Maya tidak mau terus menerus menjadi beban kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani di lahan orang dengan upah yang tidak seberapa, bisa untuk makan saja mereka bersyukur, maka dari itu, tekad Maya sudah sangat kuat dan juga bulat untuk mengubah nasib keluarganya agar lebih baik, kalau bukan dirinya maka siapa lagi? Adik-adiknya masih sangat kecil jika harus di terpa betapa kejamnya dunia.
Selesai makan siang, Maya bergegas mencuci piring dan kembali duduk di tanah yang beralaskan tikar kumuh.
“Bu.. Pak.. Ada yang mau Maya sampaikan,” ucap Maya terlihat serius dan kedua orang tuanya kini fokus dengannya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Ibundanya yang bernama Tinah.
“Iya kamu mau ngomong apa? Kok kelihatannya serius sekali, tumben.” Ucap Tejo juga penasaran.
“Memang ini hal yang serius. Maya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan sekolah dan lebih baik bekerja di kota saja agar nantinya hidup kita lebih enak,” ucap Maya dengan hati-hati.
“APA?? BAPAK GAK SETUJU! KAMU PIKIR HIDUP DI KOTA ITU ENAK? KAMU PIKIR GAMPANG CARI KERJA DI KOTA? HAH?” Tejo menolak secara mentah-mentah.
“Tapi Maya kasihan sama adik-adik yang setiap hari sering menahan lapar dan tidak bisa seperti anak lainnya, biarkan Maya saja yang merasakan itu semua. Jangan sampai adik-adik Maya merasakannya,” ucap Maya memohon.
“BAPAK MASIH MAMPU MEMBIAYAI KALIAN APALAGI UNTUK SEKOLAH! JANGAN SIA-SIAKAN BEASISWA YANG DIBERIKAN OLEH SEKOLAHAN!” pekik Tejo tak senang.
“Maya sebenarnya juga ingin sekolah setinggi mungkin, tapi sayangnya keadaan yang tidak berpihak, izinkan Maya bekerja di kota, Pak.” Pinta Maya berlinang air mata.
“Kamu mau kerja apa? Pengalaman juga belum ada, nantinya bakal susah untukmu melamar pekerjaan,” tanya Tinah sambil berlinang air mata.
“Nanti Maya cari info dulu yang penting kalian mengizinkan,” ucap Maya kekeh.
“Tidak ada orang tua yang ikhlas melepas anaknya bekerja jauh apalagi di kota, berat hati Ibu,” ucap Tinah tak rela.
“Maya janji tidak akan mengecewakan kalian.” Pinta Maya.
“Sekali bilang gak ya gak!” bantah Tejo yang langsung bergegas pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Kenapa bapak galak sekali, apa salah Maya? huhuhu…” tanya Maya sembari menangis.
“Bapakmu cuma gak mau kalau pisah darimu, lebih baik pikirkan ulang,” tegur Tinah.
“Maya sudah memikirkannya matang-matang,” ucap Maya sangat yakin.
“Itu mungkin pemikiran sesaatmu saja, coba pikirkan kembali, Ibu mau kembali kerja dulu.” Ucap Tinah lalu pergi melanjutkan pekerjaannya.
“Pokoknya aku harus bekerja di kota, mulai hari ini aku harus cari info.” Gumam Maya menyeka air matanya.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, kini Maya mendatangi rumah kerabatnya untuk menanyakan pekerjaan. Namun sayang sekali, temannya tidak ada infromasi apapun lantaran mereka masih tetap melanjutkan pendidikan.
“Maaf banget, May. Aku gak bisa bantu.” Ucap Eka tak enak hati.
“Gak papa, memang aku aja yang salah karena menanyakan lowongan pekerjaan sama orang yang belum bekerja, maaf ya udah ganggu waktunya,” ucap Maya sedih.
“Apa kamu sudah memikirkan matang-matang untuk bekerja di kota? Kamu gak mau gunain beasiswa yang diberikan sekolahan?” tanya Eka memastikan.
“Enggak, Ka. Dapat beasiswa juga nantinya aku masih harus membayar beberapa keperluan dan lain-lainnya, malah yang ada semakin membebani orang tuaku. Jadi, lebih baik aku bekerja saja.” Jawab Maya optimis.
