena bisa pulang lebih cepat dan makan siang bersama Mas Erlangga, kini justru gundah. Aku mengendarai mobil lebih cepat dari sebelumnya, agar segera sampai dan bisa menanyakan langsung kebenarannya pada Mas Erlangga.
Berkali-kali pula aku mencoba menghubungi Mas Erlangga, tapi lelaki kekar itu tetap tidak mengangkat ponsel pintarnya.
“Ke mana sih kamu, Mas?” monolog ku.
Lelaki yang sudah tiga tahun ku nikahi itu memang bukan garis keturunan Aceh. Ia lahir dari garis keturunan Jawa yang sudah menetap sangat lama di Aceh. Sehingga meskipun aku memiliki garis keturunan “Cut”, aku tetap berusaha menyamai suamiku dengan memanggilnya “Mas”. Dan ia pun lebih suka begitu.
Cut Inara Hanum, nama yang disematkan kakekku, Teuku Harun Hasyim, untuk cucu semata wayangnya. Gelar “Cut” merupakan salah satu gelar kebangsawanan yang diperuntukkan bagi kaum wanita dari Aceh. Gelar ini diberikan bagi anak perempuan yang memiliki garis keturunan “Teuku” dari ayahnya. Gelar “Cut” ini juga merupakan sebuah kebanggaan bagi para perempuan Aceh.
Aku berusaha menahan diri untuk tetap tenang. Sebagai seorang lulusan psikolog dan berbagai pengalaman menangani siswa bermasalah, tentunya aku punya kemampuan untuk mengendalikan diri. Memang, memberi nasihat untuk orang lain dalam seminar-seminar ku, terlihat begitu mudah. Namun kenyataannya, Ketika masalah yang sama dihadapi oleh diriku sendiri, ternyata tidak sesimpel yang ku bayangkan.
Sesampai di rumah, aku mendapati pintu rumah yang masih terkunci, menandakan Mas Erlangga belum pulang.
Ku telusuri setiap sudut kamar ku dan Mas Erlangga. Mencari sesuatu yang mungkin dapat dijadikan bukti kebenaran prasangka ku. Tapi, aku tak menemukan apapun. Semuanya terlihat biasa saja, tak ada yang berbeda.
Aku menghela napas. Lalu mengusap wajah dengan kedua telapak tanganku, agar lebih rileks. Lantas aku beranjak menuju ruang keluarga, untuk sekadar menonton tv dan menunggu suamiku pulang. Sepertinya, aku butuh hiburan agar tidak terlalu banyak berpikir negatif.
“Hp?” monolog ku. Aku sedikit tercengang menatap ponsel pintar milik Mas Erlangga yang ada di meja TV. Sepertinya lelaki kekar dan berkulit putih itu lupa membawanya. Padahal aku tahu, ia paling tidak bisa jika harus berjauhan dari ponsel pintarnya.
Kali ini, aku merasa punya kesempatan. Baru saja aku ingin membuka ponsel pintar Mas Erlangga, ternyata sandinya sudah diganti.
Pikiran ku pun semakin berkecamuk. Dugaanku semakin terarah dan menuju jalan yang sama. Mas Erlangga selingkuh, pikirku.
[Assalamualaikum Sayang, maaf ini Mas pakai hp temen. Kamu sudah sampai di rumah ya?] Mas Erlangga menghubungiku dengan nada suaranya yang lembut, seperti biasanya.
Kami memang sudah berjanji akan makan siang bersama Ya, meskipun hanya dengan lauk yang aku beli di warung padang langganan kami. Tapi, aku tetap ingin melewati siang ini bersamanya. Lagi pula, jarang-jarang kami bisa makan siang bersama. Kesibukannya di kantor dan juga urusan pekerjaanku yang bertubi-tubi di sekolah, membuat jadwal makan siang kami terlewati begitu saja, digerus oleh kesibukan dunia.
Aku sering makan siang di kantin sekolah bersama beberapa rekan kerjaku. Sedangkan Mas Erlangga sering memesan makanan dari warung makan Padang dekat kantornya.
[Iya, aku sudah di rumah.] sahut ku datar.
[Oh iya Sayang, hp Mas sepertinya ketinggalan di rumah. Tolong disimpan ya] pintanya, masih dengan nada yang sama lembutnya.
