Tidak berselang lama, kedua orang tua Boy menghampiri anaknya untuk menanyakan ada keributan apa. Melihat banyaknya orang yang berkerumun namun diam membisu, membuat mereka semakin bingung.
“Di sini rupanya,” ucap Yudhistira mendekati Boy dan Maya.
“Ada apa ini?? Kegaduhan apa yang sudah kamu buat?” tanya Margareth ketus.
“Dia biang masalahnya karena sudah berani menghina dan menggoda Maya,” ucap Boy masih marah.
“Anda bukannya Pak Sammy? Benarkan?” tanya Yudhistira memastikan.
“Benar, Pak, senang sekali bisa anda mengenal saya, ini merupakan suatu kehormatan,” jawab pria itu sembari menahan rasa sakit.
“Tapi sebelumnya saya meminta maaf, bukannya tidak sopan atau apa, setahu saya, anda tidak ada di daftar tamu undangan acara kami, kenapa bisa masuk?” tanya Yudhistira mengejutkan Boy juga semuanya yang mendengar.
“Ohh…. rupanya anda penyusup, pantas saja membuat onar di acara keluarga saya, di sini bukan level anda,” sindir Boy sinis.
“Maaf, Pak, saya memang bukan tamu undangan, kenapa saya bisa masuk? Itu karena saya menggantikan tuan James yang tidak bisa hadir, beliau berpesan pada saya untuk menyampaikan permohonan maaf, beserta memberikan sebuah kado kecil-kecilan yang sudah saya titipkan di bagian penerima tamu yang ada di depan,” ucap pria yang bernama Sammy itu dengan wajah sendu.
“Terima kasih banyak, namun, sangat di sayangkan sekali, sikap anda sudah merusak nama baik Pak James, jangan samakan acara ini dengan yang biasa anda datangi wahai Pak Sammy yang terhormat,” sindir Yudhistira penuh penekanan dan orang yang tengah tersindir hanya bisa menunduk malu.
“Enyahlah dari hadapan saya sekarang atau akan ada salam olahraga ronde kedua,” gertak Boy dan Sammy segera pamit dengan wajah selalu menunduk karena malu, belum lagi, gunjingan tamu undangan semakin mmebuatnya kehilangan muka.
Merasa kondisi sudah mulai kondusif, kini, acara kembali di lanjutkan dan berlangsung dengan meriah. Di balik kemeriahan dan keceriaan yang di tampakkan kedua orang tua Boy, menyimpan sebuah rasa kesal terutama pada menantunya itu.
“Awas saja! Karena penampilanmu yang sok kecantikan itu membuat acara saya sempat kacau, untung segera teratasi, coba kalau berlanjut terus? Bisa malu saya dan suami di mata para kolega,” batin Margareth melirik Maya dengan tatapan penuh amarah.
Melihat mertuanya melirik tanda tak suka, membuat Maya menjadi canggung dan tak enak hati, memilih lebih banyak menunduk sembari mendengarkan suaminya berbincang dengan para kolega. Maya tahu, setelah acara selesai, pastinya akan ada perbincangan yang sangat serius.
***
Pagi hari setelah selesai sarapan, kedua orang tua Boy meminta mereka berdua ke ruang tengah.
Boy yang merasa bingung pun akhirnya mengikut saja sembari menggandeng tangan istrinya. Namun, tidak dengan Maya yang sudah tau kemana nantinya arah pembicaraan kedua mertuanya.
Mau tak mau, harus siap telinga dan juga hati sekebal mungkin, karena, pasti kedua mertuanya akan memarahinya habis-habisan.
“Sini duduk,” pinta Margareth yang berada di seberang kursi.
“Ada apa, Mah? Kenapa sampai di kumpulkan seperti ini,” tanya Boy tak mau berbasa-basi.
“Mengenai kejadian semalam, kami sejujurnya merasa sangat malu kepada semua kolega yang sudah hadir, baru kali ini, acara keluarga kita kacau hanya karena masalah sepele, sudah tau kan siapa dalangnya?” tanya Yudhistira penuh penekanan.
“Apa maksudnya?? Kalian menyalahkan istriku atas kerusuhan tadi malam, iya??” tanya Boy tidak terima.
“Ya siapa lagi kalau bukan dia, mana ada selama ini kita mengadakan pesta terjadi keributan seperti semalam? Gak pernah ada kan?? Semua acara selalu sukses dan berkesan di mata kolega, hanya karena Maya hadir di keluarga kita dan itu belum lama, tapi semunya langsung berubah, acara menjadi kacau,” sindir Margareth sambil menatap Maya tajam.