“Sayang sekali, tapi ya apa boleh buat? Aku gak bisa membantu lebih. Semoga dengan bekerja di kota sudah menjadi jalan rezekimu ya, May.” Harap Eka tulus dan Maya mengaminkan lalu pamit pulang.
Kebetulan sekali ada tetangganya yang mendengar kalau Maya sedang mencari pekerjaan. Beberapa hari yang lalu saudaranya memberitahu untuk mencarikan gadis desa yang ingin kerja di kota.
“Maya.. Sini.” Panggil Hartini melambaikan tangan pada Maya.
“Iya, Budhe, ada apa?” Tanya Maya berjalan mendekat.
“Katanya kamu butuh pekerjaan ya?” tanya Hartini memastikan.
“Iya, Budhe…. Maya memang mencari pekerjaan tapi kalau bisa di kota.” Jawab Maya dengan sangat antusias.
“Kebetulan sekali, ada saudara saya yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Apa kamu mau?” Tanya Hartini memastikan.
“Kalau boleh tau pekerjaannya apa, Budhe?” tanya Maya penasaran.
“Pekerjaannya menjadi pembantu rumah tangga dan saudara budhe ini membutuhkannya segera. Kalau kamu mau, Budhe kasih nomornya biar kalian bisa bicara langsung.” Ucap Hartini sungkan.
“Gak papa, Budhe…. Maya mau jadi pembantu yang penting halal.” Ucap Maya tanpa pikir panjang.
“Yasudah ini nomornya sudah budhe catatkan, nanti tolong kamu duluan yang ngabarin ya.” Pinta Hartini sembari menyerahkan selembar kertas berisikan nomor telepon, Maya mengangguk mengiyakan.
“Pokoknya aku harus segera mengabari nomor ini dan memberitahu jika aku bersedia. Nanti mau gak mau Ibu dan Bapak pasti akan mengizinkan. Bukan maksud Maya ingin menjadi anak durhaka, tapi kalau bukan dari Maya yang mengubah nasib, maka siapa lagi? Semoga ini jalanku untuk membahagiakan keluargaku.” Batin Maya lalu menghubungi nomor yang di berikan oleh Hartini.
Pada deringan ketiga barulah panggilan terjawab. Nada bicaranya terdengar ketus, membuat nyali Maya sempat ciut. “Halo ini siapa ya?” tanya orang itu ketus.
“Astaga apa orang kota itu begini semua? Galak sekali,” batin Maya kaget.
“Halo…. Jangan bercanda ya! Saya matikan teleponnya!” Gertak orang itu lalu Maya segera mengutarakan maksud dan tujuannya dengan sisa keberanian yang ada.
“Ha-halo…. Permisi, apa benar ini dengan bapak Handoko? Perkenalkan nama saya Maya.” Tanya Maya memastikan.
“Ya betul. Maya siapa ya?” tanya Handoko penasaran.
“Saya Maya, tetangga ibu Hartini yang sudah memberikan nomor telepon anda. Katanya anda sedang membuka lowongan pekerjaan sebagai pembantu?” tanya Maya hati-hati.
“Pembantu? haha itu hanya kamuflase saja, aslinya mah lu bakal nikah kontrak sama bos gue,” batin Handoko geli.
“Eh iya benar apa kamu bersedia?” tanya Handoko.
“Bersedia, Pak. Saya mau,” jawab Maya antusias.
“Baiklah kalau begitu dua hari lagi saya akan menjemputmu. Kebetulan jadwal libur saya hari itu, sanggup?” tanya Handoko tidak suka basa-basi.
“Secepat itu? Baiklah saya sanggup.” Jawab Maya meyakinkan diri.
“Bagus…. Sampai jumpa dua hari lagi ya, Maya.” Ucap Handoko lalu memutus panggilan.
“Ish…. Belum di jawab udah asal matiin aja! Emang ya orang kota itu minim etika.” Gumam Maya terheran-heran lalu meletakkan kembali ponsel jadulnya.
Setidaknya kali ini Handoko bisa bernafas lega karena tugas dari bosnya segera terselesaikan, yaitu mencari pendamping untuk bosnya yang ternyata tidak terlalu sulit.