MASYGUL RINDU

Nayanika

Mei Diantara Rindu

 

Aksa jiwa terbenam nabastala shyam yang pekat.

Beriringan sarayu menembus ufuk.

Denting kala itu berpadika, diantara padma yang kian mengering.

Dari sebuah nama, jelas berbeda.

Dari angin manapun mengarah, jelas bukan dia.

Namun, nayanika sebentuk lengkung tajam pada manik legam yang sama membuyarkan segala.

Sawala bertajuk menabuh genderang.

Pandai sukma menutupi tak bisa mengekang.

Ulur waktu tak juga menghentikan rengatnya hati.

Oleh garisan tangan yang ternyata tak menyudahi.

Terimakasih telah membuatku merasakan sirap hati dan kekangan.

 

Dari belasan tahun panjang yang memutihkan mata. 

Sat purnama kini, padu jiwa mengalun lagi.

Mengingatkanku pada sosoknya yang pergi.

Sesaat setelah janur kuning dijanjikan akan digantungnya pada pelataran cemara.

Hening yang abadi merenggut.

Tak satu pun tersisa dan luput.

 

Swastamita tak lagi indah, daksa ini tak bisa menopang sukma.

Dalam celah batasan banyak hal yang ambigu.

Dimana latar tak jua akan bertemu.

Dengan cara berbeda ku akan tetap bisa memelukmu.

 

How?

Okay.

So,

Then,

Baiklah. Faham kok.

Bukan prioritas.

 

Dan ingatan ini semakin jelas membuat jiwa kian tersesat.

Jika hening tak lagi menenangkan,

Kemana lagi aku harus berlari?

Kau membuatku membenci.

Kenapa? Karena pada akhirnya aku akan terluka dan tak sanggup kehilangan lagi.

Sementara kita tak bisa memiliki.

 

Tulus, redup.

Kata siapa kita hanya perlu ikhlas?

Padahal untuk ikhlas kita perlu menguatkan diri untuk melepaskan dan memaafkan.

Seandainya ada ketidakmungkinan yang menjadi mungkin

 

 

2. Tentang Juni 

 

Hidup adalah perjalanan panjang yang harus dilewati,

Tak selamanya akan lurus dan indah,

Ada kalanya kita menemui jalan yang terjal berliku,

Terjatuh,bangkit lagi,

Berlari mengejar mimpi.

Satu kata tentang pagi dan senja

Kangen sangat

Rindu ini menjegal malam

Terlalu merindu, namun terlalu takut mengganggu kesibukanmu.

Dan aku, memilih tetap merindu.

Andai bisa, aku ingin melindapkan netra,

menutur kata di balik legam nayanikamu 

Yang terus saja menggoyahkan niatku.

Bukankah hidup harus terus berlanjut,

Tidak perlu terlalu lama larut dalam kesedihan.

Jalani apa yg telah ditetapkan. 

Angan tak pernah hilang

Bayang netra terus memandang

Di bait yang mulai membiasakan samar

Pertaruhan jiwa kian mengekang

 

Tentang Juni dan angan yang selalu tak terbatas, terlebih itu angan tentang kita.

Sang adiluhung menyapukan pekat 

dibatas ilusi yang takjub oleh sirat

rajuk memoar tak bisa menawar sarat

Dimana ANGAN akhirnya menuturkan pinta

Untuk ratusan purnama tersisa

tak akan ku menagih cua

Biarlah Tuhan meriap mencuraikan segala

Meraupkan tawar yang turut menguapkan asa

Ku memilih mendamaikan jiwa pada pelukan senja

Aku, tidak terlalu baik dalam mengeja kata.

Karena semua abjad yang aku baca selalu berakhir dengan sebutanmu.

 

 

3. Dear Juli,

 

Detik terus bergulir tanpa henti mengikrarkan hari

seperti pesan yang kau beri, ku tetap diam di sini

Lara hati membasuh perih 

membuatku meniadakan lirih

walau rindu membabad sanubari

ku hanya bisa menanti

Sekuat jiwa ku berusaha berdamai dengan keadaan ini

Aku tidak pandai melupakan, 

dan aku bukanlah hati yang mudah berpindah haluan. 

Bagaimana ini? Karena ternyata aku bukanlah menjadi pilihan untukmu.

Jika menurutmu 14 hari itu singkat,

Tidak sepertiku yang terasa sangat lambat.

Apa boleh buat,

Hanya bisa menerima syarat.

Sambil terus mengucap sirat,

Semoga waktu bergulir semakin cepat.

14 Hari? 

Bahkan puluhan tahun saja aku sanggup menunggu..

Karena untukku, rasa ini berasal dariNya, maka dengan caraNya juga DIA menjaganya.

Sakit?

Berat?

Kecewa?

Semua itu lumrah dan membuatku terbiasa.

Tapi tanpa kau tahu, aku pun menjadi semakin kuat karena semua itu.

 

 

4. Dengarlah, pria senja.

 

Kepada semesta kita, aku tersenyum bersama pedihnya jiwa yang terasingkan dan terhina.

Kepada jingga nabastala, aku menatap bersama ringkihnya hati yang terjebak rindu pada sosok yang mengabaikan ku.

Biarlah saja, angin membawakan semilirnya menyejukkan tubuh ini. Sedikit mengobati panasnya jiwa yang terbakar amarah juga nestapa. Menyadari kau sedang berusaha mengingkari keberadaan ku.