[Oke.] sahut ku.
[Kenapa sih? Kok nada suaranya gitu?] Mas Erlangga mencium perbedaan yang ada pada nada suara ku.
Entah bagaimana ku jelaskan. Tapi rasanya tak pantas ku pertanyakan sekarang, lebih baik aku menunggunya pulang.
[Ada apa, Sayang?] Ia kembali bertanya.
[Berapa sandi Hp Mas?] tanya ku spontan saja, tanpa basa-basi.
[inaraselamanya. Itu sandinya, huruf kecil semua dan tanpa spasi. Udah dulu ya, Sayang, Mas sudah mau pulang ini. 15 menit lagi Mas sampai.] pungkasnya seraya memberi salam dan menutup panggilannya.
Mendengarnya, membuat ku merasa bersalah. Sepertinya aku sudah termakan gossip rekan kerja ku di sekolah. Memang, sekarang sedang maraknya film drama rumah tangga dimana tokoh utamanya sangat manipulatif. Tokoh lelaki yang ada di film-film tersebut sedang hangat diperbincangkan oleh guru-guru di sekolah ku. Dan sialnya, aku ikut terbawa suasana.
Perlahan ku coba membuka ponsel pintar milik Mas Erlangga dengan password “inaraselamanya”. Ternyata sandinya benar. Aku tersenyum, tak ku sangka Mas Erlangga sebucin itu, pikir ku. Aku saja belum pernah memakai password menggunakan namanya.
Ku tilik satu persatu, tak ada yang mencurigakan. Bahkan wallpaper layar ponselnya pun photo kami berdua. Ah, aku sudah keterlaluan, mencurigai lelaki yang sama sekali tak bersalah.
Ku rebahkan tubuh ku di sofa. Sampai kemudian aku tertidur dengan hati yang mulai lega. Hingga akhirnya sebuah kecupan mendarat di kening ku, membuatku terjaga.
“Capek banget, ya Sayang?” pertanyaannya diiringi dengan kecupan di bibir merah ku. Lipstik yang ku pakai hari ini adalah hadiah darinya, dan aku sangat menyukai warnanya yang soft.
“Enggak kok, Sayang. Aku cuma ketiduran tadi sambil nonton.” jawab ku mengarah pada televisi yang masih menyala.
Aku sendiri tak suka menonton televisi. Hanya saja, untuk sekadar mengisi waktu ku dan Mas Erlangga, kami sering menonton sambil mengobrol di malam hari.
“Ya sudah, ayo kita makan!” ajak Mas Erlangga seraya meletakkan tas kerjanya di sofa dan aku membantunya membuka jas hitam yang dikenakannya.
“Mas,” panggil ku sesaat setelah meletakkan jas Mas Erlangga di atas sofa. Jas tersebut adalah kado ulang tahun dariku. Aku membelinya di Yogya, saat mengisi acara seminar di sana. “aku lihat Ratu mengirimkan sebuah foto ke grup arisan keluarga kita. Tapi ada yang asing, siapa wanita yang mengenakan baju merah dan berdiri tepat di sebelah mu?” tanyaku, menjeda keinginannya untuk segera makan.
Ratu adalah adik bungsu Mak Erlangga. Saat ini, ia sedang melanjutkan kuliah dan sudah semester akhir. Aku memang tidak terlalu dekat dengannya. Apalagi setelah kejadian tempo hari, kesalahan pahaman yang membuatnya semakin enggan bicara denganku.
Aku tak lagi menaruh curiga yang berlebihan pada Mas Erlangga. Apalagi aku juga sudah memeriksa sendiri isi ponsel pintarnya yang sama sekali tak menyembunyikan apapun. Bahkan ia tak menanyakan ponselnya kepadaku saat ia pulang, pertanda Mas Erlangga sama sekali tak peduli.
“Oh itu, namanya Suci, temannya Ratu.” Sahut Mas Erlangga dengan santai. Lalu ia beranjak menuju dapur.
“Jadi, kenapa photonya dihapus, Mas?” pertanyaan ku kali ini membuat Mas Erlangga terjeda. Ia membalikkan wajahnya ke arah ku, menatapku tajam.