“Maafkan saya, jujur, ini bukan kemauan saya, karena tidak mengenal dengan baik para tamu undangan, jadinya memilih menepi dari pesta, tapi malah jadinya seperti ini,” ucap Maya sembari menunduk takut.
“CUKUP MAYA! JANGAN MEMINTA MAAF ATAS APA YANG TIDAK KAMU PERBUAT!! AKU GAK SUKA KAMU SELALU MENGALAH DAN MENGALAH! SEMUA INI BUKAN SALAHMU, MELAINKAN SALAH PRIA MESUM ITU!!” pekik Boy tak terima.
“Nyatanya, istrimu berhasil mencuri perhatian dan akhirnya Pak Sammy tergoda,” sindir Yudhistira.
“PA, CUKUP!! JANGAN SEMUA SALAHKAN KE ISTRIKU, DIA INI KORBAN BUKAN PELAKU!!! NYATANYA DARI SEKIAN BANYAKNYA TAMU UNDANGAN YANG HADIR, KENAPA HANYA PRIA MESUM ITU SAJA YANG MEMBUAT ULAH? KALAU MEMANG MAYA PENYEBABNYA, SEHARUSNYA BANYAK PRIA YANG MENGGODA!! PIKIRKAN ITU JUGA!!” pekik Boy membela istrinya.
“Korban darimana? Jelas-jelas istrimu belum di apa-apain sama Pak Sammy, bahkan menyentuh istrimu saja belum, dimana letak sebagai korbannya?” tanya Yudhistira terkekeh.
“Ya lagian salahmu juga, udah tau istrimu itu wanita kampung, kenapa disuruh menggunakan pakaian mahal dan branded seperti semalam, apalagi lumayan seksi lagi, jelas mengira kalau istrimu hanya selingan pengusaha kaya,” ucap Margareth yang tak memikirkan perasaan Maya.
“Ma…. Saya selalu diam bukan berarti kalah, selama ini saya diam karena menghargai anda sebagai mertua saya. Tidak etis rasanya jika melawan orang tua, tapi mengapa sikap diamku malah membuat anda semakin terus menghina serta merendahkan saya? Sebenci itu kah anda terhadap saya?” ucap Maya sembari berlinang air mata karena hatinya sungguh sakit dengan perkataan mertuanya itu.
“PERKATAAN MAMAH SUNGGUH KETERLALUAN!!! AYO MAYA, KITA PERGI SAJA DARI SINI!!” ajak Boy dan langsung menggandeng tangan Maya.
“Jangan berani melangkahkan kaki dari mansion ini, kalau kamu tidak mau di anggap sebagai anak durhaka,” ancam Margareth sembari menatap Maya.
“SUDAH TIDAK PENTING LAGI!!!” teriak Boy yang tetap menggandeng tangan Maya keluar dari rumah masa kecilnya.
“Boy…. Kami belum selesai bicara,” teriak Yudhistira.
“TAK ADA YANG PERLU DI BICARAKAN KALAU AKHIRNYA SEMUA KESALAHAN KALIAN LIMPAHKAN KE ISTRIKU, DIA TIDAK TAHU APAPUN DAN SEDANG BERADAPTASI!! HARUSNYA KALIAN INI MEMBANTUNYA, BUKAN MALAH MENGHINANYA TERUS MENERUS!!! SATU LAGI, JIKA NANTINYA ADA ACARA BAHKAN PESTA DI KELUARGA INI, JANGAN LAGI MENGUNDANG KAMI!!” teriak Boy sangat lantang dan kedua orang tua Boy sangat marah juga kecewa pada anaknya.
“Lihatlah, anak kita sekarang bukan anak yang kita kenali lagi, semenjak kehadiran wanita kampung itu, Boy semakin banyak berubah dan selalu saja membela istrinya, bahkan tak segan melawan kita,” keluh Margareth sedih.
“Papah juga kecewa sama Boy, harusnya dia menelaah apa yang kita sampaikan bukan malah menolaknya mentah-mentah, ini juga demi kebaikannya ke depan, gimana kalau setelah kejadian ini para kolega mencabut sahamnya? Mana ada anak kita memiliki pemikiran sampai sana,” jawab Yudhistira kesal.
“Lihat saja nanti, apa yang akan saya lakukan untukmu, jangan harap kamu akan terus menerus di tolong oleh Boy!! Dasar wanita parasit!” batin Margareth sambil mengepalkan kedua tangan.