Biarlah saja, kuncup bunga cosmos bermekaran di halaman menemani senjaku setiap hari. Sedikit menawarkan dahaganya jiwa akan lembut sentuh cinta. Menyadari kau tak akan pernah datang.

Senin di Juli, KACAU MERINDU.

Tanggung jawab dong.

Mode egois, demi menikmati oksigen lebih lama. Boleh?

SADAR DIRI!

BERGESERlah ketika TIDAK DIHARAPKAN

Letih, merindukanmu.

Sisakan waktu sesaat saja, cukup untukku.

Teruslah mengejar bahagia, karena sampai ajal tiba hanya kita sendiri yg akan faham bahagia itu bagaimana.

Kau bebas menghina semua usahaku untuk bisa berada di titik ini.

Ayolah, kamu bisa lupakan semuanya dan melangkah lagi.

 

Ternyata, aku payah.

 

Sabar, sedang berusaha kuat untuk baik-baik saja. Berproses adalah penting.

Satu hal yang harus dimengerti, kita pantas untuk menikmati hidup yang masih diberikan Tuhan hingga detik ini. 

Tersenyumlah, meski orang yang kau cintai … meninggalkan, orang yang kau percayai … mengkhianati, dan orang yang kau harapkan … mengabaikan.

Tentang apa? Tentang diri yang harus mengobati luka, sendiri. 

Gpp kok, aku kuat.

 

Kangen, tertahan dan terlupakan.

Rindu, terhempas dan membeku.

Ahh … Semua kata mendadak terasa berat.

Ternyata, sesakit ini.

Kehilangan senja.

 

 

5. Perkedel Kentang

 

Nyaris saja, kisah perkedel kentang bertemu.

Apa daya, memilih mundur dan tidak mengisi piringnya.

Terimakasih, telah memupuskan harapanku.

Dengan begitu, aku bisa memilih alasan lain untuk berharap lagi.

 

Demi perjalanan, dan kisah yang belum berujung. Pada semua tentang kita, yang sama menuju muaraNya.

Tetaplah kuat.

Iya, aku terlalu mengejarmu. 

Hingga menyia-nyiakan waktu dan mengabaikan banyak hal.

Enough!

Pernah saling menghabiskan waktu, menempa diri dan saling menguatkan.

Pernah juga saling menjaga, menyapa tanpa jeda dan juga saling mengingatkan.

Hanya sebuah pernah dan kini semua kembali ke semula.

Sebagaimana hidup mempertemukan, hidup juga memisahkan. 

Sehat selalu.

Kita tetap memandang langit dan mentari senja yang sama.

 

 

6. Aku Belum Mau Menyerah 

 

Aku menyerah, membungkus semua tentang kita menjadi kenangan pada sisi lain minda.

Aku menyerah pada kepingan rindu yang tak juga bersandar.

Aku menyerah pada segala tentang kita dan segala kata tentang dia.

Tapi …

Demi nafas yang masih dititipkan Tuhan, aku masih belum mau menyerah.

Bias laraku, sunyi.

Menjelaga jiwa kala mode vampire, lagi.

Sudahi gelisahnya, sudahi sedihnya

Dia yang pergi tidak akan kembali.

 

Terus saja melangkah, jangan patah arang.

Apapun yang telah ditakdirkanNya jalani dengan baik.

Meski hasilnya tak selalu seperti yang diharapkan, yakinlah itu yang terbaik dariNya.

 

Di malam yang pekat, satu nama kembali menyelinap.

Lelah, dan yang mampu membuat senyum terukir lagi, justru bayangannya.

Dasar sampeu!

 

Sebuah konspirasi semesta, 

yang mempertemu

kan kita.

Pada rindu yang datang di antara hening malam,

berdamailah sedikit saja …

Sebab bertemu bukan perkara yang mudah,

sehebat apa dia merajai jiwa

kuselipkan saja disebalik do’a.

 

 

Lates Chapters

Tentang Juni

Medio purnama di bulan Juni.       Saat dingin malam kian menyeruak, aku ingin memelukmu sangat erat.       Lelap ini tak berujung…

Masygul Hati

Diantara BIRU kutemukan langitku  Diantara teduh aku bersauh Aku menepi dari semua suara dan bayangmu Yang terus saja mengacaukan hariku   Kau BIRU yang mendekapku…

Sedari Sengkala

Sajak mendadak tak bersyair.  Lirik dan nada seakan hengkang dari jiwa.  Gelap semesta membuat sukma kian lara,  Dimana dalam pekatnya gelap, aku terus memamah rindu…

Kekang Hati

Kenyatannya, ku tahu harus menghindar.  Namun segala tak semudah semesta bicara,  terik mentari yang menyala tak juga menggersangkan jiwa.  Tandus dan gersang seakan menyatu dalam…

Tentang Satu Kata

Embun kan tetap setia, Mengantarkan pesannya malam kepada siang,  menyentuh surya untuk berjaga,   dalam desir kerinduan sukma.  Embun tetap setia,  mengupas pekatnya kelam menyiapkan jingga…

Surat Yang Tertatih

Bab 2 Surat yang Tertatih   1. Derana Lara Derana mencoba larakan jiwa Pada pagut sanubari yang terpatri semenjak lama Ada buai dan juga rindu…
error: Content is protected !!